TIARA NANDINI

TIARA NANDINI
- Ulah Chelsea -



Satu tahun kemudian, pukul tujuh pagi. Tiara dan Satria kini sedang berada disalah satu pantai di Jakarta. Mereka tidak mengajak anak-anak mereka, karena anak-anak mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


"Mas, yuk beli es kelapa muda disana, kayaknya seger tuh." Tiara menunjuk ke sebuah warung kecil yang letaknya tak jauh dari bibir pantai.


"Oke, Sayang." Satria menggandeng tangan istrinya menghampiri warung kecil itu.


Tak jauh dari tempat Tiara dan Satria, terdapat seorang wanita yang memakai masker dan kacamata hitam diwajahnya. Wanita itu seperti memperhatikan gerak-gerik Tiara dan Satria.


Enak sekali bisa hidup bahagia dengan orang yang dicintai. Pertemuan kali ini, aku tentu saja tidak akan melewatkannya. Habis kali ini kamu, Tiara. Selamat tinggal, sampai jumpa disurga, batin wanita itu lalu pergi meninggalkan posisinya saat itu.


"Mas, kita jalan menyusuri bibir pantai yuk," ajak Tiara kepada Satria.


"Oke, Sayang," respon Satria.


Tiara dan Satria bergandengan tangan, mereka berbincang tentang banyak hal. "Mas, jika aku meninggal duluan, nanti gimana denganmu?" tanya Tiara. Ia teringat saat Jihan meninggal saat itu, dan David pun menyusul Jihan tak lama setelah itu.


"Apa yang mengganggu pikiran kamu? Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Satria balik.


"Aku pengen tahu saja, Mas," jawab Tiara.


"Mas sih pengennya sehidup semati denganmu," ucap Satria.


"Jangan seperti itu dong, kalau aku meninggal duluan, kamu harus cari pengganti diriku. Kamu harus tetap melanjutkan hidup, Mas," ucap Tiara lalu menghentikan langkah kakinya.


"Tapi, mas nggak mau. Mas pengennya kamu aja, nggak mau yang lain." Satria memeluk istrinya erat.


"Love you, Sayang," ucap Tiara.


"Love you too, Sayangku." Satria semakin erat memeluk Tiara.


"Jangan kenceng-kenceng, aku nggak bisa napas," ucap Tiara sambil memukul punggung Satria.


"Maaf, Sayang." Satria langsung melepaskan pelukannya.


Tiara dan Satria melanjutkan langkah kaki mereka lagi, mereka benar-benar menikmati kebersamaan mereka saat itu. "Mas, bentar-bentar, aku mau menulis sesuatu dipasir pantai ini." Tiara mengambil sebatang kayu kecil tak jauh dari tempat ia berdiri.


Tiara mulai menulis huruf demi huruf, menggunakan sebatang kayu ditangannya. Setelah beberapa saat, kini Tiara sudah menyelesaikan tulisannya itu. "Coba kamu baca, Mas," ucap Tiara kepada suaminya.


"Oke-oke, aku baca." Satria membaca tulisan istrinya.


"Tiara dan Satria selamanya," ucap Satria membaca tulisan yang ditulis istrinya.


Tiara dan Satria kembali berpelukan, mereka benar-benar saling mencintai. "Mas, kok aku laper ya? Hmm ... oh iya, kita kan belum sarapan pagi," ucap Tiara.


"Oh iya ya, kita belum sarapan. Pantas saja tubuh mas rasanya lemas," respon Satria.


"Ya sudah, sekarang kita cari makan yuk." Tiara menggandeng tangan suaminya, mereka berjalan menuju ke sebuah warung makan disekitar pantai itu.


Duh, ini kalau aku nggak benar-benar laper, aku nggak mau makan disini. Emang sih depannya bersih, tapi belakang warungnya itu lo kotor banget, batin Tiara sambil melihat ke arah belakang warung.


"Mas, kita bungkus saja ya. Kita makan ditepi pantai saja," ucap Tiara.


"Kenapa?" tanya Satria tidak mengerti, Satria memang belum melihat sampah plastik yang berserakan dibelakang warung itu.


"Nanti aku kasih tahu," jawab Tiara.


