WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 3



Terdengar suara mobil yang tengah memasuki halaman rumah milik Ezra. Rasanya tidak mungkin jika tamu datang bertamu ke rumah orang pada pukul 01.00 malam.


Dari balik kemudi turun lah seorang laki-laki yang gagah dan tampan. Langsung setengah berlari membuka pintu mobil mewah bagian belakang milik Tuannya.


Tak lama kemudian, pintu terbuka. Keluar lah sosok Pria yang tak kalah gagah dari sang supir dan juga tampan. Yang di balut dengan pakaian super branded melengkapi tampilan dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Langkahnya, langsung berjalan ke arah pintu masuk. Ternyata itu adalah Dad Pierre yang baru saja sampai ke Tanah Air untuk menjemput istri dan anaknya.


Mommy yang sebelumnya sudah diberitahu oleh Asisten sekaligus Supir suaminya. Kini sudah menanti kedatangan Dad di depan pintu masuk. Sungguh Mommy Yoona terlihat begitu senang, bagaimana tidak senang? jika orang yang selama ini dirindukan olehnya hadir di depan mata. Dengan segera Mommy mengajak Dad masuk dan di ambilkannya sebuah minum.


"Bagaimana? Apakah semuanya sudah siap Mom?" tanya Daddy Pierre.


"Sudah Sayang, semuanya sudah siap. Tinggal di angkut semua koper milik ku, Azera, dan Youra kedalam mobil milik mu. Setelah itu baru akan ku bangunkan Azera dan Youra." jelas Mommy Yoona halus.


"Baiklah kalau begitu, segera kamu bangunkan anak-anak. Biar barang-barang dan koper di angkut dan di masukan ke mobil oleh Mang Oleh dan juga di bantu Sky."


"Baik Dad." ucap Mommy Yoona menurut.


Ceklekk!!


Terdengar suara pintu kamar terbuka. Ezra yang sudah terlelap dalam mimpinya kini harus di bangun kan paksa oleh Mommynya.


"Azera sayang, bangun yok, Nak." membelai rambut Ezra.


"Five minutes Mommy."


"Hey, Azera please segera bangun, Dad sudah datang dan menunggu kita di bawah."


"Sungguh Mom? Apakah kita harus segera berangkat?"


"Em, maka cepatlah segera cuci wajah mu dan sikat gigi mu, kemudian turun. Mom akan menyusul turun setelah membangunkan Youra."


"Baik Mom." dengan gerakan cepat Ezra langsung mengarah ke kamar mandi, sedangkan Mommy langsung mengarah ke kamar Youra.


"HAY DAD." teriak Ezra dari arah tangga.


"Hay my hansome Boy, how are you? (Hay anakku yang tampan, apa kabar?)" sapa Dad Pierre, sambil memeluk anaknya.


"I'm fine Dad. How are Arash and Azura brothers in paris? Are they okay? ( Aku baik-baik saja Ayah. Apa kabar Arash dan Azura bersaudara di paris? Apakah mereka baik-baik saja?)" tanya Ezra. Meminta di pangku.


"Yes, they are fine just like you. ( Ya, mereka baik-baik saja seperti kamu.)" jawab Dad.


"Boy, cepatlah pakai sepatu mu. Kita akan segera berangkat sekarang." ucap Mommy Yoona yang baru saja turun sambil menggendong Youra.


"Tapi Mom, ini masih jam satu malam. Bukannya kita akan berangkat ke Paris besok pagi?" protesnya sesaat setelah ia melihat ke arah jam dinding di ruang tamu.


"Tidak Boy, kita akan berangkat sekarang juga." jawab Dad Pierre yang sedang memangku Ezra.


"Tapi Dad, Mom, aku sudah berjanji akan berpamitan besok dengan Aretha sebelum berangkat. Bukan kah Mommy bilang kita akan berangkat besok pagi?" langsung turun dari pangkuan Dad.


"Iya, tapi semuanya berubah. Karena pesawat kita hanya bisa landas dini hari. Ayo lah Boy, ini waktunya sudah sangat begitu mepet." jawab Mommy Santai tanpa adanya pembantahan.


Daddy Pierre hanya tersenyum, lalu melangkah keluar.


Daddy dan Youra terlebih dulu masuk kedalam mobil setelah pintu mobil di bukakan oleh mang Oleh. Tak lama kemudian di susul Mommy. Namun Ezra masih saja terdiam di sisi mobil mewah milik Dadnya. Diedarkan pandangan matanya ke arah bangunan rumah depannya. Hingga suara lembut Mommy kembali menyadarkan lamunan Ezra.


"Cepat masuk kedalam mobil Boy, kita harus segera berangkat." ucap Mommy dari dalam mobil.


Ezra pun, mau tak mau harus segera masuk kedalam mobil. Menuruti permintaan Mommy dan langsung menutup pintu mobil. Setelah itu, mobil mewah mereka pun pergi dengan cepat meninggalkan rumah.


