TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
Chelsea



Dua minggu berlalu, Tiara sudah diterima masuk di Universitas yang dia daftar, dan hari ini adalah hari pertama dia belajar disana. Tiara diantar sang Mama menuju ke kampusnya. Setelah sampai kampus, Tiara berpamitan kepada Mamanya dan segera masuk ke kelasnya.


Saat masuk kelas, Tiara terkejut melihat Tirta yang sedang duduk di sebuah bangku sambil memainkan sebuah pena. Tiara tak jadi masuk ke kelasnya, dia berada di luar kelas sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.


"Aaah, ketemu,"Tiara bermonolog sambil mengeluarkan sebuah masker dari dalam tasnya. Tiara memakai masker itu dan segera masuk ke kelasnya.


Banyak orang yang melihat Tiara dengan aneh, Tirta hanya melihat Tiara sekilas lalu bergegas pergi keluar kelas itu. Tirta tidak mengetahui, jika gadis bermasker itu adalah Tiara.


"Dik, gue balik ke kelas dulu ya," ucap Tirta kepada seorang laki-laki. Laki-laki itu adalah adiknya Teo. Ya, ternyata Tirta tidak sekelas dengan Tiara. Tiara pun bernapas lega lalu melepas maskernya, Tiara lupa jika Tirta pernah memberitahunya jika Tirta anak semester 5.


"Oke, Kak. "Jawab Teo.


Tiara mencari bangku yang kosong, untuk ia duduk. Tiba-tiba ada seorang yang memegang pundak Tiara. Tiara menoleh, dan melihat seorang gadis berhijab.


"Hallo, aku Dinda. Aku boleh duduk di samping kamu nggak? "tanya gadis itu.


"Ya, boleh ... boleh," jawab Tiara.


Tiara dan Dinda membicarakan banyak hal, karena terlalu asyik, mereka tidak sadar jika dosen telah berada di ruangan mereka.


"Eh, dosen nya udah dateng Nda. "ucap Tiara. Tiara dan Dinda mengakhiri obrolan mereka. Tiara dan Dinda menyimak materi yang disampaikan dosen nya. Setelah kelas selesai, Tiara dan Dinda menuju ke kantin kampus.


Di kantin kampus.


"Enak banget ini Ra, "ucap Dinda sambil menunjuk camilan di depannya.


"Iya ni, perpaduan rasa yang pas. "Respon Tiara. Di sela makan mereka, mereka membicarakan materi yang disampaikan oleh dosen mereka, tadi di dalam kelas mereka.


Tiba-tiba, ada seseorang yang membasahi kepala Tiara dari belakang dengan segelas lemon tea. Tiara terkejut dan merasa dingin, dia pun menoleh ke belakang. Tiara melihat seorang gadis berpakaian minim dengan rambut pirangnya.


"Eh, apa-apaan kamu. Kurang ajar banget sih!" ucap Dinda dengan emosi. Sementara Tiara terdiam sejenak, ingin mengetahui akar masalahnya.


"Eh lo, nggak usah ikit campur ya. Ini urusan gue sama temen lo!" ucap gadis itu kepada Dinda. Dinda belum sempat menjawab, tapi gadis itu sudah berkata-kata lagi dengan mulut pedasnya.


"Lo jangan deket-deket ya, sama calon pacar gue!" ucap gadis itu dengan tegas.


"Siapa yang kamu maksud? Aku nggak ngerti, aku mahasiswi baru di sini, aku cuma baru kenal sama Dinda aja." Ucap Tiara dengan santai.


"Jangan pura-pura kamu! Kemarin calon pacar aku sampai ngejar-ngejar kamu di kantin ini. Kamu pakai pelet apa? Hah?" tanya gadis itu dengan nada tinggi.


"Maaf ya, aku di sini mau kuliah. Dan lagi, aku nggak mau pacaran, di agama ku nggak boleh!" jawab Tiara tegas.


"Cih! Sok suci. Kalian berdua orang udik!" ucap gadis itu dengan sarkas. Gadis itu lalu pergi meninggalkan kantin.


