TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Mencoba motor baru



Malam hari, jam delapan. Tiara dan Salsa sedang berada di kamar tidur, mereka sedang melihat laptop bersama. Tiara dan Salsa sedang mencari kekurangan dan keunggulan dari motor matic baru yang tadi sore dibelikan oleh Papa David.


"Keren motornya Kak, tapi nggak ada tempat buat ngecharge ponsel ya." Salsa membaca tulisan yang tertera dilayar laptop.


"Iya, nggak apa-apa lah Sa. Yaudah kita tidur yuk, besok pagi kan kita mau keliling pakai motor baru." Tiara menaik-turunkan alisnya.


"Oh, iya. Siap Kak, ayo kita tidur." Salsa menuju ke ranjangnya dan merebahkan badannya. Tiara juga pergi ke ranjangnya, lalu perlahan mulai tertidur


Keesokan harinya, Tiara dan Salsa telah selesai mandi pagi. Mereka sarapan terlebih dahulu, sebelum mencoba motor baru untuk berkeliling.


Setelah selesai sarapan, mereka bersiap dan membawa helm ditangan mereka. Saat akan keluar rumah, tiba-tiba ada Chandra yang menghalangi jalan mereka. Tiara dan Salsa langsung menghentikan langkah kaki mereka.


"Ada apa sih, Kak!" ucap Salsa sambil cemberut.


"Ini lho ... tadi kan Mama udah nyuruh kalian, buat bawa kotak berisi makanan ini, untuk dibagikan keseseorang yang ada di jalan yang kalian lalui." Chandra membawa sebuah kotak yang agak besar, ia lalu meletakkan kotak itu di bagian motor paling depan.


"Dah, sana berangkat. Hati-hati ya dijalan!" ucap Chandra lalu pergi meninggalkan Tiara dan Salsa, Chandra masuk kembali kedalam rumah.


"Oke Kak," jawab Tiara dan Salsa bersamaan.


Tiara dan Salsa memakai helm mereka. Salsa yang mengendarai motor itu, sedangkan Tiara duduk dibelakang Salsa. Salsa sudah lama bisa mengendarai sepeda motor, dia belajar motor ketika duduk dibangku kelas satu SMA.


Sebenarnya, Salsa ingin belajar mengendarai sepeda motor sejak ia duduk dikelas satu SMP. Namun, Mama Jihan tidak memperbolehkan. Mama Jihan takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, karena usia Salsa belum cukup untuk mengendarai sepeda motor.


...***...


Tiara dan Salsa berkeliling di daerah yang tak terlalu jauh dari rumah mereka. Salsa menghentikan laju motornya, ketika ia melihat beberapa pengamen jalanan.


Tiara turun dari motor, dan memberikan beberapa makanan untuk pengamen jalanan. Setelah itu Tiara menuju kemotornya, dan Salsa menjalankan motor itu kembali.


Karena makanan didalam kotak masih lumayan banyak, Tiara dan Salsa melanjutkan berkeliling. Lima menit kemudian, Tiara dan Salsa melihat sekumpulan anak-anak yang memakai baju usang.


Salsa melajukan motor kearah sekumpulan anak-anak itu. Sesampainya disana, Tiara dan Salsa turun dari motor. Tiara dan Salsa membagikan semua makanan pada anak-anak disana.


Jumlah anak yang berada disana, cukup banyak. Dibelakang anak-anak itu, ada sebuah rumah yang terbuat dari kayu. Tiara dan Salsa, mengamati rumah yang berada dihadapan mereka.


"Waaah ... terima kasih Kakak-kakak cantik, makanan ini pasti enak! Lumayan buat jatah makan siang," kata seorang gadis kecil yang mungkin berumur tujuh tahun.


"Sama-sama Sayang," respon Tiara dan Salsa bersamaan.


"Oh iya, orang tua kalian dimana?" tanya Tiara kepada anak-anak itu.


"Kami tidak tahu Kak, dulu kami tinggal di panti asuhan. Namun, setelah ibu panti meninggal ... ada beberapa orang mengusir kami semua dari panti itu," jawab seorang anak yang mungkin berusia sepuluh tahun.


" Kalian bicara sama siapa?" tanya seseorang dari dalam rumah.


Kemudian, ada seorang perempuan yang keluar dari rumah itu. Perempuan itu memakai kaos oblong dan celana selutut, celana dan kaos yang perempuan kenakan itu, terlihat sudah tak layak pakai dengan beberapa tambalan.


" Kakak-kakak cantik ini, siapa ya?" tanya perempuan itu.


"Namaku Tiara, dan ini Adikku ... namanya Salsa." Tiara memperkenalkan dirinya juga memperkenalkan Salsa kepada perempuan itu. Tiara dan Salsa tersenyum kepada perempuan itu.


"Kalau kamu, namanya siapa?" tanya Salsa.


"Namaku Mutiara," jawab perempuan itu.


"Waah ... nama yang cantik, secantik orangnya." Salsa mengedipkan salah satu matanya.


"Kakak ini bisa saja." Mutiara terlihat tersenyum dengan sedikit malu.


" Siapa Ra, yang ada diluar?" tanya seseorang didalam rumah, suara kali ini terdengar seperti suara seorang laki-laki.


Dan benar saja, seorang laki-laki keluar dari rumah itu. Laki-laki itu terlihat lebih tua dari Mutiara, namun wajah laki-laki itu sangat tampan, walaupun pakaian yang ia kenakan lusuh.