"Oke, kita pesan dulu yuk." Satria menggenggam tangan Tiara menghampiri warung makan itu. Mereka memesan dua bungkus nasi dan lauknya, mereka juga memesan dua cup minuman segar.


Setelah pesanan siap, Satria dan Tiara pergi dari rumah makan setelah membayar pesanan mereka. Mereka kini sedang duduk ditepi pantai. "Nah, sekarang cerita sama aku, kenapa kamu nggak mau makan disana? Apa ada mantan kamu yang sedang makan disana?" tanya Satria asal.


"Mantan apaan? Mantan asisten dokter gigi? Aku kan nggak pernah pacaran sebelum menikah," jawab Tiara kesal.


"Maaf deh, aku lupa. Habis kenapa kamu nggak mau makan disana, disana kan enak bisa duduk dikursi," ucap Satria.


Tiara pun menceritakan penyebab dia tidak mau makan diwarung itu, Satria pun memakluminya. Setelah selesai sarapan, Satria dan Tiara kembali ke mobil mereka, mereka berencana pindah ke pantai yang lain. Pantai yang akan mereka tuju berjarak lumayan jauh, mungkin akan membutuhkan waktu dua puluh menit dari dari sebelumnya, jika ditempuh menggunakan mobil.


Satria mulai menjalankan mobilnya, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Daerah pantai yang ia kunjungi, melewati beberapa jalan turunan, juga ada beberapa tanjakan.


Saat mobil Satria melewati sebuah jalan yang menurun, Satria merasa aneh karena rem yang ia injak tidak dapat memperlambat laju mobilnya. "Mas, pelankan mobilnya, ini kita di turunan, bahaya Mas," ucap Tiara mengingatkan suaminya.


"Sayang, remnya blong. Ini aku sudah berusaha menginjak remnya dari tadi, tapi mobilnya masih melaju dengan kencang," ucap Satria panik.


"Duh, gimana ini, Mas. Kita harus bagaimana? Sisi kanan dan kiri sepertinya jurang," ucap Tiara sambil melihat sekitar kanan dan kiri jalan.


"Kita loncat ya, aku ke sisi kanan dan kamu ke sisi kiri. Bismillah ya, semoga kita selamat. Cepatlah keluar," ucap Satria yang sudah membuka pintu kiri untuk Tiara. Tiara pun langsung meloncat dari mobil itu, Tiara mendarat di pinggir jalan.


Setelah melihat Tiara meloncat , Satria pun ikut meloncat dari dalam mobil. Saat Satria meloncat, ia mendarat di tepi jalan lalu tergelincir ke jurang. Sungguh naas nasib Satria, Satria salah perhitungan saat meloncat. Satria saat itu sedang panik, ia pun tidak memperhatikan dimana ia akan mendarat.


Disisi lain, Tiara tergeletak ditepi jalan dengan darah yang terus mengalir dikepalanya. Tiara juga bernasib kurang beruntung, kepalanya terbentur batu besar saat mendarat dari lompatannya itu.


Mobil Satria langsung masuk ke jurang, setelah ditinggalkan pemiliknya. Tak lama setelah kejadian itu, ada sebuah mobil yang lewat, pemilik mobil itu melihat Tiara yang tergeletak. Pemilik mobil itu langsung menepikan mobilnya, dan membawa Tiara ke rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit, Tiara langsung dimasukkan ke ruang UGD. Pemilik mobil yang menolong Tiara, bernama Rudi. Rudi menunggu diluar ruang UGD.


Setengah jam kemudian, seorang dokter dan seorang perawat keluar dari ruang UGD. "Bagaimana keadaan pasien, Dok?" tanya Rudi.


"Apakah Anda keluarga pasien?" tanya dokter itu.


"Bukan, saya bukan keluarganya, saya menemukan pasien tergeletak ditepi jalan dengan banyak darah, jadi saya membawa pasien kemari," jawab Rudi.


"Pasien tidak dapat diselamatkan karena kehilangan banyak darah, ada juga luka dalam pada bagian kepalanya. Ini adalah informasi pasien yang berada di saku celana pasien, kami minta tolong kepada Anda untuk menghubungi keluarganya agar datang kesini," ucap dokter itu, lalu memberikan dompet Tiara.


"Innalillahiwainnalillahi raji'un, baik Dok, saya akan menghubungi pihak keluarganya," respon Rudi.