
Tiga bulan kemudian. Tiara sedang mempersiapkan diri untuk melakukan proses lahiran anak kembarnya. Dokter kandungan Tiara menyampaikan, bahwa Tiara harus melahirkan secara sesar karena alasan tertentu.
Tiara dan keluarganya pun menyetujui, yang terpenting bagi mereka adalah keselamatan ibu dan dua bayi didalam perutnya. Setiap harinya, Tiara membaca hal-hal yang berkaitan dengan persalinan secara sesar.
Proses persalinan secara sesar itu, akan dilakukan satu minggu lagi. Keluarga Tiara berusaha membuat suasana hati Tiara menjadi bahagia, mereka tidak mau Tiara mengalami depresi, karena terlalu memikirkan hal tentang persalinan sesar.
"Sayang, kamu pengen sesuatu nggak?" tanya Satria pada istrinya.
"Sesuatu? Apa ya? Aku merasa ... segala hal yang aku butuhkan telah terpenuhi," jawab Tiara.
"Oh, iya. Aku pengen berkunjung ke rumah anak-anak panti. Mas bisa antar aku kesana, kah?" tanya Tiara kepada suaminya.
"Tentu," jawab Satria.
Tiara dan Satria bersiap untuk pergi ke rumah anak-anak panti. Setelah selesai bersiap, mobil mereka melaju dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan, Tiara melihat keluar jendela mobil. Tiba-tiba, ia menyuruh Satria untuk berhenti karena ia melihat penjual molen mini.
"Ada apa, Sayang? Bikin kaget aku aja kamu, tiba-tiba nyuruh berhenti," protes Satria kepada istrinya.
"He-he, maaf ya Mas. Itu ... aku pengen beli molen mini." Tiara menunjuk penjual molen mini dari dalam mobil.
"Itu ... baiklah." Satria turun dari dalam mobilnya.
"Terima kasih," ucap Tiara sambil tersenyum.
Satria tak mendengar ucapan terima kasih dari istrinya, karena kini ia telah berada diluar mobil. Setelah beberapa saat, Satria berjalan kembali ke mobil dengan membawa beberapa kantong plastik makanan.
"Banyak banget, Mas. Apa aja itu isinya?" tanya Tiara dengan penasaran.
"Macem-macem camilan ini, nanti buat anak-anak panti juga." Satria kembali menghidupkan mobilnya.
"Oh ... iya, terima kasih suamiku." Tiara mengecup salah satu pipi dari Satria.
"Sama-sama, Sayang." Satria tersenyum kearah Tiara, lalu menjalankan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Tiara dan Satria telah sampai di rumah anak-anak panti. Mereka menyambut kedatangan Tiara dan Satria dengan gembira.
Namun, tiba-tiba saja terdapat sebuah panggilan dari karyawan Satria. Karyawan itu menyebutkan terdapat kendala pada bisnis milik Satria, Satria meminta maaf kepada semua penghuni rumah panti itu, karena dia tidak dapat ikut masuk bersama mereka.
"Sayang, Mas pamit dulu ya. Nanti kalau urusan sudah selesai, Mas jemput kamu," pamit Satria kepada Tiara.
"Baiklah, Mas. Hati-hati dijalan ya." Tiara melambaikan tangannya setelah mencium punggung tangan dari suaminya.
"Iya, wassalamu'alaikum." Satria berjalan ke arah mobilnya.
"Wa'alaikum salam," ucap Tiara dan anak-anak panti yang berada di teras rumah.
Sore hari. Kini, Tiara telah berada didalam mobil suaminya. Satria melajukan mobilnya dengan arah yang berbeda dari arah rumahnya. Satria ingin pergi ke suatu tempat.
"Lo, kita mau kemana, Mas?" tanya Tiara heran.
"Oh, itu ... aku mau ke swalayan sebentar. Aku mau membeli sesuatu," jawab Satria.
"Begitu ... kukira mau kemana," respon Tiara.
Lima menit kemudian, Satria telah sampai di tempat parkir sebuah swalayan. Satria masuk ke swalayan sendirian, karena Tiara tidak mau ikut dengannya. Setelah selesai, Satria segera masuk kedalam mobil dan mengendarai mobilnya menuju rumahnya.
...***...
Tiara melihat keadaan rumah sakit, suasananya begitu ramai karena waktu itu menandakan pukul delapan pagi. Tiara sesekali menarik napasnya dalam-dalam, dan perlahan melepaskannya
"Sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?" tanya Satria khawatir.
"Iya, Mas. Aku baik-baik saja." Tiara menganggukkan kepalanya pelan.
