
"Jangan cuma dilihat dari jauh, samperin bing." ucap Zeo.
"Gak usah gengsi Bing, gue tau lo khawatir liat dia udah masuk kuliah hari ini. Padahal baru balik kemarin dari Rumah sakit." sahut Zayn ikut-ikutan.
"Lo berdua apa-apaan sih? Sotoy banget.!" ketus nya.
"Halah, kadal sama buaya kok di kibulin." cibir Zeo.
"Haha, slow aja sih bing, jangan tegang gitu komuk lo." seru Zayn yang makin menggoda Azura.
"Siapa yang tegang!" protes Azura keras.
"Lo lah, masa mang Jajang (cleaning servis kampus)" sewot Zeo.
"Kita tau Bing, dari tadi lo cup*ngan!"
"Maksud lo apaan sih men, gue bukan lo yah. Bawa-bawa cup*ngan lagi lo, gue steril." sarkas Azura makin sewot.
"Pikiran lo jangan lanjor, cup*ngan yang gue maksud itu, curi-curi pandangan." Zeo dan Zayn makin terkekeh melihat raut gelagapan sahabat nya.
"Enggak" elak Azura.
"Dari pada nanti lo penasaran! udah sana samperin."
"Kok lo maksa. Udah berani lo nitah gue, Hem?!"
"Siapa yang maksa. Come on Bing!baru kali ini lagi gue lihat seorang Azura Eglar Albareesh, natap cewek gak pakai kedip." kekeh Zayn.
"Sh***!" sinis Azura lalu pergi meninggalkan keduanya dikantin.
Gelak tawa mengejek duo racun Z terdengar. Mereka geleng-geleng kepala gak habis pikir.
"Susul Bing." ajak Zayn dan di anggukan oleh Zeo.
*
*
*
"Ambekan lo, udah kaya bocah." ujar Zayn duduk disamping kekasihnya.
Azura tidak memperdulikannya. Pria tampan itu masih saja diam memainkan game online di layar pipih ponsel nya.
"Kita kan nebak aja bing. Kalau gak, ngapain lo sewot." sahut Zeo sambil menahan tawanya.
"Wajah kamu Kenapa Yank, kok pucat begitu." bisik Zayn di telinga Claudia.
"Gak tau nih dari tadi pusing dan mual-mual."
"Yaudah, sini senderan di bahu aku." ucap Zayn sambil mengarahkan kepala Claudia ke bahunya. Zayn dahulu memang seorang Cassanova sebelum cinta nya mentok pada Claudia seperti sekarang.
"Kenapa sih men?" tanya Ammar pada kedua sahabatnya. Dari sewaktu trio Z masuk kelas sampai saat ini, ia tidak mengerti duduk permasalahan ketiga sahabat yang membuat mood Azura berantakan.
Sementara di kelas lain, Aretha tengah fokus pada materi yang disampaikan dosen pembingbing mata pelajaran saat ini. Sehingga sampai tak terasa waktu nya jam pelajaran terakhir pun berakhir.
"Tha, mau langsung balik atau mau ikut kumpul di kantin dulu bareng kita?" tawar Sha-sha.
"Emm, gue langsung balik aja ya guys. Kepala gue masih sedikit sakit. Gue mau langsung istirahat aja di Apartemen."
"Ok Tha, no problem." ucap Sha-sha dan Zee berbarengan.
"Lagian kenapa lo masih maksain masuk kelas sih Tha. Padahal baru keluar dari rumah sakit." gerutu Zee sebel melihat sahabatnya yang keras kepala.
"Gak apa-apa Zee, lagian gue udah dua Minggu gak ngikutin kelas. Jadi gue gak mau sampai ketinggalan pelajaran lagi. Ya sudah guys, gue cabut duluan ya." seru Aretha sambil berpamitan dengan cipika-cipiki terlebih dahulu pada sahabat-sahabat nya.
"Hati-hati ya Tha," Galaxy memperingati.
"Iya lax."
"Atau lo mau gue anter aja?" tawar Galaxy
"Gak perlu,Thank you"
...****************...
PARKIRAN KAMPUS
"Kak, minggir! Aku mau pulang." seru Aretha ketika pintu mobilnya di hadang.
"Nggak"
Aretha mendelik sebel. "Kok gak sih kak? Ihh awas dong ka, aku mau pulang. Kepala aku masih sedikit sakit." rengek Aretha.
Alis Azura terangkat.
"Kak Azura!" seru Aretha sekali lagi.
"Kenapa bukan nya istirahat? Sudah tau kepala kamu masih sakit, ini malahan sudah masuk ke kampus. Sudah begitu bawa mobil sendiri, nanti kalau kenapa-kenapa bagaimana Aretha? Kamu jangan keras kepala! kalau kamu sampai ada apa-apa di jalan. Kamu akan membuat susah orang lain." bentak Azura.
"Apa aku sudah menyusahkan orang lain dan kakak? Kalau begitu aku minta maaf!" ucap nya sedih.
"Bukan seperti itu maksud kakak. Kakak hanya mengkhawatirkan kamu. Sekarang kakak yang antar kamu untuk pulang, sini berikan kuncinya." Azura kembali melembutkan intonasi nada nya.
"Biar Aretha pulang sendiri saja ka, bukan kah kakak bawa mobil.?"
"Urusan mobil kakak gampang. Jangan menguras pikiran kamu hanya untuk memikirkan hal sepele seperti itu. Nanti biar kakak suruh supir untuk mengambilnya,
Sini berikan, tidak ada penolakan!"
Kali ini Aretha menurut, Aretha langsung memberikan kunci mobil nya untuk Azura bawa. Ia tidak ingin berdebat kali ini dengan pria dingin itu, mengingat kembali kepala nya yang masih sedikit sakit memberikan rasa pusing yang menjalar. Ia segera ingin merebahkan diri.
Azura membukakan pintu mobil untuk Aretha masuk dan Aretha pun masuk dengan segera. Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, tak butuh waktu lama akhirnya mobil milik Aretha terparkir manis di lantai basement apartemen nya.
Azura kembali membukakan pintu mobil untuk Aretha. Aretha langsung saja turun, mereka menaiki lift menuju kamar Apartemen.