
Beberapa jam kemudian. Erina telah diperbolehkan untuk pulang. Erina duduk dikursi roda, atas permintaan Davin. Erina memang kesulitan dalam berjalan, hal itu dikarenakan ia masih merasakan perih dan sakit dibagian jalan lahir bayinya.
"Masih sakit ya?" tanya Davin pada istrinya.
"Iya, masih sakit," jawab Erina ringkih.
"Maaf ya, Sayang. Aku membuat kamu menderita," ucap Davin merasa bersalah.
"Eh, ya enggaklah, Mas. Kita kan memang sudah berkomitmen bersama, untuk segera mempunyai anak. Tapi, aku juga tak membayangkan, jika rasanya sangat sakit." Erina kembali membayangkan proses melahirkan yang sangat menyakitkan.
"Kalau begitu, anak kita satu saja ya. Aku nggak mau melihat kamu kesakitan seperti itu lagi." Davin berhenti mendorong kursi roda, ia menundukkan badannya, lalu memeluk erat tubuh istrinya.
Setelah beberapa saat, Davin dan Erina telah sampai diparkiran rumah sakit. Davin mengangkat tubuh Erina, dan memasukkannya kedalam mobil barisan tengah. Sedangkan anak mereka, sedang digendong oleh Mama Jihan. Mama Jihan dan anggota keluarga lainnya, masih berjalan dibelakang.
"I love you, Sayang." Didalam mobil, Davin memeluk tubuh istrinya lagi, sambil mengecup bibir Erina sekilas.
"Kamu ini, Mas. Nanti kalau ada orang yang lihat gimana? Malu aku, Mas. Itu, pintunya belum ditutup." Erina memukul dada suaminya pelan.
"Ekspresi kamu lucu sekali." Davin menggoda istrinya yang tampak lucu.
Tiba-tiba, Mama Jihan sudah berada di samping mobil. Mama Jihan pun langsung masuk kedalam mobil, sambil menggendong cucunya. Mama Jihan tak henti-henti memandang cucu tampannya.
...***...
Malam hari. Kini, Tiara telah berada di rumah Satria yang telah ia beli di daerah Jakarta. Disana, masih ada Tina dan kakeknya. Tiara masih tersenyum-senyum sendiri, mengingat wajah tampan dari anak kakaknya.
"Kak Tiara, kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Tina dengan heran.
"Aku masih inget wajah tampan dari anak Kak Davin," jawab Tiara.
"Apa aku kalah tampan?" tanya Satria dengan cemberut.
"Ha-ha-ha, kau ini. Masa cemburu sama anak yang baru lahir?" Kakeknya Satria menertawakan sikap Satria.
"Iya, tau nih Kak Satria!" ucap Tina ketus. Satria hanya diam, tak menjawab.
"Oh iya, Kakek ada hadiah untuk kalian," kata Kakeknya Satria kepada Tiara dan Satria.
"Kakek sudah menyewa sebuah vila di Bali untuk kalian berdua, kalian akan bulan madu di sana selama tiga hari," imbuh Kakeknya Satria.
"Wah, benarkah, Kek? Terima kasih ...." Satria tersenyum bahagia mendengar hadiah yang kakeknya berikan.
"Hu-hu-hu ... apalah dayaku yang jomblo ini," keluh Tina.
"Kalau kamu mau, Kakek akan segera mencari calon suami buatmu. Nantinya, Kakek akan menghadiahkan kalian hadiah yang menarik. Gimana?" Kakeknya Satria menaik-turunkan alisnya.
Mendengar hal itu, membuat Tina bergidik. "Aku mau ke kamar dulu, dadaaah." Tina segera berlari meninggalkan ruangan itu, setelah melambaikan tangannya.
Melihat tingkah dari Tina, Tiara, Satria dan kakeknya pun langsung tertawa. Mereka bertiga yang masih berada di ruangan itu, kembali melanjutkan obrolan mereka tentang rencana bulan madu.
...***...
Satu minggu kemudian. Kini, Tiara dan Satria telah berada di Bandara l Gusti Ngurah Rai. Mereka sedang berdiri untuk mengantri koper mereka. Setelah beberapa saat, mereka telah mendapatkan koper mereka. Tiba-tiba, ada seseorang yang memanggil nama Tiara.
