TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Belajar mengendarai



Sore hari, Papa David mengunjungi rumah baru anak-anak panti. Papa David juga mengajak Mama Jihan kesana, tetapi Mama Jihan mengajak Papa David ke swalayan terlebih dahulu, untuk membeli kebutuhan pokok yang akan digunakan oleh anak-anak panti.


Setengah jam kemudian, Papa David dan Mama Jihan telah sampai didepan rumah anak-anak panti. Karena gerbang tidak ditutup, mobil Papa David langsung melaju menuju halaman rumah.


Papa David membantu Mama Jihan, membawa berbagai bahan pokok dan beberapa makanan yang tadi dibeli oleh Mama Jihan. Papa David dan Mama Jihan mengetuk pintu dan mengucap salam.


Karena tak ada jawaban, Papa David dan Mama Jihan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Tak terlihat seorangpun dilantai bawah. Akhirnya, Papa David dan Mama Jihan melangkahkan kaki mereka menuju lantai dua.


Papa David dan Mama Jihan, melihat semua orang berada diruang tanpa sekat dilantai dua itu. Mereka sedang bernyanyi bersama-sama, mereka menyanyikan sebuah lagu yang mengandung semangat.


Nyanyian mereka terhenti, ketika melihat Papa David dan Mama Jihan. Papa David dan Mama Jihan tersenyum, lalu menghampiri anak-anak panti.


"Papa ... Mama ... kalian sudah lama kah datangnya?" tanya Tiara.


"Belum terlalu lama sih, tapi tadi kami mengetuk pintu dan menunggu agak lama. Namun tak aja yang menjawab, karena pintu tidak dikunci, lalu kami masuk saja." Mama Jihan menceritakan kejadian di pintu masuk tadi.


"Begitu ... maaf ya Ma, Pa. Kami sedang bernyanyi disini, jadi kami tidak mendengar kalau ada yang datang." Tiara meminta maaf kepada Papa dan Mamanya.


Pandu yang mendengar percakapan antara Tiara dan kedua orang yang baru datang itu, yakin jika mereka adalah orang tua dari Tiara. Pandu pun beranjak dari duduknya, dan menghampiri Papa dan Mamanya Tiara.


"Assalamu'alaikum Pak ... Buk ..., saya Pandu." Pandu mencium punggung tangan Papa dan Mamanya Tiara.


"Wa'alaikum salam," jawab Papa David dan Mama Jihan bersamaan.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak dan Ibu, karena telah memberi sebuah hunian yang sangat baik untuk kami. Saya masih merasa, ini adalah sebuah mimpi." Pandu menundukkan kepalanya.


"Nak, mungkin ini memanglah rejeki kalian yang Allah titipkan kepada kami. Kami hanya perantara saja, kamu harus lebih semangat lagi dalam menjalani hidup ya!" kata Papa David. Papa David berusaha menyemangati Pandu.


"I-iya Pak, terima kasih ... terima kasih Pak." Pandu masih menundukkan kepalanya.


"Sudah-sudah, kepala kamu nanti pegal kalau terus menunduk. Yuk kita kesana, Tante Jihan tadi beli makanan, kita makan bersama," ucap Papa David.


"Baik, Pak." Pandu mengikuti langkah kaki Papa David.


Semua orang yang berada di ruangan itu makan bersama. Setelah itu, semua anak-anak panti memperkenalkan nama mereka satu-persatu. Mereka juga mengatakan ingin mewujudkan cita-cita mereka, kelak jika mereka sudah besar.


Tak terasa dua jam berlalu, dan lima belas menit lagi adalah waktu sholat maghrib. Papa David mengajak semua orang untuk sholat maghrib berjamaah di rumah itu.


Satu-persatu anak mengambil air wudhu, dan para orang dewasa mengambil wudhu setelahnya. Karena untuk sementara, tempat mengambil air wudhu belum cukup untuk dipakai puluhan orang secara bersamaan. Maka, mereka harus bergantian.


Setelah semua siap, Papa David mengamati barisan makmum sholatnya, apakah sudah rapat atau belum. Setelah itu, Papa David pun mulai membaca niat sholat maghrib dan membaca takbir.


Ibadah sholat maghrib berjalan dengan lancar, semoga orang khusyuk dengan sholatnya. Rakaat demi rakaat telah dilalui, dan pada akhirnya Papa David mengucapkan salam.


Setelah itu, mereka berdzikir. Lisan mereka tak berhenti mengucap asma Allah SWT, Dzat pencipta seluruh alam. Lalu, Papa David memimpin do'a dan yang lain mengamini.


