TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Jeritan



Sore hari. Tiara dan Tina sedang berada di depan rumah, bermain ayunan. Satria secara khusus membuatkan ayunan untuk adiknya, supaya adiknya ada hiburan di rumah hutan mereka.


Satria sebenarnya merasa kasihan pada adiknya, karena dia tidak bisa hidup layaknya orang lain. Satria sebenarnya ingin sekali tinggal diluar hutan, tapi dia masih takut jika orang-orang yang membunuh kedua orang tuanya, akan membunuh dia dan adiknya juga. Karena ia merasa, jika ilmu bela dirinya belum terlalu hebat. Dia takut, jika kekalahannya akan membunuh adiknya.


"Tiara ... Tina, sudah mau maghrib, ayo ambil wudhu dan kita sholat magrib bersama," ajak Satria.


"Baik," jawab Tiara dan Tina bersamaan.


Setelah ketiganya mengambil air wudhu, ketiganya mempersiapkan diri untuk menunaikan ibadah sholat maghrib. Tiara memakai mukena yang dibelikan oleh Satria, Tiara merasa senang memakainya.


"Sudah siap semuanya?" tanya Satria sambil melihat shaf makmum sholatnya.


"Siap," jawab Tiara dan Tina bersamaan.


Satria memulai sholatnya, ia melantunkan bacaan sholat dengan suara yang indah. Tiara sempat terlena dengan suara indah Satria, namun ia segera beristigfar dan kembali khusyuk dalam sholatnya.


Setelah beberapa saat, ketiga orang itu telah selesai menunaikan ibadah sholat maghrib. Ketiganya berdo'a dalam hati, melambungkan do'a mereka masing-masing.


Ya Allah, semoga suatu saat nanti, Bang Satria dan Tina dapat hidup diluar hutan dengan tenang, do'a Tiara dalam hati.


Ya Allah, semoga hamba selalu dapat melindungi adik hamba, hamba juga memohon perlindungan dari-Mu ya Rabb, do'a Satria dalam hati.


Ya Allah, semoga kelak kakak hamba dipertemukan dengan jodoh yang baik, yang selalu menyayanginya, dan semoga mereka bisa berjalan bersama menuju surga-Mu, do'a Tina dalam hati.


Setelah beberapa saat, ketiga orang itu telah selesai dengan do'a mereka masing-masing. Mereka menyimpan alat sholat mereka. Kini, mereka menyiapkan makanan untuk makan malam mereka. Makanan yang sudah sejak sore mereka masak.


"Alhamdulillah, tangkapan ikan kali ini banyak. Tadi siang, aku juga sudah meng-asap banyak ikan untuk dijual besok di pasar," ucap Satria sambil mengambil beberapa centong nasi.


"Besok mau ke pasar? Aku ikut ya, Bang," pinta Tiara.


"Boleh, kamu ikut juga ya, Tina. Kamu kan sudah lama tidak keluar hutan." Satria ingin menyenangkan adiknya diluar sana.


"Baik, Kak. Aku ikut," ucap Tina.


Waktu menunjukkan jika sudah saatnya sholat isya', mereka pun mengambil air wudhu bersama-sama dan menunaikan ibadah sholat isya' berjamaah.


Setelah selesai sholat, mereka berbincang-bincang di ruang tengah. Dan dua jam kemudian, mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.


Tiara dan Tina sudah bersiap untuk tidur. Setelah beberapa percakapan, kini mereka benar-benar sudah terlelap dalam tidur mereka, memimpikan mimpi mereka masing-masing.


Pada pukul sebelas malam, tiba-tiba Tiara terbangun. Ia merasa ingin buang air kecil, ia ingin membangunkan Tina untuk mengantarnya ke samping rumah. Tapi, ia melihat ke arah Tina yang sedang tertidur pulas, ia pun mengurungkan niatnya.


Tiara pun berjalan sambil membawa sebuah petromax keluar rumah, perlahan ia menuruni anak tangga. Sebenarnya, Tiara sedikit bergidik melihat suasana tengah hutan dimalam hari.


