
Drt..drt..drt..
Ponsel milk Ammar berbunyi, terlihat dari panggilan tersebut bahwa yang menelponnya adalah Zeo.
"Ada apa.?" Ammar berbicara ketika ia sudah menggeser tombol hijau pada layar ponsel milik nya.
....
"Kok bisa? Lalu bagaimana dengan keadaan nya?" Ammar terlihat begitu sangat panik.
....
"Oke, gue segera kesana sekarang.!"
...
Ammar langsung menutup panggilan tersebut.
"Kenapa? Ada apa Bing.?" Zayn.
"Sorry, gue agak sedikit lebih lama dari pada kalian." sanggah Azura yang baru saja tiba di depan lobby.
"No problem, sekarang yang penting kita harus ke Wilhelmina Hospital terlebih dahulu."
"Kenapa kita harus segera kesana?memangnya siapa yang sedang sakit.?" Azura.
"Claudia." jawab Ammar singkat.
Zayn mencengkeram erat kaos Ammar. "Lo jangan macem-macem bing, lo lagi berusaha mempermainkan perasaan gue, hum?"
"Ka Zayn tenang dulu." Aretha berusaha membuat Zayn tenang.
"Bagaimana bisa gue tenang, kalau dia" Zayn menunjuk kearah wajah Ammar. "Sedang mempermainkan perasaan gue!" bentak Zayn pada Aretha.
"Lo nggak usah nyolot men." mendorong tubuh Zayn dengan kasar. Azura tak terima bila Zayn membentak Aretha.
"Silahkan, jika kalian masih ingin bertengkar seperti anak kecil. Biar gue, Aretha dan Zee yang berangkat ke Wilhelmina Hospital. Jika kalian sudah menyelesaikan pertengkaran kalian, kalian bisa segera menyusul" imbuh Ammar.
Azura menarik pergelangan tangan Aretha. "Kamu, naik mobil bareng aku."
Aretha terdiam. Ia memandang wajah Ammar, Meminta persetujuan dari kakak sepupu nya untuk memperbolehkan dirinya untuk pergi bersama Azura.
"Cih, sejak kapan lo jadi seposesif ini." Ammar berdecak sebal.
"Zayn, lo ikut bareng mobil Ammar. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa." Azura berkata sambil berjalan mendahului mereka bertiga.
Zayn tersenyum tipis, meskipun sikap Azura seperti itu. ia sadar kalau sahabat-sahabat nya begitu menyayangi dirinya dan Claudia.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi tengah berhenti di parkiran sebuah Rumah sakit. Mereka langsung saja turun dan masuk kedalam rumah sakit menanyakan keberadaan pasien yang bernama Claudia Romanzla Erge pada salah satu suster jaga. Setelah salah satu suster melihat daftar nama yang dimaksud tertera sebagai pasien pada layar monitor di depan nya. Suster jaga pun segera memberitahukan bahwa pasien tersebut berada di ruang ICU.
"Ruang ICU lantai tiga, langsung saja berjalan kearah lorong itu dan belok kanan, disana ada sebuah lift.setelah dilantai tiga, bapak bisa kembali bertanya kepada petugas jaga." ucap suster jaga dilantai dasar atau lobby Rumah sakit.
"Terimakasih suster," ucap Ammar mewakili.
Mereka berlima berjalan kearah lorong dan berbelok, menunggu lift untuk segera naik kelantai tiga.tak butuh waktu lama litf terbuka, mereka langsung masuk dan menutup pintu lift. Sesaat di lantai tiga Ammar kembali bertanya kepada petugas jaga untuk menanyakan ruang ICU.
"Bapak bisa berjalan kelorong, setelah mentok, bapak belok kearah kiri. Ruangan paling pojok." jelas petugas jaga di lantai tiga.
"Baik sus, terimakasih." kini Ammar kembali berucap mewakili yang lain nya.
*
*
*
*
pukulan cantik Zeo layangkan, mendarat tepat mengenai wajah tampan Zayn.
Zayn bersama dengan dua sahabat nya, Aretha dan juga Zee, baru saja tiba di depan ruang ICU di buat kaget oleh pukulan yang Zeo layangkan secara tiba-tiba.
Tubuh Zayn terperanjat kebelakang beberapa langkah. Beruntung ada Azura yang langsung membantu Zayn.
