
Semua orang berbincang-bincang di ruangan tersebut, sambil menikmati camilan yang dibawakan Tina. "Ngomong-ngomong, Papa kamu kemana, Lita?" tanya Daffa.
"Papa lagi di toko, katanya ada barang datang hari ini," jawab Lita.
"Begitu ... aku boleh nggak Ma, main ke toko paman Tian?" tanya Daffa kepada mamanya.
"Boleh, tapi kamu jangan mengganggu pamanmu bekerja, ya!" tegas Tiara.
"Baik, Ma. Ayo, Lita, kita naik motormu ya." Daffa menarik tangan Lita.
"Hey, aku ikut," teriak Daffi.
"Nggak usah! Lo bantu bibi cuci piring sana di dapur!" teriak Daffa.
Daffa menggandeng tangan Lita menuju ke garasi di samping rumah. "Mana kunci motornya?" tanya Daffa.
"Masih di kamar," jawab Lita santai.
"Lah, kok belum dibawa?" tanya Daffa.
"Lah gimana mau bawa, kamu aja langsung narik tangan aku kok, Kak," protes Lita.
"He-he, sorry. Ya sudah, ambil gih sekarang!" suruh Daffa.
"Haish, jadi bolak-balik 'kan?" ucap Lita kesal.
"Nggak apa-apa, itung-itung olahraga 'kan?" dalih Daffa sambil cekikikan.
Beberapa saat kemudian, Lita keluar lagi dengan membawa kunci ditangannya. "Sini kuncinya." Daffa mengambil kunci motor dari tangan Lita.
"Ayo, naik!" ajak Daffa.
"Oke." Lita pun naik kemotornya dan duduk dibelakang Daffa.
Daffa mulai melajukan motor yang ia naiki, Daffa menikmati suasana disekitar jalan yang ia lewati. Udara disini masih sejuk, nggak kayak di Jakarta, gersang, batin Daffa.
Saat Daffa melewati sebuah toko pakaian, ada seseorang yang terkejut melihat Daffa membawa seorang perempuan dibelakangnya. Seseorang itu adalah Vanessa.
Hah! Lagi-lagi dia boncengin perempuan dibelakangnya! Peluk-peluk gitu lagi! Daffa, lo bener-bener munafik! Diajak jabat tangan sama gue nggak mau, tapi mau dipeluk mesra sama perempuan yang lain! batin Vanessa geram.
Vanessa kebetulan sedang berkunjung ke rumah neneknya yang berada di Bogor. Dan saat itu, Vanessa sedang mengantar saudara sepupunya membeli baju di toko pakaian tersebut.
"Dasar, munafik!" gerutu Vanessa.
"Siapa Nes, yang munafik?" tanya Bunga, saudara sepupu Vanessa.
"Itu ... teman kuliahku," jawab Vanessa.
"Emang ada apa dengan teman kuliahmu itu?" tanya Bunga penasaran.
Vanessa pun menceritakan semuanya kepada Bunga. "Wkwkwk, kamu cemburu rupanya," ucap Bunga setelah mendengar cerita dari Vanessa.
"Aku cemburu? Mana ada." Vanessa berkilah, iya tak mengakui jika memang dirinya cemburu melihat Daffa bermesraan dengan perempuan lain.
Tapi kalau dipikir-pikir, aku ini siapanya Daffa? Kenapa aku uring-uringan gini? Lagian si Daffa kan belum tentu tahu kalau aku suka sama dia, batin Vanessa lesu.
"Hey, malah bengong! Sudah nggak usah dipikirin, mending kita shopping !" Bunga menarik tangan Vanessa, dan membawanya masuk kedalam toko pakaian tersebut.
Disisi lain, Daffa dan Lita telah sampai di halaman toko papanya Lita. Mereka berjalan masuk kedalam toko. "Assalamu'alaikum Paman," ucap Daffa.
"Daffa! Kapan sampai sini?" tanya Tian antusias.
"Beberapa menit yang lalu, Paman," jawab Daffa. Daffa mencium punggung tangan Tian.
"Bagaimana kabarmu sekeluarga? Sehat 'kan?" tanya Tian.
"Alhamdulillah, sehat Paman," jawab Daffa.
"Begitu, kalian duduk dulu ya. Paman mau mengurisi barang yang masuk dulu." Tian pergi meninggalkan Daffa dan putrinya.
"Baik, Paman," respon Daffa.
"Baik, Pa," respon Lita.
"Fa, kita ke belakang toko yuk!" ajak Lita.
"Ngapain?" tanya Daffa.
