WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 60



Hampir satu jam, mobil yang di lajukan Azura berlalu membelah jalan nya malam ibu kota yang masih ramai. Hiruk pikuk kehidupan pun masih bisa dirasakan meskipun itu di sebuah jalan raya.


Mobil Azura memasuki kawasan apartemen P'avenue dan berhenti tepat di basement. Azura yang hendak segera membuka pintu, namun sudut matanya menangkap sosok Aretha yang terlihat menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Gadis itu tengah terlelap tidur dengan wajah yang nampak begitu manis di mata Azura.


Azura mendekat, dia melepaskan seat belt ditubuh Aretha lalu membangunkan nya. "Ay, bangun. Kita sudah sampai." serunya berbisik.


Aretha mengeliat, sepertinya Aretha memang sedikit terlihat lelah. Sehingga Azura menjadi tidak tega membangunkan nya.


Mereka berdua turun dan berjalan perlahan sambil bergandengan tangan memasuki lift menuju lantai tertinggi p'avenue. Keluar lift, mereka masih harus berjalan sedikit melewati lorong sebelum akhirnya sampai di depan kamar apartemen yang terbilang begitu sangat luas untuk ukuran satu orang saja. Ornament klasik di mix dengan nuansa maskulin dapat Aretha rasakan ketika kembali masuk kedalam nya.


"Kamu istirahat disini sebentar. Aku masuk kedalam kamar dulu." mengusap lembut pucuk kepala Aretha.


"Mm, jangan lama."


Azura mengangguk paham. Lalu berlalu pergi meninggalkan Aretha.


Aretha yang sedikit bosan menunggu, akhirnya bangun dan berjalan kearah pintu kaca yang mengarah ke sisi balkon, meskipun ia beberapa kali pernah masuk dan datang kesini. Namun ia belum pernah berkeliling dan melihat-lihat apartemen kekasih nya yang terlihat begitu besar dan mewah. Tanpa sengaja, ia menatap sudut yang terlihat begitu sangat menarik perhatian nya. Terdapat lemari kaca besar didalam satu ruang yang seperti nya itu adalah ruang kerja. Ia masuk dan melihat berbagai macam piala serta piagam yang seperti nya di dapat kekasih nya itu dari sejak kecil.


Dan disaat sudut matanya mengarah ke samping piagam emas, tanpa sengaja mata nya menangkap sebuah potret lama. Yang di mana dalam potret itu ada seorang laki-laki paruh baya yang masih terlihat gagah sedang merangkul seorang perempuan yang umurnya tak jauh berbeda. Sepertinya mereka adalah sepasang suami-istri. Lengkap dengan tiga anak laki-laki.


"Ay," panggil Azura yang baru saja masuk dan menemukan kekasih nya berada di ruang kerjanya.


"Maaf, aku lancang."


"Tidak apa-apa sayang. Kenapa harus berbicara seperti itu." Azura merengkuh, memeluk Aretha dari belakang.


"Mm, apa kamu lapar?" Azura melonggarkan pelukannya.


"Sedikit." seru Aretha.


"Mau aku bikin kan sesuatu?" tanya Azura kembali.


"Boleh." ucap Aretha seraya tersenyum.


"Bagaimana kalau capcay dan udang tepung saus asam manis?"


"Emm, seperti nya itu menggugah selera. Aku mau kamu buat kan menu spesial itu untuk ku."


"Siap" memberi hormat.


Azura langsung ke arah dapur dan menyiapkan peralatan dan bahan-bahan, serta membesihkannya terlebih dahulu. Ia memakai apron layak nya koki profesional. Butuh waktu beberapa menit hingga kemudian ia dapat menyajikan makanan itu di atas meja makan.


"Emm, ini enak." ucap Aretha yang sudah sedikit mencicipi masakan Azura.


"Bee, dari mana kamu belajar berbagai macam makanan? semua masakan yang kamu buat itu terasa sangat nikmat."


"Semua itu aku belajar dari nenek, nenek yang mengajarkan berbagai macam makanan saat aku dan kak Arash di Paris dahulu. Bahkan aku dan kak Arash begitu terampil pada keahlian memasak. Makanya ka Tiara buka cafe saat ini karena ia belajar banyak dari kami berdua, bahkan ka Tiara selalu berdiskusi pada aku atau ka Arash saat ingin menambahkan menu baru pada cafenya." ucap nya sambil merapihkan berbagai macam peralatan.


"Wah, sungguh luar biasa. Apa kamu bisa buat cheese cake strawberry.?"


"Nanti akan aku buatkan cheese cake strawberry spesial untuk kamu."


"Mm, sekarang makan ini dulu."


