
Aretha memasukan cake cheese strawberry kesukaannya kedalam mulut mungil itu dengan begitu perlahan.
"Apakah enak?"
"Sungguh enak Kak, ini sungguh kue cheese strawberry yang paling enak dari yang pernah atau biasanya Aretha makan."
Ujarnya antusias.
"Pantas saja." ucap Azura, sambil mengelap sisa cream strawberry yang menempel di bagian bawah bibir Aretha. Sontak perlakuan Azura membuat Aretha terdiam terpaku seperkian detik.
"Bukan kah tadi lo meminjam gitar akustik itu pada Kak Tiara??
"Ya." mengangguk kecil. "Apa Kakak, mau lihat Aretha memainkannya?" ucap Aretha gugup.
"Boleh,"
"Tapi, jika itu tidak bagus. Please jangan di tertawakan ya?!"
"Iya" tersenyum manis.
Aretha berjalan ke atas panggung minimalis itu dan menarik kursi ke tengah panggung. Ditesnya suara gitar dan di atur nadanya, lalu setelah dirasa cukup sesuai. Ia mulai mainkan sebuah lagu, yang berjudul Bila nanti. lagu yang di popularkan oleh Nabila Maharani.
.
.
.
.
.
.
.
Bila memang engkau tak lagi cinta
Lebih baik engkau katakan saja
Ku relakan bila Kau Ingin pergi
Meninggalkan luka didalam hati
Cukup sudah kau lukai hatiku
Yang selalu tulus mencintaimu
Ku ikhlaskan semua yang terjadi
Ku akhiri cukup sampai disini
Anggaplah diriku yang tak pernah ada
Aku mohon jangan lukai hatinya
Cukup aku saja
Bila nanti engkau tak bahagia
Kembalilah pintu selalu terbuka
Namun hati takkan bisa kembali
Seperti dulu lagi.
Cukup sudah kau lukai hatiku
Yang selalu tulus mencintaimu
Ku ikhlaskan semua yang terjadi
Ku akhiri cukup sampai disini
Anggaplah diriku yang tak pernah ada
Aku mohon jangan lukai hatinya
Cukup aku saja
Bila nanti engkau tak bahagia
Kembalilah pintu selalu terbuka
Namun hati tak kan bisa kembali
Seperti dulu lagi.
Namun hati tak kan bisa kembali
Seperti dulu lagi.
Aretha mendapatkan tepuk tangan dan sorak-sorai para pengunjung yang datang serta melihat penampilannya namun berbeda hal dengan Azura, ia terdiam.
Azura merasakan alunan iramanya yang begitu menohok masuk kedalam hati. Bait demi bait yang di persembahkan oleh Aretha seakan membuka lagi luka lama yang masih terbuka dan seakan kembali di hujani ribuan belati yang menancap di hati. Namun ada rasa yang berbeda yang tidak di mengerti oleh logika cerdasnya. Rasanya, seperti Aretha tengah menghapus sedikit demi sedikit luka itu dari setiap suara merdu yang keluar dari bibir gadis itu. Mencoba menasehati dirinya jikalau dia memang harus mengikhlaskan kepergian Sean demi laki-laki lain. Mungkin dengan dirinya mencoba mengikhlaskan kepergian Sean, dirinya dapat dengan mudah keluar dari belenggu yang menyiksa batinnya sendiri dan mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik untuk bisa menemani hidupnya kedepan.
"Kak" panggil Aretha pada Azura. "Boleh Aretha mengatakan sesuatu?" tanyanya ketika sudah kembali duduk di depan Azura.
"Iya, mau mengatakan apa?"
"Maaf jika Aretha terkesan ikut campur dalam urusan pribadi Kakak. Tapi Aretha harus mengatakan apa yang seharusnya Aretha katakan. Aretha tidak tahu masalah apa yang terjadi pada hidup Kakak, tetapi dari yang Aretha tangkap tentang pembicaraan Kak Tiara bersama Kakak ada benarnya kalau tidak baik meninggalkan rumah pada saat keadaan kita yang sedang emosi dan membiarkan masalah terlalu lama berlarut-larut seperti itu." Katanya lalu menghela kan napas sebentar dan kemudian kembali berkata.
