
Tiara mulai membuka matanya, setelah satu jam tak sadarkan diri. Tiara melihat sekitar, dan melihat dirinya yang memakai baju rumah sakit.
"Aku dimana ya? perasaan, tadi aku di dalam bus mau pulang ke Magelang." Ucap Tiara dalam hati.
Reno melihat Tiara telah membuka matanya, dia bergegas bangkit dari tempat duduknya, disusul Chika dan Gladys. Reno, Chika, dan Gladys sangat khawatir dengan kondisi Tiara saat ini. Reno ingin menanyakan keadaan Tiara, tapi perkataan yang akan dia ucapkan terhenti karena Mama Jihan lebih dahulu menanyakannya. Reno tidak ingin memotong pembicaraan orang.
"Kamu sudah sadar, Nak?" tanya Mama Jihan.
Tiara belum menyadari, jika disebelahnya duduk seorang wanita paruh baya dan disebelahnya ada seorang laki-laki yang duduk di kursi roda.
"Maaf, ibu siapa ya?" tanya Tiara dengan heran.
" Nak, saya meminta maaf karena membuka liontin milikmu tanpa ijin darimu. Saya membuka liontin itu ketika kamu belum sadarkan diri tadi." Ucap Mama Jihan merasa bersalah.
"Saya merasa tidak asing dengan liontin kamu, liontin itu sama dengan yang saya pakaian pada anak perempuan saya yang dulu berumur tiga bulan ketika diculik oleh pembantu saya sendiri." Imbuh mama Jihan.
Mama Jihan menceritakan, jika pembantunya itu sakit hati oleh perkataan neneknya Chandra, sang nenek berhati kejam, bahkan pada keluarganya sendiri juga bersikap demikian.
Pembantu itu membawa putri kecil Mama Jihan yang masih berumur tiga bulan, dia membalas dendam dengan cara menculik cucu perempuannya. Pencarian terus dilakukan, tapi tidak membuahkan hasil. Sang nenek yang mendengar sang cucu diculik pun terkejut. Sakit jantungnya kambuh, sehingga berbulan-bulan berada di rumah sakit dan berakhir meninggal dunia.
Tiga hari setelah penculikan, terdengar kabar meninggalnya pembantu itu karena kecelakaan. Pihak keluarga, semakin sulit mencari informasi untuk menemukan keberadaan putri kecil mereka.
Karena peristiwa itu, Mama Jihan sering murung. Bahkan, Chandra juga tidak mendapatkan perhatian sang Mama. Padahal, waktu itu Chandra baru berusia dua tahun.
Papa David tak ingin istrinya sedih berlarut-larut. Papa David memilih untuk pindah ke Jakarta, meneruskan bisnis milik kakeknya Chandra. Rumah yang masih berada di Yogyakarta, di rawat oleh kakaknya Mama Jihan. Sedangkan bisnis keluarga yang berada di Yogyakarta telah dijual kepada orang lain.
Mama Jihan mengira jika putri kecilnya telah dibunuh oleh pembantu itu. Jadi, setelah tiga tahun peristiwa penculikan putrinya , Mama Jihan memutuskan untuk mengadopsi seorang anak perempuan yang seumuran dengan putri kandungnya. Hal ini dia lakukan agar bisa mengobati rasa rindu terhadap putri kandungnya.
Dan kedatangan mereka ke Yogyakarta kali ini, untuk menjenguk Kakaknya Mama Jihan yang sedang sakit. Tak di sangka, Chandra sang anak malah mengalami sebuah kecelakaan. Tapi di balik kecelakaan itu, Mama Jihan menemukan putri kecilnya.
Semua orang yang berada di ruangan itu mendengarkan dengan seksama penjelasan Mama Jihan. Tiara belum sepenuhnya menyimpulkan, maksud dari perkataan seorang wanita paruh baya di depannya, yang ia rasa tidak mengenalnya.
"Apakah Ibu merasa, bahwa saya adalah anak kandung Ibu?" tanya Tiara.
"Iya Nak, foto di dalam liontin kamu itu adalah foto saya dan suami saya dulu. Itu salah satu bukti bahwa kamu adalah anak Mama. Panggil Mama Jihan ya, Sayang." Ucap Mama Jihan lalu memeluk Tiara sambil menangis.
"Sayang, jika kamu masih ragu, nanti kita tes DNA ya." Ucap Mama Jihan. Tiara hanya menganggukkan kepalanya.
Reno, Gladys, dan Chika ikut bahagia karena Tiara telah menemukan orang tua kandungnya. Tapi, mereka juga bersedih atas kecelakaan yang menimpa Tiara.
"Ra, maaf ya. Seharusnya aku anterin kamu pulang ke Magelang." Ucap Chika dengan perasaan bersalah.
"Chik, kamu jangan bicara seperti itu. Ini semua takdir dari Allah." Ucap Tiara. Entah Tiara harus senang atau sedih atas kecelakaan yang menimpanya, karena dibalik kecelakaan itu, dia bisa bertemu dengan orang tua kandungnya. Gladys dan Chika memeluk Tiara bersamaan.
