TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Sembuh



Esok hari pukul 07:00


Handphone Tiara berbunyi, terdapat nomor baru yang meneleponnya,dan ternyata nomor itu adalah nomor baru Reno.


Reno :"Assalamu'alaikum Ra, ini aku Reno"


Tiara :"Wa'alaikum salam, ini nomor baru kak Reno ya? maaf ya kak waktu itu aku nggak pamit sama kak Reno, waktunya sudah mepet, karena papa ada urusan penting dikantornya"


Reno :"Nggak papa Ra, yang penting kamu sampai dijakarta dengan selamat, itu udah bikin aku tenang"


Tiara :"Iya kak, terima kasih ya kak atas kebaikan kakak kepadaku selama ini"


Reno :"Apaan sih kamu Ra, kita kan sudah seperti keluarga, pokoknya sekarang kamu jangan sedih lagi ya, kamu sekarang punya keluarga juga disitu yang bakal mendukung kamu, bapak ibu kamu pasti bahagia melihat kamu bahagia "


Tiara :"Iya kak alhamdulillah, keluarga Tiara disini baik banget"


Reno :"Alhamdulillah, Denger kamu bahagia aku udah bahagia Ra, eh udah dulu ya, aku di suruh mamaku nganterin belanja, Wassalamu'alaikum"


Tiara :"Iya kak, wa'alaikum salam"


Panggilan telepon berakhir.


*


*


*


Setelah selesai berbicara dengan Reno di telepon, Tiara dibantu Salsa menuju ke ruang keluarga, disana ada mamanya yang sedang menonton siaran televisi.


"Ra,kita kedokter ya sekarang, kita konsultasi kesehatan kamu" ucap mama Jihan.


"Baik ma" jawab Tiara.


Mama Jihan bersama Tiara dan Salsa pergi ke rumah sakit.


Setelah tiba di rumah sakit, mama Jihan dan kedua putrinya masuk ke ruangan dokter yang akan menangani Tiara.Dokter pun langsung memeriksa keadaan kaki Tiara.


Dokter mengatakan jika kaki Tiara dapat sembuh dengan menjalani terapi, dan terapinya membutuhkan waktu dua tahun.


Tiara hanya terdiam mendengar perkataan dokter,mama Jihan dan Salsa memegang tangan Tiara berusaha menguatkan.


Setelah selesai, Tiara pun mulai melakukan terapi pertama nya.


Kegiatan Tiara setiap hari hampir sama, setiap hari selama satu jam melakukan terapi di rumah sakit.


Awal-awal melakukan terapi, Tiara sangat bersemangat, namun setelah satu tahun ia menjalani terapi, semangatnya mulai memudar. Tiara sudah pasrah dengan keadaannya, dia akan ikhlas jika selama hidupnya berada di kursi roda.


Kedua orang tua Tiara dan saudara Tiara, sangat sedih melihat keadaan Tiara yang sekarang, Tiara yang sekarang lebih murung.


Meskipun mulut Tiara berkata ikhlas, tapi tidak dengan sikapnya, sikapnya yang murung menandakan jika dia sedang kecewa dengan keadaannya.


"Sayang, kamu jangan seperti ini, kami semua sangat khawatir nak" ucap mama Jihan.


Tiara tak menjawab apapun.


Tiara menjalankan kursi rodanya ke kamarnya, kursi roda Tiara yang sekarang sangat memudahkan Tiara untuk kemana saja, dia tidak perlu di dorong oleh orang lain lagi, dia hanya perlu memencet beberapa tombol di kursi roda itu.


Setelah sampai di kamarnya, Tiara mengunci pintunya, sudah dua minggu Tiara memilih tidur sendiri, dan tidak bersama Salsa lagi.


Walaupun tidur sendiri, tapi Tiara tetap membutuhkan bantuan untuk mandi, Tiara pun meminta bantuan kepada pembantu dirumahnya. Tiara tidak mau dibantu Salsa dan mama Jihan lagi, Tiara takut akan membuat mereka semakin sedih dengan keadaannya.


*


*


*


Tiara mengingat beberapa minggu ini, telah bersikap kurang baik dan menyebabkan keluarganya khawatir.


"Mama, papa, kak Chandra, Salsa, aku minta maaf, aku telah membuat kalian khawatir, ya Allah hamba mohon ampun atas sikap hamba yang menyalahkan takdir" Tiara bermonolog sambil menangis di kamarnya.


Tiara perlahan memindahkan tubuhnya ke atas ranjangnya, Tiara pun tertidur karena kelelahan menangis.


Ketika sedang tidur, Tiara bermimpi bertemu bapak dan ibunya yang telah meninggal.


Bapak dan ibu Tiara memeluk Tiara bersamaan.


Bapak dan ibu Tiara menyemangati Tiara untuk tetap semangat dalam menjalani hidup, Tiara harus kuat menjalani ujian hidupnya.Tiara harus yakin bahwa dia dapat mewujudkan mimpi-mimpinya.


*****


Sore hari


Diruang keluarga,Tiara dan kedua orang tuanya sedang duduk bersama.


