TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Lamaran



Di rumah sakit. Salsa pada malam itu diharuskan rawat inap di rumah sakit, dan apabila keesokan harinya sudah sembuh total, dia diperbolehkan untuk pulang.


Di ruang rawat inap kali ini, hanya ada Salsa dan Chandra. Tiara sedang berada di kantin rumah sakit, untuk membeli beberapa makanan. Sedangkan Papa David, Mama Jihan, dan Davin sedang berada di bagian pembayaran. Hanya Chandra yang berjaga di ruang inap itu.


"Sa, gimana perut kamu? apa masih sakit?" tanya Chandra.


"Enggak Kak, sekarang sudah baikan. Tadi sudah diberi obat sama dokter." Jawab Salsa sambil tersenyum. Sebenarnya Salsa masih merasa sakit, tapi dia berbohong kepada Chandra.


"Maaf ya Sa. Karena aku, kamu jadi begini. Padahal aku tadi cuma iseng, kenapa kamu enggak nolak sih?" tanya Chandra dengan lesu.


" Tadi aku pengen aja, dan itu kemauan aku sendiri. Kakak jangan menyalahkan diri sendiri. Maaf ya, karena aku bertindak gegabah, jadi membuat semua orang khawatir." Jawab Salsa.


" Enggak Sa, tapi lain kali jangan mau ya makan makanan yang kamu tidak sukai. Meskipun yang nawarin Kakak kamu sendiri. Kamu tahu kan? Kakak suka jahil sama kamu." Ucap Chandra.


" Kita kayak kucing sama tikus ya Kak? saling jahil mulu ya kita." Tanya Salsa dengan merekahkan senyumnya.


" Ada-ada aja kamu Sa." Jawab Chandra.


Di sisi lain.


Mama Jihan, Papa David, dan Davin sedang berada di ruangan dokter umum yang memeriksa Salsa. Dokter menjelaskan, jika harus ada pemeriksaan khusus untuk perut Salsa. Karena dokter spesialis yang bisa memeriksa kondisi Salsa tidak masuk malam itu, Salsa harus menunggu hingga pagi hari untuk diperiksa.


Mama Jihan khawatir dengan kondisi Salsa, dia berdo'a agar sakit Salsa tidaklah parah. Davin yang melihat Mamanya bersedih, langsung memeluknya. Sedangkan Papa yang sejak tadi berdiri mendengarkan penjelasan dokter umum itu, sekarang terdiam dengan pikirannya sendiri.


Mama Jihan, Papa David, dan Davin kembali ke ruangan tempat Salsa dirawat. Karena kelelahan, Mama Jihan sampai tertidur di sofa di ruangan itu.


Keesokan harinya, Salsa telah berada di ruangan dokter spesialis yang akan memeriksa dirinya. Dokter spesialis itu mulai memeriksa keadaan Salsa, terutama pada bagian perutnya. Setelah di periksa, Salsa dan Kedua orang tuanya menunggu hasil pemeriksaan di ruangan itu.


"Ini hasil pemeriksaannya Bu ... Pak ...." Kata Dokter spesialis itu. Mama Jihan dan Papa David membaca secarik kertas yang diberikan oleh dokter spesialis itu.


"Kondisinya sekarang sudah lebih baik, tapi lain kali jangan coba-coba lagi makan makanan yang pedas ya." Jelas dokter spesialis itu.


"Baik ... dok." Jawab Mama Jihan dan Papa David bersamaan. Setelah segala urusan selesai, Salsa diperbolehkan pulang ke rumah.


...***...


Salsa, Mama Jihan, dan Papa David akan pulang pada siang hari pukul 09:00 WIB. Sedangkan Tiara dan Davin telah lebih dulu pulang, karena Tiara harus masuk kelas dipagi itu dan Davin yang mengantarkannya. Setelah beberapa saat, Tiara telah sampai didepan kampus. Tiara keluar dari mobil, dan Davin juga ikut keluar.


"Kenapa Kakak keluar?" tanya Tiara.


"Ya ... nggak apa-apa kan?" jawan Davin.


"Yaudah, terserah Kakak. Terima kasih ya udah anterin aku ke kampus. Oh, iya. Nanti kabarin aku ya kalau Salsa sudah diperbolehkan pulang ke rumah." Ucap Tiara.


"Oke ...." Jawab Davin.


