
Keduanya sedang dalam perjalanan menuju Area camp yang menjadi tujuan tempat acara keakraban, letaknya tepat di sebuah perdesaan berkabupaten jawa barat. Tak banyak pembicaraan yang terjadi di antara keduanya di dalam mobil sejak mereka berangkat hingga sekarang mobil yang mereka tumpangi bersama Aretha tengah berada di sebuah perbatasan kota menuju jalan perdesaan.
Hampir empat jam lebih mereka menelusuri jalan dengan kecepatan rata-rata. Cuaca yang semula awalnya hanya terlihat mendung, namun sekarang tiba-tiba saja turun hujan lebat mengguyur mengiringi perjalanan mereka. Beruntung gadis yang tengah duduk santai sambil memainkan ponsel miliknya di samping kursi kemudi tidak kelabakan saat melihat hujan turun dengan sangat deras karena hujan tidak di iringi suara petir.
"Kak." panggil Aretha memecahkan keheningan yang sedari tadi menyelimuti perjalanan mereka.
"Mm," jawab Azura santai, sambil terus fokus pada jalan yang sudah tertutup hujan deras dan di tambah kabut cuaca dingin dari perdesaan tersebut.
"Berapa lama lagi perjalanan yang harus kita tempuh agar cepat sampai, Kak?" tanya Aretha, ia sudah merasakan lelah akibat jalan yang mereka tempuh cukup jauh dan memakan waktu sampai empat jam lamanya.
"Sekitar satu jam lagi perjalanan, tapi sepertinya kita harus segera berhenti berisitirahat dan berteduh dulu. Kakak tidak lagi bisa memaksakan perjalanannya sekarang."
"Kita mau berhenti berteduh di mana, Kak? Kakak tidak melihat kiri dan kanan jalan yang kita tempuh hanya ada kebun teh."
"Kakak akan berjalan sedikit lagi, di depan jalan sana, akan ada sebuah motel dan kita bisa berhenti berteduh sambil beristirahat dulu di sana!"
"Motel? Kakak yakin kita akan berhenti di sana?" tanyanya was-was.
"Ya"
"Mengapa kita harus berteduh dan beristirahat di sana? Memangnya tidak ada tempat lain?" protes Aretha.
"Terus kita harus berhenti di mana? Kan, kamu sendiri yang tadi mengatakan bahwa kiri dan kanan kita hanya ada kebun teh. Apa kamu mau kita berhenti berisitirahat dikebun teh?" Ujar cowok itu, membuat Aretha langsung menggelengkan kepalanya sambil menatap kearah Azura.
"Opsi kita hanya ada itu saja, karena hanya ada motel yang berada di depan jalan ini. Butuh beberapa kilometer lagi kalau kita mau menemukan beberapa bangunan lain." jelas Azura. "Kamu menurut saja tidak usah banyak bicara dan protes."
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja perjalan ini tanpa berhenti berisitirahat, bagaimana?"
Reflek Azura melirik kearah Aretha sesaat, lalu kembali fokus. "Kakak tidak ingin mengalami hal yang beresiko tinggi jika Kakak menuruti saran bodoh mu itu. Kamu itu tidak dapat melihat kondisi jalan yang terus saja di guyur hujan deras, bahkan jarak pandang jalan pun terganggu karena kabut dinginnya cuaca semakin pekat. Itu akan beresiko kecelakaan bila Kakak terus memaksakan perjalanan ini." Omel Cowok itu.
"Dan satu hal lagi, kamu tidak perlu berpikir yang macam-macam. Aku tidak minat macam-macam dengan mu di motel itu"
"Siapa juga yang berpikiran seperti itu, Kakaknya saja yang sudah berpikiran mesum." balas Aretha yang tak mau kalah.
"Terus, alasan kamu apa tidak mau berhenti di motel kalau bukan kamu berpikiran yang tidak-tidak setelah mendengar kata motel? Mengapa aku yang kamu bilang mesum padahal kamu sendiri yang mesum." balas Azura yang juga tidak mau mengalah di bilang mesum.
"Enak saja!" bantah Aretha. "Ya sudah, kalau begitu kita berhenti berisitirahat sebentar di motel yang itu saja." tunjuknya secara random, karena ia kepalang kesal dan kebetulan pula ia sudah melihat bangunan tinggi di depan jalan yang memang sudah dekat.
"Oke," Azura menuruti permintaan Aretha. Ia memarkirkan kendaraannya kedalam lahan parkir yang masih tersedia. Dengan cepat Azura membuka Seat belt atau Safety belt dikursi kemudi setelah mematikan mesin mobilnya.
"Ayo cepat turun." ajak Azura.
"Kak." panggil Aretha lagi.
"Apalagi Aretha?" kesal Azura.
"Kalau Aretha turun, nanti baju Aretha akan basah di guyur hujan." Aretha terus saja mencari-cari alasan agar dirinya tidak masuk kedalam motel.
Tanpa berbicara, Azura langsung saja melepaskan Hoodie yang ia kenakan saat ini dan langsung memakaikan Hoodie itu kepada Aretha. "Pakai ini dan cepat lah, turun. Kamu tidak usah mencari-cari alasan." titah Azura.
Aretha berusaha tersenyum manis, meskipun Azura juga dapat melihat senyum yang ia paksakan dan langsung meneruskan memakai Hoodie yang sudah masuk kekepalanya. Thanks, Ka." ucapnya berbasa basi.
