WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 29



GELEGAR... GELEGAR... (anggap saja suara petir.)


Aretha yang baru saja akan terlelap di kagetkan dengan suara gemuruh petir yang menyambar. Aretha langsung bangkit dan berlari memeluk Azura.


Azura yang belum terlelap sepenuhnya pun di kagetkan dengan pelukan hangat dari seseorang, dibiarkannya Aretha memeluk tubuhnya itu menyesapkan dalam kepalanya pada dada bidang Azura agar Aretha merasakan aman dan nyaman dalam pelukannya. Azura hanya tersenyum sambil terus berpura-pura tidur, ia dapat merasakan tubuh Aretha yang tenang tanpa ketakutan tidak seperti saat mereka berada di dalam mobil dahulu. Selang beberapa menit terdengar deru napas yang kian teratur menandakan bahwa sang empu sudah terlelap dalam pelukannya.


Didekapnya tubuh Aretha dengan erat seakan tidak ingin melewatkan momen kesempatan yang tidak bisa ia dapatkan saat Aretha terbangun.


Azura terus menatap dalam wajah teduh Aretha saat tengah tertidur, sungguh sempurna pahatan Wajah yang Aretha miliki. Parasnya yang cantik mampu menghipnotis Azura. ia dapat membelai wajah itu dan terus menerus menciumi dalam-dalam aroma semerbak wangi tubuh dan rambut panjang Aretha dari dekat, seakan ada sesuatu yang mengalir merambah kedalam tubuh Azura yang Azura sendiri tidak mengerti mengapa rasa itu membuat tubuhnya merasakan desiran-desiran gelora sehingga mendorong Azura agar menciptakan letupan gairah.


"****, kenapa si Azunior (nama otongnya Azura.) bisa terbangun dengan mudahnya hanya dengan memeluk, menciumi aroma tubuh dan rambutnya. 


"Ayo Azura kendalikan diri mu dan mulai lah berpikir dengan jernih." Azura terus saja berperang dengan batinnya. Ia tidak dapat lagi menahan dorongan yang terus saja mendorongnya agar bisa menuntaskan hasr*t nafs*nya.


Dengan segera Azura melepaskan pelukan Aretha dan berlari menuntaskan apa yang sudah berdesir dan bangun di dalam kamar mandi.


Hujan di langit sudah tak lagi meneteskan buliran airnya ke bumi yang menandakan bahwa langit sudah tak lagi mendung, bersamaan dengan keluarnya Azura dari dalam kamar mandi.


"Kakak dari mana?"


"Apa kamu tidak dapat melihat rambut ku yang basah ini? Yang berarti aku baru saja mandi."


Gadis itu terkekeh geli. "Aretha pikir habis mandi hujan." ledeknya.


"Ya,"


setelah beberapa menit Aretha keluar dari kamar mandi. Disaat itu juga Azura baru datang mengambil sebuah pakaian dan melemparkannya kepada Aretha.


"Nih, cepat ganti baju mu dan aku tunggu di lobby."


"Tapi Kak? Ini bukan baju aku?!" protes Aretha.


"Sudah pakai saja baju itu dan jangan terus menerus protes. Aku berniat mengambil baju mu tapi justru malah koper mu di kunci, pakai saja yang ada." Keluar menutup pintu, lalu ia kembali membuka pintu kamar tersebut. "Fifteen minutes, waktu mu hanya fifteen minutes. Setelah lebih dari fifteen minutes kau belum selesai juga, maka kau sudah tak lagi melihat mobil ku, yang artinya aku sudah pergi meninggalkan mu.”


"Ish, nyebelin." gerutu Aretha sambil memanyunkan bibirnya.


"Tidak usah memanyunkan bibir mu seperti itu atau kau mau aku menambah jam sewanya agar kita dapat bersenang-senang menikmati waktu disini berdua dengan hukuman dari ku?" Azura berbicara dengan seringai liciknya sambil menarik turun kan kedua alisnya.


"Dasar senior mesum, seenaknya saja mau menghukum ku." Katanya berbicara kencang, membuat Aretha bergidik ngeri. Ia mengetahui dengan jelas hukuman yang Azura maksud adalah menciumnya 


Azura hanya tersenyum gemas melihat tingkah Aretha.


waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 mereka langsung melanjutkan perjalanan mereka menuju ke camp.