TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Kepulangan Davin



Sore hari pukul 16:30 WIB.


Tiara dan keluarganya sedang berkumpul di ruang keluarga. Salsa menceritakan jika dia dan Kakaknya, didatangi tiga orang preman. Papa David dan Chandra terkejut mendengar perkataan Salsa,mereka lalu menanyakan keadaan Salsa dan Tiara.


"Aku aman aja sih, tadi Kak Tiara yang ngelawan preman itu, Kak Tiara hebat banget lo tadi." Ucap Salsa bersemangat.


"Benarkah?" tanya Papa David "bagaimana keadaan kamu Ra? apa ada yang terluka?." tanya Papa David lagi.


"Tidak, tubuhku tidak ada yang terluka. Karena sebelum preman itu menyentuhku, aku sudah melumpuhkannya. Aku menghajar salah satu dari tiga preman itu. Sayangnya, dua preman lagi langsung kabur melihat temannya yang sudah tak sadarkan diri." Jawab Tiara.


" Wiih ... beneran itu? hebat." Ucap Chandra sambil bertepuk tangan.


" Waahh ... anak Papa yang satu ini hebat sekali." Ucap Papa David lalu mengacungkan ibu jarinya. Tiara hanya tersenyum mendengar perkataan Chandra dan Papa David.


" Tapi Sayang, kamu tetap harus berhati-hati ya. Mama takut kamu terluka." Kata Mama Jihan.


" Iya, Ma." Jawab Tiara.


Tiba-tiba terdengar suara bel, Mama Jihan beranjak dari tempat duduknya, dan bergegas membuka pintu. Saat membuka pintu, Mama Jihan terkejut melihat seseorang dibalik pintu. Seseorang itu adalah Davin, anak pertamanya.


"Masih inget rumah kamu?" tanya Mama Jihan sambil meneteskan air mata.


"Inget dong Ma, Mama jangan nangis dong Ma. Davin kan jadi pengen nangis juga liat Mama nangis." Ucap Davin, Davin mencium punggung tangan Mamanya lalu memeluk Mamanya dengan erat.


"Ma, sekarang aku bakal bertugas di kantor pusat yang berada di daerah sini. Aku nggak akan ditugaskan dipedalaman lagi," ucap Davin.


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu," Respon Mama Jihan.


"Mama bakal kangen kalau kamu tugas dipedalaman terus. Apa kamu nggak kangen sama Mamamu ini?" tanya Mama Jihan.


"Kangen banget Ma. Mama, aku ada kabar baik ni. Mau denger Ma?" tanya Davin balik.


"Kabar apa?" tanya Mama Jihan penasaran.


"Davin ingin melamar seorang gadis." Jawab Davin.


"Beneran kamu? alhamdulillah ya Allah, ternyata anak pertama hamba normal." Ucap Mama Jihan. Davin yang tadinya tersenyum, langsung cemberut mendengar perkataan Mamanya.


"Jadi, selama ini Mama mengira Davin nggak normal?" tanya Davin dengan lemas.


"Ya salah kamu sendiri, dicariin calon istri nggak mau, nyari sendiri nggak dapat-dapat." Jawab Mama Jihan.


"Ah aku mau mandi dulu ya, di kamar mandi dekat dapur, aku lewat pintu samping. Mama yang cantik, Davin minta tolong ambilin baju ganti dan handuk ya buat Davin. Nanti bajunya ditaruh di depan kamar mandi, terima kasih Mama cantik." Davin pergi meninggalkan Mamanya, dia tidak mau terus disalahkan oleh Mamanya.


Mama Jihan masuk ke rumah dan menuju ke kamar Davin untuk mengambilkan baju ganti. Saat melewati ruang keluarga, Papa David menanyakan siapa yang datang. Mama pun mengatakan jika yang datang adalah Davin. Semua orang yang berada disitu terkejut mendengar perkataan Mama Jihan.


"Davin? yang bener Ma?" tanya Papa David tak percaya.


"Bener, dia tadi lewat pintu samping, dan sekarang dia sedang mandi di kamar mandi yang dekat dapur." Jawab Mama Jihan.


"Wah, Kakak pertama keluar dari Gua." Ucap Chandra.


"Ngawur kamu." Mama Jihan menjitak kepala Chandra.


"Auuuwww, sakit Ma." Ucap Chandra kesakitan sambil memegang kepalanya.


Tiara tak berkomentar apa-apa, karena dia belum pernah bertemu dengan Kakak pertamanya itu. Salsa pun hanya diam, karena dia tidak terlalu dekat dengan Davin.


Dua puluh menit kemudian.


" Assalamu'alaikum semua ...." Ucap Davin semangat. Semua orang yang sedang berbincang-bincang di ruang keluarga itu, melihat ke sumber suara.


"Davin ...."Ucap Papa David tak percaya, jika anak pertamanya pulang ke rumah.


" Iya, Pa. Ini Davin. "Jawab Davin lalu menghampiri Papanya, lalu mencium punggung tangan Papanya.


" Akhirnya, anak Papa yang satu ini pulang juga. "Ucap Papa David sambil memeluk Davin.


" Iya Pa. Oh iya, Tiara mana ya? Papa nggak kirim foto dia ke aku." Tanya Davin.


