TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Kisah Satria dan Tina



Tiara memikirkan apa yang diucapkan Satria, dia masih berpikir apakah benar yang dikatakan oleh Satria? Tiara melamun. Lamunannya terhenti, ketika Satria menepuk bahunya.


"Bunga ... kamu mikirin apa? Kok ngelamun gitu?" tanya Satria sambil menepuk bahu Tiara pelan, Satria penasaran dengan hal yang dipirkan Tiara.


"Ah, enggak kok nggak ada apa-apa," jawab Tiara.


"Yaudah, aku pergi cari ikan dulu ya." Satria berjalan menuju ke sungai, dia membawa tombaknya untuk mencari ikan.


"Iya, hati-hati," ucap Tiara sambil tersenyum.


Satria mulai fokus melihat keadaan sekitar sungai, tiba-tiba ia meluncurkan tombaknya. Kemudian, Satria menghampiri tombaknya dan mengangkatnya. Dipucuk tombak itu, terdapat sebuah ikan yang besar. Satria membawa tombaknya menuju ke arah Tiara.


"Gimana, besar nggak ikannya?" tanya Satria pada Tiara.


"Waaahh ... besar sekali! Kamu hebat banget, Bang!" ucap Tiara dengan kagum.


"Ah, biasa saja." Satria menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Yaudah yuk kita pulang, ikan ini cukup untuk makan kita sampai besok pagi," ajak Satria.


"Cukup ya? Yaudah, yuk pulang." Tiara berjalan bersama Satria.


"Bang, aku mau tanya. Kalian bagaimana bisa mendapatkan beras? Inikan ditengah hutan?" tanya Tiara penasaran.


"Aku cari ikan di sungai yang banyak, lalu aku jual di pasar. Dan uang hasil jual ikan, aku belikan buat penuhi kebutuhan pokok," jawab Satria.


"Emang nggak jauh, Bang? Jarak rumah ke pasar?" tanya Tiara lagi.


"Nggak jauh banget sih, paling butuh waktu satu jam kalau kita berjalan kaki," jawab Satria.


"Lah, itu mah lumayan jauh, Bang. Kalau aku mah bisa pegel kaki aku, jika harus sering jalan kaki menyusuri hutan." Tiara tak sanggup membayangkan jika dirinya yang berada diposisi Satria.


"Kenapa Abang nggak cari rumah di daerah pasar? Kan rame," usul Tiara pada Satria.


"Enggak, ditengah hutan lebih aman?" respon Satria.


"Aman? Emang Abang ada musuh ya, diluar sana?" tanya Tiara terkejut.


"Nanti aku ceritain ya, kalu udah sampai rumah," jawab Satria, ia mempercepat langkah kakinya.


Tiara sedikit tertinggal, karena langkah kaki Satria yang semakin cepat. Tiara pun berusaha mempercepat langkah kakinya juga. Tak berselang lama, Tiara sampai didepan rumah Satria. Tiara sudah tak kuat lagi, ia menjatuhkan tubuhnya diatas tanah dan tak sadarkan diri.


Bruukkk.


Suara jatuhnya tubuh Tiara, terdengar sampai kedalam rumah Satria. Satria dan Tina pun keluar untuk melihat asal suara itu. Mereka terkejut begitu melihat Tiara terbaring diatas tanah.


"Eh, itu kenapa Bunga?" tanya Tina.


"Bunga?"


Satria menepuk jidatnya, ia lupa jika telah meninggalkan Tiara sendiri pada jalan pulang tadi. Tadi, Satria teringat pada beberapa orang, yang menyebabkan Satria dan Tina harus tinggal ditengah hutan.


Satria langsung menggendong Tiara, dan meletakkannya di teras rumah panggungnya. Satria melihat wajah cantik Tiara, yang nampak pulas tak sadarkan diri.


"Bunga, kamu nggak apa-apa? Maaf ya, aku tadi ninggalin kamu?" ucap Satria, bersalah.


"Hah? Jadi, tadi Bunga jalan sendiri pulangnya? Kalau dia tersesat, gimana, Kak?" ucap Tina dengan panik.


"Maaf Tina, tadi Kakak emosi teringat orang-orang yang membunuh kedua orang tua kita. Jadi, Kakak mempercepat langkah kaki Kakak." Satria merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan, dengan meninggalkan Tiara sendiri.


"Memangnya, apa yang membuat Kakak tiba-tiba teringat mereka?" tanya Tina penasaran.


"Tadi, Bunga menanyakan apa alasan kita tinggal ditengah hutan," jawab Satria.


"Begitu ... yaudah Kak, sekarang aku minta tolong Kakak pindahin Bunga ke kamar aku ya," pinta Tina.


"Ya," respon Satria. Satria menggendong tubuh Tiara, membawanya ke kamar Tina.


Malam hari. Tiara telah sadar pada sore hari. Kini, Tiara sedang berada di ruang tengah bersama Satria dan Tina. Mereka sedang makan malam, Tiara sangat menikmati ikan hasil tangkapan Satria tadi siang.