Azura mendengus perlahan, lalu kembali menutup pintu mobilnya. Azura langsung menarik bahu Aretha mengarah agar lebih dekat dengannya. Pada saat Aretha sedang merapikan sebagian rambutnya yang acak-acakan, pandangan keduanya bertemu tak terelakan. Aretha hanya terdiam dengan pemikiran yang entah apa sudah di pikirkan di benaknya. Hanya ia dan tuhan lah yang tahu.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, aku hanya ingin memakai kan penutup kepala Hoodie mu. Sama saja bohong kalau kepalamu di biarkan terkena guyuran hujan." ucap Azura penuh penekanan.
"Ishh, siapa juga yang berpikiran seperti itu." bantah Aretha.
"Aretha please, Cowok itu hanya akan memakaikan penutup kepala Hoodie mu. Memangnya apa yang kamu sudah pikirkan? Apa kamu berharap ia akan mencium mu di dalam mobil yang tengah di guyur hujan ini?! Sadar Aretha ini tuh bukan drama tv atau novel, ayo kembali kedunia nyatamu dan lekas, sadar." Aretha bergumam pada batinnya sendiri. "Ish" Aretha memukul kepalanya berkali-kali.
"Apa yang sedang kamu lakukan? Ayok." ajak Azura saat Aretha sudah turun dari dalam mobil dan langsung menggandeng tangannya, mengajaknya berlari masuk kedalam motel.
"Saya pesan dua kamar untuk beberapa jam." Kata Azura.
"Maaf Mas, kamar dengan tipe yang sesuai dengan pilihan anda sudah full semuanya. Hanya tinggal tersedia satu kamar saja dengan tipe Double room." Jelas sang receptionis.
"Kalau begitu kita tidak jadi, Mbak." Jawab Aretha dengan cepat, sontak membuat Azura menengok dan menatap kearahnya dengan tatapan matanya yang tajam.
"Kak sini." Aretha langsung saja menarik pergelangan tangan Azura, sebelum lelaki tampan itu protes padanya. Ia tidak perduli dengan tatapan yang menghunus kearahnya saat ini lalu menarik Azura pergi menjauh meninggalkan meja receptionis.
"Aku tidak mau jika kita berada dalam satu kamar." tegas nya.
"Kalau kamu tidak mau, ya sudah. Aku juga tidak akan memaksakan mu untuk satu kamar dengan ku." tak mau kalah.
"Pindah saja."
"Tidak, Aku tetap akan menyewa satu kamar itu untuk aku sendiri. Aku sudah sangat begitu lelah dan tubuh ku ini membutuhkan kasur empuk untuk ia terbaring."
"Lalu bagaimana dengan aku, Kak?"
"TERSERAH!" ucap nya penuh penekanan. "Terserah kamu jika kamu tidak mau satu kamar dengan ku. Kamu bisa merebahkan tubuh mu pada sofa lobby motel ini atau kamu bisa kembali keparkiran untuk beristirahat di dalam mobil."
"Ish, Kak Azura mengapa tak berperikemanusiaan banget sih, menyebalkan tau!!"
"Aku sudah menyuruh mu beristirahat bersama ku, mengapa kamu masih saja mengatakan bahwa aku ini tak berperikemanusiaan? Dasar kamu wanita aneh yang pernah aku kenal. Wanita mana yang akan menolak jika di berikan kesempatan untuk satu kamar dengan ku? Sepertinya hanya kamu saja Aretha, wanita cerewet dan sungguh banyak protes."
setelah mengatakan itu, Azura melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Aretha begitu saja.
"KAK, KAK AZURA." teriak Aretha menggema keseluruh area luar motel sambil menghentakkan kakinya. Untung saja suaranya tak begitu nyaring saat teredam bersamaan dengan derasnya suara hujan
"Kak." Aretha masih saja terus memanggil nama Azura, sambil terus mengekori Azura. "KAK, KAK AZURA." teriaknya kesal saat panggilannya terus di abaikan.
Azura langsung merebahkan tubuhnya pada kasur empuk motel yang berukuran 160x200 sambil memejamkan mata. "Istirahatlah, jika hujan sudah reda kita bisa melanjutkan perjalanan."
"Kak, aku mau istirahat dimana sedangkan di kamar ini hanya tersedia satu buah tempat tidur saja."
"Istirahatlah di sini." Azura menepuk kasur di sampingnya. "Cepatlah naik dan istirahat."
"Tidak, aku tidak mau. Mana muat jika kita harus tidur di sana berdua. Aretha tidak mau, lebih baik Aretha beristirahat di kursi rias itu saja." Aretha berjalan kearah kursi dan menyusunnya Kedinding.
"Terserah saja." monolog Azura tak perduli.
Disisi lain, terdapat Dua wanita cantik yang terus saja mengkhawatirkan keadaan Aretha. Mereka berdua berusaha untuk menghubungi kontak Aretha dan Azura secara bergantian. Posisi mereka masih berada di dalam ruang aula, siapa lagi kalau bukan Zee dan Sha-sha.
Tut.... Tut....
"Bagaimana Zee? Apakah sudah bisa tersambung?"
"Nomer mereka tidak bisa di hubungi, Sha."
"Mengapa mereka masih belum tiba di sini ya?" khawatir Sha-sha.
"Mereka sedang berteduh, hujan di luar cukup deras. Tidak memungkinkan kalau mereka memaksa melanjutkan perjalanan mereka, itu bisa berbahaya bagi mereka, sayang." terang Ammar yang baru saja datang menghampiri mereka.
"Kenapa kamu bisa tahu mereka sedang berteduh?"
Ammar tersenyum, kemudian ia membelai rambut panjang kekasihnya. "Azura sempat mengirimkan chat ke grup Alricks sebelum ponsel mereka mati."
"Oh, tapi memangnya tidak ada yang membawa casan?" saut Zee dan Sha-sha kompak.
"Ada, di dalam tas yang mereka bawa. Tapi tasnya di dalam mobil.