WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 69



Setelah serangkaian kegiatan Alricks yang begitu sibuk belakangan ini. Mulai dari pembuatan tesis, hingga sidang. Akhirnya, kini Alricks cs hanya tinggal menunggu kelulusan mereka untuk gelar magister manajemen untuk gelar tingkat strata dua mereka.


"Mau kemana lo, Bing. Kok buru-buru banget?" tanya Zayn pada Ammar dan Azura saat bertemu di koridor kampus.


"Ke Pierre group." jawab Ammar santai.


"Oh, berangkat dah Sono. Inget, kalau ada semut nyebrang langsung nepi. Kasihan kalau ketabrak, pasti keluarganya nyariin. Tapi kalau ada tronton, mobil lo nengahin aja jangan mau kalah Bing!" kata Zeo bercanda.


Plak!!


Ammar menoyor tepat di depan kening Zeo. "Lo nyuruh gue sama Zura setor nyawa." berlalu pergi meninggalkan Zeo ke parkiran menyusul Azura. Bisa-bisa dia ikut tidak waras kalau lama-lama meladeni sahabatnya yang agak-agak setengah itu.


"Sial*n lo, Bing. Kepala gue difitrahin ini." sewot Zeo tak terima.


"BODO" seru Ammar berteriak.


"Lagian lo nyari mati, udah tau mereka lagi buru-buru. Akhirnya di terkam beruang madu kan lo." Zayn.


"Sakit Bing." adu Zeo manja.


"Cih, n*jis gue." Zayn bergidik ngeri.


Gelak tawa Zeo menggema di koridor kampus.


...****************...


Pierre group.


Dua laki-laki tampan pewaris tahta Pierre, kini sedang bersantai di ruangan kerja milik Arash ditambah Ammar yang juga ikut menemani sahabatnya siang itu sebagai asisten pribadi Azura. Arash ingin membicarakan tentang beberapa pekerjaan yang akan di alihkan kepada Azura karena mulai akhir tahun, Arash tak lagi memegang kendali penuh perusahaan yang bergerak di bidang properti dan real estate, fashion, serta perhotelan tersebut.


Arash akan memegang beberapa perusahaan besar milik Albareesh kakeknya, serta akan memberikan tanggung jawab kepada Azura untuk memimpin setelah ia lulus S².


"Bang, tumben banget lo nyuruh gue kesini, ada apa?" ucap Azura sambil mendudukkan tubuhnya di sofa depan kursi kebanggaan Arash.


"Ada yang ingin gue bicarakan sama lo." jawab Arash santai.


"Apakah penting?"


"Zu, apakah gue menyuruh lo kesini hanya karena hal penting saja?"


"Gak mungkin kalau lo nyuruh gue buat kesini, kalau bukan ada hal yang penting yang ingin dibicarakan."


"Emang gue harus to the point kalau bicara sama lo."


"Mulai hari ini Daddy nyuruh lo dan Ammar yang akan mengurus Pierre group. Serta lo mengganti kan gue untuk memimpin." ucap Arash fokus pada layar monitor didepannya.


"Lagian, urusan gue di kampus belum selesai. Sekarang malah lo mau menambahkan lagi tugas gue, Bang." pekik Azura kesal.


Arash tertawa melihat adik laki-laki nya merajuk. "Itu kan bukan atas kemauan gue, tapi semua itu atas titah Daddy lo."


"Daddy gue? Ish, itu juga Daddy lo, tau." pekik Azura yang tak terima.


Tok..


Tok..


"Masuk" ucap Arlen sang assisten Arash.


"Maaf tuan, meeting sebentar lagi akan di mulai." ucap Dilla sekertaris Arash mengingat kan.


"Baik, dalam waktu lima menit lagi tuan Arash dan juga Tuan muda Azura akan turun keruang meeting" ucap Arlen tegas pada sang sekertaris yang bernama Dilla.


"Baik tuan, saya permisi" undur Dilla sekaligus menutup pintu ruangan Arash.


"Aish Ar, kenapa lo bilang pada Dilla kalau gue juga akan hadir. Gue kesini bukan buat ikut meeting ya. Tapi gue kesini buat laporan tender proyek pembangunan yang gue urus sama Ammar." kesal Azura.


"Maaf Tuan muda, saya kira anda juga akan hadir." Arlen menundukan badan memberikan hormat atas kesalahannya.


"Sudah lah Zu, hitung-hitung lo belajar mulai dari sekarang. Lo juga langsung aja laporin tender lo di meeting. Meeting ini juga ada hubungannya sama tender yang lo tanganin bersama Ammar. Setelah lo lulus S², emang nya lo mau langsung kawin? Nanti Aretha mau lo kasih makan apa?"


"Mau gue kasih makan adukan pasir sama semen." kesel Azura.


"Gak sekalian aja lo kasih makan beling, Bing." sahut Ammar tak kalah sewot karena Azura seenak udelnya main nyeletuk seperti itu tanpa filter.


"Argh, sial*n lo berdua. Tadinya aja gue gak kesini." kata Azura menyesal.


"Ayo," ajak Arash pada Azura.


"Mm" meskipun protes, Azura tetap mengikuti Arash yang berlalu bersama Arlen.


Ruang rapat di Pierre group sudah di penuhi para petinggi yang hadir, setelah Satu jam berlalu kini giliran Azura yang menyampaikan laporan tender proyek pembangunan yang sudah rampung selesai di kawasan Jawa barat, sekaligus mempersentasikan projects pembangunan yang akan ia lakukan kedepannya.


Ucapan Azura padat, berisi, dan tegas, membuatnya terlihat begitu sangat berkharisma. Andai saja kekasihnya berada di sana sudah pasti Aretha akan semakin jatuh hati, bagaimana tidak jatuh hati. Pria tampan yang biasa hanya terlihat sederhana di keseharian nya, kini terlihat berbalut jas lengkap yang pas di tubuh atletisnya. Akh semakin mempesona saja.


"Good jobs boys." ucap Daddy Pierre saat Azura kembali duduk di sebelah Ammar. Daddy Pierre sangat bangga melihat anak keduanya kini ikut terjun dalam perusahaan. "Itu baru jagoan Dady, tidak percuma kamu memiliki aset kepintaran Daddy." dan mereka pun tertawa bersama.


"Thanks's Dad." Azura menjadi salting sambil garuk tengkuknya yang tidak terasa gatal.