
Malam hari, Tiara dan keluarganya sedang berada dirumah makan yang letaknya dipinggir pantai. Ada Davin dan Erina juga disana, dan tampaknya Erina sedang hamil dan usia kandungnya baru beberapa minggu.
Setelah Davin mengetahui jika Erina sedang mengandung anak mereka, Davin menjadi lebih berhati-hati. Erina pun tidak diperbolehkan, berangkat ke rumah sakit sendirian untuk bekerja. Sebenarnya, Erina sudah disuruh Davin istirahat dahulu selama mengandung. Tetapi Erina tidak mau, karena dia akan bosan jika selama sembilan bulan hanya duduk manis dirumah.
Pada malam itu, Tiara, kedua orang tuanya, dan juga saudara-saudaranya memesan berbagai macam olahan seafood. Selain untuk berkumpul keluarga, makan malam itu juga untuk merayakan atas kelulusan Salsa.
Karena cuaca disekitar pantai dingin, Tiara dan keluarganya memakai pakaian tebal. Tapi walaupun dingin, mereka tetap menikmati suasana indah dipinggir pantai itu. Dan kebetulan, pada malam itu ada banyak bintang yang sedang bersinar.
"Hmm ... enak banget cuminya," kata Tiara.
"Iya Kak, mantul." Salsa mengacungkan ibu jarinya.
"Kalau aku sih lebih suka sama lobster," ucap Chandra.
"Kalau Mama ... tim pecinta udang! Mantap banget pokoknya," imbuh Mama Jihan.
"Kalau Papa, pemakan segalanya. Hahaha ...," kata Papa David sambil tertawa.
"Davin juga pemakan segalanya lho, jadi kalau pada nggak suka, tangan Davin siap menerima." Davin juga ikut memberikan suaranya.
"Kalau Erin ada alergi sama seafood tidak?" tanya Mama Jihan kepada Erina.
"Erin tidak ada pantangan makanan sih Ma, Erin tidak alergi juga sama seafood," jawab Erina.
"Baguslah kalau begitu," ucap Mama Jihan lagi. Setelah berbincang-bincang, semua orang yang berada ditempat makan itu melanjutkan makan mereka.
Setengah jam kemudian, Tiara dan keluarganya telah selesai dengan makan malam mereka. Mereka pun kembali ke rumah mereka. Dan kali ini, Davin dan Erina menginap di rumah orang tua mereka.
...***...
Pagi hari, Tiara sudah bersiap untuk berangkat ke kampus. Kali ini Tiara akan berlatih pencak silat, satu bulan lagi dia akan menjadi salah satu perwakilan pertandingan pencak silat dari paguyuban pencak silat di kampusnya.
"Ra, Papa antar ya ke kampusnya,"ucap Papa David.
" Iya, Pa. Oh iya, hari ini adalah hari pertama aku latihan buat pertandingan pencak silat, Pa." Tiara menceritakan pertandingan pencak silatnya.
" Oh, ya? Wah semangat ya kamu! Anak Papa ini ternyata jago ya bela dirinya. Semoga kelak pertandingannya lancar dan kamu jangan sampai cidera ya ...." Papa David menyemangati dan memuji Tiara.
" Iya, Pa. Tiara bakal hati-hati. Yaudah, ayo Pa kita berangkat," ajak Tiara kepada Papanya.
" Oke, Ra," respon Papa David.
" Ngomong-ngomong, Mama dimana ya? Kok nggak kelihatan." Tiara tak melihat keberadaan Mamanya.
"Mama lagi belanja di pasar tradisional, bosen katanya belanja di swalayan," ucap Papa David.
"Sama Kak Chandra dan Salsa juga?" tanya Tiara.
"Iya Ra," jawab Papa David. Setelah obrolan itu, mereka terdiam. Papa David fokus menyetir mobil, sedangkan Tiara mengambil ponselnya dan mengecek pesan yang masuk diponselnya.
Setelah menempuh perjalanan, kini Tiara telah sampai di kampusnya. Tiara langsung menuju ke tempat pelatihan pencak silat dan mengganti baju khusus latihan. Disana, sudah ada beberapa orang yang datang. Tiara pun meletakkan barang bawaan didalam lokernya, lalu ia ikut bergabung dengan temannya yang lain.
Banyak arahan dan ilmu yang disampaikan oleh pelatih utama, terutama arahan mengenai hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pertandingan pencak silat nanti.
Setengah jam kemudian, pelatih utama telah selesai menyampaikan arahannya. Dan kini adalah sesi pemanasan, sebelum latihan pencak silat. Semua calon peserta pertandingan pencak silat, disuruh oleh pelatih untuk mengelilingi lapangan selama lima putaran.