"Ma,pa,besok pagi Tiara terapi lagi ya, Tiara pengen sembuh" ucap Tiara.


Ucapan itu membuat mama dan papanya terkejut, sekaligus senang karena Tiara bersemangat lagi untuk sembuh.


Tiara tersenyum senang, memiliki mama seperti mama Jihan.


"Kamu yang semangat ya sayang, kamu pasti bisa sembuh" mama Jihan menyemangati putrinya.


"Iya ma" jawab Tiara.


"Salsa kemana ma?" tanya Tiara.


"Tadi dia pamit keluar untuk membeli makanan" jawab mama Jihan.


Tak lama, Salsa pun pulang.


"Assalamu'alaikum, Salsa bawa banyak makanan nih, siapa yang mau?" ucap Salsa dengan keras.


"Wa'alaikum salam" jawab Tiara, mama, dan papa bersamaan.


"Sini Sa, papa mau" ucap sang papa.


Chandra yang berada di kamarnya pun, sampai mendengar suara Salsa.


Chandra segera keluar dari kamarnya.


"Aku Sa, aku Sa" ucap Chandra dari lantai atas.


Chandra segera menuruni anak tangga.


Salsa segera mengeluarkan isi dua kantong plastik berukuran besar.


"Waaah Sa, banyak banget kamu jajannya" ucap mama Jihan.


"Kan buat orang banyak ma, kalau nggak banyak belinya, nanti pada nggak kebagian"ucap Salsa sambil memilih makanan mana yang akan dia makan.


" Bener kamu Sa, emang pinter adik kaka yang satu ini kalau soal makanan "ucap Chandra lalu kembali memakan makanannya.


" Aku pengen ini ya Sa"Tiara mengambil sepotong martabak manis.


"Lo, kok cuma satu potong? Ambil aja satu kotak, ini ada dua kotak kak" Salsa menyodorkan satu kotak berisi martabak manis.


"Aduh, nanti aku jadi gemuk kalau makan satu kotak, nanti kalah cantik sama kamu Sa" Tiara mengembalikan satu kotak martabak manis itu ke meja.


"Eh mana ada, kak Tiara paling cantik tiada duanya" ucap Salsa dengan yakin.


"Bisa aja kamu Sa, kamu juga adik kakak yang paling cantik sedunia" ucap Tiara.


"Itu pasti kakak" jawab Salsa membanggakan diri sendiri.


Tiara dan keluarganya menikmati makanan yang di bawa Salsa, dan sesekali terjadi keributan karena Chandra yang menjaili Salsa.


********


Keesokan harinya


Mama Jihan telah selesai melakukan persiapan untuk terapi Tiara di rumah sakit, kali ini Salsa tidak ikut, karena dia harus masuk kuliah.


Beberapa menit kemudian, mama Jihan dan Tiara telah sampai di rumah sakit.


"Tiara sayang, kamu harus semangat ya, kamu pasti bisa sayang" mama Jihan menyemangati Tiara.


"Iya ma, terima kasih ma karena mama selalu nyemangatin Tiara, maaf karena pernah pasrah dengan keadaan ini" ucap Tiara sedih.


"Mama ini kan mama kamu, jadi harus nyemangatin kamu Ra, udah yuk jangan sedih lagi ya" ucap mama Jihan.


Mama Jihan dan Tiara masuk ke ruang terapi, disana sudah ada dokter yang menunggu kedatangan mama Jihan dan Tiara. Mama Jihan telah menelepon sang dokter sebelum berangkat ke rumah sakit, mama Jihan memberitahukan jika Tiara ingin melakukan terapi kembali.


Dokter mulai memeriksa kondisi kaki Tiara, setelah itu terapi pun dimulai.


Setiap hari Tiara dengan semangat melakukan terapi,walaupun jatuh bangun, tetapi dia tetap semangat, dia selalu teringat pesan bapak dan ibunya didalam mimpi.


Satu tahun berlalu


Hari ini Tiara sudah bisa berjalan walaupun pelan,tetapi dia sangat bersyukur. Tiara tetap melanjutkan terapinya dengan semangat , karena usaha tidak akan menghianati hasil.


Enam bulan kemudian, Tiara benar-benar bisa berjalan seperti biasanya. Tiara langsung sujud syukur di lantai tempat terapinya.


Tiara berterima kasih kepada Allah.


"Mama terima kasih, mama tak pernah lelah merawat Tiara" ucap Tiara sambil mencium kaki mamanya.


"Iya sayang, kamu berdiri jangan seperti itu" mama Jihan membantu Tiara berdiri, lalu memeluknya.


"Dokter, saya ucapkan terima kasih karena telah sabar merawat saya" ucap Tiara kepada sang Dokter.


"Iya Tiara, kamu pantas mendapatkan ini semua, ini semua berkat kerja keras kamu" jawab sang Dokter sambil tersenyum.


Setelah cukup lama, perbincangan mama Jihan, Tiara dan sang dokter pun berakhir. Mama Jihan dan Tiara keluar dari ruangan dokter, dan bergegas untuk pulang.