
Sore hari. Daffi sedang berada di kamarnya. Tak berselang lama, ia keluar dari kamarnya, ia berjalan menuju kamar Daffa. Si Daffa sudah pulang belum ya? batin Daffi.
Tok ... tok ... tok ....
Daffi mengetuk pintu kamar Daffa. "Fa, sudah pulang belum?" tanya Daffi diluar pintu.
"Masuk, Fi," ucap Daffa dari dalam kamarnya.
Daffi pun masuk ke kamar Daffa. Daffi melihat Daffa yang sedang duduk bersandar diatas tempat tidurnya, sambil memainkan ponselnya. "Sini, Fi, duduk sini." Daffa menepuk kasur disebelahnya.
"Lagi apa?" tanya Daffi kepo sambil melihat layar ponsel Daffa.
"Biasa, lagi main game," jawab Daffa.
"Oh, tadi pulang jam berapa? Gue ketiduran, belum lama bangunnya ini. Jadi, gue nggak denger Celotehan lo tadi sewaktu pulang," ucap Daffi.
"Celotehan? Dikira gue anak kecil?" respon Daffa.
"Ya, gue kan lahir lebih dulu dari lo, jadi lo masih lebih kecil dari gue," ucap Daffi.
"Hallah, cuma beda beberapa menit doang lo," respon Daffa tanpa melihat ke arah Daffi, ia sibuk memainkan game-nya.
"Eh, gimana hari pertama lo belajar?" tanya Daffi.
"Ya, gitulah biasa-biasa aja," jawab Daffa.
"Dosen gue tadi serem, Fa," curhat Daffi.
"Oh ya? Dosen gue mah cakep, cantik, dan baik hati." Daffa memuji dosen yang mengajarnya tadi.
"Lo mah kalau berhubungan dengan yang cantik-cantik jadi semangat," gerutu Daffi.
"Ya iyalah, kan gue cowok normal. Nggak tahu sih kalau elo." Daffa mengejek Daffi, setelah itu ia tertawa terbahak-bahak.
"Kurang ajar lo." Daffi menimpuk kepala Daffa dengan bantal yang berada disampingnya.
"Sebagai orang yang tertindas, gue harus melawan." Daffa pun menimpuk Daffi balik.
Daffa dan Daffi melakukan perang bantal yang sengit, keduanya tak mau kalah satu sama lain. Daffa menimpuk punggung Daffi, Daffi pun membalas dengan tumpukan di punggung juga.
"Hei, kalian apa-apaan sih! Kayak anak kecil saja," ucap Tiara. Tiara kebetulan sedang lewat didepan kamar Daffa.
"Kita lagi perang, Ma," ucap Daffa.
Daffa dan Daffi kembali melanjutkan perang mereka. "Sudah-sudah, ayo sholat maghrib. Kalian perangnya asyik banget ya sampai nggak dengar suara adzan berkumandang." Tiara menarik pelan telinga Daffa dan Daffi.
"Aw, sakit, Ma!" ucap Daffa dan Daffi serentak.
"Masak sih? Pelan lo mama nariknya," respon Tiara.
"Ya sudah, ayo kita sholat maghrib berjamaah sekarang." Tiara menggandeng tangan kedua anaknya disisi kanan dan kirinya, mereka bertiga pun berjalan bersama keluar kamar.
"Wih, ada dua pengiring pengantin tampan nih. Tapi sinar ketampanan kalian kalah dengan sinar kecantikan pengantin wanitanya. Ayo Sayang, sama aku aja." Satria menarik lengan Tiara, lalu menggandengnya.
"Haish, bisanya pamer sama jomblo," gerutu Daffa kesal, melihat tingkah laku papanya yang mengumbar kemesraan didepannya.
"Sabar ya, Jomblo!" ucap Daffi sambil mengelus punggung Daffa.
"Eh, lo kira lo enggak jomblo juga!" respon Daffa kesal.
"Sabar Bro, gue jomblo juga kok. Gimana kalau kita buat persatuan JOMAT," saran Daffi.
"Kepanjangannya apa itu?" tanya Daffa sambil menoleh ke arah Daffi.
"Ogah!" Daffa pergi meninggalkan Daffi sendirian, ia berlari agar tidak berjalan bersama Daffi.
"Hey, tunggu." Daffi berlari mengejar Daffa. Rumah Satria cukup luas, jadi kedua anak kembarnya bisa berlari-lari didalam rumah.
