TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Pernikahan Dika dan Luna



Pagi hari pukul 06:00 WIB.


Semua orang di rumah Budhe Lisa sedang sibuk untuk persiapan acara hari ini.


Setelah semuanya siap,mereka menuju ke sebuah gedung yang digunakan untuk pelaksanaan pernikahan. Jarak rumah Budhe Lisa dengan gedung pernikahan tidak jauh, hanya sekitar lima menit jika menggunakan mobil.


Di dalam gedung pernikahan. Dika telah duduk di tempat yang sudah di sediakan untuk melakukan akad nikah, terlihat raut wajah Dika yang agak gugup.


"Sudah siap, Nak?" tanya Pak Penghulu kepada Dika.


Dika terdiam sejenak.


"Sebentar, Pak. Saya mau minum air putih dulu," ucap Dika agak gemetar.


"Baik, silahkan "ucap Pak Penghulu, Pak Penghulu sedikit tersenyum melihat kegugupan sang mempelai pria.


Setelah selesai minum, akad nikah pun dimulai. Beberapa menit kemudian, ijab qabul telah selesai dilaksanakan. Luna didampingi kedua orang tuanya disampingnya, berjalan menuju tempat duduk Dika. Dika dan Luna menandatangani berkas-berkas pernikahan mereka. Setelah itu, Dika dan Luna berphoto dengan keluarganya.


Sebelum naik ke Panggung Resepsi, Dika dan luna mengganti terlebih dahulu pakaian pengantin mereka. Pada saat akad, Dika dan Luna menggenakan pakaian pengantin berwarna putih. Sedangkan saat di atas panggung resepsi, menggunakan pakaian pengantin berwarna gold.


Dika dan Luna tampak canggung berada di atas panggung resepsi, walaupun sudah agak lama berkenalan, tetapi masih ada rasa canggung diantara keduanya. Tiara dan keluarganya berada dalam satu meja, mereka bahagia menyaksikan setiap proses pernikahan Dika dan Luna.


Proses pernikahan pun telah selesai, sekarang adalah sesi photo. Keluarga besar dari Dika dan Luna mengambil photo bersama. Saat sesi photo berlangsung, terdapat sebuah grup musik yang meramaikan acara Resepsi Pernikahan.


Satu jam berlalu, acara Resepsi Pernikahan sudah selesai dilaksanakan, semua orang yang berada didalam gedung pernikahan sudah mulai meninggalkan gedung. Mempelai wanita sudah diserahkan ke keluarga mempelai pria, keluarga mempelai wanita pun pergi meninggalkan gedung dan pulang menuju kediamannya. Luna pun mengikuti suaminya, pulang kerumahnya.


...***...


Di rumah Budhe Lisa.


"Luna, kamu ganti dulu baju pengantin kamu. Dika antarlah Luna ke kamarmu, Nak!" kata budhe Lisa kepada anaknya.


"Baik, Ma,"ucap Dika. Dika berjalan ke arah kamar nya diikuti Luna dibelakangnya.


"Na, ini kamar kita kamu masuk dulu ke dalam kamar, aku mau ambil minum dulu di dapur," ucap Dika lalu berlalu meninggalkan Luna.


Luna pun masuk ke kamar.


Luna melihat sekeliling kamar, dia meletakkan sebuah tas yang berisi pakaiannya.


Tok tok tok.


Pintu kamar berbunyi, ternyata Dika lah yang masuk ke kamar itu. Terlihat Luna yang sedang kesusahan membuka resleting bagian belakang baju pengantinnya.


"Biar aku bantu," ucap Dika. Dika mulai membuka resleting itu, seketika ia menelan salivanya ketika melihat punggung putih Luna. Dika langsung memalingkan wajahnya.


"Aku mandi dulu," ucap Dika yang berlalu menuju kamar mandi didalam kamarnya.


"Terima kasih," Luna merasa Dika bertingkah aneh.


***


Malam hari di ruang keluarga , pukul 20:00.


Semua orang yang berada di ruang keluarga sedang berbincang dan terkadang terdengar gelak tawa diantara mereka. Namun, gelak tawa itu terhenti karena kedatangan Dika dan Luna.


"Aroma pengantin baru memang semerbak," ucap Chandra.


"Makanya nikah kamu, Kak!" perintah Salsa, kepada Chandra.


"Kalau gitu cariin dong calonnya!" pinta Chandra.


"Oke-oke, besok aku cariin yang cakep," ucap Salsa.


