TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Wisuda -



Satu tahun kemudian, hari ini adalah hari pelaksanaan wisuda untuk Daffa dan Daffi, dan kebetulan akan dilaksanakan dihari yang sama, tapi pada jam yang berbeda.


Wisuda Daffa akan dilaksanakan dari jam enam pagi, sedangkan wisuda Daffi akan dimulai pukul dua siang. Tiara dan keluarga besarnya benar-benar harus mempunyai tenaga ekstra, karena harus melewati hari panjang di acara dua wisuda.


Karena acara Daffa lebih dulu, keluarga besar Tiara pun menghadiri acara wisuda Daffa. Daffa duduk dibarisan wisudawan, sedangkan keluarga besarnya duduk dibarisan keluarga. Tampak keluarga dari Tiara memenuhi barisan keluarga, Tiara memang memesan banyak kursi untuk keluarganya.


"Akhirnya, saudara kembar gue wisuda," ucap Daffi.


"Lo kan juga bakal wisuda nanti," respon Denis, Denis adalah anak Davin dan Erina.


"Iya nih Kak Daffi nggak jelas," ledek Cinta, ia adalah anak Chandra dan istrinya.


"Sudah, fokus lagi dan jangan berisik!" perintah Daffi.


Padahal Kak Daffi duluan yang ngajak bicara, dasar aneh! gumam Cinta, gumaman Cinta masih terdengar oleh Daffi.


"Apa kamu bilang?" selidik Daffi.


"Nggak ada apa-apa kok, Kak Daffi yang ganteng," ucap Cinta memaksakan senyum diwajahnya.


Daffi tak merespon perkataan Cinta kembali, ia kembali fokus mendengarkan pembawa acara berbicara. Beberapa menit berlalu, kini adalah acara inti dari kegiatan itu, para wisudawan satu persatu naik ke podium.


Daffa mendapat panggilan nomor sepuluh, ketika nama Daffa dipanggil, ia pun naik ke podium. "Gantengnya kakak sepupuku ini," ucap Cinta sambil tersenyum manis.


"Kau ini plin-plan, katanya tadi aku yang tampan, kok sekarang jadi dia." Daffi mengernyitkan dahinya tanda kurang suka.


"Sudah-sudah nggak usah ribut! Yang paling tampan tentu saja aku, karena aku sudah bekerja. Apalah arti tampan kalau nggak punya uang," ucap Denis membanggakan dirinya.


"Oh iya Cin, kita ini kan punya kakak yang tampan dan berduit, gimana kalau nanti malam minta Kak Denis traktir kita." Daffi menaik-turunkan alisnya.


"Wih, ide bagus itu. Aku mah paling depan kalau masalah traktiran alias gratisan," ucap Cinta menahan tawa, ia tidak mau disuruh keluar dari gedung karena membuat keributan.


"Nyesel aku ngomong tadi, rugi aku." Denis menepuk jidatnya sendiri.


"Sabar Kak, ini ujian." Cinta menepuk bahu Denis yang duduk disebelah kanannya.


"Hmm," gumam Denis lesu.


Beberapa jam kemudian, acara wisuda Daffa telah selesai pada pukul sebelas siang. Tiara dan keluarga besarnya pun berfoto bersama. Diantara keluarga inti Tiara, ada juga keluarga mertua Davin dan Chandra.


*


*


*


Malam hari pukul delapan, dimalam itu Daffi dan Cinta menagih Denis untuk mentraktir mereka, Daffa pun ikut dalam acara traktiran itu. Acara itu hanya diperuntukkan untuk kaum muda saja, para orang tua sudah lelah dengan kegiatan wisuda siang tadi.


"Mau traktir dimana ini?" tanya Daffa.


"Di cafe X saja, lumayan itu tempatnya," jawab Daffi.


"Cafe X ya? Bentar ..." Denis berpikir sejenak, apakah uangnya cukup jika mentraktir di cafe X.


"Ya lah nggak apa-apa ke sana, tapi kalian jangan pesen banyak-banyak loh ... nanti kalau uangku nggak cukup gimana?" Wajah Denis memelas.


"Gampang, nanti kita cuci piring saja disana kalau uangnya kurang," ucap Cinta.


