
Malam hari. Satria dan Tiara sedang berjalan-jalan disekitar pantai, mereka memakai pakaian yang tebal, karena angin disana sedikit kencang.
Satria tersenyum menatap wajah cantik Tiara, ia sangat bersyukur bisa memilikinya. Tapi, senyum Satria menghilang kala melihat kedatangan Tirta.
"Mau apa lagi, Kau?" tanya Satria dengan nada rendah.
"Aku akan memastikan untuk yang terakhir kalinya. Tiara ... apa kamu benar-benar tidak mencintaiku?" tanya Tirta kepada Tiara dengan lesu.
"Maaf, Tirta. Aku benar-benar tidak bisa membalas cintamu, aku sudah menikah," jawab Tiara
"Apa kau mencintainya?" Tirta menunjuk ke arah Satria.
"Tentu, aku sangat mencintainya," ucap Tiara dengan tegas.
"Walau aku kecewa, tapi itu adalah keputusanmu. Walau berat ... tapi aku akan berusaha melupakanmu. Selamat tinggal," pamit Tirta. Tirta pergi meninggalkan Tiara dan Satria, langkahnya pelan seperti orang yang tak punya tenaga untuk berjalan.
"Kamu bener nggak suka kan sama dia?" Satria menunjuk ke arah Tirta yang sudah jauh dari tempat mereka berdiri.
"Enggak." Tiara menggelengkan kepalanya.
"Baguslah, kalau begitu. Ayo pulang, udara semakin dingin disini!" ajak Satria.
"Baiklah," respon Tiara.
Satria dan Tiara pulang dengan menaiki sebuah mobil yang sudah mereka sewa, selama mereka berada di Bali. Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di vila. Satria memarkirkan mobil, lalu berjalan bersama dengan Tiara sambil bergandengan tangan.
Tiara dan Satria merasa lelah, karena seharian berkeliling ke beberapa tempat wisata di Bali. Mereka membersihkan diri, lalu pergi tidur. Mereka menikmati masa-masa indah mereka, saat berbulan madu di Bali.
...***...
Keesokan harinya. Tiara dan Satria sedang menikmati sarapan mereka, baru saja ada pelayan di vila itu yang mengetuk pintu dan membawa beberapa makanan untuk Tiara dan Satria.
"Mas, aku kok belum datang bulan ya? Seharusnya sih sudah satu minggu yang lalu datangnya." Tiara memikirkan tanggal terakhir kali ia kedatangan tamu bulanan.
"Apa mungkin kamu hamil? Apa secepat ini?" tanya Satria dengan antusias.
"Ah ... aku tidak tahu. Coba nanti Mas ke apotek terdekat, dan beli sebuah tes penguji kehamilan," ujar Tiara.
"Ah, baiklah," kata Satria bersemangat.
Satria segera menyelesaikan makanannya, ia pun bergegas keluar vila dan mencari apotek terdekat. Melihat sikap Satria yang bersemangat, Tiara tersenyum bahagia lalu mengelus perutnya sendiri.
Dua puluh menit kemudian. Satria kini telah sampai di vila, ia segera masuk ke dalam vila. Satria mencari keberadaan Tiara, Satria pun mendapati istrinya yang sedang duduk di tepi kolam renang.
"Sayang ... ini aku udah beli beberapa, kalau aja hasilnya invalid." Satria menyerahkan beberapa tes uji kehamilan kepada Tiara.
"Kok kamu tahu invalid? Tahu dari mana?" tanya Tiara menyelidik.
"Itu ... dari yang jaga apotek," jawab Satria.
"Ya udah, kamu coba sekarang, gih!" Satria sudah tidak sabar dengan hasil tesnya.
"Baiklah." Tiara beranjak dari tepi kolam renang, ia berjalan menuju ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Tiara telah keluar dari kamar mandi. Tiara mendapati Satria yang menunggunya dibalik pintu. Hal itu membuat Tiara sedikit terkejut.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Satria tak sabar.
"Alhamdulillah." Tiara menunjukkan hasil tes yang bergaris dua.
"Alhamdulillah ya Allah." Satria langsung memeluk istrinya dan membopongnya ala bayi, Satria membawa Tiara ke sebuah sofa.
"Terima kasih, Sayang. Kita jaga baik-baik ya anak kita," ucap Satria sambil tersenyum.
"Iya," respon Tiara.
"Eh, Mas. Kok aku pengen makan sup buah ya," ucap Tiara sambil membayangkan segarnya semangkuk sup buah.