"Tiara!" teriak Tirta.
"Aku kangen sama kamu, kamu kenapa pura-pura nggak kenal sama aku?" ucap Tirta dengan sedih. Tirta berniat memeluk Tiara, namun dihalangi oleh Satria.
"Maaf, jangan sembarangan memeluk istri orang! Tiara adalah istri saya sekarang!" tegas Satria pada Tirta.
"Mungkin ... dimasa lalu, Anda adalah orang yang menyukai Tiara, dan mengejarnya. Tapi sekarang, Anda tidak boleh melakukannya lagi!" tegas Satria lagi, lalu menggenggam tangan Tiara, lalu pergi meninggalkan Tirta.
Tirta sedikit bergidik mendengar ucapan dari Satria. Apalagi dengan tubuh Satria yang lebih besar dan tinggi dari pada dirinya, namun Tirta bertekad untuk menemui Tiara lagi. Ternyata Tirta telah mempersiapkan alat pelacak saat pertama melihat Tiara, dia pun telah memasukkannya kedalam tas Tiara, saat dia akan memeluk Tiara.
Tirta pun berbalik arah, lalu melangkahkan kakinya menuju ke sebuah tempat makan di dalam area bandara. Saat itu adalah hari kepulangannya ke Indonesia, setelah bertahun-tahun tinggal di tanah kelahirannya.
Kepulangannya kali ini, ia berencana untuk melamar Tiara dan akan ia jadikan istrinya. Tapi ternyata, ada hal yang membuat ia kecewa, karena Tiara telah menikah.
...~~~...
Disisi lain, Tiara dan Satria telah sampai didepan vila yang telah kakeknya Satria pesan. Mereka masuk kedalam vila itu, Tiara duduk disofa di ruang pertama yang mereka jumpai.
"Huh, lelah sekali ya, Bang," keluh Tiara.
"Iya. Eh, kamu kok masih panggil aku dengan sebutan itu?" tanya Satria sedikit kecewa.
"Trus, pengennya dipanggil apa?" tanya Tiara balik.
"Sayang ... atau apa gitu ... yang lebih romantis pokoknya. Abang itu ... seperti panggilan adik-kakak," jawab Satria.
"Aduh ... apa ya? Gimana kalau Mas aja," usul Tiara.
"Ya udah nggak apa-apa, love you, Sayang." Satria mengecup puncak kepala Tiara.
"Love you too," respon Tiara.
"Aku mandi dulu ya." Satria berlalu meninggalkan Tiara.
"Oke, Bang ... eh, Mas." Tiara menutup mulut dengan tangannya, Tiara masih terbiasa dengan sebutan abang kepada Satria.
Setelah beberapa saat, Satria telah selesai dengan ritual mandinya. Tiara pun sudah selesai melepas penatnya, dengan tiduran diatas sofa. Kini ia beranjak dari sofa, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersih diri.
Satu jam kemudian. Satria dan Tiara berjalan keluar vila, mereka ingin makan di restoran yang tak jauh dari vila mereka. Sesampainya disana, mereka memesan makanan. Lima belas menit kemudian, pesanan mereka telah diantar di atas meja yang mereka pilih.
Tiara dan Satria menikmati makanan yang mereka pesan. Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka telah menghabiskan pesanan mereka. Saat itu, mereka merasa sangat lapar.
"Kita ketemu lagi, ya. Kita memang jodoh." Tirta tiba-tiba saja telah berdiri dibelakang kursi yang Satria duduki.
"Mau apa lagi? Hah!" bentak Satria.
Satria sangat marah, karena istrinya berusaha direbut orang lain. Semua orang yang berada di restoran itu pun menoleh ke arah Satria, mereka terkejut dengan bentakan Satria.
"Udah, Mas. Banyak orang disini," kata Tiara kepada Satria.
"Oh iya, maaf Tirta. Aku sudah menikah, akan lebih baik jika kamu tidak menemuiku lagi!" Tiara memberi Tirta peringatan.
"Maaf, aku tidak bisa membalas rasa cinta kamu, aku pamit," ucap Tiara, lalu pergi meninggalkan Tirta. Tiara menggandeng tangan suaminya, mereka berjalan bersama, pulang ke vila mereka.