
Universitas internasional Pierre.
"Bing," panggil seseorang yang baru saja datang dengan kuda besinya yang berwarna merah menyala, siapa lagi kalau bukan Zeo.
"Hemmm." sahut seorang pria tampan yang juga baru saja turun dari mobilnya.
"Yaelah, jawaban lo datar bener kaya jalan tol."
"Terus, gue harus menanggapi lo dengan bagaimana? Apa gue harus teriak-teriak sambil jingkrak-jingkrak." keluh nya kesal.
"Ngapain kek, asal jangan cuman hemm, salto juga boleh." saran Zeo absurd namun Ammar hanya cuek dan pergi meninggalkan Zeo, menanggapi perkataan unfaedah Zeo hanya membuang-buang waktu bagi Ammar. Rasanya sisa tenaga yang ia miliki saat ini lebih baik ia gunakan untuk hal yang penting-penting saja.
"Buset dah lo Bing, kacang mahal." celotehan Zeo sambil berlari mengikuti langkah Ammar dan Ammar terus berjalan ke arah koridor kampus tanpa memperdulikan Zeo yang terus berteriak.
*
*
Kediaman keluarga Albareesh.
"Tring."
Notifikasi Whats*pp dari ponsel Azura berbunyi. Azura merogoh ke dalam saku jelana jeans nya. Lalu dengan cepat iya membuka password untuk langsung membaca sebuah pesan dari kekasihnya. Saat dirinya menapaki tangga terakhir untuk turun dan sarapan sebelum berangkat ke kampus.
Aretha : Bee, hari ini aku gak ngampus. Kamu gak usah jemput aku. Love you ditambah dengan emoticon hati.❤️
Azura langsung menekan riwayat panggilan dan mengklik nama "Ay"
"Why Ay.?" tanya nya ketika sambungan telepon tersambung.
Aretha : Hari ini aku gak ada kelas bee dan Bunda juga meminta untuk aku menemani Ghea. Jadi aku mau pulang ke rumah Bunda.
Azura : Yakin gak mau aku antar, hum?
Aretha: Tidak perlu, bukan nya pagi ini kamu ada jadwal mapel pak Bambang.?
Azura:"Hemmm." jawab Azura singkat.
Aretha : Kok jawab nya males gitu sih.
Azura : aku males kalau gak ada kamu di kampus, jadi gak semangat.
Aretha : Kok gitu sih, aku gak mau kalau aku kamu jadiin alasan kamu untuk malas -malasan pergi ngampus.
Aretha : Yaudah, hanya hari ini. Nanti aku telpon kamu lagi ya. Aku mau sarapan dan langsung pergi kerumah Bunda.
Azura: Mm, be careful on the way, Ay.
Setelah sambungan telepon nya terputus Azura langsung melempar kan ransel milik nya kesofa ruang tv dan tidak jadi berangkat ke kampus.
"Bang, lo gak ngampus hari ini?" tanya Youra saat hendak menuju ruang makan.
"Males." jawab Azura santai yang masih tiduran di sofa tv.
"Tumben banget Ra males, padahal udah rapih begitu" sambung ka Tiara sambil menggendong Arashtiar.
"Aretha gak ada di kampus. Jadi gue males buat berangkat."
"Cih, alasan lo bang. Alasan lo menurut gue begitu sangat klise, sekalinya buka hati langsung jadi bucin sebucin bucin nya. Pacar gak ngampus jadi ikutan gak ngampus. Dasar lo bocah."
"Berisik lo," melemparkan bantal sofa ke arah Youra.
"Cantik nya bunda, jangan tiru om dan Tante ya. Tingkah mereka semua, kacau-balau." ucap ka Tiara menasehati atau lebih tepatnya menyindir kelakuan adik ipar nya. Namun anak nya hanya menatap wajah Azura tanpa berkedip. Entah baru melihatnya lagi atau merindukan sosok Azura.
"Hey, kamu terpesona ya sama Om. Kenapa gak kedip-kedip lihat Om sih. Om emang tampan melebihi ayah mu, kamu mau Om gendong.?" Azura berkata sambil merentangkan kedua tangannya. Tiba tiba saja bantal sofa yang tadi di buang Azura ke arah Youra kini mengenai wajah Azura.
"Bugkh''
"Ha.ha.ha.ha.."Youra tertawa terbahak-bahak.
"Youuraaaa"bteriak Azura. "Mom, Youra rese nih." kini Azura mengngadu pada Mommy nya.
Arashtiar yang melihat mimik Azura kesal, malah ikut tertawa.
"Dih, dih, main nya ngaduan lo. Dasar no gentleman banget lo bang." cibir Youra, sambil melirik ke arah Azura.
Sementara yang di lirik pura-pura mengalikan pandangan nya. "Hey, kenapa ikut menertawakan Om sih, kamu harus nya bantuin om." gemes Azura mencubit pipi gembul baby perempuan yang berumur satu tahun di pangkuan ka Tiara itu.
"Habis nya Om lucu sih." ucap Tiara menirukan suara anak kecil.
Mommy yang melihat keakraban dan keharmonisan anak-anak nya, serta menantunya, merasa sangat begitu beruntung dan senyuman nya kini terlihat begitu sangat bahagia. Ia bersyukur anak kedua lelakinya kini sudah sering berada di rumah utama semenjak ia membuka hati menerima gadis lain yang menurut Mommy membawa pengaruh yang sangat-sangat baik baginya. Ya meskipun tidak tinggal menetap dan hanya sesekali pulang menginap atau terkadang tiga hari berada di rumah utama. Tapi Mommy sudah benar-benar merasa bersyukur. Suasana yang hangat, jarang Mommy temukan semenjak Azura pergi meninggalkan rumah utama tapi kini kehangatan itu pun kembali dapat ia rasakan dan Mommy Nikmati.
"Youra sayang, cepat sarapan dan berangkat kesekolah. Jangan buat Abang mu merasa tidak nyaman karena ulah iseng mu, itu nak." ucapan Mommy terdengar begitu lembut. Pembawaan nya yang tenang mampu membuat orang yang mendengarkan langsung ikut menuruti permintaan nya. "kamu juga Tiara, cepat sarapan. Nanti keburu dingin makanannya dan memangnya kamu tidak ke Cafe hari ini?" ucap Mommy menuangkan susu ke dalam gelas Youra.
"Tiara agak siangan ke cafe nya Mom. Lagi pingin sama Arashti, dari kemarin kan dia tinggal di rumah utinya jadi Tiara pingin sedikit lebih lama bersama Arashtiar." Tiara berjalan menghampiri meja makan dan segera sarapan ketika sudah duduk di kursi meja makan. Sedangkan Arashtiar ada dalam gendongan Azura yang terus saja tertawa