
Setelah puas mengambil foto, Tiara dan keluarganya mampir ke sebuah warung yang letaknya tak jauh dari lokasi perkebunan teh. Mereka memesan teh asli dari pegunungan tersebut.
Mama Jihan melihat Chandra yang duduk sendirian disamping warung. Mama Jihan membawa secangkir teh panas, dan menghampiri Chandra.
"Ini untuk kamu." Mama Jihan menyodorkan secangkir teh pada Chandra.
"Kamu kenapa Ndra? Ceritalah sama Mama." Mama Jihan mengelus punggung Chandra.
"Aku-aku ... lagi patah hati, Ma." Chandra memeluk Mamanya.
"Patah hati? Dengan siapa?" tanya Mama Jihan terkejut.
" Dengan teman kerja, Ma. Kukira dia single, ternyata ...." Chandra tak melanjutkan perkataannya.
"Anak Mama, yang sabar ya. Mama do'akan semoga suatu saat nanti kamu akan berjodoh dengan gadis yang baik dan pastinya kamu mencintainya." Mama Jihan mengelus kepala Chandra.
"Aamiin ... makasih ya do'anya, Ma." Chandra merasa sedikit lega karena telah mencurahkan isi hatinya.
"Yaudah, sekarang diminum dulu ya tehnya, nanti keburu dingin lho," suruh Mama Jihan.
"Iya, Ma." Chandra mulai meminum tehnya.
Setelah itu, Chandra ikut bergabung dengan keluarganya. Mereka menikmati teh bersama dengan beberapa camilan yang mereka beli. Setengah jam kemudian, mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan.
...***...
Sore hari. Tiara dan keluarganya sedang berkumpul di sebuah taman disamping kanan penginapan. Mereka sedang melihat banyak foto, foto yang sudah mereka ambil pada saat berada di perkebunan teh.
"Bagus ya gambarnya," ucap Tiara.
"Iya, jadi nggak pengen pulang dari sini," respon Salsa.
"Besok kita kemana lagi ya? Kita kan cuma tiga hari disini, jadi kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya!" ucap Mama Jihan tampak bersemangat.
"Gimana kalau kita naik arum jeram?" usul Chandra.
"Arum jeram? Mama belum pernah sih, serem nggak sih? Mama takut jatuh." Mama Jihan membayangkan jika dia terjatuh dari perahu dan tubuhnya menghantam batu.
"Tenang Ma, Papa bakal selalu jagain Mama." Papa David memeluk Mama Jihan.
"Ehm, tolong jaga perasaan jomblo disini," ucap Chandra dengan sinis.
"He-he maaf ya, Ndra," ucap Papa David. Chandra tak merespon perkataan Papa David.
Setengah jam kemudian, adzan maghrib berkumandang. Tiara dan keluarganya pergi ke sebuah mushola di samping kiri penginapan. Mereka melaksanakan ibadah sholat maghrib.
Setelah itu, Tiara dan keluarganya pergi ke rumah makan yang berada di penginapan itu. Mereka makan malam dengan lahap, mereka merasa sangat lapar.
Setelah makan, Tiara dan keluarganya menunggu waktu sholat isyak. Dan setelah adzan isyak berkumandang, Tiara dan keluarganya menunaikan ibadah sholat isyak.
Lalu, setelah itu Tiara dan keluarganya kembali ke kamar masing-masing, membersihkan diri dan beristirahat. Mereka merasa lelah karena tadi siang berkeliling perkebunan teh.
...***...
Sekitar sepuluh menit Tiara dan keluarganya menempuh perjalanan, mereka segera turun dari mobil setelah sampai lokasi. Tampak Tiara merenggangkan otot tubuhnya setelah keluar dari mobil, ia merasa sedikit takut memikirkan saat ia naik arum jeram. Bagaimanapun, ini adalah pertama kalinya bagi Tiara.
Setelah mendaftar, Tiara dan keluarganya memakai semua benda untuk keamanan saat naik arum jeram. Setelah itu, pemandu arum jeram memimpin jalan menuju sungai. Jarak post dengan sungai tidaklah jauh, hanya memerlukan waktu lima menit jika berjalan kaki.
Lima menit berlalu, Tiara, keluarganya, dan juga dua pemandu telah sampai dipinggir sungai. Mereka menggunakan dua perahu. Perahu ke satu akan di naiki oleh Papa David dan Mama Jihan beserta satu pemandu.