Satu jam berlalu, Papa David, Mama Jihan, dan kedua anaknya pamit untuk pulang. Semua anak-anak menyalami mereka. Pandu dan Mutiara juga menyalami Papa David dan Mama Jihan.


"Sekali lagi, terima kasih Bapak ... Ibu, atas segalanya." Pandu mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Papa David dan Mama Jihan.


"Iya," jawab Papa David dan Mama Jihan bersamaan sambil tersenyum.


"Yasudah, kami pamit dulu. Wassalamu'alaikum," ucap Papa David.


"Kami juga pamit dulu ya, semua. Wassalamu'alaikum, " ucap Tiara sambil melambaikan tangannya.


"Wa'alaikum salam Kakak-kakak," jawab anak-anak dengan suara lantang.


Pandu dan Mutiara, mengantar kepulangan Papa David dan keluarganya sampai di depan gerbang rumah. Setelah mobil Chandra dan mobil Papa David sudah tak terlihat, Pandu dan Mutiara kembali masuk kedalam rumah.


" Kak, keluarga mereka baik sekali ya Kak," ucap Mutiara.


"Iya Ra, semoga mereka selalu dilapangkan rezekinya, dan dimudahkan dalam segala urusan mereka." Pandu mendo'akan Papa David sekeluarga.


"Aamiin." Mutiara mengaminkan do'a kakaknya.


...***...


Pukul setengah sembilan malam, di rumah Papa David. Tiara sedang berada di kamar bersama Salsa. Tiara menceritakan kepada Salsa mengenai kegiatannya siang tadi bersama anak-anak panti.


Salsa mendengarkan cerita Tiara dengan seksama, ada rasa menyesal karena dia tidak biaa ikut dengan kakaknya itu. Salsa senang bersama anak kecil, dan dia merasa melewatkan saat-saat lucu bersama mereka, karena tadi dia tidak ikut ke rumah anak-anak panti.


"Udah, besok kita bisa kesana kalau kamu pengen jumpa sama anak-anak." Tiara melihat ekspresi Salsa yang sedih.


"Iya Kak, boleh juga," respon Salsa.


"Tapi, besok aku pengen belajar mengendarai motor. Kamu bisa ajarin aku nggak?" tanya Tiara.


"Boleh, setelah pulang kuliah ya," jawab Salsa.


"Oke Sa, makasih ya." Tiara memeluk Salsa dengan erat.


"U-dah Kak. Aku kesusahan napas nih, Kakak erat banget peluknya." Salsa terengah-engah dengan napasnya.


"He-he, maaf Sa ... maaf." Tiara mengatupkan kedua tangan didepan dadanya. Salsa hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya.


...***...


Keesokan harinya, Tiara seperti biasa sudah berada di kampus untuk belajar. Ia sedikit tidak tenang dalam belajarnya kali ini. Ia memikirkan, proses saat ia belajar mengendarai sebuah motor nanti. Tangan kanannya reflek ia gerakkan, seperti sedang mengendarai sebuah sepeda motor.


Empat jam berlalu, Tiara kini sudah berada di depan gerbang rumahnya. Tiara berjalan masuk ke halaman rumah dengan langkah kaki yang cepat, diapun telah sampai di depan pintu utama rumah. Lalu dia mengetuk pintu utama rumah, dan masuk mencari keberadaan Salsa.


Tiara mendapati Salsa yang sedang duduk diatas sofa di ruang tamu. Tiara pun langsung menghampiri Salsa. Tiara mengajak Salsa untuk belajar mengendarai sepeda motor.


"Kakak mandi dulu gih! Biar seger, kalau seger belajar motornya nuga semangat. Lagi pula Kakak bau." Salsa menutup hidung dengan sebelah tangannya.


"Bau ya? Okelah aku mandi dulu." Tiara mencium bajunya, ia pun juga merasakan badannya yang asam. Tiara pun segera menuju ke kamarnya untuk mandi.


...***...


Kini, Tiara dan Salsa telah sampai di sebuah lapangan. Tiara akan belajar mengendarai disana. Salsa mengajarkan materi untuk Tiara, materi yang dia ajarkan tentu saja yang berhubungan dengan mengemudi sebuah sepeda motor.


Tiara mendengarkan arahan dari Salsa dengan seksama. Setengah jam kemudian, Tiara mencoba menaiki motor itu. Namun naas, Tiara melajukan motornya dengan kencang dan akhirnya terjerumus ke sebuah saluran irigasi. Tiara merasa hanya menarik kecil gasnya, tapi ternyata ia menarik gas terlalu besar.