TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Rumah baru



Sore hari, Tiara dan Papa David sedang berada di teras rumah. Tiara menceritakan tentang Pandu, Mutiara, dan anak-anak panti yang lainnya.


"Pa ... bisakah Papa beliin rumah layak buat mereka tinggal? Kasihan mereka Pa, rumahnya nggak harus besar kok. Nanti, Tiara bakal beli beberapa buku untuk mereka belajar, " pinta Tiara kepada Papanya.


"Boleh nggak, Pa?" imbuh Tiara.


"Rumah ya? Emm ... sebenarnya ada rumah peninggalan Kakekmu yang sekarang nggak dipakai, tapi Papa menyewa orang untuk membersihkan rumah itu seminggu sekali. Mau nggak Ra?" ucap Papa David.


"Asal layak, Pa. Makasih ya Pa." Tiara berterima kasih dan langsung memeluk Papanya.


"Iya, sama-sama. Besok kamu masuk kuliah nggak?" tanya Papa David.


"Masuk Pa, kenapa Pa?" jawab Tiara.


"Besok kalau kamu sudah pulang dari kuliah, kita lihat bersama ya rumah itu," ucap Papa David.


"Waah ... asyik ... baik Pa. Besok Tiara bakal langsung pulang kalau kelas sudah selesai." Tiara bersemangat mendengar penuturan Papa David. Papa David hanya tersenyum melihat tingkah putrinya.


...***...


Malam hari, Tiara sedang berada dikamarnya. Tiba-tiba Salsa masuk ke kamar, dan hal itu membuat Tiara terkejut. Karena, Salsa masuk dengan sedikit membanting pintu kamar.


"Kenapa kamu Sa?" tanya Tiara kepada Salsa.


"Lagi sebel sama Kak Chandra!" jawab Salsa dengan mencondongkan mulutnya kedepan.


"Istigfar ... kalian berdua ini, sukanya berantem aja." Tiara menggelengkan kepalanya. Salsa terdiam sejenak.


"Hmm iya Kak. Eh, Kakak lagi lihat apa dilaptop?" tanya Salsa, sambil melihat layar laptop milik Tiara.


"Oh ... ini Sa, Kakak lagi cari buku buat belajar anak-anak tadi. Rencana ... besok Aku sama Papa mau ke rumah Kakek yang sudah tidak ditempati. Rumah itu mau dijadikan rumah baru untuk Mutiara, Kak Pandu, dan anak-anak yang lainnya." Tiara menjelaskan rencana dia dan papanya.


" Waah ... benarkah? Aku boleh ikut nggak Kak, ke rumah itu? "tanya Salsa dengan antusias.


"Tentu saja boleh. Tapi kamu juga harus bantu bersih-bersih ya!" pinta Tiara.


"Bersih-bersih ya? Emmm ... baiklah," ucap Salsa sedang lesu.


Tiara hanya bisa menahan tawa, melihat ekspresi dari Salsa. Salsa memang jarang sekali membantu pekerjaan rumah, Tiara membayangkan saat Salsa membantu membersihkan dan menata rumah Kakeknya nanti. Tiara hanya menggelengkan kepalanya, dengan sedikit tersenyum.


"Kakak kenapa? Geleng kepala sambil tersenyum?" tanya Salsa penasaran.


"He-he ngak apa-apa kok Sa. Yaudah sini duduk disebelahku, kita cari buku barengan." Tiara menepuk kursi kosong disebelahnya.


"Oke, Kak." Salsa duduk disebelah Tiara. Tiara dan Salsa pun mencari bersama-sama beberapa buku dionline shop.


...***...


Keesokan harinya, Tiara pergi ke kampus dengan menaiki bus. Tiara rindu suasana bus, karena beberapa hari ini, dia selalu diantar menggunakan mobil keluarganya saat akan pergi ke kampus.


Tiara juga belum berlatih mengendarai sepeda motor, jadi dia masih menyimpan motor pemberian papanya di dalam garasi. Kelak jika sudah ada waktu, Tiara pasti akan belajar mengendarai motor itu.


Setelah beberapa saat, Tiara sampai di kampusnya. Tiara langsung masuk kedalam kelasnya, Tiara mencari keberadaan Dinda, namun Dinda tidak ada di kelas.


Tiara mengirim pesan singkat kepada Dinda, Tiara menanyakan keberadaan Dinda. Dinda pun membalas jika ia sedang berada di perpustakaan kampus.


Tiara tak menyusul Dinda, tapi ia menunggu Dinda didalam kelas. Tiara ingin menceritakan masalah anak-anak panti asuhan, yang kemarin ia temui.