Satria mendorong pelan kursi roda yang dinaiki Tiara. Satria membawa Tiara ke ruang operasi sesar. Saat berada didepan pintu ruang operasi, Tiara meminta do'a ke semua anggota keluarganya.
Setelah itu, Tiara dibawa masuk ke ruang operasi seaar. Hanya Satria yang boleh menemani Tiara di ruang operasi, selain pihak rumah sakit yang membantu proses lahiran Tiara satu itu.
Tubuh Tiara telah menerima suntikan sebelum dilakukan pembedahan. Satria mencium kening Tiara sambil menyemangatinya. Tak lupa, Satria juga memanjatkan do'a untuk keselamatan istri dan juga kedua anaknya yang akan segera dikeluarkan.
Setelah melalui proses panjang, kedua anak kembar telah berhasil dikeluarkan, perut Tiara kini juga sudah tertutup rapat. Tiara tak henti mengucap syukur, karena proses lahirannya berjalan dengan lancar.
Kedua anak kembar Tiara sangatlah tampan, keduanya memiliki hidung yang mancung, kulit putih. Mungkin akan membuat orang jatuh cinta pada pandangan pertama, jika melihat kedua bayi kembar yang sangat menggemaskan itu.
"Alhamdulillah, sekarang sudah bisa berjumpa dengan dua cucu ganteng ini." Mama Jihan tak henti memandangi anak Tiara yang baru lahir. Tiara kini telah dipindahkan ke ruangan yang lain.
"Alhamdulillah ... aku sekarang mempunyai dua cicit yang sangat tampan. Tapi ... bukankah hal itu menandakan, jika aku sudah tua?" tanya kakeknya Satria.
"Kakek ... apakah ada yang mengatakan jika Kakek masih muda?" tanya Satria balik, sedikit tersenyum.
"Nah itu, aku menunggu pengakuan darimu," jawab kakeknya Satria.
"Maaf nih, Kek. Berbohong itu dosa," ucap Satria sambil tertawa pelan.
"Haish Kau ini ... tapi ... kau memang benar," ucap kakeknya Satria juga dengan tawanya.
Ooeeek ... ooeeek ... ooeek ....
"Eh, kenapa menangis, Sayang?" tanya Tiara.
"Mungkin ... dia lapar, Sayang. Kamu bisa kah menyusui keduanya secara bersamaan?" tanya Satria khawatir.
"Kamu jangan khawatir, Satria. Mama akan membantu Tiara, kamu ajaklah dulu Kakek untuk makan," ujar Mama Jihan kepada Satria.
"Baiklah, Ma. Ayo, Kek kita makan dulu," ajak Satria kepada kakeknya. Satria mengajak kakeknya makan disebuah rumah makan, yang letaknya tak jauh dari rumah sakit itu.
"Baiklah, ayo," respon kakeknya Satria.
...***...
Malam hari. Kini, Tiara telah berada dirumah. Sore tadi, Tiara sudah diperbolehkan untuk pulang. Tiara sesekali masih membayangkan proses lahirannya, ia menyadari betapa sulit perjuangan seorang ibu, dalam melahirkan anak mereka.
"Sayang, kamu makan dulu ya, nanti lemes lo kalau nggak makan. Kamu kan harus menyusui dua anak," ucap Satria.
"Baik, Mas. Aku makan dulu, aku titip anak-anak ya." Tiara berjalan pelan menuju ke dapur, disana sudah ada hidangan yang dimasak oleh pembantu mereka.
Tiara kini sedang berada di rumah sendiri, semua keluarga telah pulang dan berencana datang lagi esok hari. Kakeknya Satria sedang istirahat dikamar. Sedangkan Tina, ia sedang keluar rumah untuk berbelanja di sebuah warung yang tak jauh dari rumah Satria.
Keesokan harinya. Pada saat itu pukul sembilan pagi. Namun, sudah ada beberapa mobil yang bertengger di halaman rumah Satria. Mobil itu milik orang tua Tiara dan saudaranya, sedangkan dua mobil lainnya milik teman Tiara dan Pandu.
Tiara sangat bahagia melihat orang-orang yang ia sayangi berkumpul. Tiba-tiba, matanya telah basah karena ia rindu dengan ibu dan bapaknya yang telah meninggal dunia. Alangkah bahagianya, jika ibu dan bapaknya bisa melihat kedua cucunya.
Hari-hari Tiara lewati bersama Satria dan kedua anak kembar mereka. Mereka merawat kedua anak mereka dengan penuh kasih sayang. Tiara berdo'a, agar keluarga kecilnya bisa hidup bersama dan saling mendukung satu sama lain. Bahagia bersama ... selamanya.