"Ra, ini siapa? kok akrab banget? jangan bilang pacar kamu! Nggak mungkin kan, kamu suka sama om-om. Ingat ya, kamu itu calon istri aku dimasa depan!" Ucap Tirta dengan tegas. Tirta tiba-tiba sudah berdiri diantara Tiara dan Davin.


"Eh, jangan ngaku-ngaku ya! Tiara itu calon istri saya, kamu jangan deketin dia lagi!" Ucap Davin sambil merangkul Tiara. Davin sedikit emosi karena dikatai om-om.


"Sebelum janur kuning melengkung, Tiara masih boleh diperjuangkan olehku! tunggu saja kamu, aku bakal buat perhitungan padamu!" Ancam Tirta kepada Davin, lalu pergi meninggalkan tempat itu.


"Siapa dia? beraninya mau dapetin Adeknya, tapi ngatain Kakaknya. Langkahmu bakalan sulit bro, dimasa depan." Ucap Davin sambil melihat kepergian Tirta.


"Bukan siapa-siapa. Yaudah ya Kak, aku masuk dulu, wassalamu'alaikum." Ucap Tiara lalu berlalu meninggalkan Kakaknya. Tiara malas membahas hal yang berkaitan dengan Tirta.


Tiara masuk ke kelasnya, dan mengikuti mata kuliahnya. Hari ini Tiara sedikit kesepian, karena Dinda tidak masuk kuliah, karena ada keperluan dengan keluarganya. Jadi, selesai kuliah Tiara ingin langsung pulang ke rumahnya.


...***...


Siang hari pukul 14:00 WIB.


Tiara telah sampai didepan gerbang rumahnya, Tiara menggunakan bus umum untuk pulang ke rumahnya. Tiara berjalan pelan saat memasuki halaman rumahnya. Tetapi, seketika dia bersemangat ketika melihat Salsa yang sedang duduk di teras rumah.


"Alhamdulillah, kamu udah boleh pulang Sa. Gimana perut kamu, masih sakit nggak?" tanya Tiara kepada Salsa.


"Tinggal dikit sakitnya, nanti minum obat lagi biar bisa sembuh total." Jawab Salsa.


"Inget ya ... nggak boleh makan makanan yang pedes lagi!" Ucap Tiara dengan tegas.


"Iya, Kakakku sayang." Respon Salsa sambil tersenyum.


Dua minggu kemudian.


Hari ini pukul 10:00 siang, Davin dan keluarganya akan pergi melamar seorang dokter yang akan dijadikan istri Davin. Segala persiapan telah siap, mereka semua masuk kedalam mobil dan menuju ke rumah dokter itu.


Setengah jam berlalu, Davin dan keluarganya telah sampai di depan rumah dokter itu. Tuan rumah segera mempersilahkan tamunya untuk masuk. Dua keluarga telah bertemu, dan berkumpul di sebuah ruangan di rumah dokter itu. Bapak dan Ibu dari dokter itu memperkenalkan putri mereka, nama putri mereka adalah Erina Adiba.


"Assalamu'alaikum. Perkenalkan, saya adalah Papanya Davin. Dan saya sebagai Papanya, ingin mewakili anak saya untuk melamar putri dari Ibu dan Bapak untuk menjadi istri dari anak saya, Davin. Apakah Ananda berkenan?" Ucap Papa David.


"Bagaimana, Nak?" tanya orang tua Erina kepada putrinya. Erina hanya menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillah." Ucap semua orang yang berada di ruangan itu. Keluarga Davin menyerahkan seserahan untuk Erina, kemudian Davin dan Erina berfoto bersama dengan memegang seserahan itu ditengah-tengah mereka.


Setelah acara selesai, Davin dan keluarganya kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Davin dan keluarganya berkumpul di ruang keluarga.


"Alhamdulillah, Kakak aku yang paling ganteng ini sudah laku." Ucap Chandra sambil mengangkat kedua tangannya seperti seseorang yang sedang berdo'a.


Brukkk.


"Eh, mulai lagi ya ... kamu Ndra." Ucap Davin sambil melempar bantal yang berada diatas sofa ke wajah Chandra. Chandra malah menjulurkan lidahnya, lalu berlari menuju ke kamarnya.


"Kak, aku sama Salsa masuk ke kamar dulu ya." Ucap Tiara.


"Iya, Ra." Respon Davin. Tiara dan Salsa telah berlalu meninggalkan ruang keluarga, kini tinggal Davin dan kedua orang tuanya yang berada di ruangan itu.