"Iya-ya-ya, aku kita berangkat! Keburu laper ini." Daffi memegang perutnya yang kosong.


Keempat orang itu pun masuk ke mobil milik Denis, saat itu Daffa yang mengemudikan mobil. Keempatnya larut dalam lagi yang diputar didalam mobil itu, mereka sangat menikmati saat-saat berkumpul dengan saudara.


"Cinta," ucap seorang laki-laki dengan ekspresi tidak percaya, melihat Cinta bersama tiga orang laki-laki sekaligus.


"Jadi ini alasan kamu nolak cintaku?" tanya laki-laki itu sambil memicingkan matanya.


"Iya, Cinta sudah punya tiga cowok tampan, sudah pergi sana! Hus ... hus," ucap Daffa sambil merangkul bahu Cinta.


"Cewek murahan!" caci laki-laki itu.


Plaakk!


Sebuah tamparan mendarat sempurna dipipi kanan laki-laki itu, dan yang menampar adalah Denis. Denis geram ada yang terang-terangan menghina saudari sepupunya itu.


Plaakk!


Tamparan kedua jatuh dipipi kiri laki-laki itu, kali ini Daffi yang melayangkan tamparan itu. "Bonus!" ucap Daffi sambil melotot.


"Kalian semua gila!" caci laki-laki itu sambil lari meninggalkan tempat itu.


"Hey, berani-beraninya kabur, sini woy!" teriak Daffa. Daffa ingin mengejar, tapi ditahan oleh Cinta.


"Sudah Kak, ayo kita masuk," ajak Cinta.


"Hmm, lain kali kalau ketemu lagi gue hajar dia!" kesal Daffa.


Keempat orang itu pun masuk kedalam cafe X. Mereka memilih sebuah meja paling ujung, disana terdapat pemandangan kolam yang dihiasi lampu warna-warni ditepi kolamnya.


Keempat orang itu pun memesan makanan, Daffi benar-benar sudah tidak sabar untuk makan, perutnya sudah minta diisi sedari tadi. "Duh, kok lama ya?" protes Daffi.


"Sabar Kak, orang sabar disayang Tuhan," ucap Cinta mencoba menenangkan Daffi yang sudah seperti cacing kepanasan, Daffi benar-benar tidak bisa diam.


"Duh, aku sudah laper banget nih," ribut Daffi.


"Tuh minum air kolam dulu, biar bisa ganjel perut Lo," ucap Daffa lalu tertawa.


"Kurang ajar Lo, Fa, lo kira gue ikan? Wh, itu ada ikannya nggak ya didalam kolam?" tanya Daffi penasaran.


"Penasaran? Kenapa nggak cari tahu langsung aja? Lo nyebur kesitu, nanti tahu deh ada ikan atau enggak," jawab Daffa.


Tiba-tiba, pesanan yang mereka tunggu telah tiba. "Alhamdulillah, akhirnya aku bisa makan setelah satu tahun puasa," oceh Daffi karena terlalu lapar.


"Lebay banget deh Kak Daffi," ucap Cinta.


Daffi tak merespon perkataan Cinta, ia kini sedang menikmati sepiring makanan didepannya itu. "Kak Daffi ini seperti sudah lama nggak makan saja," gumam Cinta.


Satu jam kemudian, keempat orang itu sudah menghabiskan apa yang mereka pesan. Saat ini adalah sesi bayar-membayar, Denis menghitung uang dari dalam dompetnya. "Duh, masih kurang sepuluh ribu, kalian bayarin dong sepuluh ribunya," ucap Denis menatap ketiga sepupunya.


"Oke, gue anggap ini hutang ya," ucap Daffa sambil memberikan uang sepuluh ribu kepada Denis.


"Astaga, sepuluh ribu doang minta dikembaliin," protes Denis. Denis pun memberikan uang sepuluh ribu ke bagian kasir.


"Biarin," respon Daffa.


Kini, keempat orang itu berjalan keluar dari cafe X. Mereka masuk kedalam mobil Denis, kini Daffi yang mengendarai mobil itu. "Siap semua?" tanya Daffi.


"Siap," jawab ketiga saudara Daffi.


"Let's go!" Daffi mulai menjalankan mobil milik Denis itu.