
"Sudah lama nunggu ??" kejut suara Azura dari arah belakang.
Aretha hanya menggeleng cepat. "Belum kok, Kak!"
"Sorry agak sedikit lama, soalnya tadi Kakak sempat bertemu dengan Zayn saat di lorong depan." Terang Azura memberitahukan.
"Enggak papa kok, Kak. Aretha juga tadi sempat bertemu dengan Kak Zayn dan Markonah di parkiran."
"Markonah??" Tanya Azura bingung.
"Iya, perempuan yang bersama kak Zayn." jawab Aretha dengan cepat seakan mengerti apa yang membuat Azura binggung.
"Noura maksudnya?"
"Entah lah, Aretha tidak mengenalnya. Jadi Aretha panggil saja markonah. Habis, sepertinya perempuan itu terlihat sangat agresif pada kak Zayn." jelas Aretha.
Membuat Azura tersenyum tipis, lalu ia menjelaskan tentang Noura. "Gadis itu namanya Noura, Noura adalah anak salah satu Dekan di kampus kita dan Noura juga salah satu penggemar garis keras Alricks." Azura langsung membukakan pintu mobil untuk Aretha masuk.
"Terimakasih Kak." Ucap Aretha,
Tanpa menunggu lama Azura langsung berjalan kearah pintu masuk mobil dan mengendarai mobil dengan kecepatan sedang keluar gerbang kampus.
"Kak, mau Aretha traktir coffee dimana??"
"Dimana aja asal kan lo nyaman."
"Dimana aja sih Aretha pasti nyaman Kak, mau di caffe kecil di pinggiran jalan juga Aretha nyaman. Asal suasananya bagus dan terutama menu di sana enak. Sudah pasti Aretha akan nyaman. Masalah nya?" Aretha menengok ke arah Azura.
"Enggak perlu mempermasalahkan gue, dimana aja juga gue pasti nyaman. Gak usah merasa kita ini berbeda Aretha. Dari dulu gue sering di ajak Ammar nongkrong di caffe kecil pinggir jalan, kok." Ucapan Azura berhasil membuat Aretha kembali menengok. "Bahkan Ammar juga pernah ngajak makan gue pecel ayam di pinggir jalan. Jadi tidak harus tempat yang mewah yang sederhana pun tidak masalah."
"Sungguh Kak? Kenapa kak Ammar pelit sekali. Kenapa hanya mengajak Kakak makan pecel ayam pinggir jalan, padahal uangnya sungguh sangat begitu banyak dan kenapa kakak tidak menolak??"
"Kenapa gue harus menolak??" menengok ke arah Aretha, lalu sedetik kemudian ia kembali fokus mengendarai mobilnya.
"Iya juga ya?! Kenapa harus menolak kalau itu gratis." Aretha terkekeh geli dengan ucapannya sendiri dan berhasil membuat Azura pun juga ikut tersenyum mendengar celotehan Aretha.
Setelah membelah jalanan bersama dengan mobil lainnya selama tiga puluh menit. Akhirnya Azura memutuskan menepikan mobilnya di parkiran sebuah caffe.
"Kita sudah sampai." ucap Azura.
"Tapi, tadi kita belum memilih caffe mana yang akan kita kunjungi Kak? Kenapa sudah sampai saja."
"Tidak usah memilih, itu akan membuang waktu. Disini adalah caffe yang sering gue kunjungi di akhir pekan bersama Alricks. Suasananya nyaman dan udah dipastikan menunya pasti akan sangat enak."
"Jadi nggak sabar."
"Ayo masuk." ajak Azura pada Aretha.
Aretha langsung turun dan mengekori Azura masuk ke dalam sebuah caffe berukuran sedang dengan dua lantai.
"Mau duduk di kursi mana??" Azura kembali bertanya. Tanpa mereka sadari, bahwa ada sepasang mata yang sejak tadi tengah memperhatikan mereka.
"Dimana saja Kak, eh disana saja Kak." Tunjuknya pada Azura. Karena Aretha melihat sebuah bangku yang berada tepat di depan sebuah panggung minimalis yang hanya ada sebuah dua alat musik. Yaitu gitar akustik dan drum elektrik itu kosong.
Lalu mereka berjalan masuk kearah meja yang berada tepat di depan panggung minimalis yang baru saja di tunjuk Aretha.
"Mau pesan menu apa?" tanya Azura ketika mereka sudah duduk.
