TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Glady bersih



Sore hari, di rumah Papa David. Papa David sedang berada di ruang tamu, bersama istri dan anak-anaknya. Ada juga Budhe Lisa, Dika, dan Luna, mereka akan menginap di rumah Papa David selama satu malam. Semua orang yang berada di ruang tamu itu, berbincang-bincang sambil menikmati secangkir teh panas dan camilan ringan.


"Kira-kira ... anak Kak Dika kembar nggak ya? semoga, kelak anak itu jadi baik seperti Ibunya, jangan seperti Bapaknya yang ngeselin." Ucap Chandra.


"Chandra ... Mama dulu ngidam apa sih, waktu hamil kamu. Kok kamu sukanya gangguin orang, apa jangan-jangan Papa ya yang ngidam aneh-aneh?" kata Mama Jihan.


"Enak aja, Papa nggak pernah yang namanya ngidam. Itu kan hanya dirasakan oleh Ibu hamil." Papa David berkata sambil mengernyitkan dahinya.


"Aku mana tahu Ma, kan aku masih didalam perut." Ucap Chandra.


"Ah udah ah. Eh Luna, gimana keadaan kamu waktu hamil ini? mual-mual ... pusing ... atau nggak nafsu makan?" tanya Mama Jihan kepada Luna.


"Alhamdulillah jarang sekali mual-mual, tidak pusing juga, Bi. Dan nafsu makan malah tambah banyak. Ini badan aku jadi gemuk sekarang."


"Nggak apa-apa. Kan besok gampang kalau udah lahiran bisa olahraga sama diet, nanti badan kamu bagus lagi." Ucap Mama Jihan menyemangati Luna.


"Dulu Bibi gendut juga kah waktu hamil?" tanya Luna kepada Bibinya.


"Iya. Dulu Bibi waktu hamil itu banyak makan dan malas gerak, jadilah itu badan kayak tong." Ucap Mama Jihan sambil mengingat masa lalu.


"Bisa aja kamu Han, tapi kamu tetep cantik kok walau gendut." Ucap Budhe Lisa.


"Ah Kakakku ini, kalau bicara suka bener deh." Mama Jihan berkata sambil tersenyum.


"Aku kangen sama suasana Yogyakarta, Budhe." Salsa berkata, lalu membayangkan keadaan di Yogyakarta.


"Mainlah kesana, apa besok mau ikut ke Yogyakarta?" tanya Budhe Lisa kepada Salsa.


"Pengen Budhe, tapi sepertinya lain kali Budhe, beberapa hari lagi aku ada acara di kampus. Aku bakalan ikut pertunjukan tari diatas panggung." Jawab Salsa.


"Oh ya? wah ... Budhe pengen banget nonton, tapi Budhe udah balik besok pagi." Kata Budhe Lisa.


"Yaudah nggakpapa Budhe, nanti aku kirim video tariku ya." Kata Salsa.


"Iya, boleh juga." Respon Budhe Lisa.


"Eh, udah adzan magrib. Kita sholat bersama-sama yuk." Ajak Tiara kepada semua orang yang berada di ruang tamu itu.


"Oke Sayang." Jawab Mama Jihan.


Semua orang bergegas mengambil air wudhu, dan melaksanakan ibadah sholat maghrib bersama-sama.


...****...


Setelah melaksanakan ibadah sholat magrib, semua orang yang berada di rumah itu mengaji bersama,lalu dilanjutkan dengan sholat isya' bersama. Setelah itu mereka berbincang sebentar, lalu pergi ke meja makan untuk makan malam. Setelah makan malam, mereka menonton bersama acara televisi di ruang keluarga. Tidak lama mereka menonton acara ditelevisi, mereka membubarkan diri ke kamar mereka masing-masing untuk istirahat.


Keesokan harinya.


Papa David dan keluarganya, kembali masuk kedalam rumah. Mereka semua duduk diruang tamu, kecuali Tiara dan Salsa. Karena Salsa dan Tiara ada kelas dikampus mereka masing-masing, keduanya menuju ke kamar untuk bersiap.


Satu jam kemudian.


Tiara telah sampai di kampusnya, ia segera masuk kedalam kelasnya. Didalam kelas, sudah ada Dinda yang menunggu kedatangan Tiara. Tiara dan Dinda mengecek kembali, tugas yang akan dikumpulkan pada kelas kali ini.