"Entahlah, Mas. Aku pengen aja," jawab Tiara.
"Okelah, aku cari sekarang ya." Satria meletakkan tubuh Tiara ke atas sofa dengan pelan, ia beranjak dan keluar vila lagi.
"Hati-hati, Mas," ucap Tiara.
Setengah jam kemudian. Satria sudah kembali, ia pun segera membawa dua bungkus sup buah yang segar. Satria memberikan dua cup sup buah kepada Tiara.
"Satu aja, Mas. Yang satu buat kamu, terima kasih ya, Mas." Sambil tersenyum, Tiara memberikan satu cup sup buah kepada Satria.
"Terima kasih, Sayang," ujar Satria.
"Hemmm." Tiara sedang menikmati sup buahnya, ia pun tak bisa bicara banyak.
...~~~...
Tak terasa, hari ini adalah hari terakhir Tiara dan Satria berada di Bali. Mereka mulai mengemasi barang mereka, karena mereka akan terbang ke Jakarta sekitar lima jam lagi.
Setelah semua barang dikemasi, mereka duduk santai di balkon vila itu. Disana, mereka dapat melihat pemandangan disekitar vila. Tiba-tiba, Tiara melihat helikoper lewat diatas vila mereka.
"Hai, helikopter." Tiara melambaikan tangan ke arah helikopter.
"Kamu suka helikopter?" tanya Satria.
"Iya, kayaknya seru ya bisa naik helikopter." Tiara membayangkan dirinya sedang naik helikoper, menikmati pemandangan indah dibawah mereka.
"Mungkin, lain waktu kita coba, oke?" Satria menatap lekat wajah istrinya.
"Benarkah? Sayang kamu, Mas." Tiara mengecup pipi kanan Satria, sekilas.
"Sayang kamu juga." Satria membalas kecupan Tiara.
Beberapa jam kemudian. Kini, Tiara dan Satria telah berada di bandara. Mereka sedang mengantri untuk melakukan check in. Setelah beberapa antrian, akhirnya giliran mereka melakukan check in.
Tiara dan Satria duduk di kursi berderet, disana banyak orang yang juga sedang menunggu keberangkatan pesawat tujuan mereka. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil menghampiri tempat duduk Tiara.
"Hai, Kakak cantik," ucap gadis kecil itu, sambil tersenyum kepada Tiara.
"Hai juga, Cantik," respon Tiara.
Tiara merasa sangat gemas melihat wajah imut gadis kecil itu, ia ingin sekali mencubit pipi chubby nya. Tapi Tiara mengurungkan niatnya, ia takut dimarahi oleh orang tua gadis kecil itu.
Beberapa saat kemudian, terdengar pemberitahuan jika pesawat akan delay selama dua jam. Tiara mendengus kesal mendengar pemberitahuan tersebut, ia bingung harus berbuat apa selama dua jam di area bandara itu.
Tiara teringat gadis kecil yang lucu itu, Tiara pun izin kepada suaminya untuk menghampiri tempat duduk gadis kecil itu. Tiara duduk disamping seorang wanita paruh baya, yang ia pikir adalah ibu dari gadis kecil itu. Tiara pun membuka pembicaraan.
"Assalamu'alaikum, Bu. Saya Tiara, apakah Anda Ibu dari gadis kecil yang lucu ini?" tanya Tiara sambil menunjuk ke arah gadis kecil.
"Bukan, saya adalah Neneknya. Apakah saya masih terlihat muda?" tanya balik wanita paruh baya itu.
"Waaah, benarkah? Ibu masih terlihat bugar dan cantik. Tentu saja, saya pikir Anda adalah Ibunya," ujar Tiara.
"Terima kasih lo ... atas pujiannya, Gadis cantik." Wanita paruh baya itu, memuji Tiara.
"Eh, saya sudah tidak gadis lagi, Bu. Didalam sini ada calon bayi yang lucu." Tiara menunjuk perutnya sendiri.
"Waah ... benarkah? Selamat ya atas kehamilan kamu, apakah kamu pengantin baru?" tanya wanita paruh baya itu.
"Iya, Bu. Saya dan suami saya adalah pasangan yang belum lama menikah," jawab Tiara sambil tersenyum.
"Waah ... selamat ya. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawaddah, warrahmah, amiin ...." Wanita paruh baya itu mendo'akan keluarga kecil Tiara.
"Aamiin ... terima kasih atas do'anya, Bu." Tiara mengamini do'a yang diucapkan wanita paruh baya itu.