Putaran demi putaran telah dilalui. Lalu, para calon peserta pertandingan itu melanjutkan latihan pencak silat mereka. Kategori pertandingan pencak silat yang mereka ikuti berbeda-beda, karena ada batasan berat badan masing-masing.
Lama waktu pertandingan satu babak dalam pencak silat yaitu berdurasi dua menit, dengan jeda rehat antar babak selama satu menit. Wasit pertandingan bisa menghentikan pertandingan saat sedang berlangsung tanpa memotong waktu pertandingan tersebut.
Setelah satu jam, latihan untuk pertandingan pencak silat pun selesai. Semua orang beristirahat, dan meminum air mineral yang sudah disediakan disana. Setelah selesai istirahat, mereka pulang kerumah masing-masing.
Karena Tiara ada jadwal kuliah sore pada hari itu. Tiara pun tak pulang ke rumah. Kini, Tiara sedang berada di kantin kampus setelah mengganti pakaian latihannya dengan pakaian biasa.
Di kantin, Tiara sedang menikmati beberapa camilan yang ia beli. Lalu, ia mengeluarkan notebook nya untuk memperbarui karya fiksi online nya. Selama hampir satu jam ia menulis karya fiksi di notebook nya, setelah memperbarui karya fiksinya, ia beralih ke sosial medianya.
...***...
Satu bulan kemudian. Hari ini adalah hari dilaksanakannya pertandingan pencak silat. Tiara diantar oleh Mama Jihan dan Salsa, dan Chandra yang mengemudikan mobilnya. Sedangkan Papa David tidak bisa menemani karena ada rapat penting di kantornya. Tiara memikirkan langkah yang akan dia ambil, untuk memenangkan pertandingan pencak silatnya nanti.
"Sayang ... kamu kenapa?" tanya Mama Jihan kepada Tiara.
"Nggak apa-apa, Ma. Tiara cuma lagi mikir strategi buat menang," jawab Tiara.
"Menang atau kalah, kamu tetep hebat menurut Mama." Mama Jihan tersenyum dan memeluk Tiara yang duduk disampingnya.
"Makasih Ma." Tiara juga tersenyum kepada Mamanya.
"Iya Ra, kamu Adik Kakak yang hebat." ucap Chandra.
"Aku hebat juga enggak?" tanya Salsa dengan wajah cemberut.
"Iya dong, tentu saja. Adik-adik kakak yang paling hebat dan paling baik." Chandra mengacungkan ibu jarinya.
"Ahh ... terima kasih Kakak tampanku." Salsa memuji Chandra.
"Sama-sama, Adik," respon Chandra.
Obrolan demi obrolan terus berlangsung sepanjang perjalanan, sampai-sampai Mama Jihan dan kedua putrinya tidak menyadari jika telah sampai ditempat tujuan. Chandra pun mengatakan jika mereka telah sampai ditempat tujuan, sontak saja membuat Mama Jihan dan kedua putrinya sedikit terkejut.
Tiara, Mama Jihan, Salsa, dan Chandra pun turun dari mobil. Mereka berjalan bersama menuju ke gedung pertandingan. Mereka mengisi daftar hadir terlebih dahulu, sebelum masuk ke gedung pertandingan.
Sesampainya didalam gedung pertandingan, terlihat banyak peserta yang sedang bersiap dan terlihat juga para penonton yang duduk dikursi penonton. Tiara terlebih dahulu meminta do'a kepada Mama dan kedua saudaranya, agar dilancarkan selama proses pertandingan. Setelah itu, Mama Jihan, Salsa, dan Chandra mencari tempat duduk dikursi penonton.
Tiba-tiba terdengar sebuah bunyi, yang menandakan bahwa lima belas menit lagi akan dimulai pertandingan pencak silat itu. Semua peserta diam dengan pikiran mereka masing-masing. Sebagian dari mereka, memikirkan strategi untuk menjatuhkan lawan.
Lima belas menit kemudian, pertandingan pertama pun dimulai. Dan kebetulan, Tiara mendapat kesempatan pertama untuk bertanding. Lawan Tiara yang pertama adalah, seorang mahasiswi dari kampus A.
Babak pertama pun dimulai, Tiara melakukan serangan tapi lawannya dapat menghindarinya. Dan tepat satu detik, Tiara mendapat pukulan dibahunya. Namun Tiara dapat mengalahkan lawannya didetik selanjutnya.
Babak pertama selesai. Setelah satu menit istirahat, babak kedua dilanjutkan. Tiara mengalahkan lawannya dibabak kedua. Dan di babak ketiga, Tiara juga berhasil mengalahkan lawannya dengan berbagai gerakan.