TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Kehilangan lagi -



Pagi hari, Tiara dan keluarganya melajukan mobil mereka ke arah makam Jihan. Sesampainya disana, Davin memimpin pembacaan tahlil dan do'anya. David pun ikut ke makam istrinya, kondisi David semakin memburuk dengan berat badan yang turun lagi.


Setelah selesai membaca tahlil, yassin, dan mendo'akan Jihan, mereka menaburkan bunga segar diatas makam Jihan. "Mama, kota kesini lagi, kita akan selalu mendo'akan mama," gumam Tiara.


"Ayo kita pulang, Sayang," ajak Satria.


"Iya, Mas." Tiara beranjak dan menggenggam tangan suaminya. Tiara menoleh ke arah papanya yang dipapah oleh Chandra dan Davin disisi kanan dan kirinya.


Mereka semua langsung masuk ke arah mobil, mereka melajukan mobil ke rumah David. Sesampainya disana, David langsung dibawa kedalam kamarnya. Kali ini, Salsa yang ingin menemani papanya itu.


Tiara dan saudaranya yang lain, duduk menunggu didepan lagi untuk menemani para pelayat. Pelayat masih terus berdatangan, mereka menanyakan keberadaan David yang tak terlihat duduk didepan. Anak-anak David pun mengatakan jika kondisi David sedang tidak sehat.


...~~~...


Satu minggu kemudian, David kini sedang duduk dikursi roda, ia sedang berjemur dipagi hati ditemani Tiara. "Badan terasa enak ya Pa, saat berjemur dibawah sinar matahari pagi," ucap Tiara yang berjongkok disamping kanan David.


"Iya," jawab David lemas.


"Papa, berjemurnya sambil sarapan ya." Salsa datang dengan membawa semangkuk kecil bubur.


David menganggukkan kepalanya pelan, ia mulai membuka mulutnya saat Salsa akan menyuapinya. "Alhamdulillah, Papa makannya banyak pagi ini, badan Papa pasti tambah kuat, tambah sehat," ucap Salsa.


David hanya diam, ia tak merespon perkataan Salsa. "Kak, boleh tidak aku bawa Papa keliling komplek sini? Papa mungkin bosen didalam rumah terus," tanya Salsa kepada Tiara.


"Boleh, tapi Kakak ikut juga ya," jawab Tiara.


"Iya, Kak," ucap Salsa.


Salsa pun mendorong kursi roda David, disepanjang jalan Tiara dan Salsa mengajak David berbincang, tapi David hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah beberapa saat, Tiara dan Salsa memutuskan untuk kembali ke rumah. Di pertengahan jalan, ada seseorang yang menjual terang bulan keliling. Tiara dan Salsa teringat masa kecil mereka, mereka dulu sering mengantri untuk bisa membeli terang bulan.


"Kak, aku mau beli terang bulan," ucap Salsa.


"Aku juga ah," ucap Tiara.


Tiara dan Salsa memesan beberapa terang bulan depan berbagai rasa. Karena terang bulan, Salsa melupakan papanya. Ia lupa tidak mengunci roda pada kursi roda itu, alhasil kursi roda David berjalan sendiri. Posisi jalan saat itu kebetulan agak miring.


"Papa, Papa mana Sa?" tanya Tiara panik.


"Papa?" Salsa juga ikut panik.


Kemudian Tiara melihat kursi roda milik papanya berjalan sendiri, ia pun berlari dengan sekuat tenaga menyelamatkan papanya. Karena kecepatan Tiara dalam berlari, kursi roda papanya berhasil ia gapai.


"Huh ... huh ... huh ... Papa, kami minta maaf, kami tidak menjaga papa dengan baik," ucap Tiara terengah-engah.


"Tidak apa, Papa malah senang karena bisa bernostalgia, papa dulu naik sepeda yang terbuat dari kayu. Sepeda itu tidak ada remnya, kita pakai sandal yang dipakai dikaki untuk remnya," ujar David sambil tersenyum.


"Sepertinya seru ya Pa," ucap Tiara.


"Iya, seru sekali. Walaupun hanya mainan sederhana, tapi Papa sangat bahagia." respon David.


"Papa, maaf Pa, aku tidak menjaga papa dengan baik," ucap Salsa yang baru tiba.