Perahu kedua akan dinaiki oleh Tiara, Salsa, Chandra, dan satu orang pemandu. Setelah semua siap, dua perahu itu mulai meluncur diatas permukaan air sungai.
Terdengar suara jeritan dari Tiara, Salsa, dan Mama Jihan. Sementara Papa David dan Chandra, mereka tampak menikmati permainan arum jeram itu.
Lima belas menit berlalu, tiba-tiba perahu yang dinaiki Tiara menabrak sebuah batu besar. Perahu itu terbalik, dan semua orang yang berada di perahu itu terjatuh. Tentu saja hal itu membuat semua orang panik.
Pemandu yang terjatuh itu berusaha menyelamatkan Salsa ke tepi sungai, lalu ia mencari korban lain. Pemandu itu menemukan Chandra dan membawanya ke tepi sungai.
Pemandu yang membawa perahu milik Papa David dan Mama Jihan juga menepikan perahunya. Pemandu itu juga ikut serta membantu mencari para korban.
Semua orang mulai panik! Mereka panik karena tidak melihat keberadaan Tiara. Papa David yang tidak melihat Tiara pun ikut mencari keberadaan Tiara.
Setelah mencari lama, mereka tak menemukan keberadaan Tiara. Papa David tak putus asa mencari Tiara menyusuri tepi sungai, ia berharap dapat menemukan Tiara disana.
Sementara Chandra, hanya bisa menemani Mamanya dan Salsa yang sedang menangis. Sebenarnya Chandra ingin ikut mencari, tapi Papa David melarangnya. Papa David meminta Chandra untuk menjaga Mama dan adiknya.
Chandra, Mama Jihan, dan juga Salsa hanya bisa berdo'a akan keselamatan Tiara. Setengah jam kemudian, tiba-tiba turun hujan. Semua orang terpaksa harus kembali ke post, pemandu tidak ingin jika korban bertambah lebih banyak lagi.
Dua puluh menit kemudian, hujan telah berhenti. Semua orang yang akan membantu proses pencarian Tiara, sedang mempersiapkan alat-alat yang mungkin dibutuhkan dalam proses pencarian.
Orang-orang yang akan turun ke sungai adalah para pemandu arum jeram, Papa David, dan juga tim sar. Mereka siap untuk turun lagi ke sungai mencari keberadaan Tiara.
Setelah sampai ditepi sungai, mereka berpencar mencari Tiara. Mereka menggunakan handy talky agar memudahkan mereka bertukar informasi.
Pencarian dilakukan sampai sore hari, karena hari semakin petang, mereka memutuskan untuk naik lagi ke post. Papa David sudah lemas, pikirannya sudah tak karuan dengan keadaan saat itu.
Papa David berjalan lambat dengan tatapan kosong. Sesampainya di depan post, Papa David jatuh tak sadarkan diri. Hal itu tentu saja mengejutkan semua orang. Papa David dibawa ke ruang istirahat.
Seorang pemandu menghampiri Mama Jihan, dan menceritakan keadaan Papa David. Mama Jihan yang sedang membawa sebuah gelas ditangannya pun, tak sengaja menjatuhkannya. Gelas itu hancur seketika.
Mama Jihan berlari menuju ke tempat Papa David, diikuti Salsa dan Chandra dibelakangnya. Mereka sangat terkejut, mereka takut hal buruk terjadi kepada Papa David.
Mama Jihan, Salsa, dan Chandra telah sampai di depan ruangan tempat Papa David berada. Mereka masuk, dan melihat Papa David yang sedang tak sadarkan diri.
Mama Jihan sontak langsung menangis, dia takut jika hal buruk menimpa suaminya. Mama Jihan memeluk suaminya, diikuti Salsa. Sementara Chandra sedang menanyakan sebab ayahnya bisa pingsan.
"Kenapa Papa saya bisa pingsan ya? Apakah terjadi hal buruk pada Papa saya?" tanya Chandra dengan lemas pada seorang pemandu arum jeram.
"Papa anda kelelahan karena mencari saudari anda," jawab pemandu itu.
"Begitu. Hmm, apakah pihak arum jeram menjual baju ganti? Saya mau membeli satu untuk Papa saya," tanya Chandra.
"Ada, mari saya antar ke tempat itu," jawab pemandu itu.
Chandra membeli satu set baju untuk Papa David. Mama Jihan membersihkan badan Papa David dan mengganti bajunya. Setelah itu, Mama Jihan tertidur disamping Papa David.