
Sejak sore itu, Aretha pulang ke apartemen nya dengan perasaan yang dilanda kegundahan. Benar-benar dilanda gunda gulana berkepanjangan.
Benar apa yang di katakan Galaxy pada nya. Meski terdengar sangat keterlaluan, tapi ucapannya itu mampu membuat Aretha berpikir keras.
Biasanya di jam-jam seperti ini, Aretha selalu mendapatkan chat atau video call dari Azura atau bahkan pria itu ada di apartemen bersama nya.
Kini hari yang di jalani Aretha, terasa teramat membosankan.
Seminggu berlalu, Azura tetap bertahan pada apa yang ia ucapkan. Sepertinya lelaki itu benar-benar memberikan ruang untuk Aretha menjauh, tanpa sedikitpun mengabarinya. Bahkan belakangan di kampus lelaki itu pun juga jarang terlihat.
Sebulan berlalu, Aretha sudah tak pernah melihat nya lagi dikampus,capa karena sibuk pada tugas membuat tesis, seperti anak-anak Alricks lainnya? Yang jelas hati Aretha semakin di buat gelisah. Aretha bagaikan anak abege yang tengah di landa patah hati. Konsentrasinya menurun, tak ada nafsu makan, sulit tertidur di malam hari dan pikirkan nya sulit ia kendalikan karena terus saja memikirkan Azura. Mencari informasi lewat Alricks? Jawaban nya mereka tidak mengetahui keberadaan lelaki itu. Apalagi bertanya pada ka Ammar, itu tidak mungkin,yang ada justru ia di tertawa kan.
Lalu Azura?
Kemana Azura sebulan ini?
Apa Azura benar-benar telah melupakan Aretha atau?
"Akh, gue gak sanggup kalau harus seperti ini terus. Gue gak perduli sama gengsi gue. Bodo amat." sambil mencari kontak nomer Azura. Ternyata rasa rindu Aretha mengalahkan gengsinya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi." jawaban itulah yang menyapa Indra pendengaran Aretha dan berhasil membuat Aretha kecewa.
Berkali kali Aretha mencoba menghubungi nomer Azura berkali kali pula tak ada jawaban yang ia terima. Sejam, dua jam, bahkan hampir menjelang pagi pun, nomer itu masih selalu tidak aktif. Membuat Aretha semakin rungsing, resah, gelisah, gundah, gulana, dan semua rasa di hatinya langsung mendominasi.
Pria itu benar-benar menghilang dari kehidupan Aretha. Aretha seperti orang bodoh yang terus saja menanti kabar atau pesan yang masuk kedalam ponsel nya. Berharap pria itu memberikan nya sebuah pesan. Hal-hal kecil yang dilakukan oleh Azura bahkan bayangan terakhir wajah pria itu terus saja terbayang di benak Aretha membuat Aretha menjadi seperti orang yang kurang waras.
*
*
*
Dimana Azura sekarang?
Sekarang, yang pasti Azura sedang berada di satu desa yang jauh dari keramaian kota. Namun juga bukan desa kecil yang sulit dari apapun. Satu bulan ini, Azura diminta untuk mengurus beberapa tender proyek pembangunan oleh Daddy Pierre di bantu sahabat nya Ammar, sekaligus menenangkan diri dari pelik permasalahan hatinya.
Azura sengaja tidak memberitahu siapapun termasuk ketiga sahabat nya dimana keberadaan nya sekarang. Ia hanya memberi akses sahabat-sahabat nya lewat chat dengan nomer baru. bahkan Ammar juga di minta untuk tidak memberitahukan Zee kalau ia sedang berada bersama Azura. Ammar hanya mengatakan pada kekasih nya kalau ia ada sebuah proyek membantu pekerjaan ka Arash di salah satu desa jawa barat. ya, hanya sekedar komunikasi saja yang sebulan ini mereka lakukan.
"Woy, ngapain lo?" Ammar menepuk pundak Azura dengan sangat keras.
Azura menengok dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
"Bing, lo yakin masih mau bertahan? Apa lo berdua itu gak capek, nahan rindu?" kata Ammar yang sudah berada di samping Azura.
"Bener kata dilan men ,rindu itu berat." absurd Azura tiba-tiba.
"Akhirnya lo sadar juga!"
Azura menghela nafas. Dia benar-benar sangat merindukan Aretha. Seperti Aretha yang juga merindukan nya.
"Gini ya men, lo kan lebih dewasa dari Aretha. Lo harus nya tahu, kalau sebenarnya hubungan lo itu bisa di pertahankan, bukan nya justru lo setuju ucapan dia. Aretha pasti berpikiran kalau lo gak mau memperjuangkan dia dan juga ngangep lo gak tulus. Ini yang selalu gue pertegaskan sama lo. Lo terlalu bodoh dalam urusan percintaan, selalu mengiyakan apa yang pasangan lo mau. Tapi akhirnya malah begini."
"Lo emang sahabat gue yang paling hebat dalam mengejek dan menjatuhkan men. Disini gue cuman mau mempertegas hubungan gue sama Aretha. Gue mau, kalau hubungan gue kedepan nya lebih baik. Dan lo tau gue udah capek kalau harus terus-menerus stuck pacaran tanpa ada sebuah ikrar janji di hadapan Allah. Jadi gue pingin Aretha yang terakhir dalam hidup gue. Gue percaya kalau mencintai nya adalah takdir gue dan gue juga yakin, dia yang akan datang sendiri tanpa gue minta." ujar Azura.
"Terserah lo men, gue rasa Aretha juga pantes buat lo perjuangin. Jangan cuman mantau dari jauh, buktiin juga ke diri lo kalau belum tentu apa yang lo yakinin itu gak pernah meleset. Lagian gue juga gak habis pikir sama lo, kenapa lo dorong Aretha pergi disaat sebenernya Aretha pengen ditahan lo men." tambah Ammar.
Azura hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Ammar.