TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Makan ice cream -



Daffi dan Mike berjalan masuk kedalam ruang kelas mereka. Dari kejauhan, tampak Alea yang heran melihat Daffi dan Mike yang masuk ke kelasnya. Kenapa mereka masuk ke kelasku? Apa mereka masih belum terima, karena aku tadi tidak sengaja menabrak salah satu dari mereka? batin Alea sedikit takut. Alea menutup wajahnya dengan sebuah buku.


"Hey, ngapain nutup muka pakai buku," ucap Mike lalu mengambil buku yang menutupi wajah Alea.


"He-he nggak ada apa-apa kok, kalian ngapain datang ke kelasku?" tanya Alea kepada Daffi dan Mike.


"Kita satu kelas denganmu," jawab Mike.


"What ?" ucap Alea terkejut.


"Kenapa? Ada yang salah? Keberatan?" selidik Mike.


"Nggak kok," respon Alea sambil tersenyum.


"Udah yuk, Mike, kita duduk." Daffi menarik lengan baju milik Mike.


Tempat duduk Alea berada didepan tempat duduk Daffi. Duh, kok bisa kebetulan gini sih satu kelas sama mereka?"batin Alea." Kalau mereka minta ganti rugi sama aku, gimana? Aku nggak bakal bisa bayar, mana bisnis papa ditipu orang lagi," batin Alea lagi sambil menepuk jidatnya.


Ngapain tuh bocah nepuk jidatnya sendiri? batin Daffi saat melihat Alea yang duduk didepannya. Haish, ngapain sih malah ngelihatin dia, batin Daffi lagi.


"Fi, nanti temenin gue yuk ke taman kota. Gue pengen beli ice cream disana," pinta Mike.


"Kenapa harus disana?" tanya Daffi.


"Rasanya tuh khas gitu, ada ciri khasnya," jawab Mike.


"Pagi." Tiba-tiba dosen yang mengajar kelas saat itu, masuk kedalam ruangan.


"Pagi, Pak," jawab semua mahasiswa dan mahasiswi, mereka semua langsung terdiam saat dosen itu masuk.


Dosen itu bernama pak Beni. Pak Beni sangat jarang menampakkan senyum diwajahnya, hal itu yang membuat para mahasiswa membicarakannya. Kelas pun dimulai, setelah pak Beni memperkenalkan dirinya kepada semua mahasiswa baru.


*


*


*


Pukul satu siang. Daffi telah selesai kuliah saat itu, ia menunggu Mike yang sedang berada di toilet. Setelah beberapa saat, Mike pun keluar dari toilet. "Yuk, berangkat," ajak Mike kepada Daffi.


"Oke," respon Daffi.


Daffi dan Mike berjalan menuju tempat parkir, mereka berjalan menuju tempat motor mereka diparkirkan. Sesampainya disamping motor, mereka langsung menaiki motor mereka masing-masing.


Daffi dan Mike melajukan motor sport mereka. Saat melewati gerbang, Mike melihat Alea dipinggir jalan, Mike pun menghentikan laju motornya. Daffi pun ikut menghentikan laju motornya. "Alea, ngapain kamu disini?" tanya Mike kepada Alea.


"Ini, lagi nunggu angkutan umum," jawab Alea.


"Sini, ikut aku. Aku traktir kamu ice cream, nanti aku anterin kamu pulang juga. Ayo, cepet naik ke motorku," ajak Mike kepada Alea.


"Oke." Tanpa pikir panjang, Alea langsung menyetujui ajakan dari Mike. Ia pun langsung naik ke motor milik Mike. Lumayan dapat ice cream gratis, dapat tumpangan pulang juga, hihihi irit fulus, batin Alea.


Sebenarnya Alea tak mau dibilang matre, tapi saat itu Alea memang harus menghemat uangnya. Uang yang ia bawa pun ia dapat dari hasil kerjanya menjadi guru private anak sekolah dasar. Orang tua Alea sebenarnya mempunyai bisnis yang lumayan hasilnya. Tapi satu tahun lalu, bisnis ayah Alea ditipu orang. Karena hal itu, bisnis ayah Alea pun bangkrut. Semua harta ayah Alea habis digunakan untuk diberikan kepada para karyawan ayahnya.


Beberapa saat kemudian. Motor Daffi dan Mike telah sampai di taman kota. Daffi, Mike, dan Alea langsung turun dari motor sport itu. Hmm, jadi mau beli ice cream disini, batin Alea sambil melihat keadaan sekeliling.


