
Pagi hari di rumah Budhe Lisa. Tiara telah selesai mandi, Tiara dibantu oleh Salsa membersihkan dirinya.Setelah selesai membantu Tiara, Salsa pun segera mandi.
Beberapa menit kemudian,Salsa keluar kamar mandi dan sudah mengganti pakaiannya.
"Kak, kita keluar dulu ya" ucap Salsa.
"Iya Sa" jawab Tiara.
Saat melewati ruang keluarga
"Pagi semuanya" ucap Salsa dengan semangat.
"Pagi....." jawab semua orang yang berada di ruang keluarga.
Di ruang keluarga ada papa Tiara, Chandra dan Dika. Sedangkan mama Jihan sedang berada di dapur.
Tiara hanya tersenyum
Salsa pun berlalu meninggalkan orang-orang di ruang keluarga.
"Sa, kamu mau bawa Tiara kemana?" tanya Chandra penasaran.
"Aku mau bawa kak Tiara ke taman depan, biar kakak nggak bosen lihat keadaan dalem ruangan terus" jawab Salsa.
"Yaudah, hati-hati ya" ucap Chandra.
Tiara dan Salsa telah sampai di taman rumah budhe Lisa.
"Kak, kita ke sana ya" Salsa menunjuk ke arah sebuah pondok kecil.
"Oke Sa" respon Tiara.
Tiara dan Salsa duduk di bawah pondok itu.
"Kak, aku rasa kakak udah mengetahui kalau aku hanya anak yang di adopsi oleh Mama Jihan dan Papa David." Ucap Salsa serius.
"Kenapa kamu bicara kayak gitu Sa, mama nggak pernah kan bandingin kamu sama anak mama yang lain?" Tiara terkejut dengan ucapan Salsa,Tiara memegang tangan Salsa.
"Nggak kak, mama baik banget sama aku, bahkan lebih baik dari orang tua kandung aku, beberapa minggu yang lalu sebelum aku ikut mama ke Yogyakarta, aku sudah bertemu dengan orang tua kandungku"Salsa menghentikan kata-katanya.
" Aku kira mereka akan bahagia melihat putri kandungnya telah kembali,tapi mereka bahkan tidak suka dengan kedatangan ku, mereka bilang aku anak pembawa sial, maka dari itu orang tua kandungku meninggalkan aku di depan sebuah panti asuhan"ucap Salsa dengan meneteskan air matanya.
Tiara terkejut, ternyata orang tua kandung Salsa tak menginginkan kehadirannya.
Tiara langsung memeluk Salsa.
"Kamu sekarang nggak usah sedih lagi ya, kan ada mama papa, mereka menyayangi kamu seperti anak kandung mereka sendiri" Tiara menenangkan Salsa.
"Kakak, maaf telah menggantikan posisi kakak, aku pernah di hina teman kampusku,mereka bilang aku jahat karena merebut posisi kakak" ucap Salsa dengan terisak.
"Eh, itu nggak bener, kakak malah mau berterima kasih kepada kamu, karena kamu telah menemani mama, menghibur mama melewati masa-masa sulit di masa lalu" ucap Tiara.
"Terima kasih kak, karena keluarga kakak sangat baik terhadapku" Salsa mengusap air matanya.
"Kok keluarga aku, yang bener itu keluarga kita" Tiara tersenyum kepada Salsa.
"Udah yuk, kita pergi sarapan, kayaknya mama masak enak, baunya sampai sini" Tiara mencium aroma masakan yang enak.
"Iya kak, bentar aku cuci muka dulu" Salsa menuju ke sebuah wastafel di dekat taman.
Tiara dan Salsa pun masuk ke rumah.
Sarapan telah di siapkan oleh mama, dan di bantu seorang pembantu di rumah budhe Lisa.
Di meja makan, Tiara, Salsa, Dika, Chandra,dan papa berkumpul untuk sarapan bersama.
Mama Jihan pergi ke kamar budhe Lisa untuk mengantar sarapan budhe Lisa di kamarnya.
Sedangkan suami budhe Lisa telah meninggal dunia.
FLASHBACK ON
Suami budhe Lisa telah meninggal dunia satu tahun yang lalu, karena sebuah kecelakaan. Suami budhe Lisa bekerja di luar kota, pada saat melakukan perjalanan pulang, pesawat yang dinaiki suami budhe Lisa terjatuh ke laut. Pencarian terhadap korban telah di lakukan, tapi tim SAR tidak dapat menemukan tubuh para korban.
Semenjak kecelakaan itu, budhe Lisa tidak mempunyai semangat hidup, Dika sang anak sangat sedih karena hal ini. Dika tak pernah memikirkan untuk menikah, Dika ingin menjaga dan merawat mamanya selama sisa hidupnya. Sedangkan sang mama terus mendesak Dika untuk mencari calon istri, budhe Lisa takut setelah kepergiannya Dika akan kesepian karena tak memiliki siapapun.
FLASHBACK OFF
"Sa, mata kamu kenapa? Kamu habis nangis ya?" Chandra melihat mata Salsa yang sembab.