"Strawberry milkshake dan strawberry cheese cake." jawab Aretha cepat ketika sudah melihat buku menu.
Azura berjalan kearah kasir hendak memesan dan membayar makanan mereka. Tapi justru disusul dengan Aretha.
"Kak, kan Aretha yang ingin traktir. Kenapa malah Kakak Yang ingin membayarnya. Biar Aretha saja yang bayar, kakak pesan apa?"
"Milkshake strawberry dua dan cake cheese strawberry dua." ucap kasir tersebut.
"Azura itu biasa pesan menu ini kalau disini, Jadi tidak usah ditanya lagi. Betul tidak Zu?" ucap kasir sekaligus Owner di caffe itu.
Azura hanya mengangguk kecil.
"Oh, ya sudah jadi berapa Kak?" tanya Aretha pada kasir itu.
"Simpan saja uang kamu, ini siapa Zu?"
Azura hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan kasir tersebut lalu pergi melangkah kearah meja mereka tadi, membuat Aretha jadi kikuk. "Maaf Mbak" Setelah mengatakan itu, Kemudian Aretha berlari kecil mengikuti Azura.
"Kak??" panggil Aretha sambil mengekori Azura.
"Sudah, tidak usah binggung. Nanti juga kamu akan mengerti." jelas Azura yang melihat kebingungan di wajah cantik Aretha.
Beberapa menit kemudian.
"Tumben kamu pagi-pagi begini sudah berada di caffe?" tanya wanita cantik yang sedang berjalan kearah mereka sambil membawa nampan pesanan mereka. "Memangnya tidak ada jam kuliah?" tanya wanita itu lagi.
"Hari ini tidak ada jadwal, dari pada Zura ke apartemen lebih baik kesini." jawab Azura sambil cipika-cipiki dengan wanita yang baru saja ikut bergabung dengan mereka. "Kak Tiara juga tumben hari ini datang ke caffe??"
"Iya, kebetulan hari ini Kakak harus memeriksa pembukuan caffe." jawab Tiara, sambil menaruh pesanan mereka di atas meja. "Mengapa tidak kerumah saja? Kamu kan sudah lama tidak pulang ke rumah utama. Mommy kasihan Zu, sepertinya sudah sangat rindu kamu."
"Terimakasih,"
"Nanti saja."
Jawab Aretha dan Azura secara bersamaan.
"Tidak baik meninggalkan rumah pada saat keadaan kita yang emosi dan membiarkan masalah terlalu lama berlarut-larut seperti itu." Katanya pada Azura lalu kemudian mengarah pandangannya pada Aretha. "Oh iya perkenalkan saya Tiara owner caffe ini sekaligus Kakak ipar dari Azura." sapa Tiara mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan kepada Aretha.
"Saya Aretha kak, teman Kak Azura." menerima jabatan tangan Tiara.
"Sungguh hanya teman?"
Aretha menganggukan kepala sebagai respon.
"Rasanya tidak mungkin jika hanya teman saja, Azura itu tidak bisa terlalu dekat dengan banyak orang terkecuali sahabat dan keluarganya. Sikap dia itu sungguh sangat dingin dan acuh, bagaimana bisa dia mengajak kamu datang ke sini dengan hanya status kalian teman."
"Aku memang temannya dan tidak lebih."
"Rasanya sungguh mustahil, Kakak hampir Dua tahun ini tidak melihat Azura bersama wanita selain dengan Claudia sahabatnya dan juga Sean." Ucap Kak Tiara hampir tak percaya.
"Kak please, jangan sebut nama itu di depan ku lagi."
"Mengapa? Apakah kamu sudah menyadari bahwa wanita pilihan mu itu tidak lah baik?"
"Please, jangan bicarakan masalah ini." sarkas Azura.
"Kembali lah pulang kerumah Zu. Setidaknya temui Mommy dan mintalah maaf kepadanya." ucap Tiara. "Saya permisi kembali ke belakang ya Aretha."
"Iya Kak," Sedetik kemudian "Kak.??" panggil Aretha pada kak Tiara.
"Ada apa Aretha?"
"Boleh saya minta izin untuk meminjam gitarnya??"
"Boleh, silahkan saja jika kamu bisa memainkannya." tersenyum tulus.
"Terimakasih Kak."
Tiara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, lalu kembali pergi meninggalkan mereka berdua.