Disisi lain.


Salsa juga sudah berada dikampusnya, kini Salsa sedang berada di sanggar tari yang berada didalam sebuah ruangan yang besar. Jurusan yang Salsa ambil adalah jurusan Seni Tari di Fakultas Seni Pertunjukan. Salsa sangat antusias mengikuti jurusannya, karena dia memang senang menari. Karena beberapa hari lagi akan diadakan pentas tari dikampusnya, Salsa akan melakukan gladi bersih agar penampilannya memuaskan.


Setelah dua jam melakukan gladi bersih, Salsa dan teman-temannya beristirahat. Salsa duduk dipinggir ruangan besar itu, sambil menjulurkan kakinya dengan napas terengah-engah.


Lima menit kemudian, ada seseorang yang menghampirinya dan menawarkan minuman kepadanya. Salsa mengangkat kepalanya untuk melihat siapa orang itu, kebetulan dia sedang menunduk karena sedang melihat ponselnya. Dan ternyata dia adalah Sandy, rekan tarinya pada pementasan tari yang akan dilangsungkan beberapa hari lagi.


"Eh, kamu Ndy. Sini, duduk disebelahku." Ucap Salsa kepada Sandy.


"Iya Sa. Oh iya, ini minuman buat kamu. Kamu belum menerimanya tadi." Ucap Sandy.


"Makasih ya." Salsa berkata sambil tersenyum kepada Sandy, lalu mengambil sebotol minuman dari tangan Sandy.


"Sama-sama. Huh lumayan capek juga ya gladi resik tadi." Ucap Sandy.


"Iya, lumayan capek. Semoga pas hari-H berjalan dengan lancar dan sukses." Ucap Salsa sambil menengadahkan kedua tangannya.


"Aamiin ...."Respon Sandy.


Salsa merasa sudah cukup dengan istirahatnya, kemudian dia pamit kepada Sandy untuk pulang kerumahnya. Sandy memperhatikan kepergian Salsa dari belakang, dia tersenyum sekilas. Sandy memang memiliki perasaan pada Salsa, namun Sandy tidak pernah mengungkapkan perasaannya, dia bertekad akan langsung melamar Salsa jika ia sudah sukses kelak. Tapi, Sandy sering mengirim pesan WhatsApp untuk Salsa akhir-akhir ini.


Sandy lalu membuka ponselnya, ia melihat beberapa foto Salsa dialbum fotonya. Foto itu ia dapatkan dengan diam-diam memotret Salsa dari jauh, ada juga yang ia dapatkan dari akun sosial media milik Salsa. Sandy tersenyum melihat foto-foto Salsa, dia mengelus layar ponselnya.


...***...


Kini, Salsa telah berada didepan rumahnya. Salsa pun masuk kedalam rumahnya, dan duduk di ruang tamu. Dia memejamkan matanya, ternyata istirahat dikampus tadi belum mengobati rasa lelahnya. Tiba-tiba Salsa terbangun, karena mendengar suara nada dering dari ponselnya. Setelah Salsa mengecek ponselnya, ternyata terdapat pesan dari Sandy, Salsa pun membalasnya.


Sandy: Sa, kamu udah sampai rumah kan?


Salsa: Sudah Ndy ... ada apa?


Sandy : Nggak ada apa-apa sih, cuma khawatir aja kalau kamu belum sampai rumah.


Setelah membaca pesan terakhir dari Sandy, Salsa terdiam dan meletakkan ponselnya diatas meja. Salsa tidak membalas lagi pesan dari Sandy. Salsa kembali merebahkan tubuhnya diatas sofa. Salsa merasa, jika akhir-akhir ini Sandy sering mengirim pesan padanya. Padahal, dulu tidak demikian.


"Woy ... kalau tidur itu di kamar tidur." Tiba-tiba Chandra datang dan berkata dengan cukup keras, tentu saja hal itu membuat Salsa terkejut.


"Kak ... bisa nggak pelan-pelan. Aku ngantuk, aku ke kamar dulu." Ucap Salsa, lalu menuju ke kamarnya. Chandra sedikit bengong, karena Salsa tak membalas keisengannya, seperti biasanya.