"Enggak kok cuma kemasukan debu kak" Salsa tersenyum ke arah Chandra.
"Udah yuk makan dulu kak, nanti keburu dingin makanannya" ucap Tiara, Tiara tak ingin kakaknya Chandra terus bertanya kepada Salsa mengenai mata Salsa yang sembab.
Dika dan Papa David hanya mendengarkan percakapan mereka.
Semua orang yang ada di ruang makan itu terdiam, menikmati sarapannya.
...***...
Sebelum pulang ke Jakarta, Tiara mengajak Mama dan Papanya ke Magelang. Tiara ingin mengunjungi makam Bapak dan Ibunya, sebelum berangkat ke Jakarta.
"Kak, nanti boleh nggak mampir ke alun-alun Magelang sebentar, dulu aku sama temanku Chika sering kesana untuk sekedar jajan bakso, baksonya tu enak lo kak" ucap Tiara antusias.
"Benarkah? Kalau gitu kakak mau coba juga" jawab Chandra dengan semangat.
"Salsa juga mau" ucap Salsa.
"Iya, nanti kita kesana bareng-bareng" jawab Tiara.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di alun-alun Magelang.
Tiara menunjukkan jalan, untuk menuju tempat penjual bakso favoritnya itu.
"Bu Tri, Tiara pesen bakso ya empat porsi" ucap Tiara kepada Ibu Tri, penjual bakso itu.
"Eh, mbak Tiara, lo kok mbak Tiara di kursi roda, mbak Tiara sakit apa?" tanya Ibu Tri dengan wajah khawatir.
"Tiara mengalami kecelakaan bu" jawab Tiara.
"Ya Allah mbak, semoga mbak Tiara lekas sembuh ya" ucap Ibu Tri.
"Aamiin, terima kasih do'anya bu" jawab Tiara.
"Ini keluarga mbak Tiara ya?" tanya Ibu Tri lagi.
"Iya bu" jawab Tiara.
Mama Jihan, Papa David, Salsa, dan Chandra tersenyum kepada penjual bakso itu.
"Oh iya, ibu buatkan dulu ya pesanannya di tunggu dulu" ibu penjual itu segera membuatkan pesanan Tiara sekeluarga.
Setelah lima belas menit, pesanan pun datang. Tiara dan keluarganya menikmati pesanan mereka, tampak Chandra dengan lahap memakan baksonya.
"Kamu bener Ra, ini enak banget bakso nya" ucap Chandra di sela makannya.
"Iya dong kak" jawab Tiara.
Setelah selesai memakan bakso, Tiara sekeluarga melanjutkan perjalanan ke rumah bapak dan ibu Tiara.
********
Tiara sekeluarga, telah sampai di rumah bapak dan ibu Tiara tiga puluh menit yang lalu.
Mereka beristirahat di ruang tamu.
Setelah cukup beristirahat, Tiara sekeluarga menuju ke makam bapak dan ibu Tiara.
Tiara membacakan surat Yassin dan papa Tiara memimpin pembacaan Tahlil.
Setelah selesai membaca surat Yassin dan Tahlil, Tiara berbicara ke makam bapak dan ibunya yang berdampingan.
Bapak, ibu, terima kasih karena telah menjaga, menyayangi, mendidik Tiara dengan baik.
Tiara sangat sayang dengan kalian.
Bapak dan ibu tenang disana ya, Tiara telah bertemu dengan keluarga Tiara yang lain, Tiara nggak akan kesepian lagi.
Bapak, ibu, Tiara pamit ya.
Tiara menyeka air matanya.
Mama Jihan mengajak Tiara kembali ke rumah, mama Jihan tidak mau Tiara berlarut dalam kesedihannya.
Tak lama setelah itu, Tiara meminta kakaknya Chandra mengantarkan nya ke asrama kampus.
Setelah perjalanan satu jam tiga puluh menit, Tiara sekeluarga telah sampai didepan asmara kampus.
Tiara menelepon Chika, Tiara mengatakan jika dia ingin berpamitan karena akan berangkat ke Jakarta.
Chika pun segera turun, tak lupa mengajak Gladys bersamanya.
"Ra....." ucap Gladys dan Chika bersamaan.
Gladys dan Chika membungkukkan tubuh mereka di depan kursi roda Tiara, dengan derai air mata.
"Secepat ini kah Ra?" tanya Gladys.
"Ra, kamu jangan sedih lagi ya, sekarang kamu udah ada keluarga yang akan selalu support kamu, kamu harus semangat biar cepet sembuh, nanti kamu bisa lanjut kuliah dan mewujudkan mimpi-mimpi kamu" ucap Chika tersenyum di tengah tangisannya.
"Iya Chik" jawab Tiara.
Tiara, Gladys dan Chika pun saling berpelukan.
"Terima kasih ya, Gladys, Chika, kalian selalu menemani hari-hari Tiara ucap mama Jihan.
" Tante jangan bicara seperti itu, kita tulus berteman dengan Tiara "jawab Gladys.
Mama Jihan memeluk Gladys dan Chika bergantian.
Setelah selesai berpamitan , Tiara pun akhirnya pergi meninggalkan asrama kampus.