
Suara bising kantin rumah sakit terdengar begitu sampai lorong dan menyambut kedatangan kami bertiga. Tidak butuh waktu lama untuk kami mencari sosok ka Ammar dan kak Zeo di tengah kerumunan orang-orang.
Tangan Zeo melambai dan senyum nya sumringah ketika melihat kekasihnya yang berjalan bersama kami mendekati mereka.
"Minggir, Mar.!" ucap Zeo saat Sha-sha datang.
Lelaki tampan setinggi 185 cm itu beranjak dari kursi tersebut sesuai permintaan sahabat nya. Sebelum pindah ke kursi di meja sebelah, dia menoleh ke arah Zeo menatap kesal dengan pandangan tajam.
"Sorry bing,"vucapan nya cengengesan.
"Dia gak ada disini Tha," suara Ammar menghentikan pandangan mata Aretha yang melihat sekeliling seperti mencari seseorang.
"Apaan sih, ka." Jawab Aretha ketus.
"Kalian bawa apa.?" tanya Zeo heran sekaligus menyeka perkataan antara kedua sepupu itu, serta melihat ke atas meja yang di penuhi berbagai paperbag.
"Bawa buah dan beberapa cemilan buat ka Zayn dan kalian." Sangah Zee menyeruput es jeruk di meja yang entah es tersebut punya siapa.
"Yank, bukan kah kak Claudia hari ini di perbolehkan pulang,? lalu kenapa kalian malah duduk santai di sini." lanjut Zee.
"Claudia boleh pulang setelah berbagai macam serangkaian hasil scannya sudah keluar dan jam besuk nya belum boleh. Jadi kami menunggu di sini sampai pukul sebelas." terang Ammar.
"Terus ka Claudia sendirian?"
"Ada Zayn yang menunggu di dalam ruangan rawat Claudia."
"Ka Azura Kemana? kok Sha-sha gak lihat sih sedari tadi."
"Azura diminta untuk keruangan khusus kepala rumah sakit." jelas Ammar kembali.
"Oh," jawab Sha-sha manggut-manggut. Sedangkan Zee kembali bertanya kepada kekasih nya. "Memangnya ada hal apa sampai kak Azura harus kesana?"
"Entahlah, mungkin ada hal penting yang harus dibahas dengan Azura."s sangah Ammar sambil melirik jam dipergelangan tangannya. "Sudah jam sebelas, waktu nya jam besuk." meskipun ruangan Claudia itu VVIP tapi untuk masalah jam besuk memang harus sesuai prosedur yang telah di berlakukan mengingat tentang kondisi pasien.
"Tha, kok bunga yang tadi lo beli untuk ka Claudia gak lo bawa sih?."
"Astaga Zee,cgue lupa." Aretha menepuk keningnya perlahan. "Ya sudah, gue ambil dulu deh di mobil. Kalian kalau mau ke ruangan ka Claudia duluan gak apa-apa, biar Aretha nyusul."
"Gak apa-apa kamu sendirian? Atau mau kakak temani?" tanya Ammar.
"Gak apa-apa kak, Aretha sudah tau kok ruang rawat kak Claudia. Biar Aretha nanti nyusul sendirian aja."
"Ya sudah, kalau begitu. Kami duluan ke lantai atas."
"Iya kak,"
Dipencetnya sebuah tombol panah atas di samping lift, tak lama kemudian pintu lift terbuka dengan ruang yang terlihat kosong. Ia kembali memencet tombol berangka lima untuk keruangan dimana Claudia di rawat. Saat setengah pintu lift tertutup tiba-tiba saja ada sebuah tangan putih bersih kekar menyeka pintu untuk ia bisa masuk.
"Cantik" seru seseorang yang baru saja masuk kedalam lift.
"Terimakasih!" pekik Aretha seraya menatap wajah Azura.
"Bunganya yang cantik." jawabnya.
Aretha mengalihkan pandangan ke arah lain dan menutup wajahnya dengan hand bouquet yang ia bawa. Aretha merasa kesal bercampur malu ketika ia salah menganggap pujian Azura adalah untuk dirinya.
Mereka berdua sudah di dalam lift, Aretha tidak bisa berkutik lagi, gadis itu berdiri disamping Azura dengan bibir yang mengerucut sementara Azura mengulum senyum dengan satu tangan masuk kedalam saku celananya.
Pintu lift terbuka ketika lift tersebut sudah berada di lantai lima. Dengan segera, Aretha ingin melangkahkan kakinya menuju pintu lift yang terbuka untuk segera keluar. Namun dengan gerakan cepat Azura mencegah agar Aretha tidak keluar terlebih dahulu serta satu tangan Azura menekan tombol pintu terbuka.
"Ka ada apa.?" tanya Aretha bingung sambil menatap intens wajah Azura.
"Cantik" ucap Azura sambil terus memandangi wajah Aretha.
"Bunganya kan ka.? Aretha tau kok, gak usah di perjelas lagi." kesal Aretha menerobos keluar lift.
"Kamu." ucapnya sambil mengecup bibir Aretha sekilas dan pergi begitu saja meninggalkan Aretha yang terpaku di depan pintu lift.
"*Anj*r, kenapa gue jadi tersipu begini kaya anak abegeh." Batin Aretha*.
Dengan segera Aretha menyusul langkah Azura.
Tok..
tok..
tok..
Aretha mengetok pintu kamar rawat Claudia sebelum masuk.
Azura yang baru saja tiba sebelum beberapa detik dari kedatangan Aretha langsung membuka pintu kamar rawat inap Claudia.
Aretha menatap kesal wajah Azura, melangkah melewatinya dan langsung saja menghampiri ranjang dimana Claudia terbaring.
"Ka, ini untuk mu, semoga kakak menyukai nya."
"Terimakasih Aretha,"vClaudia memeluk tubuh Aretha dan tersenyum hangat setelah itu Aretha beralih ke sisi sofa dimana kedua sahabatnya duduk dengan posisi disamping kekasih mereka masing-masing.