WHEN LOVING YOU A MY DESTINY

WHEN LOVING YOU A MY DESTINY
WLYAD 64



Dua hari setelah kata yang diucapkan Aretha. Azura Benar-benar melakukan apa yang Aretha inginkan. Pria itu benar-benar memberikan ruang bagi Aretha dan tidak lagi berusaha menemui Aretha bahkan menelpon nya pun sudah tak ia lakukan.


Seperti saat ini, Aretha dan Zee yang baru saja keluar kelas hendak bergegas pulang. Malah justru mereka bertemu dengan Ammar dan Azura yang juga sedang berjalan ke arah mereka. Seperti nya mereka ingin ke ruang dekan. Ya, mereka berpapasan.


"Kalian sudah mau balik?" tanya Ammar pada Aretha dan Zee.


"Iya," jawab Zee dan Aretha berbarengan.


"Gue duluan Bing, gue masih harus mempersiapkan materi yang akan kita bahas." seru Azura dengan wajah dingin nya, sambil melenggang pergi tanpa menatap, apa lagi bertanya.


Aretha menatap lurus pandangan nya pada Azura. Ia menghela nafas gugup dengan sangat pelan, ada rasa marah dalam dirinya ketika merasa terabaikan seperti ini. Ia mengepalkan tangannya di dalam saku Hoodie yang ia pakai saat ini.


"Maaf Ay, aku harus mengikuti permainan mu dulu." batin Azura.


"Aku duluan ya. Kalian hati-hati." Ammar.


"Huft." Aretha menarik nafas dalam-dalam. Sambil beranjak pergi.


"Kenapa?" tanya Zee yang melihat raut berbeda dari wajah Aretha.


Langkahnya terhenti ketika ia menapaki anak tangga menuju lorong yang terlihat sepi. Gadis itu terduduk dengan mata yang memerah, tangis nya kembali pecah.


"Dia bahkan gak mau nahan gue?" katanya sambil terisak.


"Kan, lo sendiri yang minta dia buat kasih lo ruang. Kenapa sekarang lo yang nangis." seru Zee heran. "Lagian kenapa juga lo harus minta putus?"


"Gue minta putus, tapi bukan nya dia harus nya berusaha buat mempertahankan hubungan kita?" Aretha seraya berkata sambil mengelap air mata nya yang menetes. Hatinya sakit, ia memikirkan kembali ucapannya dua hari yang lalu. Ia merasa menyesal sudah berkata putus pada Azura.


"Kenapa dia... kenapa dia biarin gue gitu aja?" suara tangis nya terdengar lebih kencang. "Kalau tau bakalan kaya gini sakit nya, mending kita gak pernah ketemu aja dari awal. Sakitnya lebih sakit dari ditinggal pergi oleh ka Ezra ternyata. Apa gue beneran cinta dia ya Zee?"


"Mybee, gak semua pelajaran hidup itu menyenangkan buat di pelajari Tha. Tapi, dengan lo geser sedikit posisi lo saat ini. Gue yakin penilaian lo tentang pelik nya masalah yang terjadi akan beda. Mana ada penyesalan itu datang nya di awal, kalau dia awal mah yang ada namanya DP." ujar Zee panjang lebar.


"ZEEE." teriak Aretha kesel.


*


*


*


*


Kantin kampus.


"Mpok sini." Panggil Ammar pada Mpok tari penjual seblak di kantin kampus.


"Ape" jawab Mpok Tar.


"Ini menu pada kemana Mpok?" tanya Zayn.


"Yaelah, pake acara menu segala. Biasanye juga nyelonong main pesan-pesan aje." seru Mpok tar sambil bawa-bawa nampan kosong ke arah Alricks cs.


"Mpok, biasa ya. Seblak komplit yang pedes. Sama es leci" Claudia.


"Ok, ada lagi kaga?"


"Ada mpok." jawab Zayn dengan muka serius nya.


"Cepetan dah, noh pesenan mpok dah banyak yang nungguin." omel Mpok tari.


"Ramen dua sama es teh manis." Ammar.


"Es Capuccino nya satu, jangan lupa." Zayn.


"Pakai susu apa janji?" guyonan mpok tar.


"Bisa aja, lo kaleng kerupuk."sangah Mpok tar sambil melenggang pergi.


"Kamu Biru dong yank." polos Claudia.


"Gak usah di perjelas dong sayang," geram Zayn.


"Kemana nih si Zeo?" tanya Ammar yang baru sadar kalau Zeo tidak ada di antara mereka.


"Lagi anter pacar nya ke parkiran." seru Claudia sambil terus menonton drama Korea di ponsel nya.


Selang beberapa menit kemudian,


"Permisi renzkieser mau duduk." celetuk Zeo dengan PD nya.


"Berlaga lo, muka kaya kerupuk seblak Mpok tar ngaku-ngaku renzkieser. Udeh mandi belum lo?" sangah Zayn kesel.


"Sirik aja lu Bing."