Mereka makan, dengan sangat begitu hikmat seperti biasanya. Tak banyak omongan yang mereka keluarkan selain dentingan suara sendok yang beradu pada piring. Mereka selesai melahap habis makanan mereka dan kini mereka sedang menikmati moment berdua di ruangan televisi.


"Bee, siapa orang yang berada di potret yang aku lihat tadi? seperti nya potret itu di ambil bukan di Indonesia?" seru Aretha bertanya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Azura.


"Itu kakek dan nenek ku yang berada di paris. Mereka tinggal menetap di sana."


"Oh, lalu tiga anak lelaki itu, Kak Arash dan siapa?"


"Bagaimana kamu tahu kalau itu kak Arash?" tanya balik Azura tanpa menjawab pertanyaan Aretha.


"Aku pernah melihatnya di ponsel kak Tiara." jawab Aretha jujur.


Aretha memang pernah tak sengaja melihat ponsel kak Tiara yang tergeletak di meja yang ia duduki bersama Zee, sebelum kak Ammar dan Azura datang ke cafe waktu itu.


"Kamu tunggu disini. Aku mau ambil sesuatu dulu."


Aretha mengangguk.


Selang beberapa menit, Azura kembali dengan sebuah MacBook di tangannya yang ia bawa keluar dari arah ruang kerjanya. Lalu kembali duduk bersama Aretha. Ia buka MacBook miliknya dan ia tekan tombol on. Setelah layar itu menyala, ia kembali mencari file yang tersimpan. Dihadapkan nya sebuah MacBook itu kearah Aretha, lalu kembali mengklik folder dengan nama my family.


Aretha mengkerut kan dahinya tanda ia bingung.


Ada sebuah foto anak laki-laki kembar yang berusia sekitar dua tahun. Sedang dalam gendongan wanita paruh baya yang begitu sangat cantik. Sepertinya itu wanita yang sama yang ia lihat di dalam potret tadi.


"Ini begitu sangat mirip, apa anak laki-laki ini adalah anak kembar?" tanya Aretha yang sedikit bingung sekaligus penasaran.


"Yups, ini adalah aku dan yang satu nya lagi adalah kembaran ku, namanya Azera." jelas Azura.


"Kamu anak kembar? Lalu dimana kembaran mu bee? Apa ia tinggal di Paris?"


"Tidak, justru aku yang tinggal di Paris bersama nenek dan kakek ku serta ka Arash. Sedangkan ia tinggal bersama Mommy dan Youra di Indonesia. Kembaran ku, sudah terlebih dulu pergi. Mungkin Allah lebih sayang terhadap nya. Ia meninggal dunia pada saat usinya 14 tahun, ia mengalami kecelakaan di saat ingin menemui seseorang."


"Sorry, I don't know.(Maaf, aku tidak tahu.)" seru Aretha yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa. Oh iya Ay, ada hal penting yang ingin aku katakan. Mungkin salah satunya yang ingin aku ceritakan, adalah hal ini. Aku tidak ingin terus menyimpan rasa yang selama ini aku tahan agar nantinya aku tidak lagi membohongi mu."


Aretha semakin di buat bingung oleh Azura yang tengah berbicara serius. Namun Aretha masih berusaha fokus dan tetap mendengar kekasih nya berbicara.


"Apa hubungannya dengan ku. Kenapa ia terus saja berkata tidak ingin membohongi aku." gumam Aretha dalam hati.


Azura kembali menslide foto dalam MacBook nya. Kali ini, ada foto keluarga besar Albareesh yang terdiri dari. Zielbalaga Bareesh. Seorang laki-laki paruh baya yang merupakan kakek dari Azura, sedang duduk di kursi kebesaran nya di temani istri tercinta nya yaitu Ayca Berguzar Bareesh. Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah tidak muda lagi. Yaitu nenek dari Azura. serta Daddy Made Pierre Eglar Albareesh yang merupakan ayah dari Azura." terang nya perlahan.


"Ayca Berguzar Bareesh? seperti nya nama itu tidak begitu asing di telinga ku. Tapi dimana aku pernah mendengar nama itu.?" pekik Aretha berusaha mengingat kembali nama yang menurut nya tampak tak begitu asing. Namun Azura hanya terdiam dan melanjutkan kembali menslide foto berikut nya pada foto terakhir dalam polder tersebut.


Sejenak Aretha terdiam. Memandangi foto di depan nya. "Wanita ini" Aretha menunjuk wanita itu dengan jari telunjuknya dan langsung menengok kearah Azura. Berharap mendapatkan Jawaban dari pertanyaan yang berpusat di otak nya saat ini.