"Ya sudah, kita balik ya Pa. Tiara dan Salsa membeli terang bulan dengan berbagai rasa, Papa mau?" tanya Tiara.


"Papa mau, tapi nanti makannya di rumah ya," jawab David.


"Baik, Pa, ayo kita pulang." Kini, Tiara lah yang mendorong kursi roda papanya.


Beberapa saat kemudian, David dan kedua anaknya sudah sampai di halaman rumah. "Kita makan di teras saja Pa," saran Salsa.


"Boleh, mana terang bulannya? Papa mau milih yang rasa coklat," ucap David.


"Boleh, ini Pa." Salsa menyerahkan terang bulan rasa coklat kepada papanya.


*


*


*


Siang hari, Salsa sedang bersama dengan papanya di ruang tamu. Salsa sedang menyuapi papanya makan siang. "Pa, Salsa ambil air putih dulu ya di dapur." Salsa berjalan meninggalkan papanya sendirian.


Saat Salsa kembali ke ruang tamu, Salsa terkejut melihat papanya sudah tergeletak diatas lantai. "Papa." Salsa menjatuhkan segelas air yang ia bawa, beruntung gelas itu terbuat dari melamin, jadi tidak akan ada pecahan gelas yang membahayakan.


Salsa mengangkat kepala dan badan David ke pangkuannya, Salsa berusaha membangunkan David, tapi usahanya gagal. "Kak Tiara," teriak Salsa.


Tiara yang mendengar teriakan Salsa pun langsung berlari ke sumber suara, Tiara pun kini telah sampai di ruang tamu. "Ada apa, Sha? Kenapa Papa tidur di lantai seperti ini?" tanya Tiara.


"Tadi Papa duduk dikursi, lalu aku ke dapur sebentar untuk mengambil segelas air putih. Dan saat aku kembali, Papa sudah tergeletak diatas lantai," jawab Salsa.


Setelah mendengar penuturan Salsa, Tiara langsung mengecek nadi papanya, ia juga mengecek pernapasan papanya lewat hidungnya. "Innalillahiwainnalillahi raji'un," ucap Tiara bergetar.


"Kakak kenapa mengucap itu? Papa kan masih hidup," protes Salsa.


"Cara Papa pergi sama seperti mama, mereka tidak ingin kita melihat saat-saat terakhir mereka," ucap Tiara sambil menitihkan air matanya.


Tiara langsung membungkuk memeluk erat papanya, Tiara merasakan lagi kehilangan orang tua. Tiara sangat sedih karena semua orangtuanya telah pergi meninggalkannya. Tapi, ia juga bersyukur karena sekarang ia tidak akan sendirian setelah ditinggal orang tuanya. Dia memiliki kakak dan adik, juga keluarga kecilnya.


Tiara dan Salsa sama-sama memeluk David, tiba-tiba Davin dan Chandra telah berdiri didepan pintu. Mereka baru saja pulang dari rumah mereka, mereka langsung menghampiri Tiara dan Salsa.


"Tiara ... Salsa ... Kenapa kalian? Kenapa Papa malah ditidurkan dilantai? Kasihan Papa, papa pasti kedinginan," ucap Davin.


"Kak, Papa sudah meninggal," ucap Tiara sambil terisak.


"Apa?" ucap Davin dan Chandra terkejut. Mereka langsung duduk disamping papanya.


Davin dan Chandra mengecek nadi dan pernapasan papa mereka, mereka menjadi lemas karena yang dikatakan Tiara adalah benar. Davin dan Chandra langsung memeluk papa mereka, mereka tidak mampu menahan air mata yang keluar dari kedua mata mereka.


"Papa, kenapa papa juga meninggalkan kami, apa papa sudah rindu dengan mama?" ucap Davin lirih.


Setelah beberapa saat, anak-anak David mengurus pemandian terakhir untuknya. Mereka mengurus segala keperluan untuk pemakaman papa mereka. Kini, jenazah David sedang disholatkan. Di rumah David, sudah ada banyak orang yang datang untuk mengantar David ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Setelah selesai disholatkan, jenazah dimasukkan kedalam keranda. Kemudian, keranda itu dimasukkan kedalam mobil ambulan yang akan membawa jenazah ke tempat pemakaman umum. Makam David akan berada disebelah makam istrinya, Jihan.