Gadis itu bernama Chelsea, dia menginginkan Tirta untuk menjadi pacarnya. Tapi, Tirta tak pernah menganggap Chelsea. Tirta selalu menghindar jika ada Chelsea, Tirta bahkan menamai Chelsea dengan sebutan Nenek Lampir. Tirta tidak ingat persis, dia mendapatkan ide itu dari mana. Yang jelas, Tirta senang menyebut Chelsea dengan sebutan Nenek Lampir.


"Ra, kamu mau nggak ikut ke rumah aku? Rumah aku deket kok dari sini, kita jalan kaki aja." Ucap Dinda.


"Oke, Nda." Jawab Tiara.


Setelah membeli pakaian, Tiara dan Dinda berjalan menuju ke rumah Dinda. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di rumah Dinda.


"Yuk, masuk Ra," ucap Dinda.


"Oke," jawab Tiara singkat. Tiara melihat rumah Dinda yang cukup besar, tak jauh berbeda dengan rumah orang tuanya.


Tiara dan Dinda memasuki ruang tamu di rumah itu, Dinda mempersilahkan Tiara duduk terlebih dahulu. Sementara Dinda masuk ke dapur, untuk mengambil air minum dan juga beberapa camilan ringan.


"Di minum dulu Ra," ucap Dinda yang sudah berada di ruang tamu dengan menaruh minuman dan camilan di atas meja.


"Eh, ada Kakak cantik." Tiba-tiba ada seorang anak laki-laki datang ke ruang tamu. Di lihat dari wajahnya, sepertinya dia remaja yang masih duduk di bangku SMA.


"Ih jangan genit kamu, sama temen Kakak!" Ucap Dinda dengan nada agak tinggi. Laki-laki itu adalah adik Dinda, yang masih duduk dibangku kelas tiga SMA.


"Biarin, ble ...," jawab Adik Dinda dengan menjulurkan lidahnya kepada Dinda. Dinda mengejar Adiknya yang lari,kemudian Dinda kembali lagi ke ruang tamu.


"Maaf ya Ra, itu Adik aku emang resek. "ucap Dinda.


"Gapapa Nda, Adik aku sama Kakak aku juga gitu. "Tiara membicarakan kedua saudaranya sambil tersenyum mengingat tingkat laku mereka.


Tiara dan Dinda berbincang-bincang, sesekali Adik Dinda datang untuk menggoda Tiara lagi. Kebetulan, kedua orang tua Dinda sedang pergi keluar rumah. Jadi, di rumah hanya ada Dinda, Adiknya, dan pembantu di rumah Dinda.


Dua jam berlalu, Tiara pamit untuk pulang. Tiara di antar Adik Dinda menggunakan sebuah mobil, Tiara duduk di kursi belakang. Tiara tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Di dalam mobil, Adik Dinda banyak bertanya mengenai Tiara. Tiara hanya menjawab sekilas. Tak lama, mobil itu telah sampai di depan rumah Tiara. Tiara mengucapkan terima kasih kepada Adik Dinda, dan bergegas masuk ke rumahnya.


"Kakak cantik, besok-besok main lagi ya ke rumah aku, aku bakal rindu sama Kakak cantik kalau lama nggak ketemu. Jangan lupa nama aku ya, Denis. " Adik Dinda kembali menggoda Tiara. Tiara hanya menoleh tanpa merespon. Lalu, segera masuk ke dalam rumahnya.


...***...


Di dalam kamar.


Tiara membuka notebook nya, dan mengerjakan tugas dari sang dosen. Di sela mengerjakan tugasnya, terdapat notifikasi masuk yang menyatakan permintaan pertemanan di akun lnstagram nya. Tiara mengecek permintaan pertemanan itu, dan ternyata terdapat dua pertemanan dari orang yang tidak asing. Kedua orang itu adalah Tirta dan Adik Dinda.


Tiara mengabaikan permintaan pertemanan dari kedua orang itu, Tiara kembali lagi dengan tugas kuliah nya. Setelah satu jam, akhirnya Tiara selesai mengerjakan tugasnya. Tiara merenggangkan tubuhnya.


"Akhirnya selesai juga," Tiara bermonolog. Tiara menuju ke atas kasurnya untuk istirahat sejenak.