TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Dua janin



Satu jam berlalu. Tiara telah kembali ke tempat duduk didekat suaminya. Tiara melihat beberapa camilan disamping suaminya. Melihat itu, membuat Tiara ingin mencobanya.


"Mas ... boleh minta itu nggak?" Tiara menunjuk ke arah camilan disamping Satria.


"Oh, ini. Tentu saja, kamu mau pilih yang mana?" kata Satria.


"Yang ini sajalah."


Tiara mengambil satu bungkus camilan. Tiara pun segera membukanya, ia terlihat sangat menikmati camilan yang ia pegang. Kunyahannya terkadang terhenti, saat menjawab perkataan dari suaminya.


Satu jam berlalu. Kini, Tiara dan Satria sedang berjalan menuju ke pesawat yang tertera ditiket mereka. Satria mencocokkan beberapa pesawat dengan nomor yang sama dengan yang berada ditiketnya.


Tak lama setelah itu, Satria sudah menemukan pesawat yang akan membawa mereka ke Jakarta. Mereka pun berjalan bersama menuju ke arah pesawat itu.


Satria dan Tiara, kini telah berada didalam pesawat. Mereka berada dinomor depan, mereka duduk berdampingan. Mereka merapikan barang yang mereka bawa, sebagian barang dimasukkan ke kabin. Sebagian lagi, berada disamping tempat duduk mereka.


Beberapa menit kemudian, terdengar instruksi dari pusat yang berada di pesawat itu. Beberapa pramugari pun datang, mereka berdiri dengan beberapa jarak. Mereka memperagakan keamanan yang harus diketahui oleh para penumpang.


Setengah jam kemudian, para pramugari telah selesai dengan tugas mereka, mereka pun berjalan ke bagian belakang pesawat. Lima belas menit kemudian, pesawat mulai menjalankan mesinnya dengan pelan. Setelah itu, kecepatan pesawat bertambah sampai akhirnya pesawat berhasil naik dan terbang.


"Alhamdulillah, naik juga. Waktu pesawatnya lepas landas tadi, jantung ini rasanya mau copot, Mas," ujar Tiara kepada suaminya.


"Iya, Sayang." Satria menggengam tangan Tiara yang duduk disebelahnya.


"Mas, aku mau tidur dulu ya, ngantuk banget nih." Tiara mulai memejamkan kedua matanya.


"Iya, tidurlah." Satria mengusap puncak kepala Tiara.


Satria pun ikut terlelap dalam penerbangan itu. Satu jam kemudian, Tiara dan Satria terbangun karena ada pemberitahuan dari pusat. Pemberitahuan itu menyatakan, bahwa pesawat akan mendarat lima belas menit lagi.


Tiara dan Satria mengambil sebotol air mineral, lalu meminumnya. Tiara melihat keadaan diluar pesawat, ternyata pesawat itu sedang berada diatas laut. Seketika Tiara bergidik, ia memikirkan hal yang tidak-tidak.


Kini, Tiara memilih untuk makan camilan sambil berdo'a akan keselamatan dirinya, dan seluruh penumpang pesawat itu. Beberapa saat kemudian, pesawat telah mendarat dengan selamat di bandara.


"Alhamdulillah, akhirnya mendarat juga," ujar Tiara.


"Iya, kita turun yuk!" ajak Satria.


"Iya, Mas," respon Tiara.


Tiara dan Satria turun dari pesawat, mereka berjalan ke tempat pengambil koper. Dua puluh menit kemudian, Tiara dan Satria telah mendapatkan koper mereka. Mereka berjalan keluar setelah melakukan pemeriksaan di pintu keluar.


"Kak Satria, Kak Tiara." Tina melambaikan tangan kanannya, ia telah berdiri didepan pintu keluar selama tiga puluh menit.


"Akhirnya ... kalian sampai juga. Kakiku udah pegel ini berdiri disini," ujar Tina.


"Salah kamu sendiri yang tak mau duduk!" tegas kakeknya Satria yang duduk dikursi, yang tak jauh dari tempat Tina berdiri.


"Aku kan kangen sama Kakak-kakakku ini, nggak sabar ketemu kalian." Tina langsung memeluk Tiara dan Satria berbarengan.


"Baru tiga hari lo, nanti kalau kita pulang ke Bogor, gimana coba?" tanya kakeknya Satria.


"Iya-ya, aah ... aku pasti bakal kangen banget," ucap Tina sendu.


"Udah kamu tenang aja, kan bisa video call," ucap Tiara sambil merangkul bahu Tina.


"Baiklah," respon Tina lesu.


