TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Orang tua kandung Tiara



Satu bulan berlalu. Jam enam pagi di rumah Tiara. Hari ini adalah hari dimana bibi dan paman Tiara akan pulang,Tiara menanyakan sudah sampai mana perjalanan mereka . Tiara pun menelepon bibinya.


Tiara : "Assalamualaikum bi, bibi sudah sampai mana"?


Bibi : "Wa'alaikum salam, bibi mau naik kapal, mungkin sinyalnya nanti bakalan susah Ra"


Tiara :"Ya bik, nanti kalau sudah turun kapal kabari Tiara ya"


Bibi :"Baik Ra, bibi tutup dulu ya telepon nya, Wassalamu'alaikum"


Tiara :"Wa'alaikum salam"


Tiara meletakkan ponselnya, lalu dia menuju ke halaman samping rumahnya untuk menjemur baju yang baru saja dia cuci. Ia juga melakukan pekerjaan lain di rumahnya.


Empat belas jam berlalu. Tiara menghubungi bibinya, namun yang menjawab adalah operator. 'Nomor yang anda tujuh sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar jangkauan.' Berkali-kali Tiara menelepon, tapi jawabannya sama.


"Semoga tidak terjadi apa-apa dengan bibi dan paman." Tiara bermonolog.


Tiara meletakkan handphone nya,dan bergegas wudhu untuk melaksanakan sholat isya'. Setelah sholat isya', Tiara berdo'a untuk ibu dan bapaknya yang telah meninggal. Tak lupa berdo'a untuk keselamatan bibi dan pamannya diperjalanan. Beberapa saat kemudian, Tiara telah terlelap di tempat sholat nya dan masih mengenakan mukena.


...***...


Jam setengah enam pagi. Tiara sedang berada di dapur rumahnya. Ia sedang melihat beberapa sayuran mentah yang akan ia masak.


"Hari ini masak apa ya?"Tiara bermonolog.


"Aku pengen numis kangkung, ah." Tiara menjawab pertanyaannya sendiri.


Hampir satu jam Tiara berada di dapur. Kini, ia telah menyelesaikan kegiatan masaknya di dapur. Tiara pun mengambil beberapa piring untuk wadah masakan yang sudah matang.


"Sekarang waktunya makan." Tiara menyiapkan masakannya di meja makan.


Tok ... tok ... tok ... terdengar seseorang dibalik pintu mengucap salam. Tiara menjawab salam, lalu beranjak dari tempat duduknya lalu membuka pintu utama di rumahnya.


"Wa'alaikum salam, siapa ya?" tanya Tiara.


"Bibi ... Paman ...." Tiara mencium punggung tangan bibi dan pamannya.


"Bibi ... Paman ... masuk dulu, baru sampai kah, Bi? Tiara mengajak mereka masuk kedalam rumahnya.


" Iya Ra, Bibi dan Paman cuci tangan dulu ya Ra." Bibi dan pamannya Tiara menuju ke arah kamar mandi.


"Iya, Bi. Setelah itu kita sarapan bersama ya." Tiara menyiapkan peralatan makan.


"Iya, Ra." Bibi dan pamannya Tiara telah berlalu.


Di meja makan.


"Ra, apa kabar kamu, kamu dalam keadaan sehat, 'kan?" Pamannya Tiara mengkhawatirkan Tiara yang hidup seorang diri.


"Alhamdulillah baik, Paman. Ibu dan bapak sudah mengajarkan Tiara untuk hidup mandiri sejak kecil, Tiara tidak kesusahan mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, Tiara sedih saat teringat bapak dan ibu, Tiara rindu bapak dan ibu." Tiara menundukkan kepala, terdengar suara isak tangisnya.


"Maaf, Ra, paman tidak bermaksud membuatmu sedih." Paman mengusap pucuk kepala Tiara.


"Tidak ... tidak apa, Paman," Tiara menjawab di balik isak tangisnya, bibinya pun langsung memeluk Tiara.


Suasana hati Tiara mulai membaik, dan mereka kembali melanjutkan sarapan mereka. Di ruang tamu. Bibi dan paman saling memandang, Tiara memandang mereka, Tiara merasa ada sesuatu yang ingin di sampaikan bibi dan pamannya.


"Emmm begini, Ra. Bibi mau memberikan kamu kotak ini." Bibi mengeluarkan kotak kecil dari dalam tasnya.


"Kotak apa ini, Bi?" Tiara melihat kotak yang berada di tangannya.


