TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Kebenaran tentang Tiara



FLASHBACK ON


Tiara terjatuh dari perahu yang ia naiki, ia terbawa arus sampai jauh. Tiara berusaha meraih bebatuan yang ia lewati, namun usahanya gagal. Tiara terus terseret arus sungai, kepala Tiara juga menghantam bebatuan. Dan hantaman itu membuat pelindung kepala yang Tiara kenakan terlepas dari kepalanya.


Tak berselang lama, kepala Tiara menghantam sebuah batu untuk kedua kalinya. Dan hantaman itu sangat kuat, hingga membuat Tiara tak sadarkan diri.


Tubuh Tiara hanyut bersama tumpukan sampah, dan tumpukan sampah itu membawa Tiara ke tepi sungai. Dan ternyata, para relawan yang mencari keberadaan Tiara sempat melewati tumpukan sampah itu. Namun, para relawan tak berpikir untuk mencari Tiara ditumpukan sampah itu.


Lima belas menit setelah kepergian para relawan dari lokasi tumpukan sampah itu, terdapat seseorang pria yang sedang mencuci tangan dan mukanya di tepi sungai. Pria Itu bertubuh tinggi, berkulit putih dan berwajah tampan.


Tiba-tiba, pria itu terkejut kala melihat sebuah tangan ditumpukan sampah. Tentu saja hal itu membuat sang pria bergidih ketakutan. Pria itu mengira, jika tangan itu merupakan potongan dari mutilasi seseorang.


Dengan ragu, pria itu mengambil sebuah kayu yang akan dia jadikan untuk mengambil potongan tangan itu. Tetapi, ia melihat sebuah pergelangan tangan.


Dengan cepat, pria itu membuang sampah-sampah yang menutupi tangan itu. Pria itu takut, jika tangan itu milik seseorang yang masih hidup.


Setelah semua sampah dibuang, pria itu melihat seorang wanita berjilbab yang tak bergerak. Pria itu memeriksa jadinya. Setelah diperiksa, ternyata pemilik tubuh yang pria itu temui, masih bernyawa.


Pria itu langsung menggendong tubuh Tiara, membawa ke rumahnya didalam hutan. Jarak tepi sungai dengan rumah pria itu berjarak dua kilometer.


Setelah beberapa saat, pria itu telah sampai didepan rumahnya. Pria itu meletakkan Tiara di teras rumah panggungnya. Tak berselang lama, muncullah seorang perempuan yang usianya terlihat dibawah pria itu.


"Hah! Itu siapa, Kak?" tanya perempuan itu.


"Kakak juga nggak tahu, tadi Kakak lihat dia terkubur tumpukan sampah di tepi sungai. Kakak kira, dia adalah korban mutilasi, tapi sepertinya tidak. Sepertinya dia korban yang terseret arus ketika naik arum jeram di sungai."


Pria itu melihat sebuah pelampung, yang masih melekat dibadan Tiara. Pria itu sungguh kasihan melihat kondisi wanita yang ia temui, karena banyak luka diwajah wanita itu.


"Tina, tolong Kakak ya. Tolong ganti pakaian wanita ini dengan pakaian lain yang kamu miliki," pinta Pria itu kepada adiknya.


"Baik, Kak Satria," jawab Tina.


Satria menggendong tubuh Tiara ke kamar Tina, lalu ia meninggalkan Tiara dan Tina di kamar itu. Satria membersihkan dirinya, dan mengambil air wudhu disamping rumahnya, air itu ia kumpulkan dari sungai dan ia tampung disebuah ember yang lumayan besar.


Setelah wudhu, Satria menunaikan ibadah sholat maghrib. Setelah selesai sholat, Satria pergi kedepan rumahnya untuk membakar ikan hasil buruannya tadi siang di sungai.


Setelah matang, Satria membawa masuk semua ikan yang ia bakar. Ia membawa ikan itu, ke ruang tengah di rumah panggung itu. Rumah kayu itu memang cukup luas dengan dua kamar tidur, satu ruang tengah, dan satu ruang tamu.


Satria membangun rumah itu secara bertahap. Satria mengumpulkan kayu dari hutan tempat ia berada. Setiap hari, Satria tanpa lelah mencari kayu yang pas untuk dijadikan tempat berteduh untuk dia dan adiknya.


"Tina, ayo kita makan dulu!" Satria mengetuk pintu kamar Tina.


"Baik, Kak," jawab Tina dibalik pintu.


Tina keluar dari kamarnya, dan meninggalkan Tiara di kamarnya. Tina makan bersama kakaknya di ruang tengah. Mereka mensyukuri apa yang mereka makan tiap harinya.


Setelah makan, Tina mengumpulkan piring ke pinggir ruangan itu. Tina akan mencuci piring jika matahari telah terbit. Karena Tina tak berani, jika harus mencuci piring pada malam hari disamping rumahnya.