"Bunda Alona pernah mengatakan, bahwa cinta kita kepada seseorang tidaklah boleh melebihi kapasitas cinta kita kepada Allah dan Orang tua. Bahkan demi orang yang sangat kita cintai sampai melukai perasaan orang tua kita adalah sesuatu yang tidak benar, Kak. Sesuatu yang berlebihan akan menjadi tidaklah baik, coba Kakak renungkan kembali problem Kakak saat ini."
"Akan Kakak coba."
"Apakah mungkin semua masalah yang Kakak hadapi saat ini tidak lah lepas dari peran penting orang tua Kakak? Mungkin, tanpa di sengaja Kakak sudah sangat begitu melukai perasaannya. Jadi Aretha mohon coba Kakak berpikir kembali. Aretha percaya bahwa Kakak bukan lah Pria pengecut yang bodoh yang tidak bisa mengambil langkah yang tepat dan Kakak bisa membuang rasa ego Kakak dan memikirkan kembali kesalahan Kakak. Mau tidak Kakak pada Aretha untuk segera pulang dan meminta maaf?"
"Terimakasih atas perhatiannya. Akan Kakak perbaiki semuanya setelah mengantarkan kamu kembali kerumah." Entah apa yang membuat ia langsung menyetujui saran dari seorang Gadis yang baru saja hadir dalam hidupnya tanpa memikirkan nya terlebih dahulu.
"Sungguh?"
"Iya, Kakak berjanji pada mu." perkataan Azura terdengar tulus.
"Terimakasih Kak, Kakak sudah mau mendengarkan Aretha."
***
Azura baru saja sampai ke dalam apartemennya setelah mengantarkan Aretha pulang. Ditaruhnya kunci mobil, dompet, serta ponsel ke atas nakas samping spring bed king size miliknya. Lalu Azura menjatuhkan diri ke atas bed empuk itu. Dilihatnya langit-langit kamar, Azura mencoba menghilangkan ego yang bergemuruh di dalam hatinya saat ini sebelum dirinya memutuskan tindakan apa yang harus dilakukannya. Benar seperti yang Aretha katakan bahwa dirinya bukanlah laki-laki pengecut yang bodoh.
Flashback on.
"Azura, Mommy mohon kepada kamu, Sayang. Tolong kamu pikirkan kembali tentang keputusan mu, Nak." Ucap Mommy Yoona sendu.
"Azura sudah memikirkannya berulang kali Mom. Azura yakin kalau apa yang di bilang Kak Tiara dan Ka Arash tentang Sean itu salah. Tidak mungkin jika Sean hanya menginginkan sesuatu dari Azura."
"Tapi memang begitu adanya, Nak. Mommy percaya dengan apa yang di bilang Kakak kamu. Tidak mungkin mereka mengatakan hal yang tidak benar."
"Untuk masalah mereka melihat Sean bersama laki-laki lain, biarkan Azura mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu. Jika memang itu benar dan terbukti, Azura berjanji pada Mommy bahwa Azura akan meninggalkannya. Tetapi untuk saat ini Azura belum bisa memutuskan hubungan Azura pada Sean dengan alasan yang tidak masuk logika Azura, Mom."
"Sampai kapan? Sudah jelas-jelas Kakak kamu memang bertemu dengannya."
"Tanpa bukti? Semua itu tanpa bukti. Jadi Azura mohon untuk Mommy mengertilah." Ucapnya memohon pengertian sambil menahan emosinya. "Dan satu hal lagi Mom, Azura akan tinggal di apartemen Azura. Azura tidak ingin masalah pribadi Azura di ikut campuri." Azura berkata sambil melangkah pergi keluar rumah utama keluarga Albareesh.
"Baik, Mommy tidak akan lagi ikut campur dalam urusan pribadi mu, Nak. Tapi Mommy mohon jangan tinggalkan Mommy sayang, Mommy tidak ingin di tinggal pergi lagi untuk kedua kalinya. Azura Mommy mohon." Ucap Mommy kencang sambil terdengar Isak tangis Mommy yang begitu pilu.
Flashback off
"Terimakasih, sudah mengingatkan dan terimakasih sudah memberikan sebuah obat pada luka ku ini." Azura tersenyum tulus dan sedikit mengeluarkan cairan bening di pelupuk sudut matanya. Dengan cepat dirinya melangkah mengambil kembali kunci mobil, dompet, serta ponsel. Kemudian ia berlari kecil ke dalam sebuah lift, dilajukannya sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire hitam miliknya dari parkiran apartemen menuju rumah utama dimana Mommynya berada dengan laju kecepatan tinggi.