
"Mau kemana?" seru Aretha bingung.
"Aku mau ajak kamu pergi jauh."
"Kemana?"
"Ayo masuk dulu. Nanti, kamu bakalan tahu kemana tujuan aku membawa kamu nanti nya."
Aretha mengangguk, menyetujuinya. Ia langsung menurut untuk masuk kedalam mobil Azura. Mau kemanapun ia pergi yang penting bersama Azura itu akan membuat nya sangat bahagia. Aretha juga suka bila menghabiskan waktunya bersama pria itu sekalipun hanya beberapa menit saja.
Setelah kedua nya masuk, Azura langsung menjalan kan mobilnya membelah jalan Ibu kota dengan kecepatan tinggi menuju kota tujuannya.
"Setelah ini, kamu berencana bekerja dimana bee?" tanya Aretha.
"Setelah ini aku harus memegang perusahaan Daddy. Abang Arash sudah tidak lagi megang Pierre group karena ia akan megang perusahaan Albareesh. Jadi aku menggantikan posisi nya."
"Wah, kamu pasti nanti kamu bakalan sibuk banget deh."
"Kenapa begitu?"
"Mengingat perusahaan Pierre group kan bukan perusahaan kecil. Aku takut, jika nanti kamu mempunyai sekertaris cantik dan sexy."
"Terus hubungannya?"
"Terus jadi lupa dan mengabaikan aku."
"Kok bicaranya seperti itu?"
Aretha tersenyum manis, "Aku hanya bercanda. Aku percaya kepada mu, kalau hati ini." tunjuk Aretha ke dada bidang Azura. "Hanya ada nama aku kan?" Aretha menatap wajah tampan Azura dengan sangat lekat.
"Jangan tatap aku seperti itu, Ay."
"Kenapa?" tanya Aretha tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun.
"Aku jadi salah tingkah setiap kali kamu melakukan hal ini." jujur Azura.
"Tapi aku suka, wajah kamu mengalihkan dunia ku, Bee." gombal receh Aretha.
"Cih, kamu mencoba menggoda ku, hum?"
Aretha tertawa mendengar nya. "Tidak, aku memang suka melihat wajah mu. Coba kamu ingat-ingat kembali, di saat aku pertama kali berjumpa dengan mu. Aku benar-benar terbelalak, terpanah melihat wajah mu itu. Entah mengapa, wajah datar dan digin mu itu menjadikan diri mu berbeda dari pria lainnya dan aku suka, itu terlihat menggemaskan bagi ku."
"Sungguh?"
Aretha mengangguk, "Hum."
"Mulai saat ini kamu bebas menatap ku sesuka hati mu, Ay." Azura sudah terbiasa mendengar ucapan Aretha, tetapi jantungnya masih saja sulit terkontrol. Serasa ingin keluar dari tempat nya jika di puji seperti ini.
Tujuan yang ingin mereka kunjungi adalah sebuah danau besar dengan udara sejuk dan dilatar belakangi persawahan dan perkampungan penduduk dengan gunung yang menjulang tinggi menambah keindahan panorama alam yang sudah ada. Danau yang terletak di kawasan puncak, Bogor jawa barat.
"Kenapa kesini?" tanya Aretha.
"Apa harus ada alasan, bila aku mengajak mu kesini?" kata Azura menggandeng tangan gadis itu.
"Aku rasa harus ada alasannya." jawab Aretha.
"Mm, dulu aku sering mendengarkan Azera saat dia bercerita di telepon. Jika kamu menyukai pemandangan danau dan kalian juga hampir setiap hari kan datang ke danau itu hanya untuk sekedar mengobrol. Maaf, aku belum bisa ajak kamu ke danau itu karena mengingat jaraknya cukup jauh. Tapi ini tidak buruk kan?" kata Azura yang sudah mengajak Aretha duduk di atas perahu bambu yang berada di danau itu.
"No bad." Aretha memejamkan matanya, sangat nyaman rasanya bersandar di tangan kekar pria ini.
"Sebenarnya, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan." Azura menyerong kan duduknya agar bisa duduk berhadapan langsung pada Aretha.
"Katakan lah"
"Berjanji tidak akan marah lagi."
"Mm, aku berjanji." bahkan Aretha kini mengangkat jari kelingking nya.
Azura tersenyum dan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking milik Aretha. Setelah itu, ia mengambil sesuatu dari saku celana kanannya.
"Ini." seru Azura memperlihatkan sesuatu kepada Aretha.
"Ini kan?" Aretha sedikit mendongak menatap ke arah Azura.
"Mm, ini cincin kamu yang hilang. Zeo yang menemukannya."
"Apakah aku masih boleh mengenakan nya?"
"Yes, of course (ya, tentu). Kamu masih boleh mengenakan ini karena cincin ini adalah milik ku."
Azura tersenyum melihat kebingungan yang tersirat di wajah gadis itu.
