
Ammar melambaikan tangannya pada Zeevana yang baru saja tiba di desa itu. Desa dimana selama sebulan ini Ammar dan Azura berada. Desa bertajuk kota kembang dengan ikonik terkenal seperti Observatorium bosscha dan gedung sate.
Zee yang terus-menerus, merengek memaksakan untuk bertemu Dengan alasan sudah hampir sebulan ini ia tidak bertemu. Zee terlihat begitu cantik dengan balutan dress selutut dan sepatu kets putih Nya. Berjalan ke arah Ammar dengan terus tersenyum cantik.
"Yank, aku rindu" teriak Zee yang langsung berlari kecil.
"Hey, hati-hati. Tidak usah berlari, kenapa kamu memarkirkan mobil disana. Kamu minjam mobil Aretha untuk sampai ke sini?"
"Tidak" singkat Zee.
"Lalu?" tanya Ammar bingung.
"He.he.he. Aretha memaksa untuk ikut kesini. Ia merasa harus merehatkan pikirkan nya. Mungkin bisa sedikit membantu menenangkan hatinya yang galau di daerah yang cukup sejuk ini."
"Huft," Ammar menghela nafas nya sedetik. "Mungkin tidak, seperti nya ia harus kembali mendapatkan kekecewaan."
"Why.?"
"Tuh." tunjuk Ammar ke arah Azura yang sedang duduk di ayunan taman belakang villa.
"Yah, turus gimana dong?"
"Mau bagaimana lagi, kalian sudah ada disini. Tidak mungkin jika aku menyuruh kalian berdua untuk kembali pulang. Biarkan saja, mungkin mereka memang harus bertemu. Ayo.!" ajak Ammar masuk.
"Aku panggil Aretha dulu." ucap Zee.
"Mm, aku tunggu di dalam." sanggah Ammar sambil melenggang naik, menapaki tangga menuju pintu masuk villa.
*
*
*
Azura duduk di taman belakang villa sambil memainkan sebuah gitar. Ia petik senar-senar gitar itu dengan begitu piawai, kali ini lagu dari Anji dengan judul menunggu kamu yang ia lantunkan. Mungkin sedikit mencurahkan apa yang ada di hati nya. Sedang menunggu kekasihnya untuk kembali padanya. Bagi Azura, Aretha tetap masih kekasih nya meski status dan jarak tak seperti sepasang kekasih aliyas sudah putus.
Ku selalu mencoba
Untuk menguatkan hati
Dari kamu yang belum juga kembali
Ada satu keyakinan
Yang membuatku bertahan
Penantian ini kan terbayar pasti
Lihat aku sayang
Yang sudah berjuang
Menunggumu datang
Menjemputmu pulang
Ingat slalu sayang
Hati ku kau genggam
Aku tak kan pergi
Menunggu kamu di sini
Tetap di sini
Jika bukan kepadamu
Aku tidak tau lagi
Pada siapa rindu ini kan ku beri
Pada siapa rindu ini kan ku beri
Lihat aku sayang
Yang sudah berjuang
Menunggumu datang
Menjemputmu pulang
Ingat slalu sayang
Hati ku kau genggam
Aku tak kan pergi
Menunggu kamu di sini
Di pintu belakang villa yang menghubungkan villa dan taman, Aretha berdiri sambil menggigit kuku jemarinya. Ia bingung harus melangkah maju menghampiri pria tampan itu, atau berbalik dan menunggu nya di dalam villa. Hati nya masih ragu-ragu, takut ia tidak kembali di terima oleh pria itu karena kekecewaan pria itu pada dirinya. Namun bagaimana dia tahu kalau dia belum mencobanya?seperti yang beberapa menit lalu Ammar katakan. Aretha kembali mengingat ucapan Ammar barusan.
Flash back beberapa menit yang lalu.
"Ka, bukan kah pria yang terlihat di bawah sana itu adalah ka Azura?" kata Aretha sambil menatap pria itu dari kaca jendela villa.
"Pria yang mana? Aku hanya tinggal di villa ini sendiri." jawab Ammar berbohong.
"Sungguh?" tanya Aretha ragu.
"Ya" jawab Ammar, seolah meyakinkan Aretha.
"Seperti nya Aretha salah melihat, kalau begitu." berjalan, lalu duduk di bangku rotan.
"Mungkin, kamu terlalu merindukan Azura. Seandainya jika itu adalah Azura? Apa yang akan kamu lakukan?"
Aretha, terdiam. Sepertinya gadis itu sedang memikirkan pertanyaan Ammar. "Aretha tidak tahu ka. Aretha yakin ka Azura sudah melupakan Aretha." jawaban yang Aretha katakan terdengar sendu di telinga Ammar.
"Kenapa jawaban mu terdengar yakin, padahal kamu belum mencoba untuk bertemu dengan nya, memangnya kamu tau kalau dia sudah melupakan kamu?"
"Yang Aretha pikir seperti itu."
"Cobalah untuk menemuinya dan katakan kamu menyesali itu. Ternyata, kamu memang begitu mencintai nya. Terbukti, meskipun terlihat cukup jauh dari atas sini. Namun kamu mampu menebaknya kalau pria itu adalah Azura. Gih, cepat temui dia."