Drt..drt..


ponsel Azura bergetar. Zee baru saja mengirimkan foto Aretha yang sedang duduk di lapangan kampus. Azura menatap ponselnya dan tersenyum.


"Kenapa lo senyum-senyum?" bisik Ammar.


Gue lagi lihat foto Aretha yang di kirim Zee.


"Cih,vgue heran sama lo. Kenapa waktu Aretha mutusin lo, lo malahan setuju dan gak nolak? lo berdua, sama-sama keras, kaya batu. harus nya lo nolak dia kalau emang lo cinta. Dan yang cewe juga sok kuat berlaga minta putus padahal udah cinta juga."


"Lo tau keras nya gue ngalahin batu, di mana harga diri gue sebagai lelaki. Meskipun gue cinta, tapi harga diri harus tetap gue jaga. Gue cuman mau lihat kedepannya seperti apa. Gue yang bakalan diem ditempat gue berpijak ini atau Aretha yang bakalan lari ketempat gue sambil nangis. Lagian cewek itu aneh, sulit banget di mengerti. Serba salah gue jadinya."


"Ha.ha.ha, sulit. lo emang gak bisa di tebak men."


...****************...


Aretha duduk di lapangan kampus. Netra nya memandang ke arah di mana anak fakultas lain sedang bermain basket. Dengan pikirkan kosong, yang entah melayang ke mana. Niatnya tadi ingin langsung pulang, tapi berhubung dia papasan dengan Azura dan sikap Azura menunjukkan bahwa ia menepati ucapan nya. Mood Aretha seakan menjadi buruk.


"Btw, barusan Zee ngirim foto lo ke ka Zura." ucap Galaxy dengan santai.


Zee melepar tatapan membunuh nya ke arah Galaxy. "Ember bocor lo Lax. Nggak lo, gak Sha-Sha, pasti bocor alus."


Aretha langsung menoleh menatap ke arah Zee meminta penjelasan.


"He.he.he. Gue cuman mau kasih tau ka Azura kalau sahabat gue itu GEGANA akut. Gara-gara kesanggupan ka Azura buat nyetujuin keputusan lo. Padahal lagi bareng-bareng sama sahabat nya. Tapi rasanya seperti setengah nyawa nya terbang entah ke mana."


"Gue gak akan marah soal itu. Emang kenyataan nya gue galau akut." jawab Aretha.


"Kalau lo galau akut dan patah hati. Kenapa lo putusin ka Azura." heran Galaxy.


"Gue gak mau egois, gue mau ngeyakinin hati gue dulu niatnya. Gue beneran cinta dia tulus karena dasarnya gue beneran cinta atau adahal lain nya. Eh, malah sakit nya ngelebihin gue kehilangan ka Ezra. Berarti gue udah gak cinta lagi sama ka Ezra kan? Gue udah cinta sama ka Zura. Mau minta balik juga, gue gengsi lah. Masa gue yang minta putus gue juga yang minta balikan."


"Lo tau apa yang paling gampang di dunia ini Tha?"


Aretha mengangkat bahunya.


"Pertama ngomentarin kehidupan orang lain dan ngasih saran ke mereka. Yang kedua ngambil keputusan dengan tindakan yang gegabah" jawab galaxy cepat. "Lo pernah ngelewatin masa sepuluh tahun lo dengan sangat baik, lo juga udah mutusin buat komite sama apa yang lo jalanin sekarang kan? kenapa harus bimbang, semua yang tadi lo ucapin terdengar bullshit di kuping gue. Hidup gak usah muluk-muluk. Cinta, ya bilang cinta. kalau gak ya udah. Soal ka Zura jujur tentang siapa dia, keluarganya, bahkan kehidupan nya, sama lo. gue cukup salut Tha sama tindakan dia. Dia gentle buat akuin itu ke lo Meskipun terkadang kejujuran itu gak harus terlihat baik. Ada kok kejujuran yang membuat kita sakit, yah contoh nya kasus lo."


Aretha membuang pandangannya kearah lain. Ucapan Galaxy barusan benar-benar menusuk relung Aretha.


"Lax, lo udah keterlaluan." seru Zee memperingati Galaxy.


"Sorry kalau ucapan gue barusan keterlaluan, gue mau sahabat gue buka mata sama tindakan nya yang gegabah. Gue paham Aretha syok sama kejujuran yang ka Azura katakan. Aretha berhak marah, Aretha berhak marah sama kenyataan bahwa ka Azura adalah kembaran sahabat Aretha yang ingkar janji dan pergi tanpa kabar bahkan pesan. Tapi apa semua itu kesalahan ka Azura? kesalahan dia cuman satu. Terlambat berkata jujur, itu saja. Apa harus mengucapkan kata putus, padahal baru saja menerima komitmen yang ka Azura tawar kan."


"huft." Zee menghela nafas, ia harus berada di pihak mana. Apa yang dikatakan galaxy terdengar benar menurut logikanya. Meskipun ucapan nya terdengar cukup keterlaluan.