
Kini Azura dan Aretha tengah berada di dalam satu mobil yang sama. Tidak ada dari keduanya yang mau membuka mulut. Hanya terdengar suara lagu dari Head unit in dast mobil Azura. Sedangkan, kedua manusia itu hanya diam membisu. Mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing, entah apa yang mereka pikirkan hanya mereka lah yang tau.
Posisi Aretha kini tengah sibuk memandangi arah luar jendela mobil. Tanpa mau menengok, bahkan melirik Azura saja enggan dilakukannya karena Aretha begitu sangat malu terhadap Azura.
"Ka?" panggil Aretha pelan dan memecahkan kesunyian.
"Em,"
"Maaf."
"Buat apa?"
"Maaf buat yang tadi di Mall."
"Kenapa di Mall?
"Karena gue udah lancang menertawakan Kakak. Beneran gue gak tau kalau lo anak dari Tuan Pierre dan soal gue gak percaya tadi, gue juga minta maaf. Bukan gitu maksud gue Ka."
"Kenapa harus minta maaf sih. Justru gue malah senang kalau lo beranggapan bahwa gue bukan bagian dari keluarga Pierre."
"Maksudnya Kakak, apa?"
"Ck, kenapa lo berubah jadi kalem gini?"
"Bersikap biasa saja, jangan merasa sungkan atau apapun jajarannya. Gue malah justru akan sangat begitu menyukai hal itu. Tidak harus besikap formal gue akan lebih seneng kalau lo bisa menganggap gue itu layaknya manusia normal yang tidak harus selalu dianggap istimewa karena kedudukan tertinggi Bokap gue."
"Ish, pd boros banget!! Siapa juga yang mau mengistimewakan Kakak."
Azura tertawa renyah, "Oke, oke, gue lebih suka lo yang gini."
Deg..
"Anj*rr, sumpah demi apapun nih orang bisa juga tertawa lepas gitu. Gue kira hidupnya datar dan monoton. Ternyata asik juga dan tawanya manis banget." batin Aretha.
"Kenapa lihatin gue kaya gitu, terpesona ya lo?"
"Ish, bukan terpesona Ka lebih tepatnya heran." ketus Aretha.
"Heran kenapa?"
"Gue kira, lo itu gak bisa tertawa lepas kaya tadi. Hidup lo layaknya kanebo kering, kaku, dan nyebelin. Tapi ternyata lo bisa juga tertawa kaya gitu, lo udah berapa lama gak tertawa kaya gitu Ka?"
"Em" menciming kan mata sambil berpikir.
"Sepertinya, Kakak itu sudah sangat begitu lama tidak tertawa lepas ya?"
Azura hanya menanggapi dengan bahu yang terangkat.
"Terlihat bahagia banget. Maaf Ka bukan Aretha sok tau, tetapi rasanya seperti itu."
"Oh," Azura hanya beroh ria saja. Membuat Aretha menatap wajah Azura dengan tatapan bingungnya.
"Cerewet." Katanya, tanpa di duga-duga Azura mengacak-acak rambut Aretha membuat Aretha melongo tak percaya dan sedikit membuat wajahnya merona.
"Kenapa bayangan kak Azera, selalu hadir disaat gue memandang wajah cowok ini. Ini juga bukan pertama kalinya gue lihat wajah orang lain yang mirip dengan Ka Azera. Tapi dimana ya? " batin Aretha.
"kenapa melamun?"
"Ah, tidak." kembali menatap kearah luar jendela.
"Aretha !!"
"Iya Kak, ada apa??"
"Boleh nanya sesuatu?"
"Iya."
"Memangnya ada apa kak?"
"Tidak apa-apa. Hanya ingin memastikan sesuatu."
"Aretha berangkat pukul satu."
"Dan kamu memakai baju berwarna Brown serta celana beige?"
"Iya Ka, kok Kakak tau kalau Aretha memakai baju Brown saat pulang ke Indonesia?"
"Berarti benar?"
"Iya." jawab Aretha sedikit dengan pertanyaan Azura.
"Boleh tidak, kalau Kakak minta janji itu."
"Janji? Janji apa ya Ka?" Aretha semakin dibuat binggung.
"Janji, traktir sebuah coffee jika kita bertemu kembali."
"What's ??"
Aretha mencoba mengingat kembali apa yang terjadi di Bandara Charles de Gaulle.
"Hey, sebagai permintaan maaf ku yang resmi. Aku akan mentraktir mu minum coffee saat kita berjumpa lagi. Namun jika kita tidak berjumpa lagi ya itu artinya kita tidak lah, berjodoh tampan." kata itulah yang teringat dalam benak Aretha.
"Jadi kakak adalah orang yang gue tabrak hari itu? Pantas aja gue selalu ngerasa kalau gue pernah melihat wajah kakak sebelum-sebelumnya." Katanya antusias sambil tertawa.
"Ternyata kita itu emang berjodoh Kak! Buktinya kita bertemu kembali. Baiklah, gue akan traktir lo minum coffee tetapi tidak hari ini, karena gue udah sangat begitu lelah. Bagaimana kalau di waktu yang santai saja. Berikan ponsel mu Kak??"
"Untuk apa ponsel gue??"
"Untuk gue buang." jawab Aretha asal.
"Enak saja main lo buang. Lo nggak tau kalau ponsel gue itu keluaran terbaru dan sangat mahal."
"Cih, sombong sekali orang ini."
"Bukan seperti itu maksudnya."
"Makanya kemarikan ponsel Kakak. Mana mungkin Aretha main buang aja asal, gue itu hanya mau pinjam."
tanpa mau berdebat lagi, akhirnya Azura pun menurut memberikan ponselnya pada Aretha. "Nih,"
"Nah gitu dong, apa susahnya sih kalau harus memberikan ponselnya. Lagian gue cuman mau miscall ke nomer gue doang."
"Kenapa juga harus miscall pakai ponsel gue? Kan lo bisa save nomer gue ke ponsel lo dan baru miscall ke ponsel gue. Emang ya, lo itu cewek aneh dan super ribet." Keluhnya.
"Intinya gue sudah tau nomer ponsel lo. Mau dari ponsel gue atau ponsel lo kan sama saja."
"Whatever you say!! (terserah apa kata kamu!!)"
Tanpa terasa mobil yang mereka tumpangi sudah berada di depan lobby apartemen Luxury Residence.
"Terimakasih, Kak." Kata Aretha sambil membuka pintu mobil Azura. "Nanti, untuk minum coffeenya akan Aretha kabari lagi. Aretha turun dulu, sekali lagi terimakasih sudah mau antar Aretha."
"Iya, sama-sama." jawab Azura lalu tersenyum tipis.
"Maaf, tidak bisa menyuruh ka Azura untuk mampir karena sudah malam."
"Tidak apa-apa. Gue pamit." Setelah mengatakan itu, Azura kembali melajukan perjalanannya untuk pulang ke apartemennya sendiri.