Di pandangi sekilas jendela kamar Aretha saat mobil mereka melintas.


********


Keesokan paginya Aretha yang menunggu janji seseorang tengah gelisah di dalam kamar. Karena sejak pagi-pagi sekali dirinya bangun dan berharap ada teriakan dari luar jendela kamar yang memanggil-manggil kan, namanya. Namun sampai saat ini pun tidak terdengar teriakan orang yang sedang ia tunggu.


Tok... Tok...!!


"ARETHA, CEPAT BANGUN SAYANG. INI SUDAH JAM BERAPA? NANTI KAMU TERLAMBAT KE SEKOLAH." Teriak Bunda Alona Dari Balik Pintu.


"Aretha sudah bangun Bun, sebentar lagi Aretha akan turun untuk sarapan."


"Baiklah, Bunda akan siap-siap terlebih dahulu untuk mengantarkan kamu ke sekolah."


Tak lama dari itu, Aretha langsung turun ke bawah. Namun bukannya menuju ke meja makan untuk sarapan malah Aretha pergi keluar untuk datang ke kediaman Ezra. Rasa penasarannya terhadap apa yang ada di hatinya jauh lebih penting untuk saat ini.


Sesampainya di kediaman Ezra, Aretha langsung memanggil-manggil orang yang sedang di tunggunya sedari tadi.


"Ka, Ka Ezra!!" teriak Aretha dari luar gerbang rumah milik Ezra.


"Maaf Non Retha, kenapa Non Retha teriak-teriak?" sahut security di kediaman keluarga Albareesh.


"Maaf Mang Oleh, apakah Kak Ezra ada di dalam?"


"Oh Den Ezra, Den Ezra sudah berangkat ke Paris Non."


"Sejak kapan Kak Ezra berangkat?" tanya Aretha.


"Den Ezra dan keluarganya sudah berangkat pukul setengah dua malam tadi, Non. Memangnya ada sesuatu yang penting ya, Non?"


"Ah, tidak Mang, baiklah kalau begitu Aretha pamit pulang dulu. Terimakasih Mang. " ucap Aretha sendu.


Aretha langsung berlari ke arah kediamannya, di seberang, beberapa rumah dari rumah Ezra.


"Hiks..hiks..hiks.." terdengar samar-samar suara Isak tangis.


"Aretha kamu dari mana saja. Bunda mencari mu ke kamar namun kamu tidak ada disana, dan mengapa kamu menangis sayang?" tanya Bunda Alona yang baru saja dari arah atas.


"Hiks..hiks.., Ka Ezra jahat Bun, Ka Ezra pembohong, Aretha benci Ka Ezra. Hiks..hiks.." rancau Gadis kecil itu.


Bunda Alona yang melihat anak gadis kecilnya menangis pun ikut terenyuh kala melihat raut kekecewaan pada Gadis kecilnya. "Memangnya kenapa kamu benci Ka Ezra?"


"Bunda, Ka Ezra itu pembohong. Ka Ezra kemarin mengatakan akan pergi menemui Aretha sebelum ia pergi berangkat ke Paris. Tetapi justru Ka Ezra sudah berangkat pukul setengah dua malam tadi, Bunda. Hiks..hiks.. dan dia tidak menemui Aretha." adu gadis itu sambil menahan Isak tangisnya kembali.


"Mungkin ada hal yang mendesak yang mengharuskan mereka harus berangkat malam itu. Sehingga Ka Ezra tidak sempat berpamitan pergi. Aretha tidak boleh menangis lagi ya, nanti juga Kak Ezra akan kembali pulang setelah masa liburan sudah berakhir." Bunda Alona mengucapkan nasihatnya dengan sangat lembut.


"Apakah Kak Ezra akan kembali pulang?"


"Iya, pasti Kak Ezra akan pulang. Tidak ada alasan untuk dia tidak kembali, Sayang!!"


"Sungguh Bun?"


"Mm." membelai rambut panjang Aretha. "Kalau begitu, Aretha tidak boleh bersedih hati lagi. kita segera berangkat ke sekolah sekarang ya?"


"Ya" menganggukan kepala.


Ada pancaran sinar harapan ketika Bunda Alona berkata seperti itu. Aretha kini mengerti dan mencoba memahami bahwa apa yang di bicarakan Bundanya adalah benar. Tidak ada alasan untuk tidak kembali, namun semua itu berbeda dari harapan.


Disisi lain, seorang Anak Laki-Laki yang merasa dirinya bersalah karena telah membohongi Gadis kecil kesayangannya. Tengah melamun mengarahkan pandangan matanya ke sisi jendela pesawat. Ezra dapat membayangkan dan merasakan kekecewaan yang didapat Gadis itu ketika mendapati dirinya pergi tanpa pamit. Ada rasa bersalah yang teramat sangat menyiksa batin Ezra. Namun tanpa tau harus melakukan apa, Ezra hanya bisa mengatakan maaf dan maaf yang terus berulang di dalam hati.