TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Magang -



Beberapa semester kemudian, hari ini adalah hari pertama Daffa dan Daffi melakukan kegiatan magang, kegiatan magang akan dilaksanakan selama tiga bulan. Daffa akan melaksanakan kegiatan magangnya di sebuah rumah sakit yang bernama Rumah Sakit Abadi.


Sedangkan Daffi, ia akan melaksanakan kegiatan magangnya disebuah perusahaan yang cukup ternama, yaitu PT. Sukses Makmur Tbk. Perusahaan tersebut menjual berbagai jenis makanan cepat saji.


"Ma, Daffa berangkat dulu ya," pamit Daffa seraya mencium punggung tangan Tiara.


"Iya, semangat ya magangnya!" ucap Tiara.


"Daffi juga pamit, Ma," ucap Daffi sambil mencium punggung tangan Tiara.


"Iya, kamu juga semangat ya magangnya," ucap Tiara kepada Daffi.


"Iya, Ma, kami berangkat dulu ya, wassalamu'alaikum." Daffa dan Daffi menaiki motor sport mereka, dan melajukannya ke tempat magang mereka masing-masing.


Tiara memandangi kepergian kedua anaknya, Tiara mengingat saat dirinya melakukan kegiatan magang. Hmm, pada akhirnya salah satu anakku meneruskan jejakku, batin Tiara.


Tiara masuk ke rumah untuk bersiap pergi ke rumah sakit, rumah sakit itu bernama Rumah Sakit Sejahtera. Tiara sebenarnya sudah membuka klinik praktik gigi sendiri, tapi Tiara tetap harus praktik juga di sebuah rumah sakit.


"Mas, aku berangkat dulu ya. Mas sudah mau berangkat apa belum?" tanya Tiara kepada suaminya.


"Mas mau berangkat kok sekarang, yuk jalan bareng kedepan." Satria menggandeng pinggang Tiara, mereka berjalan bersama menuju halaman rumah.


Tiara kini telah siap berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan motor matic-nya. Sedangkan Satria, ia berangkat ke kantornya menggunakan mobil. Mereka menggunakan kendaraan sendiri, karena waktu pulang mereka yang tak sama.


"Aku berangkat dulu ya, Mas, wassalamu'alaikum." Tiara mencium punggung tangan suaminya lalu menjalankan motor matic-nya.


"Wa'alaikum salam, hati-hati." Satria memandangi kepergian Tiara, setelah itu dia masuk kedalam mobilnya dan berangkat ke kantornya.


*


*


*


Daffa kini telah sampai di Rumah Sakit Abadi, ia berjalan melewati lorong rumah sakit itu. Kini, Daffa telah bergabung dengan beberapa teman magang yang lain, teman magang Daffa berasal dari berbagai kampus.


"Nama kamu siapa?" tanya seorang perempuan, perempuan itu juga peserta magang.


"Namaku Daffa," jawab Daffa sambil tersenyum.


"Daffa ya, kalau aku Lisa utami, kamu bisa panggil aku Lisa," ucap perempuan itu.


"Hmm, baiklah," respon Daffa.


Yang pengen tahu namamu juga siapa? Hmm, pede banget, batin Daffa. Daffa berjalan menghampiri teman magangnya yang laki-laki. "Hey, nama Lo siapa? Gue Daffa." Daffa memperkenalkan dirinya kepada seorang laki-laki. Yah, aku dicuekin, padahal ngobrol sama si Robi asyik gitu, batin Lisa kesal.


"Hey juga, gue Robi." Robi dan Daffa saling berjabat tangan.


Tiba-tiba datang seseorang dari pihak rumah sakit, beliau khusus menangani orang-orang yang sedang magang. Seseorang itu bernama pak Heru. Pak Heru menjelaskan berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan magang. Setelah penjelasan dari pak Heru selesai, para peserta magang memulai kegiatan magang mereka.


Disisi lain, Daffi sedang menyimak penjelasan produk yang dijual oleh perusahaan tempat ia magang. Dari kejauhan, ada seorang perempuan yang memandang Daffa tak berkedip. Perempuan itu bernama Ocha, ia adalah seorang sekretaris di PT. Sukses Makmur Tbk.


Kok gue ngerasa, kalau perempuan itu ngelihatin gue terus ya? Hmm, bikin nggak nyaman aja, batin Daffi.