"Itu kotak yang di berikan ibu kamu, dulu sebelum Bibi dan Pamanmu berangkat merantau. Ibumu berpesan untuk menyerahkan kotak itu ke kamu, jika bapak dan ibu kamu tiada. Kata ibumu, kotak itu berisi peninggalan dari orang tua kandungmu." Bibi menceritakan pesan dari ibunya Tiara.


Bruukkk.


Kotak yang di bawa Tiara seketika terjatuh, Tiara tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bibinya. Karena terjatuh, kotak itu pun terbuka. Di dalam kotak terdapat sebuah kalung liontin dan sebuah kertas.


Tiara mengambil kalung dan kertas itu, Tiara membuka liontin dan dia melihat photo seorang laki-laki dan perempuan muda. Tiara lalu membuka kertas itu, dan membacanya.


...Surat dari orang tua Tiara ...


Assalamu'alaikum Tiara, Tiara anakku ... bapak dan ibu memohon maaf kepadamu nak.


Maaf, karena tidak memberitahu kamu lebih awal akan hal ini.


Kami terlalu egois, Nak. Kami takut kehilangan kamu saat kamu tahu kebenarannya.


Waktu itu bapak sedang bekerja serabutan di Yogyakarta, dan bapak sedang beristirahat di mushola kecil seusai bekerja.


Setelah bapak sholat ashar, bapak mendengar suara tangisan bayi. Bapak melihat di sekitar tidak ada orang satupun, waktu itu sudah sore.


Dan bapak membawa pulang kamu ke Magelang, ibu merasa sedih sekaligus senang. Sedih melihat bayi secantik kamu di tinggalkan begitu saja. Senang karena ibu bisa merawat kamu, karena ibu sudah di vonis tidak dapat mengandung seorang anak.


Nak ... kami tidak memaksa jika kamu tidak memaafkan kami, tapi kamu harus tau jika bapak dan ibu sangat sayang kepadamu.


Ibu berdo'a semoga suatu saat kamu bisa bertemu dengan orang tua kandung kamu...kamu juga jangan berlarut dalam kesedihan saat kami telah tiada, kamu harus semangat untuk mewujudkan mimpi-mimpimu nak..


^^^Bapak dan ibunya Tiara^^^


...~~~...


Tiara memeluk kertas pemberian ibunya, sambil menangis terisak. Bibi kembali memeluk Tiara. Sangat terkejut dengan kebenaran yang baru saja ia ketahui.


"Ra ... Bibi minta maaf tidak memberitahu kamu dari awal, karena ibu kamu melarangnya, ibu dan bapak kamu takut kehilangan kamu." Bibi mencoba menenangkan Tiara.


"Apa kamu marah dengan kedua orang tua angkat kamu?" bibi bertanya kepada Tiara.


"Tiara sayang bapak dan ibu, Tiara tidak akan marah, Bi. Walaupun mungkin kenyataannya Tiara bukan anak kandung mereka, tapi Tiara sudah menganggap mereka orang tua kandung Tiara." Tiara kembali terisak, bibi mengeratkan pelukan lalu mencium kening Tiara. Setelah beberapa saat, suasana hati Tiara membaik dan telah berhenti menangis.


"Ra ... maaf, Bibi dan Pamanmu tidak bisa menginap disini. Bibi dan pamanmu ingin kembali ke rumah bibi yang disini, untuk melihat kondisinya. Dan juga kami ingin mengunjungi saudara kami, paman kamu tidak dapat libur lama dari pekerjaannya." Suara bibi melemas, sebenarnya dia masih rindu dengan Tiara.


"Iya Bi, tak apa. Walau sebenarnya Tiara masih rindu dengan Bibi dan Paman." Tiara memaksakan senyumnya, Tiara tidak ingin terlihat sedih lagi didepan bibi dan pamannya, karena itu akan membuat mereka khawatir.


"Kamu jaga diri baik-baik ya, Bibi dan Paman akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu." Bibi memeluk Tiara kembali.


"Ra ... kami pamit dulu." Paman berdiri dari tempat duduknya.


Tiara pun mencium punggung tangan bibi dan pamannya, Tiara mengantarkan mereka sampai pinggir jalan, menunggu angkutan umum.


Setelah kepergian bibi dan pamannya, Tiara langsung pulang ke rumahnya. Tiara merasa seperti mimpi, dengan apa yang baru saja terjadi. Tiara merasa lelah karena menangis tadi, Tiara pun terlelap tidur di kamarnya.