"Ini memang milik ku, Ay. Disaat umur aku delapan tahun, nenek ku memberikannya sebagai hadiah karena aku berhasil menyabet peringkat satu olimpiade di London. Ia berharap, di saat aku sudah besar nanti. Aku bisa memberikannya pada seseorang yang aku cintai."
"Namun aku meninggalkannya di dalam laci kamar lama ku. Lebih tepatnya tidak sengaja meninggalkannya karena aku harus terbang ke Paris bersama Abang Arash." jelas Azura panjang lebar.
Aretha terdiam, mencoba mengingat-ingat perkataan yang pernah ka Ezranya katakan.
Flash back on.
"**Pakai ini dan jangan pernah di lepaskan karena cincin ini adalah milik seseorang yang teristimewa bagiku. Suatu saat nanti, cincin ini akan kembali kepada pemilik nya. Jadi jaga baik-baik selama aku tidak ada**."
"**Iya kak, Aretha berjanji akan memakainya dan menjaganya baik-baik" jawab Aretha sambil memegang cincin yang sudah di berikan oleh Azera**.
"**Cincinnya kebesaran**, Kak." **sambil tersenyum dan memperlihatkan cincin itu yang terlihat begitu longgar di tangan kecil milik Aretha**.
"Kalau begitu simpan saja cincin ini seperti aku menyimpan nya."
Azera lalu memasukkan cincin itu kedalam kalung miliknya sehingga membentuk sebuah bandul dan diberikan kepada Aretha.
Fash back off.
"Ay, kamu marah?" panik Azura.
"Tidak, aku hanya mencoba mengingat-ingat kembali ucapan kak Ezra waktu itu." jawab Aretha jujur.
"Suatu saat nanti cincin ini akan kembali kepada pemiliknya." gumamnya pelan sambil tersenyum penuh arti.
"Apa aku boleh memeluk mu?"
"Tentu Ay, jangan kan memeluk. Aku bersedia memberikan seluruhnya pada mu."
"Ih, itu akan aku pinta jika kamu sudah berikrar di hadapan Allah dan kedua orang tua ku, Bee."
Kalau begitu, "I WANNA MAKE YOU MINE." (Aku ingin menjadikan kamu milik ku)
"Maksudnya?"
"Aku ingin mengikat mu secara resmi, Ay. Aku ingin kita bertunangan." jawab pria itu tegas, seolah tak ingin terbantahkan sambil mengangkat jari wanita yang kini menatap tak percaya kepadanya.
"Kamu tidak lagi bercanda kan?"
"Apa aku terlihat sedang bercanda?"
Aretha menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau kamu sedang bercanda atau serius. Aku tidak bisa membedakannya, Bee. Wajah mu itu terlihat datar." Aretha tersenyum tidak enak.
"Huft" Azura menghela napasnya dengan sangat kasar.
"Kamu bi...."
"Ya, aku tau kamu berkata serius dan jujur. Hanya saja aku berusaha untuk menghindari rasa gugup ku, sungguh aku gugup dan malu." potong Aretha.
Azura menggenggam tangan gadis itu dengan sebelah tangannya sedangkan tangan satunya lagi masih memegang cincin.
"Bagaimana dengan ini?" menunjukkan cincin nya, agar di masukan atau tidak kedalam jari manis milik Aretha.
Aretha memejamkan mata. Sedetik kemudian, ia menjawab dengan sebuah anggukan kepala yang dimana berarti gadis itu menerima ikatan resmi ajakan pertunangan Azura.
"Love you, Ay." ucap Azura sambil memasukkan cincin yang ada di tangannya ke dalam jari manis Aretha.
"Love you too, Bee." menggenggam erat tangan kekar milik Azura.
"Ayo kita pulang. Tapi, sebelum pulang kita makan dulu ya." pinta Aretha.
"Iya" jawab Azura mengacak-acak rambut panjang Aretha.
Lalu, mereka berdua berdiri dan kembali berjalan menghampiri mobil mereka yang terparkir cukup jauh. Setelah lelah berjalan, akhirnya mereka sampai di dalam mobil. Aretha masih terus tersenyum, sedangkan Azura sibuk memakai kan seat belt ditubuh Aretha.
Sekarang, Azura malah mengarahkan wajahnya mendekati wajah Aretha sambil tersenyum tipis. Lalu mencium bibir Aretha sekilas dan dibalas oleh Aretha, sehingga ciuman itu kini berubah menjadi lum*tan-lum*tan yang menuntut untuk lebih.
_END_
Terimakasih banyak, bagi kalian yang terus mendukung karya pertama ku hingga akhir. Dukung aku terus ya, agar aku bisa mengembangkan apa yang ada di benak ku kedalam tulisan. Sehingga aku bisa menciptakan karya selanjutnya.
Terimakasih 😘😘😘😘luph.luph.luph untuk kalian semua.🤗