"Nak, mama tidak akan memaksa kamu dan Luna untuk tinggal bersama mama di rumah ini. Kalian bisa tinggal di rumah yang sudah Papa wariskan kepadamu Dik," Budhe Lisa tersenyum kepada Dika dan Luna.


"Ma, aku belum berpikir tentang hal itu,"ucap Dika.


" Iya, kamu diskusikan dulu dengan Luna. Tapi kamu harus ingat! pintu rumah ini akan selalu terbuka untuk kalian, "imbuh Budhe Lisa.


Budhe Lisa menceritakan masa kecil Dika, semua orang yang berada di ruang keluarga itu pun antusias mendengarnya, tak terkecuali Luna. Mendengar banyak hal baik dalam diri suaminya membuat ia sangat bangga. Karena asyik dalam percakapan, mereka sampai tak menyadari jika kini telah pukul 22:00.


"Hah. Ini udah pukul 22:00, Kak Dika sama Kak Luna masuklah ke kamar, pengantin baru nggak boleh di sini lama-lama," ucap Chandra. Chandra menarik tangan Dika untuk berdiri.


"Kak, ajak Kak Luna masuk gih," ucap Chandra sambil mengedipkan matanya kepada Dika.


"Ah Mama juga ngantuk nih," Budhe Lisa berdiri, lalu melangkah menuju kamarnya.


Dika menggandeng tangan Luna menuju ke kamarnya. Seketika jantung Luna berdetak dengan kencang. Meskipun sudah agak lama mengenal Dika, tapi mereka belum pernah bersentuhan fisik sama sekali.


Setelah di dalam kamar.


"Kamu bisa tidur dulu kalau sudah mengantuk," perkataan Dika terhenti "aku ingin menggosok gigi dulu, kamu sudah?" tanya Dika kepada Luna.


"Sudah," Luna menganggukkan kepalanya. Sebelum keluar menuju ruang keluarga tadi ia telah menggosok giginya.


Cukup lama Dika berada di kamar mandi. Ketika Dika keluar, dia terkejut melihat Luna tidur dengan menggenakan baju tidur di atas lutut dengan rambut panjang yang terurai. Dika menutup wajahnya. Dika berjalan ke ranjang dan tidur membelakangi Luna. Merasa tak ada pergerakan, Luna pun mencari keberadaan suaminya. Luna sedikit kecewa atas sikap Dika.


"Apa kamu tak menginginkanku, Mas?" tanya Luna dengan gemetar. Mendengar perkataan Luna, Dika membalikkan tubuhnya.


"Aku tidak akan memaksa kamu jika kamu belum siap sepenuhnya, aku tidak ingin menyakiti kamu. Sudah malam kita tidur ya!"Dika memeluk tubuh Luna lalu memejamkan matanya.


Sebenarnya Luna memang masih takut, tapi dia tidak ingin mendapatkan dosa karena tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Luna pun tidur dalam pelukan hangat suaminya.


***


Esok hari.


Semua orang sedang sarapan bersama.


"Gimana Kak, tadi malam?" tanya Chandra kepada Dika dengan penasaran.


Uhhhhuukk.


Dika langsung tersedak mendengar pertanyaan Chandra di sela makannya.


"Kak Chandra, kamu ini jahat banget bikin kak Dika tersedak. Kalau Kakak penasaran sama yang namanya Malam Pertama Pengantin, buruan nikah jangan ganggu orang!" ucap Salsa sambil melotot ke arah Chandra.


"Udah-udah, kita lanjutkan sarapannya," Mama Jihan berusaha melerai keduanya anaknya.


Tiba-tiba handphone Tiara berbunyi.


"Ma, aku angkat telepon dulu ya. Nanti aku lanjutin makannya," ucap Tiara lalu mengangkat telepon di teras rumah.


Panggilan telepon itu berasal dari Chika. Chika ingin mengajak Tiara untuk bertemu, Chika mengatakan jika dia sangat rindu dengan Tiara.


Setelah selesai melakukan panggilan telepon, Tiara kembali ke meja makan dan menghabiskan makanannya.


"Ma, aku mau ketemu Chika di asrama kampus. Aku pamit dulu, Ma" Tiara mengecup punggung tangan Mamanya.


"Kak, aku boleh ikut nggak?" tanya Salsa dengan penuh harap.


"Iya boleh," jawab Tiara.


Tiara dan Salsa menuju ke asrama kampus, Mereka pergi mengendarai motor milik Dika.