"Udah yuk, kita pulang sekarang," ajak Tiara.


"Baik, ayo pulang!" Tina kembali bersemangat.


...***...


Kini, Tiara, suami, dan keluarga dari suaminya telah sampai di rumah Satria. Satria membawa masuk barang bawaan mereka kedalam rumah. Semua orang memutuskan untuk mandi terlebih dahulu, untuk melepas penat.


"Alhamdulillah, aku punya cicit," ucap kakeknya Satria dengan semangat.


"Segera periksakan kandungan istri kamu!" perintah kakeknya Satria pada cucunya.


"Iya, Kek. Besok ya," ucap Satria.


"Nggak ada besok-besok, sekarang!" perintah kakeknya Satria lagi. Tiara hanya tersenyum melihat perdebatan antara suami dan kakeknya.


"Ya udah, yuk Sayang, kita ke rumah sakit!" ajak Satria kepada istrinya.


"Baik, Mas," ucap Tiara.


Sesampainya di rumah sakit, Satria mendaftar terlebih dahulu. Mereka menunggu selama setengah jam, dan akhirnya nama Tiara dipanggil untuk masuk ke ruang pemeriksaan.


Setelah diberikan beberapa pertanyaan oleh dokter kandungan, Tiara kini sedang diperiksa bagian perutnya. Setelah selesai pemeriksaan, sang dokter memberikan resep vitamin yang harus ditebus di apotek rumah sakit tersebut.


Kini, Tiara dan Satria sedang menunggu vitamin yang dibutuhkan oleh ibu hamil. Disebelah Tiara, terdapat seorang ibu yang sedang hamil besar. Tiara pun membayangkan perutnya yang akan membesar nanti.


"Sudah berapa bulan usia kandungannya, Bu?" tanya Tiara kepada wanita disampingnya.


"Sudah sembilan bulan," jawab wanita itu, sambil tersenyum.


"Waah ... sebentar lagi lahiran berarti. Semoga nanti proses lahiran berjalan dengan lancar, selamat ibu dan bayinya." Tiara mendo'akan wanita disampingnya.


"Aamiin, terima kasih do'anya. Kalau mbak sendiri juga sedang hamil kah?" tanya wanita itu.


"Iya, tapi usia kandungan saya masih muda, baru beberapa minggu," jawab Tiara.


"Selamat ya atas kehamilan kamu, kamu harus lebih berhati-hati dalam beraktifitas, jangan sampai membahayakan janin didalam perut kamu," ucap wanita itu.


"Iya, Bu." Tiara tersenyum kepada wanita disampingnya.


"Atas nama Nyonya Tiara!" panggil seorang petugas apotek.


Satria langsung maju setelah nama istrinya dipanggil. Setelah membayar, Satria dan Tiara pergi meninggalkan ruang tunggu apotek tersebut.


"Kamu duluan ya, Bu," pamit Tiara kepada wanita yang tadi duduk disampingnya.


"Baik, hati-hati dijalan." Wanita itu melambaikan tangan kearah Tiara.


...***...


Enam bulan kemudian. Perut Tiara kini telah terlihat membesar, apalagi terdapat dua janin didalam perutnya. Awalnya, hal itu membuat Tiara dan keluarganya terkejut. Tentu saja, ada kebahagiaan berlebih saat mengetahui akan ada dua malaikat kecil yang akan hadir nanti.


Kini, Tiara sedang berada di rumah papa David. Tiara merasa jika dirinya, kini selalu dimanja oleh orang-orang disekitarnya. Bahkan, Tiara tidak boleh hanya sekedar mencuci piring di dapur.


"Dua jagoan Nenek lagi apa ya?" tanya mama Jihan sambil mengelus perut Tiara.


"Lagi main sepak bola, Nek," jawab Tiara asal.


"Waah ... lagi main sepak bola ya. Jangan lama-lama ya, nanti kalian kelelahan!" ucap mama Jihan.


"Baik, Nek," ucap Tiara. Tiara hanya menggelengkan kepalanya, melihat mamanya yang setiap hari mengajak bicara anak didalam perutnya.


"Eh, kamu sudah minum vitamin belum hari ini?" tanya mama Jihan kepada Tiara.


"Kayaknya, belum, Ma," jawab Tiara.


"Kamu ini, gimana sih! Bentar, Mama ambilkan vitaminnya." Mama Jihan berlalu meninggalkan Tiara.


Beberapa saat kemudian, mama Jihan telah kembali ke hadapan Tiara. Mama Jihan membawa vitamin dan segelas air putih ditangannya. Tiara pun segera meminumnya, ia tak mau mendapatkan omelan dari mamanya.