"B*JING*N, YOU'RE SO FUCKING LIAR.!!" mana janji yang lo buat, B*NGS*T. Apa sekarang lo lagi amnesia, hah? Apa perlu gue ingetin lagi semua kata-kata lo?" maki Zeo sambil mencengkram kedua kerah kemeja Zayn.
Ammar dan Azura langsung melerai kemarahan Zeo. "Lo tenang dulu Ze, lo tahan emosi lo." Zeo yang masih menghargai sahabat nya yang lain, pun melepaskan genggaman tangannya dengan kasar dan langsung memukulkan tangannya yang terkepal ke tembok.
Zayn mengerti, dengan emosi Zeo kali ini. Zeo dengan latar belakang sifat yang jauh dari kata amarah. Kini bisa semarah itu dengan keadaan yang sungguh rumit bagi Zayn.
"SORRY" hanya itu yang mampu Zayn ucapkan.
"SORRY" Zeo mengulangi lagi perkataan Zayn dengan penuh penekanan sambil tertawa getir.
"Lo" dan berusaha kembali melayangkan pukulan. Namun Ammar langsung menahan nya.
"Lo cuman bilang sorry? Sorry lu itu nggak bisa membalikkan keadaan Zayn. Kemana lo hah? sampai lo nggak tau keadaan Clau.?"
"Club" sahut Azura yang langsung mendapatkan cubitan kecil di perut nya.
"Sakit Tha!" keluh Azura.
"Jangan memanasi keadaan deh kak," decak sebal Aretha.
"Aku cuman bicara apa ada nya.!" Azura terlihat membela diri.
"Tapi time nya gak tepat ka, ish." semakin bertambah kesal.
Suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung, Atmosfer di ruang itu pun tiba-tiba juga mendadak lebih dingin.
"Bagaimana keadaan Clau saat ini?" tanya Ammar.
sejak keadaan yang kurang kondusif karena luapan emosi. Mereka Sampai lupa menanyakan keadaan Claudia.
"Ka Claudia, masih dalam pemeriksaan lebih lanjut. Kita belum tahu keadaan nya akan baik-baik saja atau tidak ka? Hanya saja, tadi dokter yang sempat menangani ka Claudia menanyakan keberadaan suami nya?" jawab Sha-sha cepat, namun terdengar ragu-ragu.
"Kenapa menanyakan tentang suami? Memang nya Claudia sudah menikah?" tanya Azura bingung.
"Mm." Sha-sha menjadi bingung menjawab pertanyaan Azura.
"Lalu bagaimana bisa Claudia bersama kalian?" tanya Ammar mengalihkan pertanyaan. Ia memahami kesulitan yang di rasakan gadis yang tengah duduk bersama Zeo. Bukan tidak tahu bahwa keadaan Claudia saat ini. tapi ia justru tidak ingin menciptakan kembali letupan kemarahan dari sahabat nya Azura, ketika nanti ia mengetahui keadaan Claudia saat ini sedang hamil.
"Hey, jangan berusaha berkilah. Lo pikir gue bodoh, hum.? Apa yang kalian tutupi? Jangan berusaha membodohi gue dan berbohong ya."
Sebelum Aretha dan Azura sampai di Apartemen P'avenue, Zayn sudah menceritakan semua permasalahan yang kini ia hadapi bersama Claudia pada Ammar dan juga Zee, sedangkan Zeo dan Sha-sha. nampak nya juga sudah mengetahui keadaan Claudia. Sebab Zeo bertanya kepada suster mengapa harus Suami nya, sedangkan yang Zeo tau Claudia Belum menikah.
Lagi-lagi mereka hanya terdiam.
Melihat kondisi ini, Azura yakin memang ada sesuatu yang sengaja mereka tutupi. Hanya saja tidak ingin bersikap seperti anak kecil. Ia berusaha tenang dan akan mencari tahunya sendiri.
"Yasudah, jika kalian tidak ingin mengatakan nya. Gue bisa mencari tahu informasi tentang keadaan Claudia sendiri. Tak begitu sulit mendapatkan informasi pasien terlebih lagi rumah sakit ini, termasuk salah satu rumah sakit yang mendapat donasi terbesar dari Pierre grup." ucap Azura santai.
"Claudia tengah Hamil." akhirnya Zeo mengatakan nya juga.
Bugkh!!