"Auuu, sakit." Ucap Tiara kesakitan. Gladys dan Chika lupa, jika terdapat banyak luka di tubuh Tiara, mereka segera melepaskan pelukan mereka.
"Maaf Ra." Ucap Gladys dan Chika bersamaan. Reno ingin memeluk Tiara juga, tapi Tiara pasti akan marah karena mereka bukan mahram.
"Chik, kenapa kedua kakiku seperti mati rasa?" Tiara merasa ada yang aneh dengan kedua kakinya.
"Sayang, kata dokter kaki kamu mengalami lumpuh sementara. Kamu harus menggunakan kursi roda Nak, tapi Mama dan Papa akan berusaha mencari pengobatan terbaik menyembuhkan kamu." Mama Jihan mengungkapkan hal ini, meskipun sebenarnya sulit melihat putrinya bersedih.
"Lumpuh sementara." Kata Tiara pelan dengan tatapan kosong.
"Nanti kuliah Tiara bagaimana Ma?" tanya Tiara kepada Mamanya.
"Jakarta tante? tante akan membawa Tiara ke Jakarta?" tanya Gladys.
"Iya, rumah kami sekarang berada di Jakarta. Nanti jika Tiara sudah sembuh, kami akan sesekali kesini untuk mengobati rasa rindu Tiara pada teman-temannya." Ucap Mama Jihan.
Reno, Gladys dan Chika sedih mendengar hal itu. Karena mereka tidak bisa bertemu dengan Tiara, mungkin dalam waktu yang lama. Tapi, mereka tidak boleh menampakkan kesedihan mereka. Mereka akan terus menyemangati Tiara, sampai dia sembuh, walaupun tidak bisa menyemangati secara langsung.
...***...
Tes DNA telah di lakukan.
Setelah menunggu lama, hasilnya pun keluar. Hasil tes DNA menyebutkan bahwa Tiara memiliki hubungan darah dengan Mama Jihan, semua orang yang berada di situ tersenyum gembira.
"Anak Mama akhirnya kembali." Ucap Mama Jihan sembari memeluk Tiara.
"Kakak boleh peluk kamu juga, Ra?" tanya Chandra. Tiara menganggukkan kepalanya, Tiara dan Chandra pun berpelukan.
"Tiara ... ini Papa kamu, Papa David. Papa boleh peluk Tiara juga kan?" Ucap Papanya Tiara.
"Iya Pa." Tiara tersenyum kepada Papanya.
"Maaf ya sayang, Papa tidak bisa menjaga kamu dengan baik." Ucap Papa David sambil mengusap kepala Tiara.
"Enggak Pa, ini semua sudah kehendak dari Allah. Jika tidak terjadi penculikan itu, aku juga tidak akan bertemu dengan Ibu dan Bapak, mereka sudah merawat Tiara seperti anak kandung mereka sendiri." Ucap Tiara sedih karena mengingat Ibu dan Bapaknya yang telah meninggal.
"Benarkah? Kalau begitu ajak Papa, Mama, dan juga Kakakmu untuk menemui mereka." Ucap Papa David. Papa David tidak mengetahui, jika Ibu dan Bapak yang merawat Tiara telah meninggal dunia.
"Ibu dan Bapak sudah meninggal, Pa. Mereka meninggal karena kecelakaan. " Ucap Tiara sendu. Mendengar hal itu, Papa David memeluk Tiara lagi.
"Maaf sayang, Papa tidak mengetahui itu, maaf karena telah membuat hidup kamu menjadi berat." Ucap Papa David merasa bersalah.
"Tidak Pa, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri Pa. " Jawab Tiara.
...***...
Reno,Gladys,dan Chika telah pamit meninggalkan rumah sakit. Sementara Mama dan Papanya Tiara sedang pulang ke rumah Kakaknya Mama Jihan.
Tiara masih harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari. Sementara Kakaknya sudah membaik, karena dia hanya mengalami luka ringan. Chandra mengenakan kursi roda karena Mama Jihan memaksanya, padahal Chandra bisa berjalan seperti biasa.
"Jadi Kakak di paksa sama Mama, untuk menggunakan kursi roda?" ucap Tiara sambil tertawa.
"Kamu kok ngetawain Kakak sih?" Chandra seketika cemberut.
"Jangan cemberut Kak, kan tandanya Mama itu khawatir sama Kakak." Tiara berusaha menenangkan Kakaknya.
"Kak. Kata Kakak kecelakaan itu melibatkan bus yang aku naiki, mobil Kakak, dan truk yang menabrak kita karena rem blong. Lalu, bagaimana keadaan sopir truk dan supir bus nya sekarang?" tanya Tiara.
"Supir bus dan supir truknya meninggal di tempat Ra." Jawab Chandra dengan ragu, Chandra takut jika Tiara akan trauma karena mengingat peristiwa itu.
"Innalillahiwainnalillahi raji'un, semoga mereka husnul khatimah. Alhamdulillah Allah masih memberi aku kesempatan untuk hidup." Tiara masih ingat waktu itu. Bus yang Tiara naiki sepi penumpang, dan supir bus itu pasti sedih karena tidak mendapatkan pemasukan.
"Aamiinn, semoga mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah." Ucap Chandra.
"Aamiinn ...." Ucap Tiara.