Tiara ingin meminta bantuan dari Dinda, untuk mendekor rumah yang akan anak-anak panti tempati. Rencananya, salah satu ruangan akan dijadikan area khusus untuk belajar bersama.


"Begitu ya Ra, oke aku ikut. Kapan kita bisa mulai?" tanya Dinda.


"Nanti, pulang kuliah kita ke rumah itu. Tapi sepertinya, hal yang harus dilakukan adalah bersih-bersih. Gimana, kamu bersediakah?" jawab Tiara.


"Oke Ra, aku mau aja Ra. Nanti kita berangkat bareng ya ke rumah itu," respon Dinda.


"Terima kasih ya Nda." Tiara berterima kasih kepada Dinda.


"Iya." Dinda menganggukkan kepalanya.


...***...


Tiga jam berlalu, Tiara dan Dinda sudah selesai dengan kelas mereka. Tiara dan Dinda keluar dari kampus, dan menuju ke rumah Kakek Tiara. Kali ini, Dinda menggendarai motornya, dan Tiara duduk dibelakang Dinda.


Setelah menempuh perjalanan, akhirnya Tiara dan Dinda sampai di rumah kakek Tiara yang sudah tak berpenghuni itu. Sebelumnya, Tiara telah meminta alamat rumah itu kepada Papanya. Tiara juga sudah memberi tahu jika dia akan datang ke rumah itu bersama temannya, dan Papa David bisa berangkat dari rumah bersama Salsa.


Rumah kakeknya Tiara ternyata cukup besar, terlihat gagah dengan pagar besi yang menjulang tinggi. Rumah itu mempunyai dua lantai. Rumah itu berada dipinggir jalan raya, dan suasana disekitarnya lumayan ramai.


Tiara mendapat ide peluang usaha, yang nantinya bisa dijalankan oleh Mutiara dan Pandu. Jadi, mereka tidak perlu mengumpulkan barang asongan lagi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.


"Ra, kamu ada kunci rumahnya kan?" tanya Dinda kepada Tiara.


"Kunci? Haduh, kok aku bisa lupa ya. Bentar ... aku telepon Papa." Tiara menelepon Papa David agar segera datang ke rumah Kakeknya.


Tiara dan Dinda menunggu dibawah pohon yang agak besar, yang letaknya berada di depan rumah Kakeknya Tiara. Tak berselang lama, mobil Papa David akhirnya tiba di depan rumah itu.


Papa David keluar dari mobilnya, disusul dengan Salsa. Salsa terlihat memakai pakaian lengan panjang dan memakai sebuah masker diwajahnya. Papa David dan Salsa menghampiri Tiara.


"Sa, kenapa pakai masker?" tanya Salsa.


"Kan mau bersih-bersih Kak, pasti bakal banyak debu," jawab Salsa.


"Tempatnya nggak terlalu kotor Sa, soalnya tiap seminggu sekali ada orang yang bersihin tempat ini." Papa David mengamati rumah ayahnya, Papa David jarang menengok rumah itu, jadi Papa David tidak mengetahui kondisi didalam rumah itu.


"Ini temen kamu ya Ra?" tanya Papa David.


"Iya Pa, namanya Dinda." Tiara memperkenalkan temannya kepada Papanya.


"Saya Dinda, Om." Dinda memperkenalkan dirinya sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya, saya Papanya Tiara. Terima kasih ya sudah mau bantu Tiara," kata Papa David.


"Iya Om, sama-sama," respon Dinda.


"Yaudah, ayo kita masuk! Papa bukain pintunya." Papa David membuka gerbang besi dirumah itu.


Papa David, Salsa, Tiara, dan Dinda masuk ke halaman rumah itu. Kemudian masuk kedalam rumah setelah Papa David membuka pintu utama di rumah itu.


Ruang tamu di rumah itu, terlihat cukup luas dengan beberapa sofa disana. Seperti yang Papa David katakan, jika rumah itu seminggu sekali selalu dibersihkan, jadi rumah itu tampak bersih.


"Alhamdulillah, ternyata rumahnya bersih, Aku nggak usah bersih-bersih ini." Salsa membuka masker yang ia kenakan.


"Jangan seneng dulu Sa, kita mesti menata dan menghias ruang yang akan dijadikan ruang belajar untuk anak-anak panti." Tiara mengingatkan salah satu tujuan mereka datang.


"He-he, iya Kak," ucap Salsa.


Papa David, Tiara, Salsa dan Dinda pun memulai menata ruang demi ruang di rumah itu. Mereka membagi tugas mereka masing-masing.