
Sreekkk.
Azura menarik sebuah bangku ke arah Ammar yang berada di balkon cottage, lalu duduk.
"Kok dianggurin?" sebuah pertanyaan terlontar ketika melihat gelas yang berisikan oatmeal masih terlihat penuh. "Belum gue minum, masih sedikit panas." jawab Ammar.
"Bing, lo lihat Zee dan Aretha?"
"Mm, mereka keluar cottage untuk membeli makanan."
"Owh," Ammar hanya beroh ria sambil ikut duduk di bangku sebelah Azura.
"Mar," panggil Azura sedikit ragu.
"Kenapa lo." Ammar terlihat heran menatap wajah Azura.
"Lo tau gak, cewek yang di titipkan kembaran gue saat dia sedang kritis itu siapa?"
"Siapa emang?" Ammar mulai penasaran. Pasalnya ia tau segalanya.
"Mm, Aretha."
"What? You're not lying, are you?" (apa? Lo gak berbohong, kan?)
Azura menggeleng kepala.
"Berarti sahabat yang udah ninggalin dia pergi dan berjanji pada nya adalah kembaran lo Azera. Apa Aretha tau?"
"Gak, dia belum tau. Tapi gue berjanji akan menceritakan semua nya tanpa harus ada yang gue tutup-tutupi setelah kita balik ke jakarta. Apa keputusan gue salah.?"
"Gue rasa keputusan lo gak salah, itu adalah keputusan yang tepat menurut gue. Pasti ada alasan tertentu kan yang buat lo yakin untuk berkata jujur pada Aretha. Tapi mungkin." Ammar menjeda omongan nya yang tampak berpikir sambil sesekali menyesap oatmeal miliknya.
"Mungkin kenapa?" tanya Azura was-was.
"Mungkin akan ada jarak, gue yakin Aretha merasa sedikit kecewa. Tapi gue juga yakin itu tidak akan berlangsung lama karena gue tahu banget sifatnya, meskipun ia kecewa tapi gak akan bisa berlama-lama marah apalagi benci pada orang yang dia sayang. Yah kecuali dia gak sayang sama lo."
"Brengsek lo men." ujar Azura dengan tatapan membunuh.
"Apa gue urung aja niatan gue buat cerita semuanya ke dia."
"Gue rasa jangan, lebih baik lo cerita kan semuanya dari Mulut lo sendiri dari pada dia tau kebenaran nya dari orang lain. Dia akan jauh lebih kecewa dan merasa di bohongi karena lo nutup-nutupin. Itu udah jadi keputusan yang tepat menurut gue dan gue yakin lo bisa menyelesaikan masalah ini tanpa ada kata perpisahan. Masa baru jadian udah putus, kan gak lucu nge."
"Huft," Azura menghela nafas kasar menanggapi saran yang ujung-ujungnya malah menjatuhkan.
"Gue berharap dapat saran dan dukungan. Bukan dapat saran lalu di jatuhkan, men. sial*n banget lu jadi sahabat." keluh Azura.
"Ha ha.ha.gue kira gak ada hal yang lo takutin di dunia ini selain kecelakaan. Ternyata masih ada hal lain yang lo takutin. Gue pasti dukung lo, gak mungkin gue cuman liatin sahabat gue yang lagi risau karena masalah yang mereka hadapi. Tenang aja nge,"
"Lu yakin Aretha gak akan ninggalin gue. Gue lebih takut kehilangannya dibandingkan kehilangan Sean karena penghianatan yang Sean lakukan."
"Lo percaya sama gue." ucap Ammar santai.
"Muka lo gak bisa dipercaya masalah nya."
"Akh, sial*n lo." kini Ammar yang berbalik terlihat kesal.
Suara ketukan pintu memberhentikan pembicaraan kedua sahabat yang tengah berbicara serius di balkon cottage dengan cepat Ammar bergegas masuk kedalam dan menuju kearah pintu kamar cottage. Suara yang terdengar samar-samar berubah jadi semakin terdengar kerasa ketika Ammar mendekat ke arah pintu.
"Lama banget sih bukain nya." Aretha
"Kenapa pakai di kunci segala sih. Udah tau kita gak bawa kartu pass." gerutu Aretha dan Zee menyerang berbarengan.
Ammar hanya mampu tersenyum dan menggeleng melihat wanita bawel di depan nya dengan begitu kompak menyudutkan dirinya. Padahal bukan dia yang melakukan.
"Kalian kenapa lama sekali sih." seru Azura yang masuk menghampiri mereka.
"Ngantri bee," ucap Aretha kearah dapur cottage untuk menyiapkan makanan yang baru saja ia beli.
Ammar mencimingkan mata mendengar panggilan sayang yang Aretha ucapkan.
"Bee, lo kira Azura tawon. Dia itu honey Bear." protes Ammar.
"Berisik lo ka, suka suka gue mau panggil ka Azura apa." teriak Aretha mengema terdengar sampai ruang televisi. "Tapi, panggilan itu no bad."
"No Aretha, jangan berpikir kamu akan memanggil aku dengan sebutan yang di saran kan Ammar." protes keras Azura.
"Tapi itu no bad ka."
"I don't want to be denied." (aku tidak ingin di bantah.)
"Ish, padahal saran ka Ammar itu tidak buruk." Aretha memanyunkan bibirnya.
Azura mendekat ke arah Aretha, "Aku tidak ingin membuang kesempatan, jika melihat bibir mu itu mengerucut seperti sedang menggoda ku. Apa kamu mau aku menyerang bibir mu di depan Ammar dan Zee." seru Azura berbisik, lalu menggigit kecil telinga Aretha yang membuat Aretha terlihat menegang sedetik dan di detik kemudian ia menggelengkan kepalanya dengan begitu cepat.
"Mesumbanget sih." gerutu Aretha.
Azura tersenyum tipis, lalu meninggalkan Aretha ke ruang tv.
"Lo kenapa dah." gumaman Zee menyadarkan Aretha.
"Gak kenapa-kenapa" jawab Aretha cepat.
"Ih, aneh deh lo. Gue mau mandi dulu, lo siapin sendiri gak apa-apa kan?"
"Mm."
"Thanks, sayangnya ka Azura.he.he.he." mencubit kecil pipi Aretha.
"Lebay lo."
"Bodo, wleeekk."vZee meledek Aretha 😛, lalu berlari masuk ke kamar.
"Dasar." Aretha merapihkan beberapa bungkus makanan dan minuman di meja makan.
"Aku bantuin," seru Azura yang ikut berdiri di meja makan.
"Mm, buka yang ini saja dan taruh di piring itu." Aretha menunjuk satu piring yang berada di kitchen set.
"Baik, calon nyonya Eglar Albareesh." Aretha terbelalak sekaligus tersipu Malu,wajah nya kini terlihat memerah merona.
Selang beberapa detik kemudiaan, mereka berdua sudah merapihkan berbagai hidangan, ada nasi putih biasa, nasi sumsum, angeun lada, pecak bandeng, sate bebek dan ada juga petai bakar serta sambal. Menu ini adalah menu makan siang lebih tepatnya dari pada harus di bilang sarapan pagi karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas.
Dirasa semuanya sudah rapih, baik makan yang tersedia di meja maupun mereka berempat yang sudah terlihat segar dan wangi karena sudah membersihkan diri. Mereka berempat makan dengan tenang tanpa ada suara atau terlibat obrolan di meja makan.