TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Hari kedua pencarian



Hari ini adalah hari kedua pencarian Tiara. Semua orang sedang bersarapan, pihak arum jeram tidak ingin ada korban yang berjatuhan karena tak menjaga kesehatan badan mereka.


Setelah sarapan, semua orang yang akan mencari keberadaan Tiara turun ke sungai. Sesampainya di tepi sungai, mereka berpencar. Selama berjam-jam mereka mencari, namun hasilnya nihil.


Namun, mereka tak putus asa. Mereka kembali mencari setelah beristirahat sebentar. Ada yang mencari di tepi sungai, ada juga yang mencari didalam hutan, hutan yang berada di tepi sungai.


Disisi lain. Papa David tak bisa ikut dalam pencarian Tiara kali ini, karena tubuhnya sulit untuk digerakkan. Chandra yang melihat kondisi saat itu merasa bersalah, ia merasa jika hal yang terjadi saat ini adalah kesalahan darinya.


"Pa, Chandra minta maaf. Semua ini salah Chandra, Chandra yang mengusulkan untuk naik arum jeram." Chandra menangis sesenggukan disamping Papanya.


"Bukan, ini bukan salah kamu. Ini adalah sebuah kecelakaan. Kita do'akan saja, semoga Tiara segera ditemukan, dan tim relawan yang mencari bisa kembali dengan selamat." Papa David berusaha menenangkan Chandra yang terus saja menangis.


"Aamiin Pa ... aamiin," ucap Chandra.


"Ndra, kamu mandi dulu gih! Biar badan dan pikiran kamu jadi segar." Mama Jihan memegang pundak Chandra.


"Baik, Ma." Chandra meninggalkan ruangan itu.


"Salsa dimana, Ma?" tanya Papa David.


"Dia sedang berada di depan post, dia mau menunggu Tiara disana," ucap Mama Jihan dengan sedih.


"Pa, apa kita akan kehilangan Tiara untuk kedua kalinya?" tanya Mama Jihan sambil memeluk Papa David.


"Jangan bilang begitu, nggak boleh! Kita harus optimis, Tiara pasti ditemukan!" jawab Papa David.


"Iya, Pa." Mama Jihan tenggelam dalam pikirannya sendiri, didalam pelukan Papa David.


...***...


Dua minggu kemudian. Pencarian Tiara kini telah dihentikan, keluarga Tiara merasa sangat terpuruk dengan keadaan saat itu. Karena pencarian tak membuahkan hasil, keluarga Tiara akhirnya kembali ke Jakarta.


Keluarga Tiara telah membereskan barang bawaan mereka, juga barang milik Tiara. Kini, mereka telah berada didalam mobil. Mama Jihan terus memeluk sebuah tas yang berisi barang-barang milik Tiara.


"Pa, kita nggak bisa jaga anak kita untuk kedua kalinya. Apakah takdir kita bersama Tiara hanya sebentar?" tanya Mama Jihan dengan sendu.


"Mama ...," Papa David tak mampu melanjutkan kata-katanya. Papa David langsung memeluk Mama Jihan yang duduk disampingnya.


"Kita do'akan yang terbaik untuk Kak Tiara ya, Ma." Salsa juga memeluk Mama Jihan yang duduk disampingnya.


Sementara Chandra, hanya melirik ketiga orang yang duduk dibelakang melalui kaca didalam mobil itu. Chandra yang sedang menyetir terdiam dengan pikirannya sendiri. Ia merasa rapuh, tapi ia berusaha tegar. Ia harus mengantarkan keluarganya kembali ke rumah dengan selamat.


Dua jam setengah berlalu. Kini keluarga Tiara telah sampai di Jakarta. Mereka tiba dirumah pada pukul sembilan siang, mereka telah ditunggu oleh Davin dan Erina di teras rumah.


Davin dan Erina telah sampai di rumah Papa David, sebelum kepulangan Papa David dari Puncak Bogor. Davin dan Erina sangat terkejut, mendengar jika hasil akhir pencarian Tiara adalah nihil.


...~~~...


Setelah beristirahat sejenak, Papa David sekeluarga mempersiapkan berbagai keperluan pelaksanaan tahlilan untuk Tiara. Keluarga Tiara menganggap jika Tiara telah tiada. Meskipun itu berat, tapi mereka berusaha ikhlas dengan kepergian Tiara.


Malam hari. Orang-orang disekitar rumah Papa David telah berdatangan. Setelah semua orang datang, acara tahlilan pun dimulai. Keluarga Tiara tak henti meneteskan air mata mereka, sambil melambungkan do'a untuk Tiara.


Keluarga Tiara berdo'a, agar Tiara mendapatkan tempat terbaik dialam lain. Keluarga Tiara tak akan melupakan saat-saat kebersamaan mereka, walaupun hanya beberapa tahun saja.