"Ini Kak ... ada Kakak-kakak cantik yang bagi makanan pada anak-anak," jawab Mutiara.


"Oh iya Kak Tiara ... Kak Mutiara ... ini Kakak kandungku, namanya Pandu." Mutiara memperkenalkan laki-laki itu, yang ternyata adalah kakak kandungnya.


" Tiara ... Salsa ...," ucap Tiara dan Salsa bersamaan, memperkenalkan nama mereka masing-masing, sambil menelungkupkan kedua tangan mereka.


" Terima kasih atas kebaikan kalian, semoga ... Allah membalasnya dengan berlipat ganda," ucap Pandu sambil tersenyum.


" Aamiin ...." semua orang yang berada ditempat itu, mengaminkan do'a Pandu.


Tiara, Salsa, Mutiara, dan Pandu berbincang tentang banyak hal. Pandu menceritakan, bahwa dirinya, adiknya dan semua anak-anak kecil itu berasal dari tempat yang sama, yaitu panti asuhan.


FLASHBACK ON


Dahulu, di panti asuhan itu terdapat seorang ibu panti yang mengasuh semua anak-anak panti. Usia anak-anak itu bervariasi, dari usia lima tahun sampai usia lima belas tahun. Namun ada seorang yang paling tua diantara mereka, yaitu seorang laki-laki berusia dua puluh tahun.


Anak-anak yang masih kecil, hanya bermain permainan seadanya didalam panti. Sedangkan anak yang berumur dua belas tahun keatas, pergi keluar rumah untuk bekerja.


Pekerjaan yang dilakukan, seperti mencari barang bekas, ataupun mengamen. Sedangkan pekerjaan yang dilakukan anak berumur tujuh belas tahun keatas, kebanyakan adalah menjadi kuli panggul di pasar.


Ibu panti merasa sedih, melihat anak-anak yang dia asuh harus keluar rumah untuk bekerja. Tapi, pekerjaan yang ibu panti lakukan dengan menjadi buruh cuci, tak cukup untuk memberi makan semua anak-anak asuhnya.


Pada awalnya, ibu panti hanyalah seorang wanita biasa, yang tak berniat mendirikan sebuah panti asuhan. Ibu panti adalah seorang wanita mandul, dan hal itulah yang membuat dirinya bersedia merawat bayi yang ditinggalkan di depan rumahnya.


Dan entah siapa yang menyebarkan kabar, jika ibu panti tersebut bersedia merawat bayi-bayi yang tak diinginkan dan akan menjadikan rumahnya sebagai panti asuhan.


Hal tak terduga terjadi, dalam satu tahun sekali ada saja seseorang yang meletakkan seorang bayi ataupun seorang balita di depan rumah ibu panti tersebut. Sebenarnya, ibu panti tidak sanggup jika harus merawat banyak anak.


Tapi, dari pihak kelurahan mulai membantu dalam bentuk uang, dan sembako setiap bulannya. Dulu ada juga seorang dermawan, yang memberi donasi untuk kebutuhan anak-anak panti asuhan.


Namun, hal tak terduga terjadi. Ibu panti dan seorang dermawan itu meninggal bersama karena sebuah kecelakaan, pada saat itu mereka sedang melakukan perjalanan menuju swalayan. Mereka menggunakan satu mobil yang sama, yaitu mobil milik seorang dermawan itu. Rencananya, mereka akan pergi ke swalayan untuk membeli kebutuhan anak-anak di panti. Namun, takdir berkata lain.


Setelah kematian ibu panti, ada beberapa preman yang memaksa semua anak untuk pergi dari panti asuhan itu. Para anak kecil menangis, sementara anak yang lebih tua berusaha tegar. Setelah diusir, mereka semua tidur dibawah kolong jembatan.


Baru setelah anak yang berumur tua bekerja, anak itu bisa menyewa sebuah rumah kayu untuk ditinggali semua anak panti. Walaupun sebuah rumah kayu yang sederhana, namun terdapat banyak canda tawa disana.


FLASHBACK OFF


Pandu menceritakan masa lalu dirinya dan anak-anak yang lain, ketika masih bersama ibu panti. Pandu sudah menganggap semua anak kecil itu seperti adik kandungnya sendiri, tak ada perbedaan perlakuan antara Mutiara dan anak-anak yang lain.


Semua orang yang berada di tempat itu, meneteskan air mata mereka ketika mendengar cerita dari Pandu. Pandu pun tak bisa menahan air matanya, ketika teringat kehidupannya dimasa lalu.


"Kalian semua hebat!" ucap Salsa.


"Iya, kalian semua hebat! Mutiara ... dikemudian hari, aku dan Salsa akan sesekali kemari, apakah boleh?" tanya Tiara kepada Mutiara.


"Boleh! Boleh Kak. Mutiara malah senang sekali, jika bisa bertemu dengan Kakak-kakak lagi," jawab Mutiara sambil merekahkan senyumnya.


"Yaudah ... Mutiara ... Kak Pandu ... Adik-adik, kita pamit dulu ya. Kakak ada urusan yang perlu diselesaikan," ucap Tiara. Tiara teringat, jika dia berjanji untuk membantu Mama Jihan membuat kue dirumah.


"Iya, terima kasih ya. Hati-hati dijalan," respon Pandu.


Tiara dan Salsa pun naik ke motor, dan pergi meninggalkan tempat itu. Salsa melambaikan tangan kirinya sejenak, Tiara pun ikut melambaikan tangan kepada.