TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Kehilangan -



Pagi hari, semua orang sedang berkumpul dimeja makan. Mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka. Karena, dilain waktu mereka belum tentu bisa berkumpul utuh seperti saat ini.


Ditengah-tengah makan, Jihan pamit untuk masuk kedalam kamarnya. Anggota keluarga yang lain melanjutkan makan mereka. Setengah jam kemudian, Jihan tak kunjung kembali, sampai-sampai orang-orang telah pindah ke ruang tamu.


Tiara berjalan menuju ke kamar mamanya, ia sangat terkejut melihat mamanya yang sudah tergeletak dilantai kamarnya. "Mama," teriak Tiara. Teriakan Tiara terdengar sampai ruang tamu, semua orang pun menghampiri Tiara.


"Mama," Tiara menangis sambil memeluk mamanya.


"Kok mama bisa tergeletak disitu Tiara?" tanya David lalu mendekati istrinya.


Tiara mendongakkan kepalanya. "Pa, mama sudah tidak bernapas lagi," ucap Tiara berat.


"Kamu jangan bicara sembarangan, Tiara," ucap David panik. David pun mengecek pernapasan istrinya, dan memang benar apa yang dikatakan Tiara.


"Mama, kenapa mama tinggalkan kami." David menangis sambil memeluk istrinya.


Anak-anak dan cucu Jihan langsung duduk lemas dilantai, mereka tidak percaya jika Jihan akan pergi secepat ini. Dan yang paling mereka sesalkan adalah, mereka tidak bisa membersamai Jihan diakhir hayatnya.


Anak dan cucu Jihan satu persatu memeluk Jihan untuk yang terakhir kalinya, mereka benar-benar sangat kehilangan sosok Jihan. Aku, aku kehilangan sesosok ibu untuk yang kedua kalinya, batin Tiara tertunduk.


Satu jam kemudian, jasad Jihan telah selesai dibungkus dengan kain kafan. Di rumah David sudah berdatangan keluarga jauhnya, teman-teman, dan para tetangga sekitar.


Kini, jasad Jihan sedang disholatkan di ruang tamu. Setelah itu, jasad Jihan dimasukkan kedalam keranda dan dimasukkan kedalam mobil ambulan.


Setelah menempuh perjalanan, mobil ambulan dan beberapa iring-iringan mobil telah sampai disekitar tempat pemakaman umum. Keranda yang berisi jasad Jihan dikeluarkan dari mobil ambulan.


Daffa, Daffi, Denis, dan Dave membawa keranda menuju ke liang lahat yang baru selesai dibuat. Mereka meletakkan keranda secara perlahan, setelah mereka sampai disamping liang lahat.


Daffa, Daffi, dan Denis turun kebawah untuk menerima jasad Jihan yang diturunkan. Setelah semua proses dibawah selesai, ketiga laki-laki itu pun naik keatas.


Para laki-laki dikeluarga itu, secara bergantian memasukkan tanah kedalam liang lahat. Mereka berusaha menahan tangis mereka agar tidak pecah, saat mata mereka mulai berkaca-kaca, mereka pun langsung menghapus air mata yang akan keluar itu.


Setelah liang lahat sudah tertutup penuh dengan tanah, para perempuan dikeluarga itu menaruh bunga diatas makam Jihan. Setelah itu, seorang ustadz membacakan talqin untuk Jihan.


Tubuh David bergetar saat bacaan talqin dibacakan, Tiara yang duduk disamping papanya, merangkul pundak papanya. Tiara mencoba menenangkan papanya agar bisa mengendalikan kesedihannya.


Setengah jam kemudian, semua orang yang berada di makam itu telah berlalu meninggalkan tempat pemakaman umum itu, kecuali keluarga besar David dan Jihan.


Keluarga besar David dan Jihan mendo'akan Jihan lagi. Setelah selesai, beberapa orang beranjak lalu berjalan pelan menuju mobil mereka. "Pa, ayo kita pulang," ajak Tiara kepada papanya.


"Tapi, kasihan mama, mama sendiri disini," respon David.


"Kak." Tiara menoleh ke arah Davin dan Chandra.


