
Mobil Papa David telah melaju selama dua jam. Kini, mereka telah sampai di halaman rumah mereka. Mama Jihan mengajak Tiara untuk masuk ke dalam rumah.
Tiara hanya menurut saja pada ajakan mamanya. Sebelum masuk, Tiara melihat keadaan sekitar halaman rumahnya. Tiara kagum melihat rumah besar di depan matanya.
Kini, Tiara telah berada didalam ruang tamu. Tiba-tiba, ada beberapa orang di ruang tamu yang bersorak menyambut kedatangan mereka.
"Kejutan ...!" sorak beberapa orang itu, bersamaan.
"Selamat datang, Tiara," ucap mereka bersamaan.
Orang-orang itu adalah Davin, Erina, Chika, Reno, dan Gladys. Tiara tak berkata, dia hanya mengulas senyum dibibirnya. Tiara tak mengenali satupun dari mereka.
"Tiara, kamu duduk dulu disitu ya," kata Mama Jihan.
"Iya, Ma," jawab Tiara.
Mama Jihan mengajak Davin dan istrinya, serta teman-teman dari Tiara, untuk berkumpul di dapur. Disana, Mama Jihan menceritakan keadaan Tiara saat ini, hal itu tentu saja membuat terkejut semua orang yang berada di dapur.
"Hah, Tiara hilang ingatan?" tanya mereka bersamaan.
"Iya, awalnya mama juga terkejut. Tapi, asalkan Tiara masih berada disini, itu sudah lebih dari cukup," ucap Mama Jihan dengan lesu.
"Sabar ya, Ma," ucap Davin sambil memeluk mamanya. Erina pun juga ikut memeluk ibu mertuanya.
Setelah beberapa saat, mereka kembali ke ruang tamu. Mereka memperkenalkan diri mereka secara bergantian kepada Tiara. Tiara hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Oh iya, Tiara. Reno dan Gladys baru saja menikah lo, sekitar satu minggu yang lalu," ucap Chika pada Tiara.
"Benarkah? Waah ... selamat ya buat kalian, tapi aku nggak punya kado buat pernikahan kalian," ucap Tiara dengan murung.
"Kado pernikahan kami adalah kembalinya kamu, Ra. Kami sudah bahagia dengan hal itu." Reno menatap Tiara dengan sendu, ia memaksakan senyum dibibirnya.
"Iya, alhamdulillah ya aku sudah kembali," ucap Tiara dengan senyum manisnya.
Tiga jam kemudian. Reno, Gladys, dan Chika telah pamit untuk pulang ke Yogyakarta. Sebenarnya, mereka masih ingin berlama-lama dengan Tiara. Namun, tiba-tiba saja ada hal mendesak pada keluarga mereka.
Kini, Tiara sedang berada dikamarnya bersama dengan Salsa. Salsa sangat bahagia, karena Tiara masih hidup. Ia mengingat, bagaimana keluarganya sangat terpuruk disaat yang lalu.
"Kakak, kamu mau tidur di ranjang yang mana?" tanya Salsa.
"Aku ... dimana saja, yang penting bisa buat tidur," jawab Tiara dengan seulas senyumnya.
"Bantu aku buka kado-kado ini ya," pinta Tiara.
"Oke, Kak," respon Salsa.
Mereka pun bersama-sama membuka kado, pemberian keluarga Tiara dan juga teman-teman Tiara. Karena lelah, Tiara tertidur tak jauh dari tempat duduknya di tepi ranjang.
Salsa yang melihat Tiara tertidur, mengambil sebuah selimut, dan menyelimutkan ketubuh Tiara. Salsa mengecup kening kakaknya, lalu pergi keluar dari kamarnya. Ia ingin mengambil minuman di dapur.
...***...
Keesokan harinya. Papa David menghampiri Tiara dan Salsa yang sedang berada di teras rumah. Pada David membawa sebuah kantong. Kemudian, memberikannya kepada Tiara.
"Apa ini, Pa?" tanya Tiara pada Papanya.
"Buka aja!" suruh Papa David.
Tiara pun membuka isi kantong tersebut, didalamnya terdapat sebuah kotak kecil bergambar ponsel. Lalu, Tiara membukanya. Tiara langsung mengucapkan terima kasih kepada papanya.
"Oh iya, tadi ada nomor baru diponsel papa, katanya sih Satria," kata Papa David.
"Oh ya? Nanti Tiara minta nomornya ya, Pa. Kalau ponselnya sudah diisi kartu," ucap Tiara antusias.
"Oke, Ra." Papa David masuk kedalam rumah, karena ada keperluan.
"Satria siapa, Kak?" tanya Salsa penasaran.
"Dia itu, orang yang nyelamatin aku di tepi sungai. Kamu tahu nggak? Kata Bang Satria, aku terkubur ditumpukan sampah saat itu. Dan Bang Satria awalnya mengira kalau aku korban mutilasi, karena hanya tanganku saja yang terlihat." Tiara menceritakan keadaannya saat ditemukan oleh Satria.