Dua jam berlalu, kini Daffi dan teman magang lainnya berencana untuk kembali ke kampus mereka, karena sebagian dari mereka ada yang masuk kelas sore.


"Fi, gue duluan ya," ucap salah satu teman Daffi.


"Oke, Bro, hati-hati," ucap Daffi. Daffi kini menjalankan motornya, menuju ke sebuah cafe yang terletak di sebrang jalan.


Sesampainya disana, Daffi langsung masuk kedalam cafe dan memesan sebuah minuman dingin. Tak berselang lama, tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendatangi Daffi, perempuan itu adalah Ocha.


"Hallo, Daffi," ucap perempuan itu.


Daffi yang mendengar namanya disebut pun langsung menoleh ke sumber suara. Perempuan yang tadi? Mau ngapain? , batin Daffi.


"Iya, Bu, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Daffi sopan.


"Kamu panggil aku dengan sebutan seperti itu? Apakah saya sudah terlihat tua?" tanya Ocha kesal.


"Sudahlah, mungkin lain kali saya akan berbincang denganmu. Aku mau pesan kopi khusus untuk bos." Ocha pergi meninggalkan Daffi, ia memesan sebuah cup kopi yang setiap hari dipesan disini. Si bos sendiri, hanya ingin Ocha yang membelikan kopi untuknya.


Daffi tak menghiraukan Ocha, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Mike. Daffi sedikit kesepian, karena dia tak satu tempat magang dengan Mike.


📤 Mike, sudah selesai belum magangnya?


📥 Baru keluar nih, ada apa?


📤 Kesini dong, ngopi bareng gue!


📥 Lo dimana sekarang?


📤 Gue di cafe sebrang jalan, tempat magang gue.


📥 Ya sudah, gue on the way.


📤 Oke, hati-hati Bro.


📥 Yoi.


Lagi-lagi Daffi diamati oleh Ocha, Ocha melihat Daffi dari bawah ke atas. Perfect, batin Ocha. Setelah mendapatkan kopi yang ia pesan, Ocha langsung pergi meninggalkan cafe itu. Ia sebenarnya ingin berlama-lama dengan Daffi, tapi ia tak mau kena marah jika kopi milik bos menjadi dingin nantinya.


Beberapa saat kemudian, terlihat Mike yang memasuki cafe. Mike berjalan ke meja Daffi.


"Hey Fi," panggil Mike.


"Duduk sini, Mike." Daffi menyentuh kursi kosong disebelahnya.


"Bentar, gue pesen minuman dulu," ucap Mike.


"Mbak ...." Mike memanggil seorang karyawan cafe yang sedang lewat.


Mike pun memesan minuman favoritnya. "Sudah lama Lo disini?" tanya Mike kepada Daffi.


"Nggak lama banget sih," jawab Daffi.


"Gimana tempat magang, Lo?" tanya Daffi.


"Hah, orang-orangnya pada judes!" jawab Mike.


"Oh ya?" tanya Daffi memastikan.


"Ya. Kalau ditempatmu bagaimana? Orangnya asyik-asyik nggak?" kepo Mike.


"Lumayan lah, tapi tadi gue dilihatin mulu sama sekretaris disana, mengganggu banget!" sebal Daffi.


"Sekretarisnya cewek atau cowok?" kepo Mike.


"Cewek," ucap Daffi.


"Lah, bukannya malah rejeki? Pasti cantik 'kan?" goda Mike.


"Permisi, ini pesanan Anda." Seorang karyawan cafe menghampiri Mike, dan meletakkan pesanan Mike di atas meja.


"Terima kasih, Mbak," ucap Mike.


"Iya, sama-sama." Karyawan cafe itu pun pergi meninggalkan meja Daffi dan Mike.


"Eh, sampai mana pembicaraan kita tadi?" tanya Mike.


"Sampai diide mau jalan-jalan ke pantai," jawab Daffi asal-asalan.


"Oh, pantai ya asyik tuh." Mike lupa jika tadi mereka sedang membahas sekretaris ditempat Daffi magang.


Untung nggak inget nih bocah tadi mbahas apa, males banget bahas sekretaris itu. Tapi, gue kok punya temen model gini ya ... pikun banget, batin Daffi.