"Ayo, Alea, ikut aku!" Mike berjalan bersama Daffi, sementara Alea mengikuti dibelakang.


"Fi, lo sering main kesini nggak?" tanya Mike kepada Daffi.


"Berarti lo jodoh dong ketemu sama gue, gue bakal sering ajak lo keluar rumah biar tahu betapa indahnya dunia luar," ucap Mike sambil merentangkan kedua tangannya.


"Hmm, terserah lo deh," respon Daffi cuek.


Si Daffi ini kayak kanebo kering, batin Alea saat mendengar percakapan antara Daffi dan Mike dari belakang. "Masih lama kah tempatnya, Mike?" tanya Alea. Alea sudah tidak sabar untuk menikmati ice cream gratisnya.


"Enggak, itu didepan, yang stan-nya warna hijau," jawab Mike tanpa menoleh ke arah Alea.


"Hmmm, oke," respon Alea.


Beberapa menit kemudian. Daffi, Mike, dan Alea telah sampai di stan ice cream tersebut. "Kamu mau pilih yang mana, Lea?" tanya Mike.


"Aku mau semua rasa," jawab Alea sambil melihat beberapa rasa ice cream dalam wadah tertutup kaca transparan.


"Oke, kalau lo mau rasa apa, Fi?" tanya Mike kepada Daffi.


"Rasa cokelat mix durian," jawab Daffi.


"Oke, gue mau rasa pelangi!" Mike memilih beberapa rasa, beberapa rasa itu memiliki warna seperti warna pelangi.


Setelah memesan pesanan mereka, ketiga orang itu langsung duduk dikursi yang kosong, mereka menunggu pesanan mereka diantar. Alea melihat keadaan sekitar. Kedua cowok ini ngobrol tanpa mengajakku untuk ikut didalamnya, menyebalkan! batin Alea.


"Lea, rumah kamu dimana?" tanya Mike.


"Itu di gang kenanga, belakang masjid An-Nur," jawab Alea. Eh, alhamdulillah aku diajak bicara, batin Alea.


"Oh, oke, nanti aku akan antar kamu pulang," ucap Mike.


Mike kembali berbincang kepada Daffi. Huh, kukira bakal diajak ngobrol terus, ternyata hanya tanya alamat rumah doang, batin Alea sambil menghela napas.


"Pesanan datang." Tiba-tiba datang seorang karyawan di stan ice cream tersebut.


"Terima kasih," ucap Daffi, Mike, dan Alea bersamaan.


Daffi, Mike, dan Alea pun mulai menyantap ice cream pesanan mereka masing-masing. Hmm, nyummy, enak banget ice cream-nya. Kalau gini sih, aku mau deh nggak diajak ngobrol asal sering ditraktir, batin Alea sambil cekikikan.


"Eh, kenapa kamu, Lea? Kok cekikikan sendiri gitu?" tanya Mike heran.


"He-he, nggak kenapa-kenapa kok," jawab Alea malu karena ketahuan sedang cekikikan sendiri. Moga aja aku nggak dikira gila karena cekikikan sendiri, batin Alea penuh harap.


Satu jam kemudian. Motor Daffi dan motor Mike telah meninggalkan taman kota tersebut. Mike mengantarkan Alea ke rumahnya. Sementara Daffi, ia melajukan motor menuju rumahnya.


Beberapa saat kemudian, motor Daffi telah sampai di halaman rumah, ia memparkirkan motornya disana. Kemudian, ia langsung berjalan masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum." Daffi mengucapkan salam ketika masuk ke ruang tamu.


"Wa'alaikum salam," jawab Tiara. Tiara sedang merapikan beberapa tangkai bunga segar yang ia letakkan dimeja pada ruang tamu itu.


"Daffa belum pulang, Ma?" tanya Daffi mencari saudara kembarnya.


"Belum, tadi kirim pesan ke ponsel mama, katanya mau main dulu ke rumah temannya," jawab Tiara.


"Begitu, kalau gitu Daffi masuk ke kamar dulu ya, Ma. Daffi pengen mandi nih, badan sudah bau asem." Daffi mencium baju yang ia kenakan.


"Iya, ya sudah sana! Jangan bikin ruangan ini jadi bau," usir Tiara.


"Hmm, iya-iya." Daffi pun meninggalkan mamanya sendirian di ruang tamu.