"Maksudnya ka Ammar, pria itu memang ka Azura?"
"Mm," jawab Ammar sambil mengangguk.
Aretha langsung berlari turun kebawah, setelah Ammar menyatakan ya, jika itu memang lelaki yang ia rindukan selama satu bulan ini.
"Flash back off."
Akhirnya Aretha memutuskan berjalan ke arah depan nya yang berarti melangkah menemui Azura.
"Kak."
Suara tak asing itu, Azura melebarkan matanya. Perlahan membalikan badan, rupanya benar, suara itu adalah suara Aretha. Orang yang selama sebulan lebih diam-diam Azura rindukan.
Aretha mencoba tersenyum, menutupi kegugupannya. Dan semakin dekat berjalan menghampiri pria yang masih menengok kebelakang. Saat sudah dekat, Aretha berhenti. Sedangkan Azura menaruh gitar yang ia genggam di atas ayunan rotan lebar itu. Lalu berdiri, menatap wajah Aretha.
Pria itu maju dua langkah untuk mendekat mensejajarkan tubuh nya pada tubuh Aretha yang hanya berdiri beberapa centimeter di depan nya. Bahkan pria itu juga, terdiam tanpa satu kata yang terucap dari bibir nya. Raut wajah nya pun terlihat dingin dan datar ditambah tatapan mata yang tajam menghunus.
"Ya ampun, bikin kesel deh. Kenapa gak langsung aja peluk. Kalau gak langsung cium kek." gerutu Zee dari jendela kaca besar di atas villa.
"Berisik kamu yank. Mungkin mereka canggung!"
"Alah kelamaan, gak usah pakai canggung segala. Orang dilanda rindu mah langsung aja lari, terus pelukan dan ciuman. Baru deh bilang maaf."
"Aduh," Ammar menatap horor ke arah kekasih nya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal.
"Rindu?" tanya Azura pada Aretha.
Aretha mengangguk pelan.
Azura tersenyum tipis, saat melihat kekasihnya yang terlihat begitu menggemaskan saat mengangguk pelan.
"Kalau mau peluk aku, peluk aku sini."
Seperdetik, Aretha mengadah menatap pria dihadapannya. Ia sengaja melihat tatapan mata pria itu. Saat melihat masih ada cinta di mata pria itu, Aretha langsung berhambur memeluk erat Azura.
"Nah, gitu. Langsung aja peluk. Gak usah pakai acara tatap-tatapan. Habis ini cium deh. Luapin kerinduan kalian yang selama ini tertahan." oceh Zee yang seakan ucapannya di dengar oleh Aretha dan Azura.
"Udah ah, kamu berisik." Ammar menarik Zee untuk kembali duduk.
"Kenapa bisa ada disini, hum?" tanya Azura mengelus lembut kepala Aretha.
"Karena, takdir yang menuntun aku kesini." ucap Aretha pelan, masih bertahan dalam pelukan Azura.
"Takdir atau cinta?"
"Dua-duanya." Aretha sedikit merenggangkan pelukannya dan menatap wajah Azura.nia sangat begitu merindukan pria itu, bahkan tangan nya masih melingkar di pinggang Azura.
"Maafin aku, aku menyesal sudah mengatakan hal itu." kini Aretha tertunduk.
"Apa butuh waktu selama ini untuk menyadari hal itu? Kamu terus bikin aku menunggu. Mungkin kalau sedikit lebih lama lagi, aku akan menyerah dan memilih mundur." jelas Azura.
Aretha semakin menunduk, mendengar penjelasan Azura. kini matanya tak dapat lagi membendung cairan bening yang sejak tadi berkumpul dan ditahan nya. Tubuh nya naik turun, Aretha menangis sesenggukan.
Azura terkekeh. Ia mengangkat wajah wanita cantik di hadapan nya. Menghapus jejak tangis yang terus saja mengalir tanpa henti. "Hey, jangan menangis dan jangan merasa bersalah. Disini aku yang egois, aku yang tidak berusaha mengerti kamu. Padahal kamu berharap ditahan, dan aku menolak nya. Tapi justru aku yang tidak peka. Maaf, kamu maukan maafin aku?"
"Mm," angguk Aretha.
"Terus sekarang, aku mantan pacar atau masih pacar?" Azura kembali menarik Aretha kedalam pelukannya.
Aretha langsung mendekatkan wajah nya. Kini tak ada jarak antara wajah keduanya bahkan hidung mereka menempel. Mata mereka beradu saling menyelami satu sama lain. Seakan mata mereka berdua sedang berbicara. Ya dari mata kita bisa melihat kejujuran. Ketulusan yang terpancar. Didetik itu pula Azura mendapatkan Jawaban dari pertanyaan nya barusan. Berhubung jawaban dari mata Aretha adalah pacar. Azura langsung memiringkan kepalanya sedikit, untuk menyes*p bibir milik Aretha. Aretha yang juga melihat jawaban dari mata Azura. Menangapi ses*pan itu, mereka saling menyelami ses*pan itu dengan penuh kerinduan yang selama ini mendera keduanya.