"Kakak ...." Salsa langsung memeluk erat Tiara, setelah mendengar cerita darinya.
"Eh, maaf-maaf, Kak. Aku nggak mau kehilangan kakak lagi," kata Salsa sambil meneteskan air matanya. Mendengar perkataan dari Salsa, Tiara balik memeluk Salsa.
Dua jam kemudian. Kini, Tiara sedang berada di kamarnya. Tiara baru saja mengisi kartu diponselnya. Tiara segera menyimpan nomor Satria, yang tadi ia minta dari papanya. Tiara pun segera menelepon nomor ponsel milik Satria.
Tiara :"Hallo, assalamu'alaikum,"
Satria :"Wa'alaikum salam, ini Tiara kah?"
Tiara :"Iya, kok tahu? Kan ini nomor baru aku?"
Satria :"Aku hafal sama suara kamu,"
Tiara :"Ah, bisa aja Bang Satria ini. Oh iya, aku sudah sampai di rumah orang tuaku. Bang Satria sedang di rumah kakek abang, ya?"
Satria :"Iya, Tiara,"
Tiara :"Tina, dimana?"
Satria :"Tina sedang berada di kamarnya, Ra. Eh, udah dulu ya, nanti lagi. Wassalamu'alaikum,"
Tiara :"Wa'alaikum salam."
Tiara menyimpan ponselnya, ia berjalan keluar dari kamarnya. Ia ingin menemui mamanya, ia ingin menanyakan banyak hal tentang dirinya sendiri.
Sesampainya dikamar mamanya, Tiara diberitahu oleh mamanya, jika dia adalah lulusan sarjana kedokteran gigi. Namun, Tiara sama sekali tak mengingat ilmu tentang kedokteran gigi.
"Ternyata, aku pintar ya, Ma," ucap Tiara saat melihat ijazah kedokteran giginya.
"Tentu saja, anak mama gitu," respon Mama Jihan dengan bangga.
Kemudian, mereka melihat satu album foto yang besar. Disana terdapat foto-foto keluarga Tiara dalam berbagai acara. Dalam setiap foto, terlihat keceriaan yang sangat besar.
...***...
Satu tahun kemudian. Kini, ingatan Tiara telah kembali, dan Tiara tetap mengingat banyak hal tentang Satria. Lambat laun, Tiara semakin yakin jika dirinya mahir bela diri. Papa David pun mendirikan sebuah sanggar pelatihan bela diri, tempat yang dikhususkan untuk Tiara melatih anak didiknya.
Kini, Tiara sedang aktif dengan sanggar pelatihan bela diri. Terkadang ia juga berkunjung ke tempat anak-anak panti. Anak-anak disana sangat gembira saat Tiara mengunjungi mereka.
Satu minggu kemudian. Satria, adik, dan kakeknya berkunjung ke kediaman Tiara. Satria membawa beberapa bingkisan untuk diberikan kepada keluarga Tiara.
"Aduh, Nak Satria ini, repot-repot bawa bingkisan segala," kata Mama Jihan sambil melihat beberapa bingkisan di atas meja.
"Tidak, ini hanya sedikit oleh-oleh dari Bogor," respon Satria.
"Kabar ibu sekeluarga baik, 'kan?" tanya kakeknya Satria pada Mama Jihan.
"Alhamdulillah baik, Pak. Saya minta maaf, karena suami saya tidak dapat menyambut kedatangan Bapak sekeluarga. Karena, suami saya sedang pergi bekerja." Mama Jihan teringat akan Papa David yang sedang tidak ada di rumah.
"Ah, tidak apa-apa, Bu. Kami hanya ingin menyambung tali silaturahmi." Kakeknya Satria tersenyum kepada Mama Jihan.
"Iya, Pak. Silahkan diminum dan dimakan dulu hidangan sederhana dari kami," ucap Mama Jihan.
"Baik, terima kasih," ucap Satria, Tina, dan kakek mereka bersamaan.
Suasana kembali hening. Satria tampak sesekali melirik ke arah Tiara, Mama Jihan yang menyadari akan hal itu, langsung menanyakannya kepada Satria.
"Nak Satria ... apakah ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?" tanya Mama Jihan dengan penasaran.
"Begini tante ... sebenarnya, saya dan keluarga saya kemari karena ingin melamar Tiara untuk diri saya sendiri. Walaupun saat ini, kami belum membawa seserahan, tapi saya ingin memastikan langsung apakah Tiara juga menyukai saya," ucap Satria dengan yakin.
"Beberapa waktu lalu, saya sudah mengungkapkan perasaan saya kepada Tiara melalui panggilan telepon," imbuh Satria.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Mama Jihan pada Tiara.
"Tiara mau menerima lamaran Bang Satria," ucap Tiara tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah," ucap semua orang yang berada di ruangan itu.