*
*
*
Pukul delapan malam. Tiara dan keluarganya baru selesai makan malam bersama. "Ini siapa yang bisa antar mama ke swalayan, sekarang!" ucap Tiara kepada Daffa dan Daffi.
"Aku saja, Ma, aku pengen keluar juga nih cari angin malam," ucap Daffa.
"Bagus, contoh anak yang baik, langsung siap jika disuruh orang tua," ucap Daffi sambil mengacungkan ibu jarinya. Daffa langsung menjitak kepala Daffi, setelah itu Daffa langsung berlari keluar rumah.
"Ayo Ma, aku tunggu diluar rumah. Disitu ada singa mengamuk," teriak Daffa.
"Awas ya lo, pulang nanti gue kasih perhitungan!" teriak Daffi mengancam Daffa.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya melihat perdebatan sengit diantara kedua anak kembarnya. Tiara masuk kedalam kamarnya, lalu pamit kepada Satria yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Mas, aku mau ke swalayan sebentar ya," pamit Tiara kepada Satria.
"Sama siapa?" tanya Satria.
"Sama si Daffa," jawab Tiara.
"Ya sudah, hati-hati ya. Suruh Daffa agar hati-hati nyetirnya. Maaf ya, aku nggak bisa nganter, aku lagi ada kerjaan nih," ucap Satria merasa bersalah.
"Nggak apa-apa kok, Mas. Aku pamit ya, wassalamu'alaikum." Tiara mengecup punggung tangan Satria.
"Wa'alaikum salam." Satria menjawab salam dari Tiara.
Tiara pun kini telah meninggalkan kamarnya. Ia kini sedang berjalan melewati ruang tamu. "Ma, nanti nitip yang anget-anget dong, Ma. Cuaca dingin ini, enaknya makan apa ya, Ma?" tanya Daffi kepada mamanya.
"Fi, kita ini kan baru selesai makan. Masak kamu sudah lapar lagi?" tanya Tiara heran dengan penampungan perut salah satu anak kembarnya itu.
"Kan buat camilan, Ma. Please," mohon Daffi sambil mengatupkan kedua tangan didepan dadanya.
"Ya sudah, nanti kalau ada ya. Mama berangkat dulu, wassalamu'alaikum." Tiara berlalu meninggalkan Daffi.
Tiara kini telah berada di halaman rumah. "Kok lama banget sih, Ma? Aku disini sudah kayak jemuran kering ini, Ma," ucap Daffa lesu.
"Nggak ada matahari, nggak bakalan kering. Sudah yuk berangkat, oh iya mana helm buat mama?" Tiara melihat kebagian depan motor.
"Ini mama sayang." Daffa memakaikan helm dikepala Tiara.
"Terima kasih gantengnya mama," ucap Tiara memuji anaknya.
"Sama-sama, Ratuku," respon Daffa.
Tiara pun naik ke atas motor Daffa. Tiara memakai celana panjang yang dipadukan dengan sweater, badan Tiara yang langsing terlihat seperti gadis berusia dua puluh tahun. Jadi, jika ada orang yang melihat Daffa memboncengkan Tiara saat itu, kemungkinan besar Tiara akan dikira kekasih Daffa.
Daffa melajukan motornya dengan kecepatan sedang, ia menikmati suasana malam saat itu. Daffa memang sudah agak lama tidak pergi keluar dimalam hari. Jadi perjalanan malam saat ini, seperti sebuah nostalgia dimasa lalu ketika Daffa sering keluar malam. Pada saat itu, ia keluar malam hanya untuk sekedar melihat suasana perkotaan dimalam hari.
Motor Daffa kini sudah sampai didepan swalayan. Saat Daffa akan masuk ke tempat parkir yang berlokasi dilantai dasar, ia berpapasan dengan mobil Vanessa, teman kuliahnya. Namun, Daffa tak melihat Vanessa. Vanessa lah yang melihat motor Daffa, ia terkejut saat melihat Daffa memboncengkan seorang perempuan, dan perempuan itu memeluk erat Daffa dari belakang.
Huh, siapa sih perempuan itu? Mesra sekali meluk Daffa! Kemarin saja aku ajak kenalan nggak mau berjabat tangan denganku. Sekarang, malah mau dipeluk erat sama perempuan itu! Cih, munafik ! batin Vanessa geram saat melihat kemesraan Daffa dengan seorang perempuan, yang duduk dibelakang Daffa. Vanessa sama sekali tidak mengetahui jika perempuan itu adalah Tiara, mamanya Daffa.