" Itu, gadis cantik yang pakai jilbab." Jawab Papa David. Papa David menunjuk ke arah Tiara. Davin pun menghampiri Tiara.


" Ma, Salsa ke kamar dulu ya." Pamit Salsa.


" Sa, kamu nggak kangen ya sama Kakak kamu ini?" tanya Davin. Davin melepaskan pelukannya ditubuh Tiara, lalu menghampiri Salsa.


" Aku ... aku ...."Salsa tak mampu melanjutkan kata-katanya.


" Kakak minta maaf ya Sa, dari dulu Kakak nggak nganggap kamu Adik, mulai sekarang Kakak akan menyayangi kamu, sama seperti Kakak menyayangi Adik-adik Kakak yang lainnya." Ucap Davin lalu memeluk Salsa.


Salsa terkejut mendengar perkataan Davin, tak terkecuali anggota keluarga lainnya. Mama Jihan sampai meneteskan air mata melihat kejadian itu. Mama Jihan menghampiri Davin dan Salsa, dan memeluk mereka bersamaan.


" Kakakku yang ganteng, yuk makan yang enak-enak. Kakak kan baru keluar dari Gua, disana pasti makannya nggak ada yang enak." Ucap Chandra memecahkan suara haru itu.


Davin, Salsa, dan Mama Jihan melepas pelukan mereka. Davin langsung menghampiri Chandra.


" Kurang ajar kamu, ngatain aku baru keluar dari Gua." Ucap Davin lalu menjitak kepala Chandra.


" Aduh, jahat banget Kakakku yang ganteng ini. Sakit tau ...." Ucap Chandra sambil memegang kepalanya.


"Rasain! resek sih kamu." Ucap Davin.


"Sudah ... sudah ... kalian ini berantem mulu kayak anak kecil." Ucap Papa David, berupaya menengahi pertikaian antara keduanya putranya.


Davin dan keluarganya berbincang-bincang, terkadang terdengar gelak tawa diantara mereka. Karena asyik berbincang, mereka tak menyadari jika waktu sholat maghrib hampir tiba. Baru setelah mendengar adzan, mereka menyadari dan segera melaksanakan ibadah sholat maghrib bersama-sama.


...***...


Malam hari, pukul 20:00 WIB.


Di ruang makan.


Tiara dan semua anggota keluarganya, sedang makan malam di ruang makan. Tiara terkadang masih tak menyangka, masih memiliki keluarga lain selain Ibu dan Bapaknya yang sudah tiada. Mengingat Ibu dan Bapaknya, Tiara menjadi sedih dan tak terasa meneteskan air matanya.


"Tiara ... kamu menangis? ada apa? apa kamu lagi ada masalah?" Ucap Davin dengan beberapa pertanyaan.


"Enggak Kak, aku cuma rindu sama Ibu dan Bapak yang telah tiada." Ucap Tiara dengan lesu.


"Kamu nanti kirim do'a ya, untuk mereka. " Ucap Davin. Tiara menganggukkan kepala tanpa menjawabnya.


"Oh iya Sa, gimana kuliah kamu? lancar kan?" tanya Davin terhadap Salsa.


"Lancar ... lancar ... Kak." Jawab Salsa terbata-bata. Salsa yang tadinya banyak bicara, jadi irit bicara setelah kepulangan Davin.


Tiara, Papa David, Mama Jihan, dan Chandra merasa tak biasa dengan sikap Salsa yang tiba-tiba menjadi pendiam.


"Sa, kamu mau makan ini nggak?" tanya Chandra sambil mengulurkan makanan yang pedas.


"Ya, boleh Kak." Jawab Salsa.


Chandra terkejut, saat Salsa mau memakan makanan yang ia tunjuk. Karena makanan yang ia tunjuk adalah makanan pedas yang tidak disukai Salsa.


"Sa, kamu kan nggak suka pedas. Nggak usah dimakan ya ... nanti kamu sakit perut." Ucap Mama Jihan.


"Nggak papa Ma, sekali-kali." Jawab Salsa.


Salsa pun memakan makanan pedas itu. Tak lama, Salsa merasakan perutnya yang sakit. Salsa segera pamit, untuk pergi ke kamarnya.


"Aku susul Salsa dulu ya, Ma." Ucap Tiara, lalu berlalu meninggalkan ruang makan itu.


"Ndra, kamu kan tahu jika Salsa nggak suka pedas. Kenapa kamu tawarin dia makanan pedas?" tanya Mama Chandra.


"Aku iseng tadi. Aku juga terkejut Ma, kenapa dia mau ngambil makanan pedas itu." Jawab Chandra merasa bersalah.


"Lain kali jangan kayak gitu ya, Ndra. Kasian dia, jadi sakit perut." Ucap Davin.


"Baik, Kak." Jawab Chandra.


Di dalam kamar.


Tiara masuk ke dalam kamar, dia melihat Salsa sedang menangis kesakitan. Tiara keluar memanggil Mama dan Papanya. Mama Jihan dan Papa David datang menemui Salsa, dan memutuskan untuk membawa Salsa ke rumah sakit. Chandra dan Davin menyusul dimobil yang berbeda.