TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Menjahili Lita -



Pagi hari. Kini Daffa telah berada di kampusnya. Ia sedang duduk didepan kelas bersama Dion. Tiba-tiba datang Vanessa, ia menghampiri Daffa dan Dion.


"Wah, yang semalam habis kencan, pasti bahagia," sindir Vanessa.


"Lo lagi nyindir siapa, Nes?" tanya Dion.


"Yang merasa kesindir aja," jawab Vanessa.


Daffa tak menghiraukan Vanessa, karena Daffa memang tak merasa tersindir. "Dion, masuk kelas yuk," ajak Daffa.


"Oke, Fa." Dion beranjak dari tempat duduknya.


Dion dan Daffa berjalan masuk kedalam kelas. Saat hendak masuk, baju Daffa ditarik dari belakang. "Hey, ngerti nggak sih aku lagi nyindir kamu, Daffa!" bentak Vanessa.


"Aku?" Daffa menunjuk ke dirinya sendiri.


"Iya, tadi malam di swalayan aku melihat kamu sedang membawa seorang perempuan. Perempuan itu sangat erat memelukmu, mesra sekali!" sinis Vanessa.


Daffa mencoba mengingat hal apa saja yang ia lakukan tadi malam. Ia pun teringat jika dirinya mengantar mamanya ke swalayan. Oh, mungkin tadi malam dia lihat mama, batin Daffa.


"Terus kenapa kalau aku mesra dengan seorang perempuan? Kamu tahu? Perempuan yang kamu lihat itu memang sangat spesial dihatiku. Apa Kamu cemburu Vanessa? Hmm!" tanya Daffa.


"Eh, mana ada. Ah sudah ah, aku mau ke kantin." Vanessa pergi meninggalkan Daffa dan Dion.


"Fa, emang benar yang dikatakan Vanessa tadi? Lo punya pacar, Fa?" tanya Dion kepo.


"Perempuan itu mama gue, si Vanessa kayaknya suka sama gue. Dilihat dari gerak-geriknya, kelihatan banget kalau dia lagi cemburu. Ha-ha-ha memang susah jadi pria tampan," ucap Daffa membanggakan diri.


"Heh, perempuan itu mama lo? Kok Vanessa sampai nggak bisa tahu ya? Emang badan mama lo langsing kayak gadis muda ya?" tanya Dion kepo.


"Rahasia," jawab Daffa. Daffa berjalan menuju tempat duduknya.


"Hah, pelit amat sih!" ketus Dion.


Beberapa saat kemudian, dosen yang mengajar kelas Daffa saat itu telah tiba di kelas. Vanessa pun telah masuk beberapa detik sebelum dosen masuk kedalam kelas.


Fyuh, untung saja nggak telat, batin Vanessa bersyukur. Kelas pun dimulai, semua mahasiswa menyimak materi yang mulai disampaikan dosen untuk dipelajari.


*


*


*


Siang hari pukul dua. Daffa telah melajukan motornya untuk pulang. Motor Daffa melaju dengan cepat, ia pun kini hampir sampai di rumahnya. Kini, Daffa merendahkan laju motornya. Ia takut jika mamanya akan menceramahinya kalau tahu dirinya mengebut dijalan.


Motor Daffa telah memasuki halaman rumah, ia pun memparkirkan motornya disana. Daffa turun dari motornya, lalu berjalan masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Daffa sambil memasuki ruang tamu.


"Wa'alaikum salam," jawab Satria.


"Eh, kok papa ada dirumah?" tanya Daffa heran, karena biasanya papanya akan pulang disore hari.


"Iya, kita akan ke makam kakek bersama-sama. Kita akan pergi ke Bogor, besok kamu libur 'kan?" tanya Satria.


"Iya, besok libur, Pa. Ya sudah kalau begitu, aku siap-siap dulu ya, Pa." Daffa pergi meninggalkan papanya.


"Iya," respon Satria.


Setengah jam kemudian. Tiara, Satria, dan kedua anak mereka telah berada didalam mobil. Satria pun mulai menjalankan mobilnya. "Ma, kita nanti beli apa ya buat oleh-oleh?" tanya Satria kepada Tiara yang duduk disampingnya.


"Apa ya, Pa? Nanti lah, Pa, semoga saja dijalan nanti menemukan ide," jawab Tiara.


"Beli boneka chucky saja Ma buat si Lita, ha-ha-ha," ucap Daffa.


"He-he, iseng, Ma," ucap Daffa tak bersalah.