"Pa, ayo kita pulang, besok kita kesini lagi ya jenguk mama. Mama disini ada yang nemenin kok, Pa," bujuk Davin. Davin benar-benar merasa sedih melihat kondisi papanya.


"Ra, apa mama sudah tidak sayang lagi dengan kita? Kenapa mama ninggalin kita ya?" tanya David dengan tatapan kosong.


"Pa, mama sayang sekali dengan kita. Papa ingat? Pagi tadi, saat sarapan mama pamit untuk ke kamarnya. Mungkin saja mama sudah merasakan akan diambil nyawanya, mama pasti tidak mau kita melihat proses saat mama meninggal. Walaupun sebenarnya apa yang mama pikirkan sedikit tidak benar, karena kita sebagai keluarga pasti ingin menemani disaat-saat terakhir orang yang kita sayangi," jawab Tiara.


"Iya, mama sayang sekali dengan kita. Ra, kita harus selalu mendo'akan mama ya, agar mama selalu bahagia disana," ucap David lalu menyenderkan kepalanya dibahu Tiara.


"Iya Pa, tentu saja kita akan selalu mendo'akan mama," respon Tiara.


Setelah mengucap perkataan itu, David sudah tidak bersuara lagi. Tiara meletakkan kepala David perlahan keatas kasur. Tiara memandangi wajah papanya yang nampak sangat lesu.


"Aku pergi ke dapur sebentar, aku haus sekali," gumam Tiara. Tiara secara perlahan membuka pintu, ia tidak ingin pergerakannya membangunkan tidur papanya.


Sesampainya di dapur, ia melihat Salsa yang sedang tertunduk sambil menangis. Tiara langsung memeluk Salsa, Salsa yang dipeluk langsung mendongakkan kepalanya.


"Kakak, bagaimana keadaan papa sekarang?" tanya Salsa sambil menitihkan air matanya.


"Papa sedang tidur," jawab Tiara.


"Kak, aku menyesal ikut suami tinggal di Amerika. Karep hal itu, aku jarang bertemu dengan mama dan papa. Kenapa sekalinya bertemu, mama sudah pergi?" ucap Salsa sambil terisak.


"Kamu jangan menyalahkan diri sendiri, karena setiap musibah terkadang ada juga hal baik didalamnya. Kamu juga seharusnya bersyukur, karena kamu bisa bertemu dengan mama sebelum akhir hayatnya. Kelahiran dan kematian sudah tertulis, Sa." Tiara mencoba menenangkan Salsa yang sedang menyalahkan dirinya sendiri.


"Kak, aku sekarang akan menggantikan kakak untuk menjaga papa. Apakah boleh, Kak?" tanya Salsa kepada Tiara.


"Tentu saja boleh, Sa," jawab Tiara.


Salsa berjalan menuju kamar papanya. Sementara Tiara, ia mengambil gelas dan mengisinya dengan air dari dispenser. Setelah itu, Tiara mencuci wajahnya, wajahnya sudah terasa lengket karena air mata yang keluar dari kedua matanya.


Setelah suasana hati Tiara tenang, ia berjalan menuju ke ruang tamu. Ia menggantikan kakaknya untuk menemui para pelayat yang masih berdatangan.


Malam hari pukul tujuh, kini semua orang sedang membacakan surat yassin bersama-sama. Mereka juga membaca tahlil bersama-sama, David juga ikut disana, suasana hati David sudah lebih membaik dari pada tadi pagi.


Satu jam kemudian, para tetangga yang ikut membaca yassin dan tahlil sudah mulai pulang. Dirumah David, hanya ada keluarga besarnya. Mereka mulai membubarkan diri mereka, mereka sangat lelah saat itu karena terus mengeluarkan air mata mereka.


Kini, Tiara sedang duduk diatas ranjangnya sambil menyenderkan kepalanya dibahu suaminya. "Mas, mama pasti mendapat tempat terbaik ya disana," ucap Tiara.


"Iya, mama itu kan orang baik dan taat dalam beragama," respon Satria.


"Besok kita ke makam mama lagi ya, Mas," ucap Tiara lagi.


"Iya Sayang, besok kita ke makam mama lagi," respon Satria sambil mengusap puncak kepala Tiara.