
Seminggu setelah pasca operasi dan mengalami koma, akhirnya hari ini Claudia sudah bisa sadar.
Zayn yang tak pernah absen menunggu dan merawat Claudia dengan perasaan yang tidak menentu. Akhirnya bisa kembali melihat kekasihnya, ia terus memandangi wajah cantik yang terbalut pucat pasi itu dengan terus tersenyum dan menggenggam tangan Claudia erat bahkan sesekali ia menciumi punggung tangan Claudia.
Kini Claudia sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus VVIP sesuai permintaan Azura kepada Daddy nya langsung. Butuh berjam-jam lamanya untuk mengingat dan menyesuaikan keadaan sejak ia tersadar dari tidur panjangnya selama seminggu pasca operasi.
"Sayang, aku rindu sekali padamu. Kamu membuat aku sangat takut. Takut akan kehilangan kamu" ucap Zayn sambil terus menciumi punggung tangan Claudia.
Air mata Claudia mengalir membasahi pipinya. Bibir nya terasa kelu untuk mengatakan satu katapun saat ia mengingat satu persatu kejadian yang ia alami.
"Zayn, maaf" hanya sebuah kata itu yang berhasil Claudia ucapkan, selebih nya ia hanya bisa menangis pilu.
"Syutt" Zayn menempel kan jari telunjuk nya ke bibir Claudia, lalu dengan cepat Zayn menghapus air mata yang mengalir di pelupuk mata Claudia.
"Sayang, justru aku yang seharusnya minta maaf kepada mu, aku tidak bisa menjagamu dengan baik sesuai janji ku. Kamu jangan pernah menangis dan berusaha meninggalkan ku lagi ya." Ucapan lembut Zayn terdengar di telinga Claudia.
Claudia sadar dan paham akan ketakutan pria yang tengah memandangi wajah nya. Claudia bisa merasakan betapa hancur nya hati kekasih nya itu, ia bisa melihat betapa takaruan nya Zayn dan betapa rapuh nya Zayn dari tatapan mata Zayn. Namun pria itu berusaha terlihat tenang dan baik-baik saja di depan dirinya. Claudia dapat melihat dengan jelas betapa besar Zayn mencintai nya. Hati Claudia ikut merasakan kepiluan mendalam melihat wajah kusut kekasihnya itu.
"Tidak ada yang harus memaafkan dalam keadaan situasi yang kita alami yank, semua ini adalah murni kesalahan kita berdua. Aku yang salah telah mengambil sebuah keputusan yang tak pernah berfikir akan menyakiti mu dan kamu salah telah berusaha pergi dan menghindari ku. Semua ini memang sudah jalan yang harus kita lalui. Ternyata Allah masih mencintai kita, dengan begitu cepat menyadarkan kita dari kesalahan yang kita lakukan Zayn." air mata nya kembali menetes.
Claudia memang sudah mengetahui bahwa anak nya tidak dapat diselamatkan karena mendengar perkataan Zayn sebelumnya, ia mendengar saat Zayn berkata maaf terus menerus sambil mengusap lembut perut Claudia. Ia berusaha untuk menahan tangis nya tapi ia tak sanggup dan akhir bangun dan berpura-pura tidak mendengar perkataan Zayn seolah-olah ia baru tersadar.
"Berjanjilah pada ku untuk tidak mengulangi perbuatan mu. Aku sungguh sangat takut bila harus kehilangan mu." Zayn menundukkan kepalanya dan menyeka air matanya yang sudah tak dapat ia bendung lagi.
"Zayn, sayang. Peluk aku Zayn, aku sungguh merindukanmu. Aku yang justru sangat takut bila kamu meninggalkan ku sendirian seperti kemarin. Harus nya kamu yang berjanji pada ku untuk tidak meninggalkan ku. Aku mencintai mu Zayn, aku tidak bisa hidup tanpa mu. Aku sungguh takut akan kehilangan mu Zayn." Claudia mengusap lembut rambut Zayn saat Zayn tertunduk.
Zayn tanpa ragu langsung berdiri dan sedikit membungkuk untuk memeluk tubuh kekasih nya yang tengah terbaring. Mengusap lembut kepala Claudia dan berkata "I love you Clau, I love you so much. Will you marry me after we graduate."
Claudia menganggukan kepalanya, lalu mereka menangis bersama sambil berpelukan.
Dibalik pintu ruang kamar VVIP rumah sakit, Ammar, Zeo dan Azura pun ikut menangis. Mereka juga ikut merasakan kesedihan yang kedua sahabatnya alami. Walaupun sebuah kesalahan, keegoisan yang sempat melanda hubungan mereka. Tapi cinta tulus merekalah yang akhirnya menyadarkan mereka dan membuat mereka bertahan satu sama lain nya.
Azura menghela nafas, menyeka sisa air mata nya dan tersenyum. "Kita tunggu di kantin rumah sakit aja men, moment nya gak tepat kalau kita masuk kedalam." katanya menepuk pundak kedua sahabatnya.
Ammar dan Zeo pun juga menyeka air mata mereka sebelum akhirnya berjalan mengekori Azura.