Setelah beberapa jam, acara tahlilan pun selesai. Semua tetangga Papa David telah pergi meninggalkan kediamannya. Kini, tinggallah Papa David, Mama Jihan, dan ketiga anak mereka serta satu orang menantu.


"Pa, Mama tertidur. Papa bisakah bawa Mama ke kamar?" Davin memperhatikan Mamanya yang kelelahan karena terus menangis.


"Baik, Vin." Papa David menggendong tubuh Mama Jihan, membawanya menuju kamar mereka.


"Iya, Mas kita do'akan bersama-sama." Erina memeluk tubuh suaminya.


Selang beberapa saat, ponsel Chandra berbunyi. Chandra meraih ponsel disaku celananya, dia melihat ada panggilan dengan nama budhe Lisa dilayar ponselnya.


Chandra : "Halo, assalamu'alaikum Budhe."


Budhe Lisa : "Wa'alaikum salam, Ndra. Ndra, kami disini sangat sedih mendengar kabar tentang Tiara, semoga Tiara mendapat tempat terbaik disisi-Nya."


Chandra : "Aamiin Budhe."


Budhe Lisa : "Ndra, kami disini minta maaf tidak dapat berkunjung ke Jakarta, karena Luna akan segera melahirkan, kami sedang menunggu di rumah sakit."


Chandra : "Semoga lancar proses persalinannya, Budhe. Dan semoga selamat, sehat Ibu dan bayinya,"


Chandra : "Kami disini juga meminta maaf, Budhe. Kami tidak dapat berkunjung untuk saat ini, kami masih berkabung, Budhe."


Budhe Lisa : "Iya, Ndra. Yang terpenting kita saling mendo'akan saja. Eh, Ndra. Budhe tutup dulu teleponnya ya, Budhe dipanggil suster."


Chandra : "Baik, Budhe. Wassalamu'alaikum."


Budhe Lisa : "Wa'alaikum salam."


Percakapan antara budhe Lisa dan Chandra didalam panggilan telepon pun telah usai. Chandra meletakkan ponsel disamping tempat duduknya.


"Kakak, kalian berdua istirahat dulu. Salsa, kamu juga istirahat ya. Aku juga akan istirahat di kamarku, aku masuk dulu ke kamar ya." Chandra meninggalkan ruangan itu.


"Iya," respon Davin.


"Iya Kak," respon Salsa.


"Kak, aku masuk ke kamar dulu ya," ucap Salsa pada Davin dan Erina.


"Iya," jawab Davin dan Erina bersamaan.


Salsa berjalan menuju kamar yang biasa ia tempati bersama Tiara, Salsa tak habis pikir jika saat-saat bersama Tiara, telah usai. Sesampainya didalam kamar, Salsa melemparkan tubuhnya keatas ranjang tempat Tiara biasa tidur. Salsa ingin melepas rindu dengan tidur diatas ranjang Tiara.


Sementara Davin dan Erina, juga memutuskan untuk masuk ke kamar Davin yang berada di rumah Papa David. Davin sampai lupa memperhatikan kesehatan sang istri yang sedang mengandung. Kini, mereka telah berada didalam kamar dan bersiap untuk istirahat.


"Mas, mas istirahat dulu ya. Aku mau ke kamar mandi dulu." Erina membalikkan badannya.


"Tunggu, apa perlu aku temani? Kamu bisa sendirian?" Davin memegang pergelangan tangan Erina.


"Aku bisa sendirian, nanti aku bakal teriak jika terjadi sesuatu," ucap Erina meyakinkan suaminya.


"Baiklah, hati-hati ya." Davin melepaskan genggaman tangannya.


Erina segera melangkahkan kakinya ke kamar mandi, ia membersihkan wajahnya sebelum tidur. Setelah selesai dengan segala urusan di kamar mandi, akhirnya Erina keluar dari kamar mandi.


Erina melihat suaminya yang sedang duduk diatas ranjang, sambil menyenderkan badannya dibagian kepala dipan. Suami Erina terlihat sangat lesu dengan tatapan kosong.


"Mas, kamu bersihkan diri dulu, lalu segeralah istirahat!" perintah Erina pada suaminya.


"Baik." Davin melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Erina naik keatas ranjang dan berbaring disana. Erina merasa sedikit kram di perut bagian bawah, ia akan berbaring diranjang bila hal itu terjadi. Karena lelah, Erina pun terlelap. Rasa lelahnya mengalahkan kram yang ia rasakan di perut bagian bawahnya.


Setelah beberapa saat, Davin keluar dari kamar mandi. Ia melihat jika sang istri telah terlelap. Davin menghampiri sang istri, lalu tidur disampingnya, dan memeluknya.