"Dibelakang toko ada buah Ceri, kita ambil yuk!" Lita menarik tangan Daffa.
Daffa pun mengikuti permintaan Lita. "Dimana pohonnya?" tanya Daffa.
"Itu tu disana," jawab Lita sambil menunjuk beberapa pohon ceri yang berada di atas lereng.
"Hah! Kok lokasinya serem gitu sih? Bentar, kita lihat dulu tinggi lereng berapa meter." Daffa mendekati pohon ceri dan melihat kedalaman lereng.
"Paling tiga meter ini tinggi lerengnya. Ya sudah, aku coba ambilkan ya buah ceri-nya," ucap Daffa.
Buah ceri yang berbuah, berada di ranting atas, Daffa agak kesulitan mengambilnya. Daffa pun berjinjit, tapi naas Daffa malah tergelincir ke lereng. Daffa tidak bisa menahan beban tubuhnya yang berjinjit di tepi lereng.
Aaaaahhhh!
Teriak Daffa, Lita pun panik saat melihat Daffa yang tergelincir ke bawah. Lita langsung memberitahu papanya, perihal Daffa yang tergelincir ke bawah. Papanya Lita pun langsung meminta beberapa karyawannya untuk membantu mengangkat Daffa.
Tak jauh dari lokasi jatuhnya Daffa, terdapat anak tangga. Daffa dievakuasi lewat anak tangga tersebut. Kening Daffa mengeluarkan darah, hal itu dikarenakan kepalanya terkena batu saat ia terjatuh.
Daffa langsung dilarikan ke klinik terdekat menggunakan mobil milik Tian. Lita ikut ke klinik menggunakan motornya. Kok bisa jadi gini sih? Kak Daffa, aku minta maaf, semua ini gara-gara aku, batin Lita sambil menangis.
Sesampainya di klinik, Daffa langsung ditangani. Kening Daffa mendapatkan beberapa lapis jatihan. Lita menunggu diluar ruangan, bersama papanya dan satu karyawan papanya.
"Papa ... semua ini gara-gara aku. Aku yang mengajak dia buat ambil buah ceri itu," ucap Lita sambil terisak.
"Kita do'akan yang terbaik untuk Daffa, kita do'akan dia supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan." Tian mengelus puncak kepala putrinya.
"Iya, Pa." Lita pun terus mendo'akan keselamatan Daffa didalam batinnya.
Satu jam kemudian. Seorang dokter dan seorang perawat keluar dari dalam ruangan tempat Daffa ditangani. Lita dan Tian langsung beranjak dari tempat duduk mereka.
"Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Lita.
"Untuk sekarang, sudah membaik. Pada awalnya kami kesusahan menjahit luka ya, hal itu dikarenakan darah yang terus keluar dari keningnya, tapi untunglah kejadian itu tidaklah lama," jelas dokter itu
"Apakah kami boleh melihat pasien, Dok?" tanya Lita penuh harap.
"Boleh, tapi mungkin setengah jam lagi. Dan nanti saat berada didalam, jangan bersuara ya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Dokter itu meninggalkan Lita dan Tian. Sedangkan dengan perawatnya, ia masuk kembali kedalam ruangan tempat Daffa dirawat.
Setengah jam kemudian. Kini, Lita dan Tian telah masuk ke ruangan tempat Daffa dirawat. Mereka melihat Daffa yang sudah sadar, Daffa sedang duduk bersandar diatas ranjang pasien.
"Kenapa menangis?" tanya Daffa saat melihat Lita yang sedang menangis tanpa suara.
Lita hanya menggelengkan kepalanya. "Kok nggak jawab?" tanya Daffa.
Tian mendekati Daffa, ia membisikkan kepada Daffa jika tidak boleh bersuara saat masuk ke ruangan. "Ha-ha-ha-ha Paman ini, mungkin tadi dokter mengatakan demikian jika aku belum sadarkan diri. Karena jika kalian bicara, maka akan mengganggu istirahat pasien. Tapi berhubung aku sudah sadar, ya bolehlah bicara." Daffa tersenyum kepada pamannya dan Lita.
"Maaf, gara-gara aku Kak Daffa jadi begini," ucap Lita pelan.
"Hey, sudahlah! Jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu! Aku yang kurang berhati-hati tadi," tegas Daffa.
"Maaf, Kak," ucap Lita sekali lagi. Ia kini berlari ke ranjang pasien dan duduk disamping Daffa, ia mencium tangan Daffa seperti orang yang sedang memohon ampun.
"Iya, sudah dimaafkan," ucap Daffa menenangkan Lita, sambil mengelus puncak kepala Lita.