Tiara masuk ke sebuah bilik kamar kecil, yang ditutupi kayu. Setelah buang air kecil, Tiara keluar dari bilik itu. Tiba-tiba, Tiara terkejut melihat kuntilanak yang sedang duduk disebuah pohon besar yang tak jauh dari rumah Satria.


"Aaaaaaaa," jerit Tiara. Setelah menjerit, Tiara pun jatuh tak sadarkan diri.


Satria turun dari rumah panggungnya, ia segera menggendong Tiara masuk kedalam rumahnya. Satria membawa Tiara ke kamar Tina. Ia merasa heran, kenapa Tiara bisa berada diluar rumah dengan keadaan tak sadarkan diri.


Satria membuang pertanyaan dalam pikirannya, ia akan menanyakannya besok pagi jika Tiara telah bangun. Satria pun menutup pintu rumahnya yang tadi belum ia tutup, kemudian ia kembali ke kamarnya untuk tidur.


...***...


Pukul lima pagi. Tiara terbangun dari tidurnya, ia melihat sekeliling. Ia heran, kenapa dia bisa berada di kamar Tina? Seingatnya, dia sedang berada diluar rumah. Mengingat hal itu, Tiara ketakutan mengingat kuntilanak yang ia lihat semalam.


"Sudah bangun, Bunga," ucap Tina di depan pintu kamarnya.


"Sudah, Tina," respon Tiara.


"Kamu kenapa? Kok pucat gitu?" Tina mendekati Tiara.


"Tadi malam, a-ku ... melihat kuntilanak," jawab Tiara ragu.


"Hah! Yang bener kamu? Kamu lihat dimana?" Tina terkejut mendengar penuturan dari Tiara.


"Itu, tadi malam jam sebelas aku kebelet buang air kecil. Aku mau bangunin kamu, tapi kamu nyenyak banget tidurnya. Jadi, aku memberanikan diri keluar rumah, dan buang air kecil di samping rumah sendirian," ucap Tiara. Tiara menghela napas sebentar, lalu melanjutkan kata-katanya.


"Setelah buang air kecil, aku berjalan hendak naik tangga. Dan saat itu, pandanganku berada pada pohon besar yang tak jauh dari rumah. Di atas pohon itu, ada kuntilanak yang sedang duduk sambil mengayunkan bagian bawah kain putihnya. Setelah itu, aku menjerit dan nggak tahu apa yang terjadi selanjutnya," imbuh Tiara.


"Kamu digendong sama Kak Satria," ucap Tina.


"Hah, benarkah? Duh, aku berat nggak ya?" Tiara khawatir jika badannya terlalu berat.


"Kayaknya sih berat, Kak Satria sampai ngos-ngosan setelah gendong kamu." Tina sengaja membuat Tiara panik, dengan membohonginya.


"Duh, aku harus minta maaf ini ke Bang Satria." Tiara menjadi panik, mendengar ucapan dari Tina. Tina menahan tawa melihat kepanikan Tiara.


"Eh iya. Kamu ini, besok lagi bangunin aku ya, kalau mau keluar rumah malam-malam! Nanti aku bangunin Kak Satria, buat nemenin kita. He-he-he," ucap Tina sambil tertawa kecil.


"Jangan bilang kamu juga takut, kalau buang air kecil sendirian malam-malam!" ucap Tiara penuh selidik.


"Ya gitu deh, aku juga takut kalau sendirian keluar rumah. Aku selalu bangunin Kak Satria, kalau aku ada keperluan malam-malam diluar rumah," kata Tina masih dengan tawa kecilnya.


"Yah ... sama dong, kita." Tiara merasa tidak sendirian menjadi seorang penakut.


"Iya, sama. Ha-ha-ha," jawab Tina sambil tertawa.


"Yaudah yuk, kita sholat shubuh berjamaah. Lalu kita siap-siap, kan mau ke pasar," ajak Tina pada Tiara.


"Oh, iya. Aku lupa." Tiara menepuk jidatnya sendiri.


Tiara dan Tina berjalan keluar rumah bersama. Di teras rumah, sudah ada Satria yang menunggu kedatangan dua gadis itu. Kemudian, mereka mengambil air wudhu secara bergantian. Setelah itu, mereka melaksanakan ibadah sholat shubuh berjamaah.