"Makasih ya Bang, ini enak banget." Tiara terlihat lahap memakan nasi dan ikan dihadapannya.


"Iya, sama-sama. Tapi, kamu pelan-pelan ya makannya. Nggak ada yang mau ambil makanan kamu kok." Satria menggelengkan kepalanya melihat sikap Tiara.


"Iya Bang, maaf ya," Tiara tertunduk malu.


"Tina, kamu tambah dong, biar kenyang," Tiara menyodorkan beberapa ikan kepada Tina.


"Aku udah kenyang, Bunga," ucap Tina sambil tersenyum.


Setengah jam kemudian, tiga orang itu telah selesai makan malam. Kini, mereka berbincang-bincang mengenai kehidupan mereka.


"Bang ... aku boleh tanya lagi nggak? Kenapa kalian bisa tinggal ditengah hutan?" tanya Tiara sedikit ragu.


"Boleh," jawab Satria.


FLASHBACK ON


Satria mulai menceritakan kejadian dua tahun lalu, dimana kedua orang tua Satria dibunuh oleh beberapa orang. Beberapa saat sebelum kedatangan orang-orang itu, kedua orang tua Satria berpesan, agar Satria melindungi adiknya. Satria harus bersembunyi bersama sang adik. Satria pun bersembunyi, dan tak lama setelah itu, terdengar suara beberapa tembakan.


Satria dan Tina sangat terkejut mendengar beberapa suara tembakan itu, Satria memeluk adiknya. Satria mengisyaratkan kepada adiknya, untuk tetap diam tak bersuara.


Satria tentu saja takut, jika orang-orang itu akan menghampiri mereka, dan membunuh ia dan adiknya. Pada saat itu, Satria tak memiliki senjata untuk melawan mereka. Satria juga tidak bisa bela diri. Dan terlebih, kedua orang tuanya menyuruh Satria untuk bersembunyi bersama adiknya.


Tak selang berapa lama, keadaan sepi kembali. Sepertinya, orang-orang itu telah pergi. Namun, Satria menunggu satu jam kemudian untuk keluar. Satria takut, jika orang-orang itu masih berada di rumahnya.


Setelah satu jam. Satria dan adiknya keluar dari tempat persembunyian mereka. Mereka mencari keberadaan kedua orang tua mereka.


Betapa terkejutnya mereka, saat melihat kedua orang tua mereka tergeletak dilantai, dengan darah dimana-mana.


Satria dan Tina langsung menghampiri kedua orang tua mereka, mereka memeluk kedua orang tua mereka sambil menangis. Satria menggerang, dia menyalahkan dirinya sendiri karena tak dapat melindungi kedua orang tuanya.


Setelah setengah jam, Satria dan Tina mulai membersihkan darah pada badan orang tua mereka. Mereka memandikan jasad orang tua mereka, lalu menguburkannya disamping rumah.


Karena Satria khawatir, jika orang-orang itu akan datang kembali. Satria pergi dari rumahnya dan membawa barang-barang dirumah itu. Secara berangsur, Satria memindahkan barang-barang di rumahnya menuju ke tengah hutan. Satria selalu berhati-hati saat kembali ke rumahnya, dia takut jika ada yang memata-matainya.


Setelah itu, Satria berangsur mencari kayu didalam hutan, dan mulai membuat sebuah rumah panggung untuk ia dan adiknya tinggal.


FLASHBACK OFF


Tak terasa, Satria meneteskan air matanya diakhir ceritanya. Tina yang berada disamping kakaknya, langsung memeluknya. Tina juga menangis sesenggukan, mengingat bagaimana kedua orang tuanya meninggal.


"Maaf, Bang. Maaf Tina, aku nggak tahu, ternyata sebabnya sangat mengerikan." Tiara meminta maaf sambil menangis, ia merasa bersalah karena mengingatkan mereka pada kejadian kelam dimasa lalu.


"Nggak apa-apa kok, Bunga. Ini bukan salah kamu, bagaimana pun juga kejadian itu memang sudah terjadi." Satria mengusap air matanya.


"Bunga, kita tidur yuk, sudah malam," ajak Tina. Tiara hanya menganggukkan kepalanya.


Tina dan Tiara mencuci muka mereka terlebih dahulu disamping rumah, tentu saja Satria menemani mereka. Satria menunggu di teras rumah.


Setelah itu, Tiara dan Tina masuk lagi kedalam rumah. Mereka berjalan menuju kamar Tina. Sesampainya di kamar, Tiara kembali meminta maaf kepada Tina.


"Tina, sekali lagi aku minta maaf ya," ucap Tiara dengan lesu.


"Iya, Bunga. Nggak apa-apa," respon Tina sambil tersenyum.


"Kita tidur sekarang, yuk" ajak Tina.


"Baik, Tina," Tiara mengiyakan ajakan Tina.


Tiara tak dapat tidur, ia masih merasa bersalah. Ia melihat Tina yang sudah tertidur pulas. Selang beberapa jam, Tiara akhirnya terlelap dalam rasa bersalahnya.