Kini, Tina telah berada didalam kamarnya. Tina tidur disamping Tiara. Tina mengamati wajah Tiara yang terdapat banyak luka. Tina berharap jika luka itu segera sembuh, Tina juga telah mengobati luka pada wajah Tiara dan anggota tubuh lainnya.


"Auhh ...." Tiba-tiba Tiara kesakitan dan perlahan memegang kepalanya.


"Eh-eh, kamu sudah bangun?" Tina terkejut melihat pergerakan dari Tiara.


Tiara melihat keadaan sekitar, matanya berkunang-kunang. Dia merasakan pusing dan sakit dikepalanya. Dia tak tahu apa yang terjadi dengannya.


"Kamu minum dulu ya," kata Tina.


Tina telah menyiapkan segelas air minum didalam kamar itu. Tina berjaga-jaga jika wanita yang tidur dikamarnya itu, akan terbangun.


Tiara mengangguk pelan. Tiara dibantu Tina untuk duduk. Tiba-tiba terdengar bunyi dari perut Tiara. Tiara pun memegang perutnya, yang sepertinya perlu diisi.


Tina berlari keluar kamar. Tak berselang lama, Tina masuk kembali kekamarnya dengan membawa sepiring nasi dengan satu ikan bakar.


"Ini buat kamu, bisa makan sendiri? tanya Tina, Tiara pun mengangguk pelan.


"Te-rima-kasih," ucap Tiara dengan terbata.


Tiara mulai memakan makanannya, Tiara merasa sangat lapar. Sepuluh menit kemudian, Tiara telah menghabiskan isi piringnya.


"Ini minumnya."


Tina menyodorkan segelas air minum. Tina terus mengamati Tiara yang sedang makan, sampai akhirnya menghabiskannya.


"Nama kamu, siapa?" tanya Tina.


"Nama?" kata Tiara pelan.


Tiara terlihat sedang berpikir, seperti orang linglung. Tiara terdiam, lalu memegang kepalanya yang terasa menjadi lebih sakit.


"Kamu kenapa?" tanya Tina dengan khawatir. Tina memegang kedua bahu Tiara.


"Sakit kepalaku, ahhhh!" Tiara menggerang kesakitan.


Suara Tiara terdengar sampai ke kamar Satria. Satria terkejut, dia bangkit dari tidurnya. Dia beranjak, lalu menuju ke arah kamar Tina.


"Ada apa, Tina? Siapa yang berteriak?" tanya Satria dengan khawatir.


"Wanita ini menggerang kesakitan dan memegang kepalanya, setelah aku tanya siapa namanya," ucap Tina dengan panik.


"Apa mungkin, dia hilang ingatan?" tanya Satria.


Tak lama, tiba-tiba Tiara pingsan. Badan Tiara menghantam kasur dibawahnya. Tina dan Satria terkejut, dan menghampiri Tiara yang tak sadarkan diri.


FLASHBACK OFF


Beberapa hari setelah itu, Tiara sudah berkomunikasi dengan Tina dan Satria. Tiara mengatakan, jika dia tak mengetahui siapa namanya.


Karena hilang ingatan, Satria dan Tina mencarikan nama untuk Tiara. Mereka memberi nama Tiara, Bunga. Tiara mengangguk saja dengan pemberian nama yang diberikan oleh Satria dan Tina.


Hari-hari Tiara lewati bersama dua kakak-beradik itu, Tiara senang bisa tinggal bersama mereka. Karena mereka sangat baik dengan Tiara.


"Bunga, kamu mau ikut aku ke sungai? Aku mau cari ikan," ajak Satria.


"Mau, tapi ... aku nggak bisa jalan cepet. Luka dikakiku masih belum sepenuhnya sembuh," kata Tiara lalu melihat kedua kakinya.


"Nggak apa-apa, nanti aku jalannya pelan juga kok." Satria tersenyum pada Tiara.


"Baiklah, aku ikut," respon Tiara.


"Tina ... aku ikut Bang Satria ke sungai ya." Tiara berteriak berbicara pada Tina yang berada didalam rumah.


"Baiklah, hati-hati!" jawab Tina dari dalam rumah.


Tiara dan Satria berjalan bersama menuju sungai. Setelah beberapa saat, mereka telah sampai di tepi sungai.


"Bang ... sebenarnya, kenapa aku bisa ada disini ya?" tanya Tiara.


"Beberapa hari yang lalu, aku nemuin kamu terkubur tumpukan sampah di tepi sungai. Tadinya, aku kira kamu korban mutilasi. Karena awalnya memang hanya telapak tangan kamu yang kelihatan." Satria menjelaskan pada Tiara, pertemuan pertama mereka.


"Hah! Benarkah?" ucap Tiara terkejut. Sementara Satria, hanya menganggukkan kepalanya.