"Nggak boleh! Kasihan si Lita, dia sampai ketakutan kalau lihat kamu, dia takut kalau kamu bakal jahilin dia lagi dengan boneka chucky." Tiara menasihati anaknya.


"Iya, Ma. Nggak lagi kok, Ma. Boneka chucky-nya kan sudah dibuang sama mama," ucap Daffa.


"Eh, Pa, kita berhenti dulu. Itu didepan ada toko buah, kita beli buah aja buat oleh-oleh. Selain enak, segar, juga menyehatkan," ucap Tiara.


"Siap, Ma." Satria pun menepikan mobilnya saat sudah sampai didepan toko buah tersebut.


Tiara pun turun dari mobil, ia berjalan menuju toko buah itu. Tiara memilih beberapa jenis buah. Setelah itu, dia langsung membayarnya. Tiara kembali masuk kedalam mobil. Satria pun melanjutkan laju mobilnya kembali.


Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mobil Satria telah sampai didepan rumah Kakeknya dulu. Kini, rumah itu ditempati Tina beserta suami dan anaknya. Semua orang yang berada didalam mobil turun, mereka berjalan ke teras rumah.


Tok ... tok ... tok ....


Satria mengetuk pintu. "Assalamu'alaikum, Tina, ini kakak," ucap Satria dari luar pintu.


Tak berselang lama, pintu pun terbuka. "Eh, Kakak. Sudah lama kah sampainya? Ayo masuk, kita ngobrol di ruang tamu," ucap Tina.


Tiara, suami dan kedua anaknya masuk kedalam rumah. "Si Lita kemana, Bi?" tanya Daffa kepada bibinya.


"Ada dikamarnya," jawab Tina.


"Aku sama Daffi ke kamar Lita dulu ya, Bu. Kangen kali aku sama dia, Bu." Daffa menarik tangan Daffi.


"Iya, suruh dia kemari ya," pinta Tina.


"Siap, Bi," jawab Daffa dan Daffi bersamaan.


Daffa dan Daffi berjalan menuju kamar Kota dilantai dua. Setelah sampai didepan kamar Lita, Daffa mengetuk pintu kamar Lita. Lita pun membuka pintu kamarnya.


"Kak Daffa ... Kak Daffi, aku kangen sekali sama kalian. Jangan jahil lagi ya sama aku!" Lita memeluk Daffa dan Daffi disisi kanan dan kirinya.


Tiba-tiba, Daffa meletakkan ular mainan dibahu Lita. Lita yang sadar ada sesuatu dibahunya pun langsung meraba bahunya. Lita mengambil ular mainan yang diletakkan Daffa.


Aaaaaa! Teriak Lita ketakutan. Lita mengira jika ia memegang ular sungguhan. Daffa langsung tertawa melihat Lita yang ketakutan. "Jahil banget sih kamu, Fa. Lita ayo ikut aku kebawah," ajak Daffi.


"Baik, Kak Fi." Lita memicingkan matanya ke arah Daffa.


"Sudah, ayo kebawah. Tinggalin saja si Daffa." Daffi menggandeng tangan Lita, lalu menuruni anak tangga.


Sesampainya di ruang tamu, Lita melepaskan tangan Daffi. Lita berlari ke arah budhe-nya. "Budhe, Lita kangen sama budhe." Lita duduk disamping Tiara dan memeluknya. Setelah itu, Lita bersalaman dengan budhe dan pakdhe-nya, lalu mencium punggung tangan mereka.


"Budhe ... Pakdhe ... kok sudah lama tidak berkunjung kesini?" tanya Lita.


"Iya, Lita, Pakdhe baru ada waktu. Gimana kabar Lita, sehat kan? Gimana sekolahnya? Eh, kamu ini sekarang kelas berapa ya? Pakdhe-mu ini lupa," tanya Satria.


"Kelas tiga sekolah menengah atas, Pakdhe," jawab Lita.


"Berarti tahun depan masuk kuliah ya? Rencana kuliah dimana?" tanya Satria.


"Sekitar sini saja, Pakdhe," jawab Lita.


"Nggak pengen kuliah di Jakarta?" tanya Satria lagi.


"Enggak ah, Pakdhe, aku nggak mau pisah jauh dari mama. Aku ini kan anak mama satu-satunya, kasihan mama kalau aku pergi jauh," jawab Lita.


"Iya, juga sih," respon Satria.


"Ini dimakan dulu camilannya." Tina datang dari dapur dengan membawa beberapa camilan. Mereka pun memakan camilan yang dibawakan Tina, disela perbincangan mereka. Mereka melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu.